Hindari Virus Ashabiyah

Perkembangan kelompok, jamaah dan harakah-harakah di tubuh umat Islam adalah sesuatu yang menggembirakan. Tapi awas bahaya sikap bangga diri

”Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [Ali Imran: 103]

Tak dapat dipungkiri bahwa kaum Muslimin saat ini terdistribusi dalam beberapa kelompok, jamaah, dan harakah. Di dalam suatu wilayah yang tidak terlalu luas di suatu kota, misalnya, kita dapati berbagai ragam harakah yang masing-masing memiliki pengikut setianya sendiri. Kenyataan ini seharusnya kita sikapi secara bijak dengan menerima apa adanya.

Realitas Lumrah

Kita tidak perlu risau, gelisah, atau salah tingkah menghadapi realitas tersebut, karena Islam sendiri tidak menghalangi ummatnya untuk membentuk suatu perserikatan, kumpulan, atau jamaah, karena ini merupakan sunatullah. Firman Allah:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui.” [Ar-Rum: 22]

Selain itu, di zaman Rasulullah sendiri sudah terjadi pengelompokan identitas, yaitu Muhajirin dan Anshar. Padahal, jumlah ummat Islam pada waktu itu masih sangat sedikit. Terhadap realitas ini Rasulullah sendiri tidak risau. Beliau justru memanfaatkannya untuk melakukan konsolidasi.

Dalam satu riwayat dikisahkan bahwa suatu ketika, selesai dari satu peperangan Rasulullah membagi-bagikan harta rampasan yang jumlahnya melimpah kepada pasukan Islam. Dengan maksud menguatkan iman orang-orang muallaf dari Makkah, beliau sengaja memberi bagian yang lebih banyak kepada mereka.

Distribusi yang dianggap tidak merata itu kemudian menjadi pergunjingan di kalangan kaum Anshar yang merasa mendapatkan bagian lebih sedikit. Mereka bahkan hampir menuduh Nabi tidak adil, karena dinilai lebih memprioritaskan kaumnya. Menanggapi isu tersebut, Rasulullah bersikap arif. Beliau berkata: ”Apakah kalian tidak rela mereka pulang membawa harta rampasan, sedang kalian pulang dengan membawa Utusan Allah?” Mendengar ucapan itu, mereka semua menangis.

Apakah setelah kejadian itu Rasulullah segera meniadakan sama sekali identitas kedua kelompok tersebut? Tidak. Kaum Muhajirin adalah aset tak ternilai. Demikian juga kaum Anshar. Berdirinya kelompok-kelompok dalam tubuh kaum Muslimin adalah realitas, bahkan eksistensinya diakui oleh Al-Quran. Firman Allah:

”Dan orang yang menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.” [Al-Hasyr: 9]

Racun Ashabiyah

Pengelompokan di tubuh kaum Muslimin itu bermasalah jika antara yang satu dengan yang lain mulai timbul sikap bangga diri atau kelompok sekaligus merendahkan kelompok, jamaah, atau harakah lainnya (Ashabiyah). Kebanggaan kolektif ini lebih sulit penanggulangannya dibandingkan dengan kebanggaan pribadi. Akibat yang ditimbulkannya juga jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan kebanggaan individual. Itulah sebabnya Rasulullah SAW melarang sikap-sikap tersebut dengan sabda beliau:

”Hendaklah orang-orang meninggalkan kebanggaan terhadap nenek moyang mereka yang telah menjadi batu bara di neraka Jahannam atau (jika tidak) mereka akan menjadi lebih hina di sisi Allah dari kumbang yang hidungnya mengeluarkan kotoran.” (Riwayat Abu Dawud, Turmidzi dan Ibnu Hibban. Turmidzi menghasankan hadits ini).

”Cukuplah seseorang dinilai telah berbuat kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.” [Riwayat Muslim].

Kebanggaan golongan sekaligus merendahkan golongan lain bisa berakibat fatal, yakni menimbulkan sikap ekslusif, menutup diri. Akibatnya tidak bisa mengambil pelajaran dan menerima kebenaran dari pihak lain karena terhalangi oleh sikap gengsi. Akibatnya berikutnya, jamaah seperti ini cepat atau lambat akan mengalami stagnasi, pelan-pelan mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran, dan akhirnya mati. Padahal jika seandainya mereka bersikap tawadhu, mereka bisa belajar dari jamaah yang lain. Kekuarangannya bisa ditutupi sedang kelebihannya semakin disempurnakan. Umur jamaah seperti ini bisa jauh lebih panjang.

Kesombongan kolegial juga berdampak pada ketiadaan kerjasama dan saling menyayangi antar jamaah, padahal musuh mereka sama. Ketika musuh sudah bersatu, justru antar jamaah Muslim saling berseteru. Jika ada satu harakah yang maju, yang lain mundur tidak membantu. Lebih parah lagi, ketika harakah tersebut mengalami kekalahan justru disoraki. Inilah penyakit kaum Muslimin yang umurnya sudah berabad-abad, yang hingga kini belum terobati. Sesekali sembuh, tapi lebih sering kambuh. Kalau sudah begitu, jangan harap musuh yang ada di depan mata seperti Israel sekarang ini sangat sulit dikalahkan.

Padahal Allah menorehkan sejarah emas bagi kelompok Muhajirin dan Anshar karena mereka saling berkasih sayang, saling membantu, dan bekerjasama. Mereka hidup bersama dan berperang menghadapi musuh secara bersama. Ketika menghadapi kesulitan mereka solid, ketika lapang mereka saling berbagi. Terus terang, kita merindukan kembalinya jamaah-jamaah seperti itu.

Saling Menguatkan, Bukan Melemahkan

Kita tidak keberatan jika di negeri ini ada sepuluh partai Islam, seratus harakah Islam atau seribu ormas Islam sekalipun, asal di antara mereka terjadi silaturahim, sinergi, dan kolaborasi. Akan tetapi jika di antara mereka saling membanggakan diri, dua partai Islam saja sudah menyesakkan hati, tiga harakah saja sudah menyusahkan, dan lima ormas Islam saja sudah meresahkan. Kelompok, golongan, jamaah atau harakah seperti itu tidak menguatkan, malah menjadi sumber kelemahan dan kekalahan. Allah telah mengingatkan:

”Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya serta janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya allah beserta orang-orang yang sabar.” [Al-Anfal: 45-46]

Sangat disayangkan, banyak di antara anggota jamaah yang kerjanya hanya mencari-cari kelemahan dan kekurangan jamaah yang lain, kemudian menyebarluaskannya. Budaya seperti ini sungguh sangat memprihatinkan kita. Apalagi jika sikap seperti itu kemudian dibenarkan oleh para elit jamaah, maka akan semakin lengkaplah penderitaan kaum Muslimin.

Lebih parah lagi, jika di antara mereka terjadi saling mengkafirkan. Tuduhan sebagai ahli bid’ah, ahli syirik, dan kelompok munafik menjadikan kelompok-kelompok dalam Islam bukan saja lemah posisinya, tapi menghancurkan diri mereka sendiri. Sehingga untuk mengalahkan kaum Muslimin, kaum kafir tidak perlu dengan berperang lagi, karena di antara kita sendiri sudah saling membunuh. Itulah sebabnya mengapa Rasulullah SAW dengan tegas bersabda:

”Apabila berhadapan dua orang Muslim dengan pedangnya masing-masing, maka baik yang membunuh maupun yang terbunuh masuk neraka.” Seorang Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, itu layak bagi yang membunuh, tetapi bagaimana dengan yang terbunuh?” Beliau menjawab: ”Sesungguhnya dia (yang terbunuh) juga berkehendak membunuh Sahabatnya itu.” [Riwayat Muslim]

Biang Ashabiyah

Biang keladi dari penyakit kronis ashabiyah yang diderita jamaah-jamaah adalah sikap hasud, iri, atau dengki. Di antara jamaah -jamaah Islam ada yang merasa sedih jika jamaah lain mempunyai kelebihan sebagai anugerah dari Allah, sementara mereka merasa gembira manakala jamaah itu mendapat kesusahan atau ujian. Perasaan seperti itu kadang disembunyikan, tapi tak jarang pula dinampakkan. Sungguh ironis, bukankah tujuan kita berjamaah justru untuk saling menguatkan, tapi mengapa kita melemahkan jamaah kita dengan berhasud ria terhadap jamaah lain? Bukankah Allah telah berfirman:

”Apakah mereka dengki kepada manusia atas anugerah Allah yang diberikan kepadanya?” [QS. An-Nisaa: 54]

Sangat disayangkan, kita yang sudah ditarbiyah dan tercerahkan, malah menjadi pendengki. Renungkanlah sabda Nabi berikut ini: ”Takutlah kamu sekalian pada sifat dengki, karena dengki itu akan memakan amalan-amalan yang baik sebagaimana api memakan kayu bakar. Atau beliau bersabda: (memakan) rumput kering.” (Riwayat Bukhari dan Muslim). Wallahu a’lam bishshawab.

[Hami Thohari. Tulisan ini pernah dimuat Majalah Hidayatullah, edisi 5, September 2006]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: