Suraqah Al-Andalusia raahimahullaah ( Bag.2 )

Biografi Wartawan Azzam Publications

“Yaa Alloh! Jangan biarkan diriku meninggalkan pegunungan ini kecuali Engkau menjadikan aku sebagai Syuhada!”

Bagian Kedua.

Karakter Seorang Syuhada

Minggu  demi  minggu  berlalu  dan  akhirnya  kami  berhasil  membuat sejumlah kemajuan dalam  persiapan kami, tetapi masih  banyak yang harus dikerjakan.  Ada  saatnya  saya  terkena  penyakit  malas  untuk  meneruskan pekerjaan  dan  di  saat  lainnya  saya  beristirahat  berhari-hari  karena  jatuh sakit. Sekalipun  demikian, Suraqah  tetap  meneruskan  pekerjaan kami  dan saya ingat  bagaimana  saya  terbangun  tengah  malam  dan  melihat  Suraqah masih  berkutat  dengan  pekerjaan.  Karena  usaha  dan  kerja  kerasnyalah kami  dapat  memenuhi  target  waktu  kami  dan  atas  ijin  Allah,  pekerjaan yang  dia  hasilkan  akan  terus  memberikan  inspirasi  bagi  banyak  orang  di masa mendatang.

Ada  seorang  penduduk  desa  yang  selalu  datang  membawakan  kami makanan,  dan  Suraqah  menghabiskan  waktu  berbincang-bincang  dengan orang  ini  karena  saya  seringkali  pergi  dan  tidak  berada  di tempat.  Orang Afghan ini sangat miskin  dan datang ke tempat kami dengan berjalan kaki berjam-jam lamanya tanpa  henti.  Suatu hari Suraqah  berkata kepada saya menyarankan  agar  kami  membeli  sebuah  sepeda  bagi  orang  itu,  dengan tujuan  agar  orang  itu  dapat  bekerja  lebih  banyak  dan  menghidupi keluarganya.  Saran  tersebut  sungguh  menunjukkan  perhatian  tinggi Suraqah  kepada  orang  tersebut,  dan  hal  ini  adalah  satu  hal  yang menunjukkan Suraqah adalah seorang yang sangat spesial.

Kami akhirnya pergi membeli sepeda bagi orang Afghan itu dan saya ingat bagaimana  repotnya  membawa  sepeda  ke  tempat  dimana  kami  tinggal. Saya  ingat  gelak  tawanya  pecah  ketika  kami  berdua  berusaha  menaiki sepeda itu dan  malah membuat ban sepeda  menjadi  bocor!  Kami akhirnya bosan dan capek dan  memutuskan untuk  membawa pulang  sepeda dengan taksi. Walaupun mendapatkan kerepotan Suraqah tetap saja berkata, “Kita lakukan hal  ini untuk membantu orang Afghan yang  baik itu”,      saya  hanya memandangnya sambil tersenyum.

Ketika kami berjalan ke luar rumah kami banyak menemui anak-anak kecil dan  wanita  tua  yang  miskin  datang  menghampiri  dan  mengemis  meminta uang. Lama  kelamaan saya  menjadi terbiasa dengan keadaan  ini  tetapi hal ini  rupanya  sangat  mempengaruhi  diri  Suraqah.  Tidak  ada  pertolongan yang  dapat  dilakukannya  kecuali  memberi  10  rupee  kepada  setiap  anak yang  datang,  dan  hal  ini  terjadi  berulang  kali.  Saya  berkata  kepadanya mengapa  tidak  mengacuhkan  saja  kehadiran  anak-anak  itu  karena  hal  itu  hanya  akan  membuat  mereka  menjadi  semakin  terbiasa  meminta-minta. Suraqah  menjawab,  “Setiap kali saya  melihat anak-anak ini saya  teringat kepada  anak-anak  saya  dan  saya  tidak  dapat  membayangkan  betapa sedihnya  hati  mereka”.   Dengan  menolong  anak-anak  tersebut  Suraqah seolah  mengenang  kembali  kenangan  akan  keluarganya,  semoga  Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada Suraqah.

Setelah  bertemu  dengan  begitu  banyak  Foreign  Mujahideen  yang  telah menetap  di  negeri  ini,  Suraqah  memutuskan  untuk  berniat  membawa keluarganya  ke  Afghanistan  untuk  hidup  dalam  kehidupan  sebagai Mujahid.  Saya  ingat  bagaimana  seringnya  dirinya  menyesali  mengapa tidak  membawa  keluarganya  bersamanya.  Dia  seringkali  berkata  kepada saya seputar  apa  yang  akan disampaikannya  kepada  ibu dan  ayahnya bila bertemu  kembali  dengan  keduanya,  terutama  untuk  meyakinkan  diri mereka  agar  mau datang ke Afghanistan  untuk  menolong  sesama  Muslim semampunya.  Begitu  datang  kemantapan  hatinya  untuk  hijrah,  Suraqah menghabiskan  waktu  luangnya  dengan  menulis  surat  kepada  istri  dan adiknya.  Saya  sering  memergokinya  menulis  sambil  tersenyum-senyum, mungkin inilah caranya menumpahkan perasaan dirinya dan tetap menjaga hubungan  batin  dengan  keluarganya.  Demikianlah  gaya  hidup  seorang Mujahid.

Saya  ingat  bagaimana  dirinya  begitu  menggebu-gebu  untuk  sesegera mungkin  dapat  “in  action”  dan  pergi  ke  garis  depan  pertempuran,  tetapi saya  selalu  menekankan  kepadanya  betapa  pentingnya  pekerjaan  yang tengah  kami  lakukan  saat  ini  dan  dirinya  harus  menahan  diri  dan  sabar. Akhirnya dirinya  merasa  sedikit  frustrasi  dan berkata kepada saya, “Saya tidak dilahirkan hanya untuk sekedar duduk dan  berbincang-bincang saja, saya  ingin segera pergi ke  tempat  dimana saya  dapat  “in action”.  Itulah sifat  alami  saya” .   Saya  menjawab,   “Sabar  brother,  waktumu  akan segera  tiba”.   Suraqah  tersenyum  dan  kembali  meneruskan  pekerjaannya dengan  membisu.  Saya  dapat  merasakan  bagaimana  dirinya  ingin  segera bebas  untuk  dapat  berlatih  dan  berjuang  di  Jalan  Allah  bersama-sama Foreign  Mujahideen  lainnya.  Seolah  dirinya  telah  menanti  hal  ini sepanjang  hidupnya  dan  ketika  dirinya  telah  berada  dekat  dengan tujuannya, dirinya tidak ingin menunda sedetikpun.

Saat-saat Terakhir

Kami pindah ke kota lainnya dimana kami harus bertemu dengan sejumlah orang  dan  sejumlah  rekan-rekan  penghubung.  Suraqah  sangat  gembira dengan  kepindahan  ini  yang  dipandangnya  sebagai  tanda  bahwa kesempatan  bagi  dirinya  untuk  dapat  segera  “in  action”  akan  segera  tiba. Perjalanan pindah  itu saya ingat  sebagai  satu perjalanan  yang  sangat  sulit hingga  menyebabkan  seorang  rekan  yang  bergabung  bersama  kami menjadi  lemah,  menderita  kekurangan  cairan  (dehidrasi)  dan  perutnya tidak  mampu  menerima  apapun.  Suraqah  ternyata  juga  menguasai kemampuan P3K dan pengetahuan medis  lainnya, sehingga  dengan  sangat sabar  dirinya dapat  membantu  rekan-rekan  lainnya  membuat semacam re-hidrasi  yang  amat  membantu  keadaan. Tidak  sekalipun  selama  perjalanan yang  sulit  ini saya  mendengar  dirinya mengeluh  atas situasi  dan  penyakit yang  kami  derita,  sebaliknya  saya  selalu  melihat  dirinya  diam merefleksikan  diri dan terpekur  merenungi keadaan. Kami  selalu  berusaha untuk  menjaga  agar  suasana  tetap  riang  gembira dan  jika  suasana  terlihat gusar,  leluconnya  selalu  membuat  saya  tertawa  terpingkal-pingkal! Semoga  Allah  SWT  melimpahkan  rahmat-Nya  kepada  saya,  saudaraku yang aku sayangi, agar kita dapat kembali tertawa bersama-sama di Surga-Nya Yang Tertinggi, sebagaimana kita tertawa bersama di dunia ini.

Setelah kami tiba di kota tempat tinggal kami yang baru, dan juga semakin dekatnya  tugas  saya  akan  segera  rampung,  terlihat  Suraqah  mulai menjauhkan  diri  dari  kebiasaannya  berbincang-bincang  dan bercengkerama  seperti  yang  biasa  dia  lakukan  selama  ini.  Pertemuannya dengan  sejumlah  orang  yang  selama  ini  hanya  pernah  didengar  dan diketahuinya  dari  berita-berita  saja  membuat  dirinya  menjadi  sangat terilhami dan terlihat dirinya menjadi lebih serius dari sebelumnya.

Setelah  beberapa  minggu  berada  di  tempat  yang  baru  ini,  Suraqah  mulai rutin menjalankan shalat tahajjud. Saya pernah terbangun di  tengah malam karena  haus dan melihat dirinya sedang berdiri shalat.  Suraqah juga sangat baik  dalam  menghafal  Al-Quran  dan  saya  melihat  dirinya  tidak  pernah lupa  membawa  Al-Quran  kecil  miliknya.  Saya  juga  tidak  pernah  melihat dirinya  meninggalkan  dzikir  dan do’a di  pagi dan  sore hari dan  kebiasaan tambahannya  selalu  membaca  Al-Quran  setelah  shalat  subuh.  Di  tempat tinggal  kami  sebelumnya  Suraqah  terlihat  sesekali  menjalankan  puasa sunnah  tetapi  sekarang  saya  melihat  dirinya  semakin  sering  berpuasa. Siang  hari  di  tempat  kami  ini  sangat  panjang  dan  setahu  saya  Suraqah tidak terbiasa dengan keadaan  siang hari  yang panjang  ini, apalagi  dirinya memiliki  masalah  dengan  pencernaannya,  tetapi  Suraqah  tetap  saja  terus berpuasa.  Suatu  hari  kami  berpuasa  bersama  dan  hari  itu  terasa  amat sangat  panas.  Satu  jam  menjelang  maghrib  kami  berdua  sudah  tidak mampu  berbuat  apa-apa lagi  kecuali  berbaring  di lantai karena lemas  dan sangat  kehausan,  di  saat  itulah  Suraqah  berkata  kepada  saya, “Tahukah engkau  bahwa  orang-orang  terdahulu  (Salaf)  senantiasa  menangis  ketika sakaratul  maut  menjemput  mereka  di  atas  tempat  tidur  mereka  hanya karena  mereka  berharap  dapat  berpuasa  di  hari  itu  dengan  puasa  yang panjang  dan  sulit?”.   Tidak  akan  dapat  saya  lupakan  cara  ketika  dia mengatakan  hal  ini  kepada  saya,  semoga  Allah  SWT  menerima  seluruh amal ibadah Suraqah.

Pada  kesempatan lainnya kami pergi  bersama  dan saya menyarankan  agar dirinya  tidak  berpuasa  agar  tubuhnya  tidak  menjadi terlalu letih.  Suraqah memandangi  saya  dan  berkata, “Melalui  ibadah-ibadah  seperti  inilah Allah  SWT  akan  meninggikan  derajat  kita  dan  melimpahkan  kejayaan kepada  kita,  seperti  yang  telah  Allah  limpahkan  kepada  Para  Sahabat… Saya  tidak  akan  berhenti  puasa”. Saya  merenungi  dalam-dalam perkataannya dan menyadari bahwa Suraqah bukanlah manusia biasa. Saya meyakini perkataan dan perbuatannya selama inilah yang membuat dirinya menjadi seorang hamba pilihan di hadapan Allah (saya meyakini demikian dan Allah saja yang  Maha Mengetahui), karena  hanya hamba  yang terbaik dan istimewa saja yang dipilih Allah sebagai Syuhada.

Mimpi yang Aneh

Pada  suatu  malam  yang  panas  di  bulan  Agustus  2001  Suraqah  tiba-tiba membangunkan  saya  dan  berkata, “Saya  mengalami  mimpi  yang  aneh”. Saya  bertanya  apa  yang  diimpikannya  dan  dia  menjawab, “Saya  melihat bangunan  tinggi  seperti  Menara  Eiffel  hancur  dan  kemudian  tersebar berita  ribuan orang  mati  terbunuh”.   Saya  menjawab  mimpi itu  hanyalah kembang tidur saja  dan  mengajaknya kembali tidur. Suraqah  mungkin saja telah  diberi  ilham  peristiwa  besar  yang  akan  terjadi  di  dunia  ini  dalam waktu  dekat,  Allah  saja  yang  Maha  Mengetahui,  dan hanya  Allah  SWT saja yang melimpahkan tanda-tanda-Nya kepada siapapun yang Dia cintai.

Perpisahan Dua Sahabat

Akhirnya  tiba  waktunya  bagi  saya  untuk  kembali  pulang  dan  Suraqah bergabung  bersama  saudara-saudara  lainnya  “in  action”.  Masih  teringat bagaimana  kami  berdua  banyak  menghabiskan  waktu  duduk  bersama dimana  dirinya  menyarankan  agar  saya  tetap  tinggal  dan  membantu kejayaan  Ummat  Muslim  di  tanah  yang  penuh rahmat  ini.  Satu  hari  kami pergi  ke  pasar  dimana  Suraqah  mencari  hadiah  untuk  istri  dan  kedua anaknya.  Saya  teringat  bagaimana  dirinya  dengan  bergurau  mengatakan tidak  mau  hanya  membeli  pakaian  bekas  bagi  istrinya,  tetapi  yang ditemuinya  di  pasar tidak lebih dari apa yang  telah diucapkannya! Hari itu Suraqah banyak tertawa dan tersenyum. Kami singgah di satu toko dimana dirinya  meminta sejumlah pakaian dengan corak  dan kualitas  yang terbaik bagi  kedua  anaknya.  Setelah  membayar  pakaian-pakaian  tersebut diserahkannya  kepada  saya  sambil  berkata, “Saya  ingin  engkau memberikan  pakaian-pakaian  ini  kepada  anak-anak  saya,  agar  istri  dan anak-anak saya  tahu  bahwa  saya  tidak pernah  melupakan  mereka”. Saya tercengang  mendengar  caranya  mengatakan  hal  ini  dan  bagaimana sedihnya  raut  wajahnya  ketika  itu.  Saya  berusaha  membuatnya  kembali riang  dengan  mengajaknya  bergurau  sambil  mengatakan  bahwa  pasar  ini telah  membuat  kami  berdua  tersasar  dan  terlena,  serta  gurauan  lainnya bagaimana payahnya kemampuannya dalam menawar harga!

Suraqah  juga  menitipkan  sejumlah  surat  bagi  adiknya  yang  selama  ini sangat  banyak  dipujinya.  Saya  melihat  bagaimana  dekatnya  hubungan mereka  dan  teringat bagaimana  Suraqah  mengatakan  dirinya  selalu mendorong adiknya agar segera menikah dan datang ke Afghanistan untuk bergabung  dengannya.  Dirinya  selalu  berbicara  dengan  penuh  hasrat  dan cita-cita  bagi  keluarganya  dan  agamanya,  semoga  Allah  SWT mempersatukan mereka bersama di Surga-Nya Yang Tertinggi.

Beberapa  hari  berlalu  dan  tibalah  hari  dimana  Suraqah  harus  berangkat. Pagi  itu  kami  berbincang  bersama  dan  saya  kembali  mengingatkan  akan berbagai  hal  yang  harus  dilakukannya  setibanya  di  sana  dan  apa  yang harus  dilakukan  jika  menghadapi  situasi-situasi  tertentu.  Suraqah  terlihat sangat  gembira  karena  akhirnya  dapat  pergi  ke  tempat  yang  sangat dirindukannya seumur  hidupnya. Saya juga  sangat senang  melihatnya  dan sekaligus  merasa sedih  karena harus  berpisah dan  tidak  tahu apakah dapat kembali bertemu lagi dengannya.

Kendaraan  yang  akan  membawanya  tiba  di  tempat  kami  dan  saya memeluknya.  Karena  tidak  ada  lagi  yang  harus  dibicarakan,  saya  hanya tersenyum dan  memintanya  agar  tidak  melupakan  saya  di  dalam  do’anya. Suraqah  membalas  senyuman  saya  dan duduk  di  dalam  jeep.  Saya  hanya berdiri  memandangi  keberangkatannya  dan  terasa  betapa  sedihnya  hati saya  kehilangan  teman  sekaligus  saudara  dan  tidak  tahu  apakah  dapat berjumpa  kembali  dengannya.  Perpisahan  ini  seolah-olah  baru  kemarin terjadi  dan  ketika  mendengar  berita  Allah  SWT  telah  mengambil  jiwanya sebagai  seorang  Syuhada,  tiada  lagi  hari  berlalu  tanpa  terlupa  kenangan akan saudara saya itu.

Suraqah  adalah  putra  Ummat  ini,  yang  memilih  untuk  meninggalkan kehidupan  materialistis  dunia  yang  memperdayakan  dan  menyambut kehormatan  dan  cahaya  Jihad.  Seorang  pejuang  yang  sabar  dan  berharap pada cita-cita akan jayanya  agama  ini, dengan  cara inilah  Ummat ini akan mengenang  engkau,  wahai  saudaraku  yang  aku  sayangi.  Semoga  melalui pengorbananmu  Allah  SWT  akan  memberikan  ilham  kepada  hamba- hamba-Nya  yang  lain. Semoga Allah  SWT  akan mempertemukan  engkau kembali  dengan  istri  dan  anak-anakmu  yang  engkau  cintai,  dengan keluargamu dan sahabatmu di Surga-Nya Yang Tertinggi.

( Bersambung… )

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Oktober 7, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: