Mengenang 11 September ; Surat Wasiat Sang Pejuang

As Syahid (Biidznillah Insya Allah) :
Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy
( Salah Seorang Pelaku Peledakan Mubarok
11 September 2001 M. )

Biografi As Syahid :

Beliau adalah Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy. Dari Tanah Suci dari daerah selatan semenanjung arab, bumi para mujahidin dan syuhada’ dari daerah Ghomid.
Beliau adalah seorang hafidz dan da’I serta mujahid. Didik dirumah yang beragama dan berakhlak. Ayahnya seorang alim dan ibunya seorang da’iyah. Hatinya teikat dengan jihad, maka ia berhijrah ke bumi Afghanistan untuk beri’dad (mempersiapkan diri).
Dia adalah salah seorang diantara sembilan belas pahlawan yang berhasil melakukan serangan di New York dan Washington pada hari selasa 11 September 2001 M.
Sungguh cinta jihad dan rindu akan mati syahid telah merasuk ke dalam hati dan sanubarinya. Mengalir bersama putaran darahnya dan mendarah daging dalam tubuhnya.

Isi Wasiyat :

Aku bersumpah untuk hidup mulia, atau kuhancurkan tulangku dan aku mati.
Kepada ummat Islam …..
Kujual diriku kepada Allah dan Allah membelinya.
Kunyatakan dengan gamblang bersama mereka, darahku yang mengalir supaya sampai ke setiap telinga dan menyentuh hati.
Sebuah panggilan dariku kutujukan kepada :
Para ulama ummat dan para da’inya
Kepada para murobbi dan pendidik
Kepada saudara-saudaraku yang terbelenggu di penjara
Dan kepada saudara-saudaraku yang tidak sempat berhijrah dan berjihad karena udzur.
Kepada saudara-saudaraku yang sedang beribath di perbatasan negara Islam.
Kepada saudara-saudaraku muslimin yang tertindas di timur dan di barat.
Kepada pemuda-pemuda Al Aqsho dan pahlawan-pahlawannya.
Kepada pemuda-pemuda Kashmir
Bahkan kutujukan juga kepada setiap luka hirisan di hati setiap muslim.
Kepada mereka semua dan kepada ummat yang sedang di dzalimi. Kuucapkan :
Allah berfirman :

حَتَّى إِذَا اسْتَيْئَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَآءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَنْ نَشآءُ وَلاَيُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِيْنَ

“Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami daripada orang-orang yang berdosa”. (QS. Yusuf : 110)

Bagi orang-orang yang berfikir tentang keadaan ummat dengan pembunuhan dan penyiksaan yang terjadi keatasnya, pencabulan harga diri dan pertumpahan darah, pembunuhan keatas mereka yang tidak berdosa. Semua itu terjadi keatas ummat ini di timur dan dibarat bumi.
Lihatlah Palistina ! Meronta sejak setengah kurun dan hingga kini lukanya masih mengalirkan darah.
Dan Kashmir tidaklah terlepas dari nasib yang sama. Penyembah-penyembah sapi itu masih membunuh saudara-saudara kita di sana, dan masih banyak lagi negeri-negeri Islam yang menghadapi nasib yang sama.
Lalu siapakah yang sudi berkorban demi membela saudara-saudara kita ? dan jalan apakah yang bisa ditempuh selain jihad ? dan bagaimanakah jihad dapat di laksanakan untuk menolong mereka ? sedang masih banyak lagi yang menganggapnya hanya fardhu kifayah.
Bagiku ….. Ulama telah menerangkan bahwa asal hukum jihad memang fardhu kifayah. Tetapi menjadi fardhu ‘ain pada empat keadaan :
1. Jika musuh menguasai salah satu negeri muslimin
2. Jika sudah bertemu dengan bala tentara musuh di medan
3. Jika diperintah oleh imam (pemimpin) ummat Islam maka menjadi wajib
4. Jika musuh telah menawan salah seorang muslim.

Jika salah satu keadaan itu terjadi, maka jihad menjadi fardhu ‘ain ke atas ummat ini, hingga kekuatan Islam menjadi cukup atau ummat Islam akan berdosa semua.
Demi Allah ! Aku ingin bertanya kepadamu apa yang tengah terjadi di negeri-negeri ummat Islam ? penjajahan nyata itu di depan mata, tetapi kamu wahai para ulama mendiamkan walaupun penjajahan itu telah mencapai negeri Tanah Suci. Hingga kini kami belum mendengar satupun panggilan jihad darimu.

Saudara ….. ulama-ulama kita di tahan musuh, dan setiap hari kita dengar musuh menangkapi saudara-saudara kita, sedang membebaskan mereka adalah kewajiban kita. Dan kamu wahai ulama telah mengatakan hal ini dan menyepakatinya sudah berapa tahun berlalu. Sedang syaikh kita Umar Abdurrohman masih di penjara Amerika.
Itu hanya contoh ….. dan masih banyak lagi ulama-ulama kita yang senasib, tetapi kami tidak mandengar panggilan jihad darimu.
Wahai ulama ….. wahai ulama ….. wahai ulama …… Kau biarkan ini semua. Jika engkau masih enggan menyatakan kewajiban jihad, lalu siapakah yang akan menyatakannya ? dan kalau bukan sekarang waktunya lalu kapan lagi ?
Demi Allah ! aku tantang kamu semua untuk mencarikan alasan dari empat perkara tersebut bagi ummat ini yang menjadikan jihad kewajiban (fardhu ‘ain). Seperti yang telah disebutkan oleh ulama salaf dan kamu menyepakatinya tetapi tidak kamu laksanakan.
Jika alasanmu adalah karena wujudnya penguasa-penguasa thoghut yang laknat dan mempunyai senjata, maka siroh nabi shollallahu ‘alaihi wasallam telah menjadi contoh terbaik bagi kita, ketika beliau ditekan oleh kaummnya beliau diperintahkan untuk berhijrah untuk menegakkan negara Islam yang kemudian besiap (I’dad) untuk jihad. Beliau bukan duduk diam dan bersedekap tangan dan tetap tinggal diam di bawah kekuasaan Quraisy, dan keadaan kita sekarang tidak jauh dari keadaan beliau shollallahu ‘alaihi wasallam.
Di Afghonistan, hari ini hukum syari’at dilaksanakan di bawah kepemimpinan Tholiban. Semoga Allah melindungi dan meneguhkan hati mereka. Negeri ini membuka bagi para muhajirin yang ingin beribath, beri’dad dan berjihad, baik dari golongan ulama atau pemuda mujahidin.
Kami telah bosan hidup di bawah kedzaliman dan kejahatan. Pemerintah-pemerintah yang kononnya menawarkan diri dengan Islam, sedangkan dia sangat jauh dari hakikat Islam, ia murtadz dari agama Allah ….. bahkan berani melaksanakan hukum buatan manusia yang dibuat oleh Doktor-Doktor.
Inilah keadaan negara-negara arab yang dahulunya di bawah naungan hukum Islam berkurun-kurun lamanya yang telah dibayar dengan jiwa dan nyawa para shahabat hinga mencapai lautan pasifik dan dia berkata : “Demi Allah ! kalau aku tahu di seberang sana ada daratan pasti kan ku datangi dengan kudaku ini”. Tetapi kemudian ….. kita dipimpin oleh thoghut-thoghut yang murtadz yang menjalankan hukum selain hukum Allah. Mereka ganti hukum Rob kita dengan hukum buatan manusia yang keji dengan tujuan mencari muka di depan si kafir, lalu kemulian apakah yang lebih tinggi dari kerelaan Amerika kepadamu ? lalu kemuliaan apakah yang lebih tinggi dari kerelaan Amerika kepadamu ? dan kamu menjadi gundik yang paling dicintai. Dan pemenang perlombaan ini adalah Fahd bin Abdul Aziz bersama saudaranya Abdullah dan sultan dan Raif dan Salman, semoga Allah memerangi mereka. Mereka masukkan tentara-tentara kristen ke tanah suci dengan alasan politik yang kotor, yang semua itu hasil kerjasama Abu Righol dan saudara-saudaranya. Mereka salahi perintah-perintah nabi kita Shollallahu ‘alaihi wasallam : “Keluarkan orang-orang musyrik dari Jazirah arab “. Mereka jajah negeri kita dan kiblat ummat Islam di siang bolong, mereka rampok hasil bumi Islam dengan bantuan pemerintah murtadz di Jazirah arab, lalu semua itu dilakukan keluarga Saud hanya untuk mendapat kerelaan Amerika. Dan akhirnya mereka dapatkan cita-cita itu, maka datanglah orang-orang Amerika yang jumlahnya antara 40 hingga 45 ribu tentara salib di tambah dengan pembantu-pembantu mereka dari Inggris dan Prancis untuk membentengi tentara-tentara salib itu, bahkan mereka izinkan di bumi suci yang dimuliakan dengan kiblat muslimin.
Lalu hidup yang bagaimana harus kulaui setelah kononnya tentara Amerika membelaku. Kemuliaan yang bagaimana dan harga diri yang bagaimana. Dan bagaimana aku bisa menolong agamaku, dan bagaimana aku bisa mengangkat kemuliaan ummatku, sedangkan hidup di bawah pemerintahan Amerika di Tanah Suci dan keluarga Saud hanyalah boneka yang dipermainkan semuanya. Lalu apa yang harus kami lakukan ? mereka jual tanah air kami dan kiblat umat Islam dan mereka jadikan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai barang jualan. Jika mereka suka ….. mereka buang jauh-jauh.
Dan yang sangat disayangkan ….. ada ulama-ulama yang masih menganggap mereka sebagai pemimpin muslim yang wajib dita’ati. Karena itulah kami berhijrah dan beri’dad untuk berjihad untuk mengusir tentara kristen itu dari Tanah Suci bahkan dari seluruh tanah air ummat Islam. Dan keturunan keluarga Saud sangat jelas dalam masalah ini, hukum Islam yang mereka laksanakan di Tanah Suci hanya berjalan keatas orang-orang yang lemah saja. Adapun keluarga kerajaan terkecuali dari hukum hakam ini.
Dan persetujuan mereka terhadap UUD kafir yang jelas yang telah difatwakan kekufurannya oleh syaikh Muhammad bin Ibrahim Ali Syaikh rhohimahullah, dan ruang kementrian perniagaan dan ekonomi menjadi saksi, dan mereka perbolehkan riba bahkan mereka buat bangunan terbesar untuk memerangi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Dan mereka terang-terangan disaksikan oleh dunia sebagaimana yang disebutkan para ulama bahwa antara hal-hal yang membatalkan ke-Islaman seseorang adalah membantu kaum musyrikin untuk menguasai kaum muslimin, dan sesiapapun yang mendalami masalah ini pasti akan menemuinya, lalu dengan melihat semua ini, apakah jihad masih fardhu kifayah ? lalu apkah darah-darah saudar-sudara kita masih murah ? sedangkan ia sangat berharga di sisi Rob kita Subahnahu Wa Ta’ala. Dalam hadits musthofa shollallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda : “Walau Ka’bah runtuh batu demi batunya adalah lebih ringan bagi Allah dari darah muslim yang tertumpah”.
Lalu mana penghormatan kepada agama ini ? dan rasa kesatuan ummat ? adakah perasaan ini harus hilang dari 1,5 milyar muslim di dunia ? yang masih tersungkur di kaki thoghut-thoghut dan golongan murtadz. Apakah perasaan itu hilang bersama jatuhnya khilafah Islam ? apakah ketergantungan dengan dunia telah menghapus perasaan itu ? atau dinar dan dirham telah mematikan hati hingga tidak bisa lagi memahami duduk permasalahan ini, hingga oleh para ulama dan pemimpin-pemimpin ummat ? ataukah semua ini adalah bahasa yang menceritakan keadaan ummat kami. Lalu apa jalan keluar semua permasahan ini ? tiada jalan lain kecuali para ulama dan golongan yang dipercaya ummat berpegang dengan al haq serta melaksanakannya dan melaksanakan hukum syari’at Robnya kemudian kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan menghidupkan kembali ibadah yang terlupakan, yaitu ibadah Jihad.
Tetapi ummat ini tidak akan dapat melaksanakannya kecuali setelah mereka memahami bahwa dunia dan seisinya tidaklah lebih berharga dari sayap nyamuk. Kalaulah dunia ini berharga pasti Allah tidak memberikan sedikitpun air kepada orang-orang kafir apalagi dunia ini fana.
Perlu anda ketahui bahwa semua kekuatan golongan murtad dan kafir itu tidaklah ada harganya dihadapan kekuatan Allah karena kekuatan itu mutlak milik Allah saja, yang diberikan kepada golongan yang berpegang dengan syari’at-Nya. Walau mereka buat berbagai macam jenis meriam atau bom-bom nuklir atau tehnologi mutaakhir yang telah mereka capai sesungguhnya kami mempunyai yang lebih besar dari yang semua itu, yaitu firman Allah Ta’ala :

إِنَّمَآ أَمْرُهُ إِذَآأَرَادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya:”Jadilah!” maka terjadilah ia”. (QS. Yasin : 82).

Lalu bagaimana orang-orang yang bersama Allah bisa menjadi lemah ? maka talaklah dunia ini, dan berzuhudlah.

Demi Allah dunia ini hina, ia hanyalah nikmat yang menipu. Kau cintai dunia ini berarti bukan dapat lari dari mati dan pergi berjihad bukan berarti mendekati mati. Yang pasti, mati akan tiba, maka pilihlah mati yang bagaimana mati yang kau ingini. Apakah kamu ingin mati di atas kasurmu seperti matinya onta di kandangnya ? atau kau memilih mati syahid ? mulia setelah kau sahut panggilan-Nya dengan segera dan kau jujur dalam mencari syahid dalam rangka mencapai ridho Allah, yaitu syahid yang menjadi cita-cita setiap muslim yang cintakan agamanya setelah ia maju bergerak memukul musuh-musuh Allah dan membalaskan dendam saudara-saudaranya dan agamanya . lalu mana orang-orang yang bercita-cita tinggi ? yang memikul nyawanya untuk dipersembahkan kepada Rob mereka, maka golongan ini selalu berkata : “ Bawalah aku ke medan pertempuran itu supaya aku dapat menjual diriku ini demi agama ini”.
Dan musuh utama kita kali ini, adalah berhala Hubal zaman ini yang disembah oleh penguasa-penguasa negara-negara arab dan dia menguasai dunia dengan kesombongan dan keangkuhan. Permusuhan Rusia di Chechnya adalah dengan kerelaannya begitu juga serangan tentara kristen di Indonesia dan golongan Hindu di Kashmir adalah dengan kelicikannya dan keberadaan orang yahudi di bumi Palestina dengan semua apa yang mereka lakukan dan penjajahan masjidil Aqsho tentu dengan persetujuan dan taktik licik yang teratur rapi olehnya, dia jajah seluruh negara, walau tidak harus berwujud tentara tetapi dengan penguasa yang mahu mentaatinya. Penjajahan Tanah Suci berlangsung hingga kini dengan alasan serangan Irak ke Kuwait, mereka datang dengan alasan menjaga keamanan maka mereka masuk ke tanah suci dengan bantuan Abu Righol dan saudara-saudaranya. Yang konon mengaku membela kiblat ummat Islam. Tiadak adakah lagi pahlawan pada ummat ini ? apakah ummat ini sudah tidak bisa lagi melahirkan pahlawan yang membela kiblatnya ? buktinya hingga kini belum ada perlawanan secara langsung ke atas berhala Hubal ini (Amerika), maka kami fikirkan untuk membukanya.
Musuh semakin ganas, semakin hari kita dengar kematian saudara-saudara kita.
Demi Allah kami tidak menemukan jalan keluar dari tekanan ini setelah kami tanyakan kepada para ulama yang telah ikut berkecimpung dalam jihad, seperti syaikh Hamud bin ‘Uqla As Syu’aibi (rhohimahullah) dan Abdullah bin Jibrin dan syaikh Sulaiman Al ‘Ulwan dan syaikh Hasan Ayyub dan syaikh Muhammad bin Muhammad bin Mukhtar As Syingkity dan syaikh Usamah bin Muhammad bin Ladin dan syaikh Abu Umar Saif, semoga ‘Allah menjaga mereka dan menjaga ummat ini dengan ilmu mereka. Mereka tunjukkan bahwa jalan keluarnya adalah operasi Istisyhadiyah (Bom Syahid) ke atas titik-titik penting musuh dan pusat pengendalian tentaranya. Yang hasilnya sangat kelihatan setelah dua serangan ke atas kedutaan Amerika di Nairobi dan Darussalam dan setelah peledakan Kapal Distroyer Amerika USS COLE di Yaman, yang ketika itu dalam perjalanan ke lautan Kuwait untuk menyerang saudara-saudara kita di Irak. Ulama-ulama tersebut telah menfatwakan kepada kita bahwa operasi seperti itu dibolehkan oleh syari’at, dan itu bukanlah bunuh diri, akan tetapi mencari syahid fie sabiilillah. Karena serangan ke atas musuh tidak akan tercapai kecuali melaui jalan ini dan dalil-dalil mereka sangat banyak, antaranya kisah Ghulam yang menunjukkan si Raja dzalim untuk membunuhnya. Dan para ulama tidak menjulukinya dengan “Bunuh Diri”.
Dan sebagai penutup wasiatku ini : Aku ulangi panggilanku ini kepada para ulama dan para da’I, Aku ulangi panggilanku ini kepada para ulama dan para da’I, kepada pemuda sholih yang tidak mempunyai udzur untuk berjihad untuk menolong Diennya. Kepada mereka yang berpaling dari medan-medan jihad, khususnya di tanah suci dan di seluruh dunia pada umumnya.
Aku katakan : “ Jika kalian senang dengan kehidupan hina ini dan kamu merasa kesulitan untuk berhijrah dan mengangkat senjata, maka tolonglah kami walaupun hanya dengan lisan, dan jangan biarkan kami dan hiaslah kemuliaan ummat ini dengan pena-penamu sepanjang zaman, kalau kamu enggan ….. maka kita akan bertemu di hadapan Rob kita nanti di hari yang berat, hingga si anak menjadi tua, tetapi hari itu adalah hari yang adil, maka persiapkanlah untuk hari itu”.
Adapun bagiku ….. aku tidak rela hidup dalam kehinaan sedikitpun sebagaimana teman-temanku yang masih rela hidup seperti itu, dan diriku menuntut untuk hidup mulia dengan ajaran Robnya, walaupun harus ku bayar dengan hijrah dan hidup jauh dari saudara-saudara.
Lihatlah ! medan-medan itu telah terbuka, dan surga-surga telah dipersiapkan, maka aku berangkat untuk menyerang Amerika yang menjadi musuh Allah, yang pasti akan aku lakukan di kandang mereka sendiri, maka aku akan mati sebagai syahid setelah membunuh musuh-musuh Islam, maka aku keluar mencari tempat latihan untuk membunuh orang-orang Amerika dan musuh-musuh agama demi membela agama ini dan membalaskan darah saudaraku yang tertumpah.
Demi Allah aku tidak akan rela dengan darah saudara-saudara kami yang mengalir di Pelistina yang ditumpahkan oleh tangan-tangan yahudi anak-anak kera itu. Dan aku tidak akan lupa dengan darah-darah saudara kami yang tertumpah di Kashmir, Philipina dan di Burma dan negara-negara muslim lainnya. Maka berangkatlah kami, sedang lisan kami selalu bekata :
“Kami berangkat menuju mati dengan bangga sebagaimana Singga lapar keluar dari hutannya, kami lalui berbagai kilatan pedang hingga sampai ke pintu cita-cita. Ummatku dan mengetahui bahwa kami sebenarnya melalui berbagai bahaya sambil mendendang ummat, maka kami keluar tinggalkan keluarga kami untuk menyampaikan risalah yang tertulis dengan darah agar sampai ke seluruh dunia, baik kawan atau lawan, yang jauh atau yang dekat, yang mulia atau yang hina, yang jujur atau yang dusta”.
Dan semuanya berisi surat :
“ Ya Allah ! Ambillah darah kami demi kerhedhoan-Mu “
“Ya Allah ! Jangan kau jadikan jasad-jasad kami di kandang kubur, atau tanah manapun menutupinya, atau lahad yang melindunginya, supaya ia bangun di hari kiamat nanti bersama kejayaan dan surga abadi” .
Dan keberuntungan sebuah surat yang berisi : “Zaman perbudakan dan kehinaan telah berakhir, sudah waktunya membunuhi orang-orang Amerika di kandang mereka sendiri bersama kekuatan tentara mereka dan intelejen mereka, sudah waktunya kita tunjukkan kepada dunia bahwa Amerika telah memakai baju yang bukan miliknya ketika ia berniat melawan mujahidin, dan kekuatan itu hanya tipuan nyata di media masa yang dihiasai dengan berbagai macam kalimat-kalimat dusta dan kotor, hingga kelihatan besar dan menakutkan dunia, dan ternyata dia berhasil, tetapi hakikatnya adalah seperti yang anda lihat sendiri kami perangi mereka dari luar kandang mereka dan kini akan kami perangi mereka di dalam kandang mereka sendiri, lalu mana kekuatan tentara itu dan kekuatan tehnologi mereka ? mengapa tidak melindungi mereka ?”.
Sebuah surat yang berisi : “Kalau Amerika ingin menyelamatkan negaranya dan rakyatnya maka keluarlah dari tanah ummat Islam dan kiblat mereka dan kini akan terbukti bahwa Amerika tidak akan mampu menghadapi golongan mujahidin di seluruh dunia selagi pada ummat ini masih ada pemuda-pemuda yang membelanya. Dan ketahuilah bahwa rahim-rahim ibu-ibu muslimah tidaklah mandul untuk melahirkan lagi pemuda seperti Kholid bin Walid dan Sholahuddien Al Ayyubi, begitu juga syaikh Abdullah Azzam yang telah mengorbankan dirinya demi Islam, semoga Allah merahmati mereka semua”.
Sebuah surat yang berisi : “Jika Abdullah Azzam telah terbunuh sebagai syahid, maka ketahuilah ummat ini masih mempunyai seribu Abdullah Azzam. Jika Yahya Ayyas telah terbunuh sebagi syahid, maka ummat ini masih mempunyai seribu Yahya Ayyas. Walau masih ada Usamah bin Ladin atau mungkin akan mati terbunuh, maka ummat ini masih mempunyai seribu Usamah bin Ladin. Maka tunggulah wahai Amerika, mereka sudah bosan banyak berbicara tetapi kata-kata mereka itu ingin di garis bawahi dengan darah mereka, dan mereka tuliskan dengan potongan-potongan daging mereka supaya Amerika dan kawan-kawannya memahami bahwa mereka jual ruh mereka (sesuatu yang paling mahal pada dirinya) demi mencapai surga yang berisi kenikmatan abadi”.
Dan lisan mereka berkata : “Aku bersumpah untuk hidup dengan mulia dengan harga diri atau tulangku hancur ditelan perjuangan”.
Sebuah surat yang berisi : “Aku telah bosan hidup dalam kehinaan silahkan Amerika meneruskannya untuk menanam takut di hati rakyatnya sendiri dan tentara mereka, dan merasa rugi dan celaka yang dilontarkan mujahidin yang jujur. Kelakuanmu telah melampoi batas kami tidak dapat menahannya lagi.
Hai orang-orang Amerika ! Persiapkanlah peti-peti matimu dan galilah kubur-kuburmu sejak sekarang, kematian telah dekat denganmu dengan izin Allah, dan galilah kubur-kubumu sejak sekarang, persiapkanlah peti-peti matimu kematian telah dekat denganmu dengan izin Allah”.

Ya Allah ! Jatuhkanlah negara kafir itu ke-tangan kami, dan bangunkanlah Daulah Islam dengan potongan-potongan daging kami supaya kami dapatkan pahalanya dan balasannya nanti.
Ya Allah ! Jadikanlah kami golongan yang dengan kematian mereka ummat ini akan bangkit.
Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.
Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.
Ya Allah ! Kujual diriku kepada-Mu, maka terimalah aku sebagai syahid.

Ayolah bersegera mencapai surga sebagai tempat tingga yang di dalamnya terdapat kemah-kemah dan sampai jumpa di surga bersama para nabi dan syuhada dan orang-orang yang jujur (shiddiqin).

Dan akhirnya kami ucapkan Al Hamdulillah.
Wassalaamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Ibnu Jarroh al Ghomidy Ahmad al Haznawy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: