Suraqah Al-Andalusia raahimahullaah ( Bag.3 )

Biografi Wartawan Azzam Publications

“Yaa Alloh! Jangan biarkan diriku meninggalkan pegunungan ini kecuali Engkau menjadikan aku sebagai Syuhada!”

Bagian Ketiga.

Pertempuran Tora Bora

Hingga  akhirnya  terjadilah  peristiwa  Serangan  11  September  2001  yang kemudian  diikuti  dengan  serangan  terhadap  Islam  dan  Ummatnya  pada  7 Oktober  2001.  Ketika  Taliban  memutuskan  untuk  mundur  meninggalkan kota-kota  yang  dikuasainya  dan  bergerak  menuju  kawasan  pegunungan, Suraqah  adalah  salah  seorang  di  antara  Mujahidin  yang  mundur  menuju deretan  pegunungan  tinggi  Tora  Bora,  kawasan  timur  Afghanistan.  Pada November  2001  tentara  salib  Amerika  menyerang  posisi  Mujahidin  di Tora  Bora  dan pecahlah  pertempuran yang paling  sengit  yang  terjadi  saat itu.

Kawasan  pegunungan  Tora  Bora  terdiri  atas  jajaran  bukit  dan  puncak pegunungan tinggi.  Saat itu  diperkirakan  militer  Amerika  akan lebih dulu mendaratkan  pasukannya  di  jajaran  perbukitan  yang  berada  di  ketinggian rendah, karena itu  para pimpinan  Mujahidin memberikan  perintah  kepada Mujahidin yang masih baru dan relatif belum memiliki pengalaman tempur untuk  bergerak  naik  menuju  puncak  pegunungan,  sementara  Mujahid- mujahid  yang  telah  berpengalaman  diperintahkan  untuk  tinggal  di perbukitan  menyongsong  datangnya  tentara  musuh.  Suraqah  berupaya untuk  membujuk  komandan  groupnya  agar  mengijinkan  dirinya  ikut tinggal di perbukitan  dengan alasan dirinya  ingin  ikut menghadapi  tentara Amerika,  namun  keinginannya  ditolak  oleh  para  komandan  militernya. Dengan  rasa  enggan  namun  tetap  patuh  pada  perintah  komandannya Suraqah berjalan naik ke pegunungan.

Sepanjang  bulan  November  2001  yang  bertepatan  dengan  Ramadhan 1422H  pertempuran  antara  kedua  belah  pihak  akhirnya  meletus.  Militer Amerika  tanpa  pandang  bulu  menghujani  kawasan  pegunungan  seakan tiada beda lagi antara siang maupun malam. Hujan bom seakan dicurahkan dari  langit,  bumi  dan  gunung  seakan  meletuskan  isinya.  Di  antara perlengkapan  tempurnya,  Suraqah  juga  membawa  serta  peralatan  P3K miliknya.  Dia  bukanlah  seorang  dokter,  tetapi  apa  yang  dilakukannya selama  pemboman  berlangsung  rasanya  tidak  berlebihan  jika  dikatakan melebihi  apa  yang  dilakukan  oleh  seorang dokter  profesional.  Setiap  kali mendengar  kabar  melalui  radio  komunikasi  ada  seorang  Mujahid  yang mendapat luka, Suraqah  tanpa ragu mengeluarkan  peralatan medisnya dan mengambil resiko menempuh perjalanan berbahaya  menuju lokasi  korban, berjalan  menghindari  area  pemboman.  Saat  masih  sibuk  mengurus “pasiennya” dan  kembali  mendengar berita jatuhnya  korban  lagi,  Suraqah segera  bergerak  menuju  “pasien”  barunya  yang  berada  lebih  rendah 2000feet  (600meter)  dari  posisinya  berada.  Demikianlah  kesibukannya selama  pertempuran  berkecamuk,  naik  turun  gunung  tiada  henti  tanpa mempedulikan  curamnya  pegunungan  Tora  Bora.  Terkadang  jika  dirinya berhadapan  dengan  musuh,  dengan  keberanian  tinggi  dirinya  mengambil posisi tempur dan tidak menghindari musuh.

Do’a Seorang Mujahid

Rasulullah  Muhammad SAW bersabda,  “Mujahid yang berjuang di Jalan Allah, orang yang sedang menunaikan ibadah haji dan orang yang sedang menunaikan  ibadah  umrah,  ketiganya  adalah  tamu-tamu  Allah!  Dia memanggil  mereka  dan  mereka  memenuhi  panggilan-Nya.  Mereka memohon  kepada-Nya,  maka  Allah  akan  mengabulkan  permohonan mereka!”

Beberapa  minggu  berlalu  dan  Suraqah  tetap  berada  di  tempat  dimana dirinya  ditugaskan.  Akhirnya  tibalah  10  hari  terakhir  bulan  Ramadhan. Pada  suatu  malam  dimana  pertempuran masih  berkecamuk,  seorang rekan Mujahid  melihat  Suraqah  berdiri  sendirian  di  lereng  gunung  dengan mengenakan  pakaian  tempur  kamuflase  yang  dililit  oleh  magasin  peluru dan  menggenggam  senjata  AK-47  Kalashnikov  di  tangannya.  Sekalipun temperatur saat itu di bawah nol derajat celcius dan hembusan angin dingin membekukan tulang menerpa tubuhnya, dirinya terlihat berkeringat  seperti yang  umum ditunjukkan selama  menjalani latihan  militer. Secara tiba-tiba Suraqah  membentangkan  kedua  tangannya  lurus  ke  udara  dan  berteriak dengan sekuat  tenaganya,   “Yaa Allah! Jangan biarkan  diriku  meninggalkan pegunungan ini kecuali Engkau menjadikan aku sebagai Syuhada!”.

Gugur Syahid

Malam  itu  adalah  malam  Jum’at  29  Ramadhan  1422H  dan  mayoritas Mujahidin  mengatakan  malam  itu  adalah  malam  Lailatul  Qadar.  Waktu menunjukkan  hampir  pukul  9  malam  dan  Suraqah  bersama  group tempurnya yang berjumlah 20 orang sedang bergerak menuju posisi lain di kecuraman  pegunungan  Tora  Bora.  Tiba-tiba  raungan  pesawat  pembom Amerika  B-52  Stratofortress  terdengar  membelah  udara  malam  di  atas mereka,  diikuti  dengan  suara  desing  bom  yang  dijatuhkan,  berjumlah banyak  dan  solid,  menggambarkan  kekuatan  tirani  dan  ketidakadilan. Ketika  hujan  cluster  bomb  itu  memecah  menjadi  ratusan  bom-bom berukuran kecil,  suara  ledakan  yang  serupa tapi  tak  sama  dengan ledakan kembang  api  riuh  membahana,  memecah  kesunyian  malam  pegunungan agung  nan  mulia  Tora  Bora.  Sudah  ditakdirkan  salah  satu  bom  itu ditujukan  kepada  Suraqah  Al-Andalusia,  dan  dengan  cara  demikianlah Singa Islam dan Pahlawan ini menyerahkan jiwa raganya yang suci kepada Khalik-nya.  Darah  mulianya  me mbasahi  tanah  yang  penuh  dengan  kisah kepahlawanan,  keberanian  dan  ksatria  ini.  Jenazahnya  yang  suci ditemukan  oleh  penduduk  sekitar  beberapa  minggu  kemudian  dan dimakamkan  di  desa  Markhanai,  kaki  pegunungan  Tora  Bora.  Semoga Allah SWT menerima Suraqah sebagai seorang Syuhada.

Mimpi Setelah Syahidnya Suraqah

Setelah  Suraqah  gugur  Syahid,  sejumlah  keluarga  dan  juga  sahabat- sahabatnya  bermimpi  tentang  Suraqah.  Istrinya  bermimpi  melihat  seekor burung  di  kejauhan  pulau.  Bulu  burung  itu  habis  terbakar  dan  tergeletak tak  bergerak.  Tiba-tiba  di  kejauhan  seekor  burung  lainnya  terbang mendekati burung itu dan mendarat  di  sampingnya. Burung  yang  terbakar itu  kemudian  menanggalkan  bulu  luarnya  yang  habis  terbakar  dan  dari dalamnya muncul burung  baru  dengan warna  bulu  yang begitu  indah  yang belum  pernah  dilihatnya.  Kedua  burung  tersebut  kemudian  terbang  ke angkasa.

Adiknya  bermimpi  dimana  dirinya  mendatangi  seseorang  dan  bertanya dengan gusar, “Di  mana  kakakku Suraqah?”  Orang itu menunjuk  gunung di  kejauhan.  Dirinya  kemudian  bertanya  lagi  kepada  orang-orang  di sekitar,   “Di  mana  kakakku?”   Dan  orang-orang  yang  ditanya  kembali menunjuk gunung di kejauhan. Kemudian dirinya berjalan sejauh mungkin menuju  gunung  yang  dimaksud  dan  kembali  bertanya.  Orang-orang menunjuk gunung putih di kejauhan.

Adik  perempuannya bermimpi  bertemu  dengan  Suraqah,  saat  itu  Suraqah datang  mengunjungi  keluarga  mereka.  Tubuh  Suraqah  mengeluarkan cahaya  yang  sangat  bersinar  dan  tubuhnya  sedemikian  besar  sehingga membuat  orang-orang yang  mengerumuni  Suraqah  harus menengadahkan wajah mereka untuk dapat memandang Suraqah.

Wasiat Suraqah Al-Andalusia

Wasiat kepada istri, kedua anaknya dan keluarganya (rangkuman) :

Sesungguhnya  Allah  menjadi  saksi  betapa  besarnya  cinta  saya  kepada kalian, tetapi Islam membatasi kecintaan ini. Allah SWT berfirman :

“Katakanlah  :  ‘Jika  bapak-bapak,  anak-anak,  saudara-saudara,  isteri isteri,  kaum  keluargamu,  harta  kekayaan  yang  kamu  usahakan, perniagaan  yang  kamu  khawatiri  kerugiannya,  dan  rumah-rumah tempat  tinggal  yang  kamu  sukai,  adalah  lebih  kamu  cintai  daripada Allah  dan Rasul-Nya dan  (dari)  berjihad  di  jalan-Nya, maka  tunggulah sampai  Allah mendatangkan  keputusan-Nya’.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”  [QS At-Taubah:24]

Wasiat Kepada Ummat Islam :

Maka  menjadi jelas  bagi  kita  bahwa  kecintaan  kita  kepada  keluarga kita, harta  benda  kita  dan  lainnya  yang  terkait  dengan  kehidupan  dunia tidak boleh   lebih  besar  daripada  kecintaan  kita  kepada  Allah  SWT  dan  Rasul-Nya  SAW  dan Jihad  di  Jalan-Nya. Jika  alasan  yang kita ajukan pada Hari Pengadilan  nanti karena tidak  memenuhi panggilan Jihad adalah  keluarga dan orang-orang yang kita cintai, maka kita sebaiknya merenungi apa yang telah Allah SWT peringatkan kepada kita di dalam Surat ‘Abasa :

“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala  yang kedua), pada Hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap  orang  dari mereka pada  Hari  itu mempunyai  urusan yang  cukup menyibukkannya”  [QS ‘Abasa:33-37]

Ini  adalah  peringatan  yang  sangat  serius  dan  tidak  dapat  diabaikan  oleh mereka  yang  menolak  panggilan Allah  karena  lebih memilih  orang-orang yang  mereka  cintai  dan  hasrat  dunia lainnya (harta  benda,  rumah mewah, jabatan & kedudukan  dll). Semua hal ini menjadi tidak berguna pada Hari Pembalasan  untuk  kita  kemukakan  sebagai  alasan  karena  meninggalkan perintah Allah SWT (menegakkan Jihad).

Bila  kita  melihat  keadaan  sekeliling  pada  realitas  yang  terjadi  di lingkungan Ummat Muslim, dengan menyesal kita melihat keadaan ummat yang  sangat  terhina,  hanya  beberapa  gelintir  saja  realitas  yang  dapat dibanggakan  karena  menegakkan  martabat  ummat.  Ummat  Muslim sebagai  satu  kesatuan  (Ummat)  telah  meninggalkan  ajaran  agama  ini hingga  Allah  SWT  membiarkan  nasib  kita  bergantung  pada  belas  kasih kekuatan  kufur  orang-orang  kafir,  orang-orang  Yahudi  yang  pengecut, kaum atheis yang sombong dan orang-orang murtad pengikut setan.

Fakta  yang paling nyata  kita lihat adalah apa  yang terjadi di  Palestina  saat ini.  Allah  SWT  menempatkan  negara  kecil  yang  pengecut  ini  (Israel)  di leher  Ummat  Muslim.  Padahal  Allah  SWT  amat  murka  kepada  kaum Yahudi ini  “(yaitu)  Jalan  orang-orang  yang telah Engkau  anugerahkan nikmat  kepada  mereka;  bukan  (jalan)  mereka yang  dimurkai  (Yahudi), dan  bukan  (pula  jalan)  mereka  yang  sesat  (Nasrani)” [QS  Al- Fatihah:7]. Allah  SWT  juga  memberitahu  kita  dalam  Surat  Al-Baqarah, “Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba  lagi)  dari orang-orang musyrik.  Masing-masing  mereka  ingin  agar  diberi  umur  seribu  tahun, padahal  umur  panjang  itu  sekali-kali  tidak  akan  menjauhkannya  dari siksa.  Allah  Maha  Mengetahui  apa  yang  mereka  kerjakan” [QS  Al-Baqarah:96]

Tetapi sekalipun demikian keadaan saat ini menunjukkan para pengecut ini menjadi  tuhan  di  Timur  Tengah.  Hal  ini  sungguh  menunjukkan  betapa Ummat Muslim telah tersesat dan menyimpang dari Jalan yang Lurus. Kita melihat  betapa  penganiayaan  dan  pembantaian  besar-besaran  tengah berlangsung  di  Tanah  Suci  Palestina  dan  Ummat  Muslim  tidak  berbuat apa-apa.  Sikap  diam  Ummat  Muslim  seolah  seperti  mengatakan  kepada Muslim Palestina,  “Kuburkan anak-anak, orang tua dan semua yang telah mati  terbunuh,  dan  terimalah  uang  sekedarnya  sebagai  tanda  duka  cita kami dan hiburan atas keadaan kalian, dan bersabarlah”.  Subhanallah!   Inilah  yang  terjadi  pada Ummat  Muhammad  SAW  saat ini, padahal  Allah  SWT  telah  menggambarkan  keadaan  mereka  di  Surat  Ali ‘Imran  :   “Dan  hendaklah  ada  di  antara  kamu  segolongan  umat  yang menyeru  kepada  kebajikan,  menyuruh  kepada  yang  ma’ruf  dan mencegah dari  yang munkar; merekalah orang-orang yang  beruntung” [QS Ali ‘Imran:104]

Para  Khalifah  pemimpin  ummat  di  masa  lalu  tanpa  ragu  akan  mengirim tentara mereka untuk menuntut balas atas penghinaan yang bahkan dialami oleh  seorang  wanita  muslimah  saja.  Tetapi  saat  ini  kehormatan  wanita- wanita  muslimah  dinodai  dari  waktu  ke  waktu,  pria  muslim  dibunuh  dan dibantai  besar-besaran  dengan  cara  yang  paling  mengerikan,  tetapi  tetap saja  tidak  ada  gerakan  kolektif  dari  Ummat  Muslim.  Keadaan menyedihkan  ini  sudah  dijelaskan  oleh  Rasulullah  Muhammad  SAW dalam satu hadits yang shahih :

“Ketika kalian berdagang dengan cara Tabaiya  Al-Ainiya (satu jenis  riba dimana  penjualan  dilakukan  pada  harga  tertentu  untuk  kemudian  dibeli kembali dengan harga yang jauh lebih murah), dan mengikuti ekor kerbau (maksudnya  mereka  begitu  menaruh  perhatian  dan  asyik  pada  usahanya untuk  hidup  seperti  pertanian  dan  peternakan  dan  melupakan  Jihad), maka  Allah  akan  menghinakan  kalian dan tidak  akan  mencabut  kehinaan itu hingga kalian kembali kepada ajaran Islam”.

Ummat  ini  telah  mengabaikan  prinsip-prinsip  agamanya  yaitu meninggalkan  ajaran yang  paling  dicintai di sisi Allah SWT,  ajaran  Jihad. Maka  Allah  SWT  menempatkan  kita  pada  belas  kasih  orang-orang penghuni neraka.

Wahai  Ummat  Muhammad,  bangunlah  dari  tidur  kalian  dan  takutlah  kepada Tuhanmu, karena hanya Dia-lah yang harus ditakuti!

Namun  hal  yang  lebih  buruk  lagi adalah  apa  yang tengah terjadi  hari ini. Segelintir  orang-orang  muslim  pemberani  yang  bergabung  dalam  Jihad malah  disebut sebagai ekstrimis, pemberontak, bandit  atau  teroris  bahkan oleh  saudara-saudara  muslimnya  sendiri.  Adalah  benar  adanya  jika sejumlah orang  telah  membuat kesalahan dalam  menegakkan  Jihad, tetapi sejatinya  Jihad  adalah  tindakan  yang  dibenarkan  dalam  ajaran  Islam. Bukankah  kita  mengetahui  bahwa  sebagian  muslim  juga  mempraktekkan syirik  ketika  menegakkan  shalat  dan  ketika  menunaikan  haji  (padahal syirik adalah perbuatan yang sangat dilarang di sisi Allah?), tetapi tindakan sebagian muslim ini  tidaklah  menjadikan kita lantas  berhenti menegakkan shalat dan menunaikan haji? Sebaliknya tindakan yang kita lakukan adalah tetap menegakkan kedua kewajiban ini (yang merupakan bagian dari rukun islam)  dengan  jalan  menanggalkan  bid’ah  dan  syirik  dan  melakukannya sesuai  tuntunan  yang  diajarkan  dan  dicontohkan  oleh  Rasulullah Muhammad SAW beserta Para Sahabat Beliau RA. Demikian pula dengan Jihad, yang merupakan puncak dari segala urusan. Bagaimana  mungkin  kita  meninggalkan  Jihad  padahal  jalan  inilah  yang ditempuh  oleh  Rasulullah  SAW  beserta  Para  Sahabatnya  RA  dahulu? Jika kita  mengaku sebagai Ummat  Rasulullah  SAW  maka  kita juga  harus mengikuti  jalan  yang  telah  ditempuh  Beliau  SAW.  Saudara  saudariku, janganlah bersikap pesimis dan patah arang, dan janganlah mendekati jalan kapitalis dan idealisme mereka. Seringkali kita mendengar saudara-saudara muslim  kita  baik  para  Ulama,  pemuka  &  tokoh  masyarakat  maupun mereka yang kurang mema hami Jihad berpendapat bahwa Jalan Jihad tidak menghasilkan  apa-apa  kecuali  kerusakan  dan  permusuhan  belaka.  Allah SWT berfirman di dalam Surat Ali ‘Imran :

“Janganlah  kamu  mengira  bahwa  orang-orang  yang  gugur  di  Jalan Allah  itu  mati;  bahkan  mereka  itu  hidup  di  sisi  Tuhannya  dengan mendapat  rezeki.  Mereka  dalam  keadaan  gembira  disebabkan  karunia Allah  yang  diberikan-Nya  kepada  mereka,  dan  mereka  bergirang  hati terhadap  orang-orang  yang  masih  tinggal  di  belakang  yang  belum menyusul  mereka,  bahwa tidak ada  kekhawatiran  terhadap mereka  dan tidak (pula) mereka bersedih hati”  [QS Ali ‘Imran:169-170]

Ayat  ini  memberikan  kejelasan  kepada  kita  bahwa  pihak  yang  merugi bukanlah pihak yang mati di Jalan Allah tetapi mereka yang memilih untuk tetap  melanjutkan  hidup,  memperdebatkan  dan  mengkritisi  Jihad.  Hal  ini digambarkan  oleh  ayat   “bahkan  mereka  itu  hidup  di  sisi  Tuhannya dengan  mendapat  rezeki”.   Ayat-ayat  ini  seharusnya  direnungi  dalam-dalam oleh mereka yang meragukannya. Tetapi  mereka  yang  memilih  untuk  meremehkan  ayat  ini  adalah  mereka yang  telah  dikuasai  hawa  nafsu  (syahwat  hidup  &  dunia).  Kemenangan datangnya  hanya  dari  Allah  SWT,  tugas  kita  adalah  mematuhi  dan menjalankan  perintah-Nya  dengan  melaksanakan  kewajiban  Jihad  dan bersabar  di  Jalan  ini.  Ada  sebagian  orang  yang  meyakini  bahwa  yang dimaksud  dengan  tetap  bersabar  di  tengah-tengah  Kufur  Bawah  serta penjajahan  dan  penganiayaan  yang  dilakukan  orang-orang  kafir  terhadap Ummat Muslim di banyak negara adalah tetap tinggal di rumah, beribadah rutin  dan  melanjutkan  hidup  sebagaimana  biasanya.  Hal  ini  bukanlah bersabar  tetapi  menunjukkan  sikap  pengecut  kita  dan  jatuh terhina  dalam cemoohan.  Sebaliknya,  yang  dimaksud  dengan  tetap  bersabar  adalah berjihad di Jalan Allah hingga datangnya kemenangan atau mati syahid.

Tidak seperti bangsa-bangsa sebelumnya dimana Allah SWT sendiri yang menghancurkan  mereka  dengan  mengirim  Kekuasaan-Nya  (yaitu  Bangsa Tsamud  yang dihancurkan oleh kekuatan badai dan petir,  dan Bangsa `Aad yang  dihancurkan  oleh  kekuatan  angin  topan),  Ummat  Muslim  saat  itu mendapatkan  kemenangan  tanpa  diperintahkan  untuk  berjihad.  Tetapi terhadap  Ummat  Muhammad  SAW,  Allah  SWT  memerintahkan  Ummat Muslim  untuk  memerangi  sendiri  orang-orang  kafir,  atheis,  orang-orang musyrik  dan  murtad  dengan  perjanjian  bahwa  Allah  SWT  yang  akan menghukum  orang-orang  kafir  melalui tangan kita. Allah  SWT berfirman di dalam Surat At-Taubah dengan sangat jelas :

“Perangilah  mereka,  niscaya  Allah  akan  menyiksa  mereka  dengan (perantaraan)  tangan-tanganmu  dan  Allah  akan  menghinakan  mereka dan  menolong  kamu  terhadap  mereka,  serta  melegakan  hati  orang- orang yang beriman”  [QS At-Taubah:14]

Bagi mereka  yang meragukan Jalan ini dinasehatkan untuk  menggali lebih dalam  firman-firman  Allah  SWT  hingga  menemukan  betapa  tingginya perhatian  terhadap  isu  ini  dan  betapa  banyaknya  isu  ini  disebut  di  dalam Al-Quran.  Jika  kita  mempelajari  sejarah  hidup  Rasulullah  Muhammad SAW  juga  akan  kita  temukan  betapa  Beliau  SAW  bergerak  dari  satu peperangan  ke  peperangan  lainnya  hanya  untuk  menegakkan  bendera Islam.  Demikian  pula  dengan  empat  Khalifah  RA  yang  berada  di  Jalan yang Lurus dan para penerus mereka (Salaf) melanjutkan pemahaman akan Jihad seperti yang mereka terima dari Rasulullah SAW.

Saudara-saudariku yang lurus  hati,  marilah  kita  lihat  apa  yang telah Allah SWT  takdirkan kepada  kita  bila  kita mengaku  sebagai hamba-Nya.  Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Baqarah :

“Diwajibkan  atas  kamu  berperang,  padahal  berperang  itu  adalah sesuatu  yang  kamu  benci.  Boleh jadi  kamu membenci sesuatu,  padahal ia  amat  baik  bagimu,  dan  boleh  jadi  (pula)  kamu  menyukai  sesuatu, padahal  ia  amat  buruk  bagimu;  Allah  mengetahui, sedang  kamu  tidak mengetahui”  [QS Al-Baqarah:216]

Ayat  ini sangat  jelas sekali  maknanya.  Berperang adalah  hal  yang dibenci laki-laki  tetapi  itu  telah  ditakdirkan  kepadanya  sebagai  suatu  kewajiban. Adalah  sangat  penting  dan  menarik  untuk  dibahas  bagaimana  kata  kerja yang  digunakan  dalam  “memerintahkan  berperang”  sama  dengan  kata kerja  yang  digunakan  dalam  “me merintahkan  berpuasa”, “Ku  Ti  Ba”   di dalam surat yang sama,  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu  berpuasa  sebagaimana  diwajibkan  atas  orang-orang  sebelum kamu agar kamu bertakwa”  [QS Al-Baqarah:183].  Namun demikian kita melihat  ketidaksesuaian  yang  sangat  jauh  dalam  mengimplementasikan kedua  kewajiban  ini.  Sesungguhnya  ilmu  dan  petunjuk  datangnya  hanya dari Allah semata. Allah SWT berfirman :

“Mengapakah  kamu  tidak  memerangi  orang-orang  yang  merusak sumpah  (janjinya),  padahal  mereka  telah  keras  kemauannya  untuk mengusir  Rasul  dan merekalah  yang  pertama kali  memulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman”     [QS At-Taubah:13]

“Perangilah  mereka,  niscaya  Allah  akan  menyiksa  mereka  dengan (perantaraan)  tangan-tanganmu  dan  Allah  akan  menghinakan  mereka dan  menolong  kamu  terhadap  mereka,  serta  melegakan  hati  orang- orang yang beriman”  [QS At-Taubah:14]

“Perangilah  orang-orang  yang  tidak  beriman  kepada  Allah  dan  tidak (pula)  kepada  Hari  Kemudian  dan  mereka  tidak  mengharamkan  apa yang  telah  diharamkan  oleh  Allah  dan  Rasul-Nya  dan  tidak  beragama dengan  agama  yang  benar  (agama  Allah),  (yaitu  orang-orang)  yang diberikan  Al-Kitab  kepada  mereka,  sampai  mereka  membayar  jizyah dengan  patuh  sedang  mereka  dalam  keadaan  tunduk” [QS  At- Taubah:29]

“Katakanlah  :  ‘Jika  bapak-bapak,  anak-anak,  saudara-saudara,  isteri-isteri,  kaum  keluargamu,  harta  kekayaan  yang  kamu  usahakan, perniagaan  yang  kamu  khawatiri  kerugiannya,  dan  rumah-rumah tempat  tinggal  yang  kamu  sukai,  adalah  lebih  kamu  cintai  daripada Allah  dan Rasul-Nya dan  (dari)  berjihad  di  jalan-Nya, maka  tunggulah sampai  Allah mendatangkan  keputusan-Nya’.  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”  [QS At-Taubah:24]

“Hai  orang-orang  yang  beriman,  sesungguhnya  orang-orang  yang musyrik  itu  najis,  maka  janganlah  mereka  mendekati  Masjidil  Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu  dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki.  Sesungguhnya  Allah  Maha  Mengetahui  lagi  Maha Bijaksana”  [QS At-Taubah:28]

“Orang-orang  yang  beriman  kepada  Allah  dan  Hari  Kemudian,  tidak akan  meminta  izin  kepadamu  untuk (tidak  ikut)  berjihad  dengan  harta dan  diri  mereka.  Dan  Allah  mengetahui  orang-orang  yang  bertakwa”      [QS At-Taubah:44]

“Sesungguhnya  yang  akan  meminta  izin  kepadamu,  hanyalah  orang- orang  yang  tidak  beriman  kepada  Allah  dan  Hari  Kemudian,  dan  hati mereka  ragu-ragu,  karena  itu  mereka  selalu  bimbang  dalam  keragu- raguannya”  [QS At-Taubah:45]

“Dan  jika  mereka  mau  berangkat,  tentulah  mereka  menyiapkan persiapan  untuk  keberangkatan  itu,  tetapi  Allah  tidak  menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan  kepada  mereka  :  ‘Tinggallah  kamu  bersama  orang-orang yang tinggal itu’”  [QS At-Taubah:46]

Ayat-ayat  berikut  menggambarkan  peringatan  yang  jelas  kepada  mereka yang  menyatakan  telah  memiliki  niat  untuk  menegakkan  kewajiban  yang paling dicintai di sisi Allah SWT :

“Hai  orang-orang  yang  beriman,  Apakah  sebabnya  apabila  dikatakan kepada  kamu  :  ‘Berangkatlah  (untuk  berperang)  pada  jalan  Allah’ kamu merasa  berat  dan ingin  tinggal  di  tempatmu? Apakah kamu puas dengan  kehidupan  di  dunia  sebagai  ganti  kehidupan  di  akhirat? Padahal  kenikmatan  hidup  di  dunia  ini  (dibandingkan  dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”  [QS At-Taubah:38]

“Jika  kamu  tidak  berangkat  untuk  berperang,  niscaya  Allah  menyiksa kamu  dengan  siksa  yang  pedih  dan  digantinya  (kamu)  dengan  kaum yang  lain,  dan  kamu tidak  akan  dapat  memberi kemudharatan  kepada- Nya  sedikitpun.  Allah  Maha  Kuasa  atas  segala  sesuatu” [QS At-Taubah:39]

“Berangkatlah  kamu  baik  dalam  keadaan  merasa  ringan  ataupun merasa  berat, dan  berjihadlah  dengan harta  dan  dirimu  di  Jalan  Allah. Yang  demikian  itu  adalah  lebih  baik  bagimu  jika  kamu  mengetahui”      [QS At-Taubah:41]

Kemudian  daripada  itu  saya  ajak  saudara-saudaraku  semua  untuk menyimak ayat yang menggembirakan hati di dalam Surat At-Taubah :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta  mereka  dengan  memberikan  Surga  untuk  mereka.  Mereka berperang  pada  Jalan  Allah  ;  lalu  mereka  membunuh  atau  terbunuh. (Itu  telah  menjadi)  janji  yang  benar  dari  Allah  di  dalam  Taurat,  Injil dan  Al-Quran.  Dan  siapakah  yang  lebih  menepati  janjinya  (selain) daripada  Allah?  Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar”  [QS At-Taubah:111]

Ayat  berikut menggambarkan  ciri  kepribadian  orang-orang  yang  bersedia menjual diri mereka seperti disebut dalam ayat 111 di atas :

“Mereka  itu  adalah  orang-orang  yang  bertaubat,  yang  beribadat,  yang memuji  (Allah), yang  melawat,  yang ruku’,  yang sujud, yang  menyuruh berbuat  ma’ruf  dan  mencegah  berbuat  mungkar  dan  yang  memelihara hukum-hukum  Allah.  Dan  gembirakanlah  orang-orang  mukmin  itu”     [QS At-Taubah:112]

Allah  SWT  mengajak  orang-orang  beriman  untuk  bertransaksi  bisnis. Bisnis ini  tidak mengecualikan  mereka yang  miskin karena setiap manusia memiliki  jiwa.  Allah  SWT  bermaksud  untuk  me mbeli  jiwa  orang-orang yang  beriman  dan  harta  kekayaan  yang  dapat  mereka  berikan  kepada Allah,  dan  sebagai  gantinya  Allah  SWT  akan  melimpahkan  Surga-Nya, dengan  syarat  mereka  bersedia  berperang  di  Jalan  Allah,  dan  mereka membunuh atau mati terbunuh.

Wahai  kalian  Pebisnis  Muslim!  Perhatikanlah  dan  jangan  sampai  kalian gagal  memenangkan  bisnis  ini.  Rasulullah  Muhammad  SAW  bersabda  di dalam  satu  hadits  yang  shahih, “Siapa  saja  yang  mati  tanpa  pernah berjihad,  juga  tidak  pernah  mendorong  dirinya  untuk  menegakkan  Jihad, maka dia mati dalam keadaan munafik”.

Rasulullah  Muhammad  SAW  bersabda, “Jiwa  Para  Syuhada  berada  di dalam  burung  hijau  (green  birds)  yang  bertengger  di  lampion  yang menggantung  di  ‘Arasy  Allah  SWT.  Dan  mereka  terbang  bebas  di  dalam Surga ke manapun mereka mau”.

Rasulullah Muhammad  SAW  bersabda,  “Tidak akan pernah  tersentuh api neraka, seorang hamba yang tubuhnya berdebu karena berperang di Jalan Allah”.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda,  “Siapa saja yang kakinya berdebu karena berperang  di  Jalan Allah,  api neraka tidak  akan dapat menyentuh kaki tersebut”.

Maka,  setelah  menyimak  segala  janji,  kehormatan  dan  status  tinggi  yang tersedia,  masihkah  Ummat ini  tetap  tidak mengindahkan  tapak jejak yang telah  di-design  untuk  melindungi  Islam  dan  kehormatan  Ummatnya? Masihkah  mereka  tidak  ingin  membentangkan  dan  mengibarkan  bendera Islam di hadapan orang-orang kafir, musyrik dan murtad?

Wahai  orang-orang  beriman  dan  alim  ulama!  Takutlah  kepada  Tuhanmu karena  hanya Dia-lah yang pantas untuk ditakuti. Dan jika kalian memang benar-benar  tulus  ikhlas  maka  nilailah  hidupmu  dan  pertimbangkanlah niatmu di hadapan ayat-ayat gemerlap yang bercahaya milik Tuhan kita ini dan tuntunan Nabi kita tercinta Muhammad SAW.

Sekarang  marilah  kita  mengkaji  sajak  mengesankan  yang  ditulis  oleh Imam  Abdullah  bin  Al-Mubarak ,  seorang  Ulama  Hadits  yang  terkenal  dari  Khurasaan.  Sajak  ini  Beliau  kirimkan  kepada  sahabat  Beliau  yang saleh,  Al-Fudail  bin  Iyadh,  seorang  yang  rajin  bertafakkur  dan  selalu berdiam  di  dalam Masjidil  Haram sehingga  terkenal dengan  sebutan Abid Al-Haramain   (Pelayan  Dua  Tanah  Suci).  Sajak  ini  menunjukkan ketidaksetujuan Abdullah  bin Al-Mubarak atas sikap Al-Fudail yang  lebih memilih untuk beribadah di dalam masjid dan mengabaikan Jihad :

Wahai Pelayan Dua Tanah Suci…

Bila kalian melihat kami di medan perang,

Kalian akan tahu, dibandingkan dengan Jihad kami…

Ibadah kalian adalah pekerjaan yang amat mudah…

Bila air mata menetes di pipi kalian…

Maka dada kami berlumuran darah…

Bau harum wewangian untuk kalian…

Maka  wewangian  kami  adalah  kumpulan  debu  yang  diterbangkan  kaki

kuda…

Bila kalian mempersembahkan ibadah…

Maka Mujahidin mempersembahkan darah dan nyawa…

Dari kalimat yang diluncurkan oleh seorang Salaf (generasi terdahulu yang saleh),  kita  bergerak  maju  ke  masa  kini  kepada  seorang  ulama  yang mengikuti  jejak  langkah  Abdullah  bin  Al-Mubarak.  Ulama  ini membuktikan  bahwa  dirinya  bukanlah  seorang  ulama  yang  hanya  pandai mengeluarkan  fatwa  saja  tetapi  juga  membuktikannya  dengan  sikap  dan perbuatannya.  Dialah  Sheikh  Abdullah  Azzam  (semoga  Allah  SWT merahmati Beliau) yang berkata,  “Sesungguhnya  sejarah Islam bernuansa dua warna, hitam pena Para Ulama, dan merah darah Para Syuhada”.

Pernyataan dan  komentar  yang dibuat  oleh Sheikh  Abdullah Azzam  dapat dijadikan  sebagai dorongan  dan tambahan  semangat  bagi  Ummat Muslim dewasa  ini  untuk  menegakkan  Jihad,  di  samping  berbagai  ayat  Al-Quran, Sunnah  Rasulullah  SAW  dan  ucapan  Ulama  Salaf  yang  sudah  dinukil  di atas.  Salah  satu  komentar  lain  Sheikh  Abdullah  Azzam  yang  terkenal adalah ketika Beliau berkata :

“Ketika  Allah  SWT  memilih  salah  seorang  saudara  kita  atau  anak  kita yang  kita  cintai,  yang  selama  ini  bersama-sama  dengan  kita  menempuh Jalan ini, dan dimatikannya sebagai seorang Syuhada, saya menangisi diri saya  sendiri  karena  mereka  telah  mendahului  kita.  Ini  adalah  bukti yang nyata  bahwa  diri  kita  tidak  cukup  pantas  untuk  mati  syahid,  dan  bahwa kita  tidak  pantas  untuk  dianugerahi  posisi  mulia  ini.  Allah  SWT  lebih memilih  mereka  dan  saya  melihat  mereka  yang  diambil  Allah  sebagai Syuhada memiliki kepribadian sebagai berikut : selalu memikirkan hal-hal yang  baik  bagi  Ummat  Muslim  dan  bersikap  positif  terhadap  setiap pendapat  yang  mereka  utarakan  kepada saudara-saudari muslim  mereka. Kalian  tidak  akan  melihat  mereka  menghabiskan  waktu  mereka  dengan sia-sia  karena  mereka  selalu  menyibukkan  diri  dengan  ibadah  dan perbuatan-perbuatan  lain  yang  baik  dan  berguna.  Mereka  sibuk  untuk memperbaiki  kekurangan diri  mereka  daripada  memperbaiki  kekurangan orang  lain,  maka  saya  ucapkan  selamat  kepada  mereka  yang  selalu menyibukkan  diri  untuk  memperbaiki  sifat/kekurangan  diri  mereka daripada menggunjingkan kekurangan pihak lain”.

Meskipun  Sheikh  Abdullah  Azzam  sangat berperan  besar  di  dalam  Jihad, tetapi  Beliau  selalu  bersikap  rendah  hati  jika  berbicara  mengenai  diri Beliau sendiri. Sampai akhirnya Allah SWT menganugerahi Beliau dengan apa  yang  sudah  sejak  lama  Beliau  cari-cari,  Syahid  di Jalan  Allah. Sheikh Abdullah Azzam berbicara mengenai Para Syuhada :

“Orang-orang  ini,  Ya  Tuhan,  adalah  hamba-hamba-Mu.  Mereka  keluar dari  rumah  mereka  menuju  Jalan-Mu,  hanya  untuk  mencari  ridha-Mu, memberi  kejayaan  bagi  agama-Mu,  menegakkan  Kalimat-Mu, mengagungkan  Syariah-Mu,  dan  menolong  hamba-hamba-Mu  yang Engkau cintai.  Karena itu wahai  Tuhan  kami,  jangan  kecewakan  mereka, terimalah  jiwa  mereka  dan  beri  maaflah  mereka.  Mereka  adalah Muhajirin.  Mereka  meninggalkan  rumah  mereka  yang  nyaman, meninggalkan  hidup  mereka  yang  mewah,  mereka  tidak  datang  ke  sini karena kemiskinan, tetapi mereka datang hanya untuk mencari ridha-Mu”.

Sheikh  Abdullah  Azzam  berkata,   “Sesungguhnya  karena  Para  Syuhada-lah,  maka  Ummat  tetap  tegak  berdiri,  keyakinan  tetap  teguh,  keimanan kokoh tak tergoyahkan”.

Sheikh  Abdullah  Azzam  berkata,   “Apakah  manusia  itu  mengira  bahwa mereka  dibiarkan  (saja)  mengatakan  ‘Kami  telah  beriman’,  sedang mereka  tidak  diuji  lagi?”   [QS  Al-Ankabuut:2]. Satu  kelompok  kecil, mereka mantap keyakinannya. Bahkan satu kelompok yang lebih kecil dari kelompok  ini,  adalah  mereka  yang  meninggalkan  kehidupan materi  dunia untuk  bertindak  menurut  keyakinan  ini.  Dan  kelompok  yang  lebih  kecil dari  kelompok  elite  ini,  adalah  mereka  yang  mengorbankan  darah  dan jiwa mereka untuk mencapai kemenangan atas keyakinan dan cita-cita ini. Jadi,  mereka  adalah  yang  terbaik,  dari  yang  terbaik,  di  antara  yang terbaik”.

Sheikh  Abdullah  Azzam  lebih  lanjut  berkata, “Tidaklah  mungkin mencapai  kejayaan  tanpa  mengikuti  jejak  ini.  Tidaklah  mungkin  sendi-sendi  agama  ini  tertanamkan,  panji-panjinya  ditegakkan,  ajaran-ajarannya  disiarkan, tanpa  melalui jejak ini. Dan jejak ini hanyalah  satu, Jihad Fi Sabilillah”.

Sheikh  Abdullah  Azzam  juga  berkata, “Sesungguhnya  sejarah  Islam tidaklah  ditulis  melainkan  dengan  darah  Para  Syuhada,  dengan  kisah Para Syuhada, dengan teladan Para Syuhada”. 

Berbagai pernyataan-pernyataan inilah yang telah  menyalakan  api  di dalam  diri  saya,   yang  membuat  saya  bergabung  dalam  Jalan  Jihad  dan mencari kehormatan dalam Syahid, dengan ijin Allah SWT, Insya Allah.

Dan  akhirnya  saya  mengingatkan  kepada  Saudara  Saudari  saya  untuk mengusir  orang-orang  Yahudi  dan  Kristiani,  atheis  dan  boneka-boneka mereka dari ketiga Tanah Suci kita.

Orang-orang  Yahudi  telah  merampas  Masjidil  Aqsha  dari  tangan  Ummat Muslim.  Sementara  najis  Amerika  beserta  antek-antek  mereka  Al-Saud (keluarga  Kerajaan  Arab  Saudi)  mencemari  dan  mengkhianati  Kedua Tanah  Suci  Mekkah  dan  Madinah.  Allah  SWT  berfirman  di  dalam  Surat At-Taubah :

“Hai  orang-orang  yang  beriman,  sesungguhnya  orang-orang  yang musyrik  itu  najis,  maka  janganlah  mereka  mendekati  Masjidil  Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu  dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki.  Sesungguhnya  Allah  Maha  Mengetahui  lagi  Maha Bijaksana”  [QS At-Taubah:28]

Maka  saat  ini  tergantung  kepada  diri  kita  sendiri  untuk  membebaskan Tanah  Suci  kita  dari  para  teroris  Amerika  penjajah  dan  menyucikan Masjidil Aqsha dari najis Yahudi.

Wahai  Ummat  Muslim!  Bangkitlah  dan  jawablah  Panggilan  Tuhanmu. Sesungguhnya di dalam Islam-lah terletak martabat dan kehormatan. Telah lama  Ummat  Muslim  meninggalkan  Jihad,  karena  itu  mereka  kehilangan martabat dan kehormatan mereka.

Kekafiran  adalah  Taghut  (segala  sesuatu  yang  disembah  selain  Allah SWT) sebagaimana Allah SWT firmankan di dalam Surat Al-Baqarah :

“Tidak  ada  paksaan  untuk  (memasuki)  agama  (Islam)  ;  sesungguhnya telah  jelas  jalan  yang  benar  daripada  jalan  yang  sesat.  Karena  itu barangsiapa  yang  ingkar  kepada  Thaghut  dan  beriman  kepada  Allah, maka  sesungguhnya  ia  telah  berpegang  kepada  buhul  tali  yang  amat kuat  yang  tidak  akan  putus.  Dan  Allah  Maha  Mendengar  lagi  Maha Mengetahui”  [QS Al-Baqarah:256]

Saya  sarankan  kalian  untuk  memusuhi  para  penguasa  negeri  yang  murtad beserta  koalisi  pendukung  mereka  karena  mereka  telah  menggantikan hukum  Syariah  dengan  hukum setan  buatan  manusia,  juga  karena  mereka menyebarkan korupsi, merusakkan akhlak serta menganiaya ummat.

Janganlah  percaya kepada demokrasi  karena  demokrasi  adalah jalan setan dan pahamilah  bahwa  kebangkitan kembali  Ummat hanya  dapat ditempuh melalui  pengetahuan,  persiapan  militer  dan  Jihad.  Ketiga  tahapan  ini belum  tentu  harus  dilakukan  setahap  demi  setahap  tetapi  ketiganya  dapat saja  dilakukan serempak. Dan saya  ingatkan kalian untuk waspada  kepada Para Ulama yang berada di sekitar penguasa negeri kita karena Para Ulama ini  akan  berusaha  dengan  sebaik-baiknya  membela  para  penguasa  dan tidak  segan untuk  mengeluarkan  fatwa yang  mendukung  setiap keputusan kufur para penguasa. Sikap Para Ulama ini yang membela dan mendukung para  penguasa  murtad  telah  menyimpang  dari  apa  yang  ditunjukkan  oleh Ulama  Salaf  kita.  Para  Ulama  ini  telah  menyesatkan  diri  mereka  sendiri dan  juga  menyesatkan  Ummat  Muslim.  Sebaliknya  dengarkanlah  dan ikutilah  Para  Ulama  pemberani  yang  tidak  takut  dicela  oleh  para  pencela dan tidak takut kepada senjata para penguasa.

Saya  memohon  maaf  kepada  keluarga  saya  dan  sahabat-sahabat  yang mengenal  saya  atas  segala  kekhilafan  saya  terhadap  mereka  baik  yang disengaja  maupun  yang  tidak  disengaja.  Dan  mohon  kalian  dapat mendo’akan  agar  Allah  SWT  menerima  segala  amal  ibadah  saya  dan menghilangkan riya dari segala perbuatan dan amal kita.

Akhirnya  saya  tinggalkan  kalian  dengan  ucapan  seorang  Syuhada Afghanistan pada dekade 1980-an, Abdul Wahab Al-Ghamidi :

“Banyak  orang  memilih  hidup  (di  dunia)  sebagai  jalan  untuk  menjemput kematian, tetapi saya memilih mati (Syahid) agar hidup (di akhirat)”

Yaa  Allah!  Terimalah  segala  amal  perbuatan  kami,  beri  maaflah  kami  dan orang-orang yang kami cintai, dan masukkan kami semua ke dalam Surga! Yaa  Allah!  Limpahkanlah  kejayaan  kepada  Mujahidin  atas  musuh-musuh mereka,  menangkanlah  mereka  atas  diri  mereka  sendiri,  dan  bantulah mereka memelihara hukum-hukum-Mu!

Yaa  Allah! Bebaskan  Tanah  Suci  kami dan  bebaskan  para penguasa  murtad dari kungkungan antek-antek asing mereka!

Yaa Allah! Berilah kami Syahadah!

Yaa Allah! Kami mengharap Surga-Mu!

Ucapan Selamat

Wahai saudara dan rekan kami  yang tercinta,  maka  kami ucapkan selamat (berpisah)  dengan  kalimat-kalimat  dari  Ulama  yang  selama  ini  engkau puja-puja.  Kami  ucapkan  selamat  dengan  kalimat  dari  Ulama  yang  kami harap  engkau  sekarang berada  bersamanya, di  dalam  burung  hijau  ( In the Hearts  of  Green  Birds )  yang  berdiam  di  lampion  yang  menggantung  di ‘Arasy Allah Yang Maha Pengampun.

Diambil dari Kata-kata Sheikh Abdullah Azzam :

“Dan  mungkin bagi  mereka  yang berpikiran sempit  dan bersudut  pandang picik,  bagi  mereka  yang  masih  terikat  dengan  ruang  dan  waktu,  akan menganggap  bahwa  ini  adalah  sekedar  kisah,  sekedar  sesuatu  yang  telah terjadi  dan telah  selesai. Sang  maut telah mengibarkan  jubahnya, menelan Para Syuhada ini dan  membawa mereka pergi untuk tidak pernah kembali lagi. Tidak ada hubungannya lagi dengan masa kini apalagi masa depan”.

“Tetapi,  bagi  mereka  yang  berpandangan  jauh  dan  memiliki  hati  yang tercerahkan,  mereka  memahami  bahwa  semua  pengorbanan  ini  adalah bangunan  pondasi  dan  air  penyubur  bagi  generasi  yang  akan  datang  dan peradaban yang akan berdiri tegak. Seluruh kisah ini, seluruh pengorbanan ini  dan  seluruh  teladan  ini,  senantiasa  akan  menjadi  rambu-rambu  dari seluruh  perjalanan  agama  ini,  untuk  mereka  yang  akan  datang  kemudian dan  berniat  untuk menapaki  jejak  ini, untuk mereka  yang  ingin mengikuti bekas langkah kelompok elite ini”.

( Dipersembahkan di situs ini oleh Haroky2000 )

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Oktober 14, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: