DILEMA MAYORIYAS

Insiden Monas 1 Juni 2008 hanyalah salah satu bukti pertarungan ideologis yang terjadi antara umat Islam dan musuh-musuhnya. Perjuangan umat Islam mempertahankan kemurnian agamanya dari noda ajaran sesat Ahmadiyah dihadang oleh gerombolan massa mengatasnamakan aliansi kebangsaan dan kebebasan. Momentum hari Pancasila acapkali digunakan oleh kalangan nasionalis sekular untuk membendung perjuangan umat Islam.

    Tentu kita masih ingat, peringatan hari Pancasila dua tahun lalu yang dirayakan secara besar-besaran. Presiden SBY waktu itu berkata lantang, “Jangan ganggu Pancasila.” Entah siapa yang dimaksud SBY telah mengganggu Pancasila. Namun yang jelas, kala itu kelompok nasionalis sekular didukung kaum Kristen yang menolak RUU APP dan Perda Anti Maksiat melemparkan isu panas tentang adanya ancaman terhadap eksistensi Pancasila terkait dengan dua hal tersebut.

 

     Khususnya di Indonesia, pertarungan umat Islam melawan kelompok sekular, komunis serta Kristen radikal memang merupakan pertarungan dengan nafasnya yang panjang. Pertarungan itu, dari dulu hingga kini, tak lepas dari skenario global yang hendak menguasai negeri muslim terbesar di dunia ini.

 

     Ironisnya, umat Islam sebagai kelompok mayoritas di bumi pertiwi ini mendadak menjadi minoritas ketika menuntut hak ditegakkannya syariat Islam dalam kehidupan sosial-kenegaraan. Tak kurang Hussein Umar semasa hidupnya pernah berujar, “Sejarah bangsa ini dipenuhi perjuangan umat Islam. Tapi kita selalu dikhianati!”

    Sejarah memang selalu berulang. Dan sudah menjadi sunatullah, bahwa perjuangan menegakkan agama Allah selalu mendapatkan lawan. Dalam sejarah bangsa ini, kaum salibis yang minoritas, dan kelompok sekular yang selalu menjadi

 usuh dalam selimut’ konsisten dalam memberikan perlawanan terhadap upaya-upaya penegakkan syariat Islam. Mulai dari ultimatum terhadap piagam Jakarta di masa awal kemerdekaan, kegigihan memperjuangkan RUU Perkawinan dan Aliran Kepercayaan, penolakan terhadap RUU Peradilan Agama dan Sisdiknas, hingga penolakan terhadap Perda Anti Maksiat dan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Dan kasus terakhir, pembelaan mereka terhadap aliran sesat Ahmadiyah.

 

    Ordo Jesuit, sayap radikal kelompok Kristen yang juga banyak berperan menjegal aspirasi umat Islam Indonesia, atas nama kepentingan politik dan menghadapi musuh bersama, bekerjasama dengan kelompok Marxis untuk menjegal umat Islam. Sayap dari Ordo Jesuit, Missionary Mary Knoll, yang mengusung paham “Sosial Demokrat” dan “Teologi Pembebasan”, yang berorientasi pada komunisme adalah organisasi militan yang berada di bawah kendai Freemasonry. Jika sampai hari ini perjuangan kita menegakkan syariat Islam mendapat tantangan kelompok-kelompok anti-Islam, maka sejatinya kita sedang bertarung melawan antek-antek Freemasonry, antek-antek Zionisme Internasional!

 

By : AL HIDAYAH Radio, Pontianak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: