HUKUM JIHAD HARI INI

HUKUM JIHAD HARI INI


Jihad hari ini fardhu ‘ain kerana terkumpulnya berbagai alasan, antara lain :

1) Musuh yang menyerang dan menguasai satu daerah atau lebih dari daerah-daerah kaum muslimin.

Ini ditandai dengan jatuhnya Andalus (Sepanyol) ke tangan orang-orang Nasrani dan terusirnya umat Islam dari sana tahun 1492 M. Sejak saat itu jihad fardhu ‘ain bagi kaum muslimin di Sepanyol. Kerana mereka tidak mampu mengusir musuh, maka jihad meluas sampai kepada seluruh kaum muslimin di seluruh dunia. Kerana sampai hari ini Sepanyol belum juga terbebaskan maka jihad sampai hari ini tetap fardhu ‘ain dan kaum muslimin berdosa atas kelalaian mereka membebaskan Andalus.

Pada tahun 1917 M Palestina jatuh ke tangan Inggeris dan pada tahun 1948 M berdiri di atasnya negara Israel Raya. Dengan demikian, wajib bagi seluruh umat Islam untuk membebaskan Palestin sampai bila pun jua.

Daerah Turkistan telah jatuh ke tangan bangsa komunis. Turkistan Barat dijajah oleh Russia dan dipecah menjadi lima negara kecil : Kirgistan, Turkmenistan, Tajikistan, Uzbekistan dan Kazhaktan. Turkistan Timur dijajah oleh Cina dan diganti menjadi Sinkiang. Di kedua Turkistan ini umat Islam ditindas, bahkan di Turkistan Timur dalam kurun waktu ¼ abad tak kurang dari 26 juta umat Islam telah dibunuh oleh tentara komunis RRC. Sampai hari ini, penderitaan mereka sebagai bangsa muslim terjajah semakin bertambah parah, maka kewajiban jihad menjadi fardhu ‘ain sampai merdeka dari Rusia dan RRC.

Daerah India dahulu oleh daulah Mamalik (Mongol) Islam selama ratusan tahun kemudian jatuh ke tangan Inggeris. Setelah merdeka sampai hari ini kekuasaan dipegang oleh kaum paganis Hindu dan umat Islam sebagai bangsa minoriti ditindas. Jihad menjadi fardhu ‘ain sampai India kembali menjadi negara Islam. Masih banyak daerah kaum muslimin hari ini yang berada di genggaman orang-orang kafir meliputi bekas-bekas wilayah Turki Utsmani seperti daerah Balkan, sebahagian Rusia, India, dll. Selama daerah-daerah kaum muslimin itu belum terlepas dari tangan musuh maka jihad hukumnya fardhu ‘ain.

Begitu pulalah hukum jihad pada hari ini, Dr. Abdulloh Azzam menyatakannya sebagai fardhu ‘ain sampai seluruh daerah yang pernah dikuasai kaum muslimin terbebaskan dari kekuasaan orang-orang kafir dan kembali lagi ke pangkuan kaum muslimin. [216]

2) Tertawannya ribuan umat Islam di tangan musuh, demikian juga penuhnya penjara dengan para da’i dan umat Islam.

Telah kita sebutkan jika seorang perempuan muslimah tertawan maka seluruh umat Islam harus membebaskannya meskipun menghabiskan seluruh harta mereka, meskipun harus mengorbankan nyawa mereka. Hari ini ribuan nyawa umat Islam terbantai, wanita-wanitanya dinodai, harta mereka dirampas dan mereka tak menemukan perlindungan serta pembelaan, maka jihad menjadi fardhu ‘ain sampai mereka semua mendapatkan haknya seperti semula.

Para penguasa yang murtad. Pemimpin yang murtad kerana menerapkan sistem sekular dan demokrasi serta meninggalkan dan mengganti syariat Islam dengan UU buatan manusia.

Telah disepakati bahawa mengganti hukum Allah dengan UU buatan manusia bererti telah kafir dan murtad. Sistem pemerintahan sekular merupakan ideologi kufur menurut kesepakatan ulama ulama.


عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ : بَايَعْنَا – أَيْ رَسُولَ اللهِ – عَلَى السَّمْعِ وَ الطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَاوَ مَكْرَهِنَا وَ عُسْرِنَا وَ يُسْرِنَا وَ عَلَىأَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَ أَلاَّ نُنَازِعَ اْلأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَّاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيْهِ بُرْهَانٌ.

Dari Ubadah bin Shamit ia berkata: ”kami membaiat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam untuk mendengar dan taat baik dalam keadaan senang ataupun benci, ringan maupun berat dan atas para pemimpin yang mementingkan dirinya sendiri dan (kami berbaiat untuk tidak mencabut/memberontak urusan ini (kepemimpinan) dari yang berhak (imam) kecuali kalau kalian melihat kekufuran yang nyata yang kalian mempunyai dasar pasti dari Allah dalam hal itu”. [217]

Imam Al Khathabi berkata: Makna Bawwahan adalah dhahir nyata, dari perkataan mereka, Baaha bisya-i-yabuuhu-bawaahan-(باح بالشيء ـ يبوح ـ بواحا) maknanya mengumumkan dan menampakkannya.[218]

Makna “Kalian mempunyai dasar pasti dari Allah dalam hal itu“ seperti dikatakan Ibnu Hajar adalah: Nash ayat atau khabar (hadits) shahih yang tidak menerima ta’wilan lagi.[219]

Imam Nawawi berkata: Makna kekafiran di sini adalah maksiat. Erti hadits jangan kalian merebut kekuasaan para penguasa dan jangan pula menentang mereka kecuali kalau kalian benar-benar melihat kemungkaran yang nyata yang kamu ketahui termasuk qawai’du Islam. [Syarhu Muslim XII/229].

Imam Nawawi berkata: Al Qadhi (Iyadh) berkata: Jika terjadi kekufuran atau merubah syari’at atau melakukan bid’ah maka ia keluar dari wilayah (hak menjadi imam) dan kewajiban mentaatinya gugur…..dan wajib bagi mereka untuk menjatuhkan imam yang kafir. [Syarhu Muslim XII/229].

Imam Abu Ya’la berkata: Jika terjadi pada diri imam suatu hal yang mencacati diennya maka harus dilihat dahulu, jika ia kafir setelah beriman (murtad) maka ia telah keluar dari imamah (tidak menjadi imam lagi-pent). Hal ini tak ada keraguan lagi kerana ia telah keluar dari milah dan wajib diperangi.[220]

Imam Qadli Iyadh berkata: Para ulama telah bersepakat bahawa imamah tidak boleh diberikan kepada seorang yang kafir dan kalau terjadi pada diri seorang imam kekafiran dan merubah syara’ atau bid’ah bererti ia telah keluar dari hukum wilayah (tidak berhak berkuasa lagi-pent) dan kewajiban mentaatinya gugur, wajib bagi kaum muslimin untuk melawannya, menjatuhkannya dan mengangkat imam yang adil jika memungkinkan bagi mereka. Jika tidak bisa dikerjakan kecuali oleh sebuah kelompok saja maka kelompok ini wajib menjatuhkan imam yang kafir ini. [Syarhu Shahih Muslim XII/229].

Imam Ibnu Taimiyah berkata: Seseorang bila saja ia menghalalkan hal yang telah diijma’I (disepakati) keharamannya atau mengharamkan hal yang telah disepakati kehalalannya atau mengganti syari’at (hukum) yang telah disepakati maka ia telah kafir dan murtad menurut kesepakatan fuqaha’. [221]

Imam Ishaq bin Rahawaih berkata: Para ulama telah bersepakat (ijma’) siapa saja mencela Allah Ta’ala atau mencela Rasulullah atau menolak sesuatu yang diturunkan Allah atau membunuh salah seorang Nabi meskipun ia mengakui hukum Allah, ia telah kafir.[222]

Imam Ibnu Hajar berkata: Imam dijatuhkan jika telah kafir berdasar ijma’. Maka wajib bagi tiap muslim untuk melakukannya. Siapa yang kuat melakukannya maka baginya pahala dan siapa berkompromi maka baginya dosa, sedang siapa yang lema wajib baginya untuk berhijrah dari negara itu. [Fathul Bari XIII/123].

Imam As Safaqasy berkata: Mereka telah sepakat bahawa seorang khalifah jika mengajak kepada kekufuran atau bid’ah maka ia direvolusi /dijatuhkan secara paksa.[223]

Merupakan satu hal yang mustahil para pemimpin yang kafir menyerahkan kekuasannya kepada umat Islam secara suka rela. Untuk mengangkat seorang pemimpin yang muslim dan menegakkan syariat Allah tentu akan mereka hadapi dengan kekuatan, sehingga jihad merupakan alternatif yang tidak boleh tidak harus ditempuh. Jalan lain seperti dakwah, tarbiyah apalagi parlimen terbukti gagal menundukkan kekuatan penguasa kafir.

Mereka ini wajib diperangi dan perangnya termasuk jihad difa’i. Memerangi mereka lebih wajib dari memerangi orang yang sejak awal telah kafir seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani, dengan beberapa alasan :

· Jihad difa’i itu fardhu ‘ain dan didahulukan atas jihad hujumy. Dalam kondisi jihad difa’i, musuh wajib dilawan sesuai kemampuan tanpa harus ada syarat macam-macam.

· Para penguasa ini telah murtad. Ibnu Taimiyah berkata,” Kufur murtad itu secara ijma’ lebih parah dari kufur asli. As Sunah setelah tetap menyatakan hukuman bagi orang murtad lebih parah dari hukuman bagi orang kafir asli kerana itu As Shidiq dan para shahabat memulai dengan berjihad melawan orang-orang murtad sebelum berjihad melawan orang-orang Ahlu kitab.” [224]

· Para penguasa ini merupakan musuh yang lebih dekat dengan kaum muslimin kerana itu jihad melawan mereka harus didahulukan. Allah berfirman:


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُم مِّنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Hai orang-orang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahawasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”. (QS. At Taubah:123).

3) Para penguasa yang murtad ini merupakan kelompok yang menolak memberlakukan syariat.


أمرت أن أقااتل الناس حتى يشهدوا أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله و فإذا قالوها عصموا مني دماءهم و أموالهم إلا بحقها وحسابهم على الله.


Rasululullah shollallahu ‘alaihi wasallam: “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi tiada Ilah yang berhak diibadahi selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah mengatakan hal itu maka mereka telah menjaga darah dan harta mereka, sedang perhitungan (amal) mereka urusan Allah”. [225]

Ibnu Taimiyah berkata: Setiap kelompok yang menentang/menolak untuk melaksanakan syariat-syariat Islam yang dzahir seperti kaum Tatar atau lainnya, wajib diperangi sampai melaksanakan syariat Islam, sekalipun mereka mengucapkan dua kalimat syahadat dan melaksanakan sebahagian syariat-syariat Islam , sebagaimana Abu Bakar dan para shahabat memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat. Hal ini disepakati para fuqaha’ sesudah shahabat. [226]

Ibnu Rajab al Hambaly berkata: Termasuk hal yang ma’lum bi dharurah bahawasanya Nabi menerima setiap orang yang datang ingin masuk Islam dengan kalimah syahadat saja dan beliau menjaga darahnya (hanya) dengan dua kalimat syahadat itu dan menjadikannya muslim.

Beliau juga mengingkari Usamah bin Zaid yang membunuh orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah saat pedang sudah hampir membunuhnya dan Nabi mengingkari secara keras hal ini.

Dua kalimat syahadat ini sudah cukup untuk menjaga orang yang mengucapkannya dan dengannya seseorang menjadi muslim. Jika telah masuk Islam, jika ia mengerjakan shalat, mengeluarkan zakat dan mengerjakan syariat-syariat Islam maka ia mendapatkan hak yang menjadi hak umat Islam dan berkewajiban sebagaimana layaknya umat Islam yang lain. Jika meninggalkan sebahagian rukun-rukun ini yang mempunyai kekuatan maka diperangi…..Beliau menjadikan sekadar memenuhi ajakan bersyahadatain sebagai penjaga darah dan harta (ertinya harta dan nyawanya terjaga-pent) kecuali dengan hak syahadatain (alasan yang benar), dan diantara hak syahadatain adalah menolak mengerjakan shalat dan zakat setelah masuk Islam, sebagaimana hal ini difahami oleh para sahabat. Di antara dalil yang menunjukkan diperanginya kelompok yang menolak menegakkan shalat dan menunaikan zakat dalam Al Qur’an adalah firman Allah :


فَإِنْ تَابُوْا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَخَلُّوْا سَبِيْلَهُمْ


“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat maka biarkanlah mereka”. [At Taubah :5].


فَإِن تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاَةَ وَءَاتَوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينَ


“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat menunaikan zakat maka mereka menjadi saudara seagama kalian”. [QS. At Taubah :11].


وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ


“Dan perangilah mereka sampai tidak ada lagi kekafiran dan seluruh dien menjadi milik Allah semata”. [QS Al Anfaal: 39].


وما أمروا إلا ببعبدوا الله مخلصن له الدين حنفاء و يقيموا الصلاة و يؤتواالزكاة و ذلك دين القيمة.


“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk memurnikan dien ini untuk Allah semata, (untuk) mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Itulah dien yang lurus”. [Al Bayyinah ;5]. [Jamiul Ulum wal Hikam hal. 80].

Beliau juga berkata: Hukum orang yang meninggalkan seluruh syariat Islam adalah diperangi sebagaimana diperanginya orang-orang yang meninggalkan shalat dan zakat.

Ibnu Syihab meriwayatkan dari Handzalah bin Ali bin Al Asqa’ bahawasanya Abu Bakar mengutus Khalid bin Walid dan memerintahkannya untuk memerangi manusia kerana lima hal, Siapa meninggalkan salah satu dari lima hal itu maka ia diperangi sebagaimana kalau meninggalkan kelima-limanya, iaitu: syahadatain, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan shoum Ramadhan.

Said bin Jubair berkata; Umar berkata: Kalau manusia meninggalkan haji tentulah mereka akan kami perangi sebagaimana kami memerangi mereka disebabkan shalat dan zakat telah mereka tinggalkan. Pembicaraan ini dalam masalah diperanginya kelompok yang menolak mengerjakan salah satu dari kewajiban-kewajiban ini. [Jamiul Ulum wal Hikam 82].

Imam Nawawi berkata: Dalam hadits ini ada hukum wajibnya memerangi orang-orang yang menolak membayar zakat atau mengerjakan shalat atau kewajiban Islam selain keduanya baik sedikit mahupun banyak berdasar perkataan Abu Bakar,” Kalau mereka menolak membayar iqalan atau inaqan.” Imam Malik berkata,” Masalahnya menurut kami setiap orang yang menolak salah satu faridzah dari faridzah-faridzah Allah dan kaum muslimin tidak bisa mengambil darinya maka wajib bagi mereka untuk berjihad sampai mampu mengambil hak itu darinya.” [Syarhu Muslim 1/212].

Ibnu Taimiyah berkata: Al Hamdulillah, seluruh ulama’ kaum muslimin telah bersepakat bahawa setiap kelompok yang menolak (mentaati) salah satu syari’at dari syari’at-syari’at Islam yang dzahirah mutawatiroh maka wajib diperangi sampai seluruh dien ini menjadi milik Allah semata, sekalipun mereka mengatakan kami sholat dan berzakat, atau mengatakan kami sholat lima waktu dan tidak sholat Jum’at dan sholat jama’ah atau kami melaksanakan rukun Islam yang lima namun tidak tidak menghormati harta dan nyawa umat Islam atau kami tidak meninggalkan riba, khomr, judi atau tidak mengikuti Al Qur’an, tidak mengikuti Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan tidak mengamalkan hadits-hadits tsabitah dari beliau atau kami meyakini Yahudi dan Nasrani lebih baik dari majoriti umat Islam dan Ahlu kiblat (umat Islam) telah kafir kepada Allah dan rasul-Nya dan tidak tersisa lagi di antara mereka orang mukmin selain kelompok kecil saja …atau mengatakan kami tidak berjihad melawan orang-orang kafir atau perbuatan-perbuatan lain yang bertentangan dengan syariah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan sunah beliau dan apa yang diakui oleh jama’ah muslimin (umat Islam) , maka wajib berjihad melawan seluruh kelompok ini sebagaimana umat Islam berjihad melawan orang-orang yang menolak membayar zakat dan berjihad melawan Khawarij dan seluruh jenisnya, demikian juga berjihad melawan Khharmiyah, Qaramithah, Bathiniyah dan Ahlul ahwa’ dan bida’ lain yang keluar dari syariah Islam…[227]

Beliau Ibnu Taimiyah berfatwa: Kewajiban waliyul amri adalah menyuruh setiap orang yang mampu untuk mengerjakan shalat yang lima dan menghukum orang yang orang yang meninggalkannya berdasar ijma’ kaum muslimin. Jika yang meninggalkan shalat itu sebuah kelompok yang menolak maka mereka diperangi kerana meninggalkan shalat berdasar ijma’ kaum muslimin, demikian pula mereka diperangi kerana meninggalkan zakat, shaum dan kewajiban lainnya dan atas sikap menghalalkan yang haram lagi dhahir dan diijma’I seperti menikahi mahram, membuat kerosakan di bumi dan lain-lain. Setiap kelompok yang menolak mengiltizami syariah dari syariah-syariah Islam yang dhahirah mutawatirah maka mereka wajib diperangi sampai seluruh dien manjadi milik Allah semata berdasar kesepakatan ulama.[228]

Beliau juga berfatwa tentang memerangi Nushairiyah: …Tidak diragukan lagi memerangi mereka dan menegakkan hudud atas mereka termasuk sebesar-besar ketaatan dan sebanyak-banyak kewajiban dan lebih utama dari memerangi orang-orang musyrik dan ahlul kitab yang tidak memerangi kaum muslimin, kerana memerangi Nushairiyah bererti menjaga negeri Islam yang dibuka sedang jihad melawan orang-orang musyrik dan ahlul kitab yang tidak memerangi kita bereti menambah / tambahan dari idharu dien, padahal menjaga yang pokok dikedepankan atas menjaga yang cabang. [Al Fatawa Al Kubra IV/215].

Imam Asy Syaukani mengatakan: Siapa meninggalkan rukun Islam dan seluruh faridzah Islam dan menolak perkataan dan perbuatan yang wajib ia kerjakan dan ia tidak melaksanakan selain mengucapkan dua kalimat syahadat maka tidak diragukan lagi orang ini sangat kafir dan darahnya halal. Terjaganya harta itu terlaksana dengan melaksanakan rukun-rukun Islam. Bagi umat Islam yang tinggal bertetangga dengan orang kafir ini wajib untuk mengajaknya melaksanakan hukum-hukum Islam dan kewajiban-kewajibannya dengan sempurna dan mencurahkan ta’lim kepadanya, melembutkan perkataan kepadanya, membuat urusannya adalah mudah , menghasungnya dengan pahala-pahala amalan dan menakutinya dengan siksaan Allah. Jika nasihatnya diterima dan ia bertaubat maka ia terus menguatkan nasihatnya atau menyerahkannya kepada orang yang lebih faham tentang hukum-hukum Islam. Jika orang yang kafir ini tetap terus kafir maka wajib bagi kaum muslimin yang mengetahui hal itu untuk memeranginya sampai ia mahu melaksanakan hukum-hukum Islam secara sempurna, jika tidak mahu mengerjakan maka nyawa dan hartanya halal, hukumnya hukum orang jahiliyah……[229]

Beliau juga berfatwa: Orang yang meninggalkan rukun-rukun Islam atau sebagiannya dan ia terus meninggalkan serta tidak bertaubat maka wajib diperangi sesuai kadar kemampuan. Demikianlah syari’ah yang suci datang (aturan syariah-pent) yang mengenai setiap orang yang melakukan hal yang haram atau meninggalkan hal yang wajib. [230]

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berkata: Banu Ubaid yang menguasai Maghrib dan Mesir pada masa Bani Abbasiyah mereka semua bersaksi tiada Ilah selain Allah dan Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam utusan Allah, mereka mengaku muslim, mereka juga melaksanakan shalat Jum’at dan jama’ah. Ketika mereka menampakkan perselisihan mereka terhadap syari’ah dalam beberapa hal yang kita (umat Islam, ahlu sunah, pent) kerjakan maka para ulama bersepakat mereka itu kafir dan wajib diperangi dan negeri mereka negara kafir dan kaum muslimin menyerbu mereka sampai mampu merebut negara-negara Islam yang ada di tangan mereka.[Majmu’atu at Tauhid hal. 93].

4) Runtuhnya khilafah Islamiyah sejak 1924 M.

Para ulama telah bersepakat menegakkan khilafah wajib hukumnya.

Imam Ibnu Hazm berkata: Seluruh Ahlu Sunah, seluruh Murji’ah, seluruh Syi’ah, dan seluruh Khawarij telah mensepakati wajibnya imamah dan bahawasanya umat wajib mentaati imam yang adil yang menegakkan hukum-hukum Allah dan mengatur mereka dengan hukum-hukum syari’ah yang dibawa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam (tak ada yang menyelisihi kesepakatan ini) kecuali kelompok Najdat dari kalangan Khawarij yang berkata,” Manusia tidak wajib mempunyai imamah yang penting mereka saling memberikan hak. [231]

Imam Al Qurthubi berkata: Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya imamah di antara umat Islam demikian juga para ulama kecuali riwayat (pendapat) dari Al Asham yang memang buta terhadap syari’ah, demikian juga setiap orang yang sependapat dan mengikuti pendapatnya. [Tafsir Qurthubi 1/264].

Imam Syaukani berkata: Jika disyariatkan mengangkat amir untuk tiga orang yang berada di tempat yang luas atau bersafar maka pensyariatannya untuk jumlah yang lebih besar yang menempati desa-desa dan kota-kota dan dibutuhkan untuk mencegah kezaliman dan menyelesaikan persengketaan lebih penting dan lebih berhak lagi. Kerana itu hal ini menjadi dalil bagi yang berpendapat,” Wajib bagi kaum muslimin untuk menegakkan pemimpin, para wali dan penguasa [Nailul Authar VIII/288]. Wallahu A’lam bish Shawab.

Sumber : http://d.1asphost.com/irhaby/

Published By : Ibnu Jabir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: