Suraqah Al-Andalusia raahimahullaah ( Bag.1 )

Biografi Wartawan Azzam Publications

“Yaa Alloh! Jangan biarkan diriku meninggalkan pegunungan ini kecuali Engkau menjadikan aku sebagai Syuhada!”

Seorang  wartawan  dan  penulis  di  website  http://www.azzam.com  Suraqah  Al-Andalusia telah gugur syahid pada malam Jum’at 29 Ramadhan 1422H (14 Desember  2001)  akibat  bom  cluster  selama  berlangsungnya  serangan udara  Amerika  di  Pertempuran  Tora  Bora,  wilayah  timur  Afghanistan. Suraqah  berusia  28  tahun  dan  meninggalkan  seorang  istri  beserta  kedua anaknya, laki-laki dan perempuan yang masih balita.

Suraqah di Mata Sang Adik

Sebagai seorang anak, Suraqah tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya. Ketika di sekolah menengah Suraqah mendapatkan ranking sangat tinggi.  Orangtuanya  mendidik  Suraqah  sebagaimana  umumnya  orangtua lain,  tidak  ada  ajaran  aneh  yang  ditanamkan  kepadanya,  hanya  kedua orang tuanya  berusaha  menjaga  keluarga  mereka  dari  lingkungan  yang merusak  akhlak  dan  menanamkan  anak-anak  mereka  ajaran  Islam. Lingkungan  dimana  Suraqah  tumbuh  hanya  terdapat  beberapa  keluarga muslim  saja  dan  tidak  satupun  yang  mengenyam  pendidikan  di  sekolah. Ketika  melanjutkan studi ke universitas, pemikiran Suraqah mulai  terbuka luas,  dia  bertemu  banyak  pemuda  muslim  yang  melakukan  berbagai aktivitas  Islami, dan hal ini me mberikan dimensi baru kepadanya. Suraqah mulai ikut  dalam berbagai kelompok belajar, ambil  bagian dalam aktivitas dakwah  di  Islamic  Union  di  kampusnya.  Semasa  kuliah  ini  pula  dirinya memahami  ada  banyak  kelompok/fraksi  Islam  yang  berbeda  satu  dengan yang  lain  dan  sejalan  dengan  bergulirnya  waktu  dirinya  melihat  banyak kelompok  yang  rusak  dan  memiliki  berbagai  kekurangan  di  sana  sini.

Dirinya  tidak  dapat  menemukan  satupun  kelompok  yang  dapat memberikan  pemahaman  menyeluruh  atas  berbagai  isu  yang  terjadi  di dunia  Islam.  Ada  banyak  kelompok  yang  fasih  dalam  berdakwah  dan berbicara  tetapi  tidak  satupun  yang  mengimbangi  kefasihan  tersebut dengan perbuatan yang nyata.

Suatu hari dirinya memperoleh kaset audio  In The Hearts of Green Birds  .  Setelah  mendengarkannya  Suraqah  menyadari  inilah  jalan  yang  telah dicari-carinya  sejak  lama.  Setelah  itu  dirinya  mulai  mendapatkan  video tentang Mujahidin Bosnia. Bagi Suraqah, mendengar dan menonton video-video  ini seolah dirinya bertemu kembali dengan teman-teman  yang sudah lama  berpisah,  dan  menyadari  dirinya  tidak  dapat  meninggalkan  dan melupakannya  begitu  saja.   In  the  Hearts  of  Green  Birds   sangat  dalam mempengaruhi  dirinya  karena  menceritakan  kisah  nyata  seputar  orang- orang  yang  mewujudkan  pesan  yang  dibawa  Islam,  orang-orang  yang mempersiapkan  diri  mereka  untuk  mempersembahka n  satu-satunya  milik mereka  yang  paling  berharga  yaitu  nyawa  mereka  dalam  rangka memberikan kemenangan bagi Islam.

Segera kemudian Suraqah mulai terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan seperti yang  dulu  dilakukan  oleh   Mujadid   Sheikh  Abdullah  Azzam  RA.  Sheikh Abdullah  Azzam  adalah  Ulama  yang  sangat  dihormatinya  karena  dirinya melihat  Sheikh  Azzam  bukanlah  seorang  ulama  yang  hanya  pandai berkhutbah  dan  menulis  saja  tetapi  juga  ikut  terjun  ke  lapangan  seperti yang  ditunjukkan  oleh  Rasulullah  Muhammad  SAW.  Suraqah  menilai bahwa  khutbah-khutbah  Sheikh  Azzam  mengikuti  khutbah-khutbah (ajaran)  Rasulullah  SAW  beserta  Para  Sahabatnya  RA.  Suraqah  juga melihat  pada  diri  Sheikh  Azzam  terdapat  karakter  seseorang  yang  hebat, seseorang  yang  bersedia  mengorbankan  apapun  juga  tidak  hanya  waktu dan  pekerjaannya  saja,  dan  juga  seorang  yang  banyak  menderita  dan sengsara akibat ulah orang-orang sesat.

Di  kampus,  setiap  kali  berkumpul  dalam  halaqah  yang  dibentuknya Suraqah  selalu  menganjurkan  dan  mendorong  rekan-rekannya  untuk menempuh jalan ini, Jalan Jihad, demikian pula yang dikatakannya kepada rekan-rekan  lainnya.  Seringkali  hingga  tengah  malam  dirinya  masih  saja berbicara  tentang  jalan  ini  kepada  mereka.  Sampai  akhirnya,  atas  rahmat Allah  SWT,  rekan-rekan  seangkatannya  mulai  tertarik  dan  ikut  bekerja untuk  jalan  ini.  Bersama-sama  mereka  melakukan  berbagai  aktivitas  dan membangun persaudaraan yang kokoh dan solid di lingkaran diri mereka.

Suraqah memiliki karakter dan kepribadian yang baik dan  menyenangkan, seorang  pekerja  keras  yang  selalu  menyempurnakan  setiap  tugas  dan pekerjaan yang diembannya.  Apa yang terjadi di dunia Muslim membuka matanya lebar-lebar dan dirinya amat bersyukur atas segala hal bermanfaat yang  diperoleh  darinya,  tetapi  tetap  saja  banyak  isu  yang  baginya  masih belum  terjawab.  Berbagai  isu  menyakitkan  yang  terjadi  di  kalangan pemuda muslim selalu mengganggu dirinya :

Perubahan apa yang sebenarnya terjadi di dalam diri Ummat?

Apa yang harus dilakukan ke depan?

Siapa sebenarnya yang mewarisi ajaran Rasulullah SAW dewasa ini?

Regim  apa  yang  sebenarnya  memerintah  di  negara-negara  berpenduduk muslim dewasa ini?

Semakin  banyak  dirinya  mencoba  untuk  mencari  jawaban  atas  berbagai pertanyaan  yang  mengga nggunya,  semakin  banyak  dirinya  melihat pertentangan  yang  terjadi  di  kalangan  ummat,  semakin  banyak  dirinya melihat  berbagai  metode  double  standard  yang  diterapkan  oleh  para pendakwah  (Da’i)  Islam.  Sebuah  pernyataan  yang  akhirnya  selalu dipegang  teguh  oleh  dirinya  adalah  pernyataan  yang  dibuat  oleh  seorang Sahabat  Rasulullah  SAW,  Abdullah  bin  Masuud  RA : “Yang  dimaksud dengan  Jama’ah  adalah  segala  yang  berhubungan  dengan  kebenaran, tidak  peduli  jika  engkau  ternyata  hanya  seorang  diri  saja  (yang meyakininya)”.

Suraqah melihat banyak individu yang menyebut diri mereka Ulama justru terdiam menyaksikan berbagai tindakan kufur (setan) yang terjadi di depan  mata.  Sikap  diam  ini  justru  membuktikan  bahwa  telah  terjadi  pemutar balikan ajaran Islam. Karena itu Suraqah menjadi semakin kuat memegang pendapatnya  sekalipun  itu  berarti  dirinya  kehilangan  teman-teman  yang meninggalkannya.  Tetapi  kata-kata  Abdullah  bin  Masuud  RA  terus terngiang  di  telinganya.  Suraqah  merasa  bahwa  banyak  muslim  telah kehilangan  pandangan  me nyeluruh  yang  sebenarnya  atas  berbagai  fakta yang  terjadi  di  seluruh  dunia.  Sebagai  contoh  adalah  pengertian  tentang Syahadah ,  banyak  orang  jika  berbicara  mengenai  isu  ini  adalah  melulu seputar   Tauhid   (yang  berkonotasi  kepada  seorang  muslim),  dan mengabaikan pilar pertamanya  ( La ilaha illallah )  yang bermakna menolak segala  bentuk/individu  untuk  disembah  kecuali  Allah.  Dalam pandangannya  Suraqah  menilai  bahwa  kekeliruan  besar  yang  terjadi dewasa ini di dunia  muslim adalah  penyembahan mereka  terhadap hukum buatan  manusia  (yaitu  demokrasi),  dan  bahwa  para  fir’aun  dewasa  ini adalah  para  penguasa  di  negeri-negeri  muslim  yang  murtad  (tidak menegakkan)  dari  hukum  Allah  (Syariah),  juga  bahwa  siapapun  yang mengucapkan pernyataan  La ilaha illallah  (maksudnya untuk menegakkan Syariah)  sudah  tentu  akan  mendapat  perlawanan  dan  permusuhan  dari hukum  buatan  manusia.  Suraqah  acapkali  mengulang-ulang  pernyataan yang  dibuat  oleh  Waraqah  bin  Naufal  kepada  Rasulullah  SAW, “Semua orang  yang datang  membawa  seperti  apa yang  engkau  bawa  ini, mereka tetap  dimusuhi”.   Filosofi  paling  penting  yang  dipegang  oleh  Suraqah adalah pernyataan Imam Abu Bakar bin Ayyash :

“Para  Pengikut  (Ahlusunnah)  mati  tetapi  kenangan  (ajaran/keyakinan) mereka  akan  tetap  hidup,  sementara  Ahlul  Bid’ah  mati  dan  bersamanya mati  pula  kenangan  (ajaran/keyakinan)  mereka.  Karena  Ahlussunnah menghidupkan  kembali  apa  yang  dibawa  Rasulullah  Muhammad  SAW sehingga  mereka  menjadi  bagian  seperti  yang  tersebut  dalam  ayat ‘Dan Kami  tinggikan  bagimu  sebutan  (nama)mu’  [QS  Alam  Nasyrah:4]. Sementara Ahlul Bid’ah mempersulit ajaran yang dibawa Rasulullah SAW sehingga  mereka  menjadi  bagian  seperti  yang  disebut  dalam  ayat ‘Sesungguhnya  orang-orang  yang  membenci  kamu  dialah  yang terputus’ [QS Al-Kautsar:3] ”.

Imam  Ahmad  se masa  masih  dipenjara  mengeluarkan  satu  pernyataan Beliau  yang  terkenal,  untuk  menegaskan  posisi  dan  keyakinan  Beliau,“Jika  seorang  Ulama  melakukan  Tuqiyyah  (menyembunyikan  suatu kebenaran  padahal  dirinya  mengetahui  dan  meyakininya)  sehingga banyak  orang akan tersesat (tidak mengetahui kebenaran tersebut),  maka kapan dan bagaimana kebenaran tersebut dapat terungkap?”

Semakin  banyak  Suraqah  mempelajari  tentang  perjuangan  Para  Nabi  & Rasul  dalam menegakkan  La  ilaha  illallah , dan  juga bagaimana generasi- generasi  terdahulu  beserta  Para  Ulama  seperti  Imam  Abu  Hanifah,  Imam Malik, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Taimiyyah berjuang di jalan ini, semakin yakin  dirinya bahwa jalan  yang harus ditempuh adalah jalan  ilmu pengetahuan dan Jihad secara bersama-sama.

Para Ulama masa kini dan Para Da’i yang sangat mempengaruhi pemikiran Suraqah  di  antaranya  adalah  Sayyid  Qutub,  Sheikh  Abdullah  Azza m, Fizazi  dan  Sheikh  Abu  Muhammad  Al-Maqdisi.  Siapapun  yang ditemuinya,  teman  ataupun  saudara  sepupunya,  Suraqah  selalu  mengajak mereka ke jalan ini dan berusaha maksimal meyakinkan diri mereka bahwa jalan  yang  dibicarakannya  adalah  jalan  kebenaran  sejati.  Namun  berkali-kali ajakannya  ditolak, banyak  orang  menertawakannya  sambil mengejek, “Apa  yang  sedang  anda  lakukan,  mencoba  mengubah  dunia?  Apa  yang sudah dirubah oleh Jihad? Dan apa yang sudah dicapai?”

Berbagai  debat  dan  diskusi  yang  dilakukannya  tidak  dimaksudkan  untuk mencari  ketenaran  pribadi  semata,  tetapi  karena  rasa  cintanya  kepada Mujahidin.  Pada  satu  saat  ketika  sedang  berdiskusi  panjang  dengan seorang  sahabat  karibnya,  dirinya  sampai  menangis  melihat  bagaimana ajakan dan idenya ditolak mentah-mentah.

Meskipun diperlakukan demikian, Suraqah tidak putus asa dan patah arang tetapi  terus  melanjutkan  ajakannya  dan  membenamkan  dirinya  di  dalam jalan  ini.  Sampai  akhirnya  dirinya  menyadari  bahwa  jika  dirinya  ingin tetap  bertahan  di  jalan  ini  maka  dirinya  harus  menerima  kenyataan dianggap  sebagai  manusia  “asing”  (ghurabaa)  oleh  seluruh  dunia. Dibacanya buku yang ditulis oleh Sheikh Abu Muhammad Al-Maqdisi dan dirinya menjadi terpesona dan takjub atas perkataan Sheikh Maqdisi, “Ada dua dunia,  dunia  nyata  dan  dunia  kasat  mata.  Perbuatan yang dilakukan di  dunia  nyata  diberi  balasan  di  dunia  kasat  mata  meskipun  seringkali tidak  ada  hasil  (perubahan)  yang  terjadi  di dunia  nyata”. Pernyataan  ini memadamkan keragu-raguan dirinya atas jalan yang sedang dipilihnya.

Setelah  menamatkan  kuliah  Suraqah  menikah  dan  Allah  SWT menganugerahinya  dua  orang  anak,  laki-laki  dan  perempuan.  Bersamaan dengan  itu  dirinya  memulai  halaqah  di  lingkungannya  sendiri  dimana dirinya mengajarkan para pemuda tentang ajaran-ajaran Islam dan berbagai kisah dan kejadian penting yang menjadi tonggak dalam sejarah Jihad.

Istrinya  berkata  bahwa  Suraqah  sering  bangun  tengah  malam  untuk mendirikan Shalat Tahajjud sambil membaca Surat At-Taubah, mengambil intisarinya  yang  akhirnya  semakin  jauh  meneguhkan  kebulatan  tekadnya dan  mengokohkan  ketetapan  hatinya.  Kedua  anaknya  tumbuh  dan menggembirakan  hatinya.  Setiap  kali  dirinya  mengajak  atau  melihat mereka  bermain,  Suraqah  selalu  membaca  ayat “Sesungguhnya  hartamu dan  anak-anakmu  hanyalah  cobaan  bagimu”.  Mengenai kepribadiannya  dapat  dikatakan  bahwa  Suraqah  adalah  seorang  yang penyabar dan teratur. Jika ada satu pekerjaan yang  masih harus dikerjakan, dirinya  akan  menuntaskannya  tanpa  peduli  pengorbanan  yang  harus dilakukannya.  Suraqah  juga  seorang  yang  sangat  dekat  dengan  kedua orangtuanya,  dirinya  selalu  memelihara  dan  menjaga  mereka  dan  banyak mendo’akan mereka.

Satu  tahun  sebelum  gugur  Syahid,  Suraqah  menunaikan  ibadah  haji. Sejauh  ini  perjalanan  haji  adalah  perjalanan  yang  memberikan  pengaruh yang  sangat  kuat  bagi  dirinya.  Suraqah  acapkali  berkata, “Jika  ada  yang heran  mengapa  keadaan  Ummat  ini  sangat  jelek,  maka  Haji  akan memberikan  jawabannya”.  Di  Tanah Suci  Suraqah melihat  ketidaktahuan Ummat Muslim, serombongan orang yang lidah mereka terlontar kata-kata seolah  mereka  sedang  mengucapkan  do’a,  sementara  di  sisi  lain  mereka gagal memahami pengertian akan kedermawanan  dan  rasa  saling memiliki kepada  sesama.  Dirinya  melihat  perbuatan  bid’ah  mereka  dan  juga  syirik selama  menunaikan  ibadah  haji.  Di  luar  Masjidil  Haram  dirinya  melihat beroperasinya  berbagai  bank  yang  menerapkan  sistem  bunga  (interest-based banks), padahal di tanah itu 1400 tahun  yang lalu sekelompok  orang muslim  dipimpin  oleh  Rasulullah  Muhammad  SAW  membersihkannya dari  berbagai  praktek  syirik  dan  terlarang.  Darahnya  mendidih  melihat bagaimana  pengorbanan  darah  dan  nyawa  yang  dilakukan  oleh  orang-orang  Salaf  ketika  menegakkan  dan  mempertahankan  agama  ini  dahulu telah  sengaja  dihina  oleh  adanya  berbagai  institusi  keuangan  yang menerapkan  sistem  bunga  di  sana.  Kenyataan  ini  memperkuat  komitmen Suraqah untuk menempuh jalan ini, Jalan Jihad yang mulia.

Sumbangannya Bagi Azzam Publications

Suraqah  adalah  bagian  dari  tim  yang  bertugas  menyusun  naskah terjemahan  video  The  Martyrs  of  Bosnia   (Syuhada  Bosnia)    ke  dalam bahasa  Inggris.  Beliau  juga  termasuk  di  dalam  tim  yang  bertugas mengadakan  serangkaian  wawancara,  riset,  dan  terjemahan  bagian Jihad Lands  di website  azzam.com. Tanah Jihad tersebut termasuk Afghanistan, Uzbekistan,  Turkistan  Timur  (China)  dan  Asia  Tengah.  Di  samping bekerja untuk  kedua  tim  tersebut Suraqah  juga menerjemahkan  potongan- potongan bagian dari The Battle of the  Lion’s Den (Pertempuran Kandang Singa)  dari  bahasa  Arab  ke  dalam  bahasa  Inggris.  Hebatnya  lagi,  beliau berhasil  menerjemahkan  satu  buku  tentang  Jihad  di  Asia  Tengah  yang ditulis oleh  seorang  Mujahid Afghanistan.  Meskipun buku  tersebut ditulis di dalam  bahasa  Arab dan  bahasa tersebut  bukanlah  bahasa  utama  beliau, namun beliau berhasil menerjemahkannya seorang diri.

Suraqah di Mata Rekan Mujahidnya

Sahabat,  saudara,  dan  rekan  seperjuanganku  yang  aku  sayangi,  semoga Allah  SWT  melimpahkan  ampunan-Nya  dan  menerima  Syahidmu. Kehidupan  yang  engkau  jalani  di dunia dan kepergianmu selama-lamanya mengingatkan aku pada firman Allah SWT :

“Hai  orang-orang  yang  beriman,  apakah  sebabnya  apabila  dikatakan kepada  kamu  :  “Berangkatlah  (untuk  berperang)  pada  jalan  Allah” kamu merasa  berat  dan ingin  tinggal  di  tempatmu? Apakah kamu puas dengan  kehidupan  di  dunia  sebagai  ganti  kehidupan  di  akhirat? Padahal  kenikmatan  hidup  di  dunia  ini  (dibandingkan  dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit”  [QS At-Taubah:38]

“Apakah  kamu  mengira  bahwa  kamu  akan  masuk  Surga,  padahal belum  nyata  bagi  Allah  orang-orang  yang  berjihad  di  antaramu,  dan belum nyata orang-orang yang sabar?”  [QS Ali’Imran:142]

Perjalanan ke Afghanistan

Pertemuan  saya  dengan  Suraqah  terjadi  ketika  kami  sama-sama  akan berangkat  ke  Afghanistan.  Masih  jelas  dalam  ingatan  saya  senyum mengembang di wajahnya ketika saya mendekati dan menyapanya dengan Salam. Suraqah adalah seorang yang bertubuh kurus dengan tinggi sedang- sedang  saja,  berkulit  kuning  langsat,  mata  yang  jernih  dan  bersinar memancarkan ketulusan dan keikhlasan hatinya. Wajahnya yang bercahaya dan  senyumannya  adalah  dua  hal  yang  rasanya  sulit  untuk  saya  lupakan begitu  saja.  Sepanjang  perjalanan  dia  duduk  dengan  sabar,  tetapi  tetap waspada  terhadap  setiap  bahaya  yang  mungkin  timbul.  Terlihat  pula bagaimana dirinya berusaha  menjaga  agar  rekan-rekannya  yang  lain tetap merasa  aman  dan  nyaman.  Ketika  rombongan  kami  berhenti  untuk beristirahat sejenak,  dengan bergurau saya  bertanya  mengapa dirinya tidak ikut  makan  bersama  yang  lain,  tetapi  dia  menjawab  bahwa  dirinya mengalami  diare  dan  karenanya  tidak  ingin  menambah  resiko  diarenya akan bertambah parah!

Dia  tetap  duduk  dengan  tenang  dan  tidak  menampakkan  rasa  laparnya meskipun  tidak  makan  berjam-jam  lamanya,  satu  hal  yang  sangat  sulit dilakukan  jika  kita sedang menempuh  perjalanan  panjang.  Tetapi  Suraqah tidak  ingin  menyusahkan  orang  lain,  dan  memilih  menahan  sendiri  rasa laparnya.  Saya  tersenyum  melihatnya  karena  dia  adalah  teman  baru  kami dan  mengatakan  kepadanya  bahwa  rasa  laparnya  akan  semakin  menjadi-jadi  jika  kami  berhasil  masuk  ke  Afghanistan  beberapa  jam  kemudian. Tetapi  dia  hanya  tersenyum  memandang  saya  dengan  pandangan  yang penuh  kebulatan  tekad,  seakan-akan  hendak  mengatakan  dirinya  tahu persis  mengapa  dirinya  berada  di  sini  dan  pengorbanannya  tidak  berarti apa-apa di hadapan Tuhannya.

Perjalanan  kami  terhenti  untuk  shalat  fajar  (shalat  subuh)  dan  setelah beristirahat  sejenak  rombongan  kami  kembali  bergerak.  Tidak  lama kemudian  kami  tiba  di tempat  persinggahan yang sudah  kami  rencanakan sebelumnya.  Di  sini  kami  beristirahat  sambil  menunggu  saat  tepat  untuk masuk ke Afghanistan. Kami membuka bekal dan melahap sarapan pagi di tempat  asing  ini.  Suraqah akhirnya  ikut  makan  bersama  kami  dan  hal  ini membuat  hati  saya  senang.  Kami  hanya  sempat  beristirahat  satu jam  saja ketika akhirnya diberitahu sekarang  adalah saat  yang baik  untuk melintasi perbatasan. Dan  karena kami semua dalam keadaan penuh semangat, kami menyetujui rencana  ini  dan  tidak  lama  kemudian  kami  kembali  bergerak. Ini  adalah  bagian  yang  paling  berbahaya  dalam  perjalanan  panjang  kami dan  kami  semua  duduk  berdzikir  dan  berdo’a  agar  kami  dapat  tiba  di tujuan dengan selamat.

Masih  terbayang  dalam  ingatan  saya  ketika  akhirnya  kami  berhasil melintasi  perbatasan,  Suraqah  tampak  menyeringai  lebar.  Kami  telah memasuki  tanah  dimana  setiap  Muslim  dan  Mujahid  mendapatkan keamanan  di  dalamnya,  semoga  Allah  SWT  memulihkan  keamanan  di negeri  ini.  Perjalanan  kami  terus  berlanjut  dan  saya  melihat  Suraqah menjadi lebih santai dan terkadang  terlihat sangat  senang. Tentu saja yang lain  juga  merasa  senang  berhasil  masuk  ke  Afghanistan  dengan  aman tanpa  halangan  berarti.  Sambil  melanjutkan  perjalanan  saya  melihat Suraqah  selalu  memandang  ke  luar  jendela,  mengagumi  keindahan  tanah ini  dan  mungkin  benaknya  dipenuhi  pikiran  masa  depan  membayangkan tanah  ini  akan  menjadi  tempat  bernaung  bagi  dirinya,  keluarganya  dan agamanya.

Fase Pertama Perjuangan

Betapa  indahnya  Tanah  Jihad  Afghanistan,  tanah  di  mana  mereka  yang memutuskan  untuk  datang,  tinggal  dan  berjuang  bersama  dengan  modal kesabaran  dan  keikhlasan  hati,  dan  meninggalkan  keluarga  mereka  dan tidak menghiraukan kehidupan materialis dunia. Mereka semua bergabung bersatu, bersama menjadi sahabat dan saudara dekat dalam kehidupan ini. Kami  harus  mengerjakan  sejumlah  persiapan-persiapan  sebelum  Suraqah dapat  menempuh  pelatihan  militernya.  Ada  banyak  riset,  meeting  dan pekerjaan  terjemahan  yang  harus  diselesaikan  dan  Allah  SWT menganugerahi  Suraqah  dengan  kemampuan  dan  skill  individu  yang sangat  diperlukan  dan  vital  untuk  dapat  menuntaskan  seluruh  persiapan kami.  Di  saat-saat  inilah  saya  memiliki  kesempatan  untuk  mengenal Suraqah lebih jauh. Pada  saat-saat ini pula salah seorang  rekan kami  jatuh sakit  sehingga  harus  kembali  ke  tempat  kami  semula,  sementara  rekan-rekan  yang  lain  telah  pergi  ke  tempat  tujuan  masing-masing,  maka tinggallah  hanya  kami berdua saja.  Dan  inilah  rupanya  takdir Allah  SWT dimana kami melalui waktu kami bersama-sama.

Pada  awalnya  kami  tinggal  di  satu  tempat  di  luar  kota.  Di  sanalah  kami melakukan  pekerjaan  persiapan  kami.  Tetapi  sayangnya,  kemajuan  yang kami  peroleh  sangat  lambat  dan  masih  teringat oleh  saya betapa  hari-hari yang  berlalu  merupakan  ujian  besar  bagi  kami  dan  kami  berdua  terus saling  mengingatkan untuk tetap bersabar, karena kami sudah sangat ingin segera  “in  action”.  Hari-hari  terus  berlalu  tanpa  banyak  kejadian  berarti dan seringkali kami melewatkan waktu dengan saling bercerita tentang apa  yang kami kerjakan sewaktu masih di rumah.

Satu waktu  kami  berbincang  tentang keluarga  kami  dan saya  mengatakan kepadanya  betapa  sulitnya  mengucapkan  salam  perpisahan  kepada  ibu yang  melepas  kepergian  kita  dengan  penuh  tangis,  dan  tanpa  kejelasan apakah  kelak  akan  dapat  berjumpa  kembali  dengannya  di  dunia  ini. Suraqah terdiam sejenak mendengar perkataan saya dan kemudian berkata, “Tidak  brother,  ikatan  yang  terjadi  antara  sepasang  suami  istri  adalah berbeda  dengan  ikatan  antara  ibu  dan  anak.  Ikatan  suami  istri  adalah sesuatu  yang  lebih  kuat”.   Terasa  nada  kesedihan  di  dalamnya  ketika  dia mengucapkan hal ini, karena  dia telah  meninggalkan istri dan dua anaknya yang  masih  balita. Tetapi dari  ekspresi raut  wajahnya saya  melihat bahwa inilah pengorbanan yang diberikannya demi tegaknya kejayaan agama ini.

Suraqah  mengatakan  pada  saya  betapa  kerasnya  dia  bekerja  sepanjang tahun lalu agar dapat mengumpulkan uang sebagai bekal  yang cukup  bagi keluarga  yang  ditinggalkannya.  Dia  juga  menyatakan  ketidaksukaannya tinggal  di  negara  barat  (Suraqah  berasal  dari  Andalusia,  Spanyol, pent. ) dan  betapa  senang  hatinya  dapat  berada  di  Tanah  Islam  ini.  Saya  sering melihat  bagaimana  dirinya  selalu  membaca  dan  menghafalkan  Al-Quran.

Satu  saat  kami  berdiskusi  seputar  kehidupan  ummat  muslim  di  negara-negara  barat  dan  dia  berkata, “Seperti  apa  rasanya  kehidupan  kita  di negara-negara  barat  yang  kafir?  Demi  Allah,  rasanya  seperti  menjalani hidup  yang  penuh  dengan  segala  sesuatu  yang  haram,  sejak  mulai  dari bangun  di  pagi  hari  hingga  pergi  tidur  di  malam  hari.  Sangat  sedikit waktu  yang saya miliki  untuk shalat, membaca Al-Quran dan mempelajari agama  ini.  Dan  sekarang  saya  senang  berada  di  sini  karena  saya  bebas untuk  menyembah-Nya  sesuka  hati  saya,  karena  hanya  Allah-lah  yang pantas untuk disembah”.

Sepanjang  hari-hari  yang  kami  lalui  dimana  tidak  banyak  aktivitas  yang dilakukan  kecuali  terus  bersabar, saya  melihat kegiatan Suraqah  hanyalah membaca Al-Quran dan shalat saja. Saya melihat di dalam dirinya Suraqah adalah  seorang  yang  penuh  dengan  ketetapan  hati  untuk  dapat  berbuat sesuatu bagi Ummat ini, Suraqah adalah seorang lelaki yang penuh dengan hasrat  me mbara  bagi  agama  ini.  Dan  sejatinya  dia  adalah  seorang  yang sangat peduli pada kehormatan Ummat Islam.

Suraqah  mengatakan  betapa  dirinya  sangat  ingin  mendalami  ilmu  agama dengan  sangat  serius.  Dia  juga  menginginkan  agar  dapat  bertemu  dengan Ulama  di  Afghanistan  agar  dapat  menjadi  muridnya.  Saya mengingatkannya  bahwa  segala  keinginannya  dapat  direncanakan  dan terwujud  di masa depan.  Dan  setelah bertemu  dengan banyak orang-orang penting  di  Afghanistan,  Suraqah  mengatakan  dirinya  dan  keluarganya ingin  menetap  untuk  seterusnya  di  Afghanistan.  Dia  sangat  suka  melihat bagaimana Islam  diterapkan  secara  utuh  seperti  yang dilihatnya  saat ini di Afghanistan.  Setiap  kali  dirinya  mendengar  dan  melihat  peristiwa bagaimana  keadilan  dan  kebaikan  ditegakkan  di  Afghanistan,  wajahnya berseri-seri dengan gembira. Saya sangat takjub melihat bagaimana dirinya dengan  sangat  cepat  menyatu  dengan  tanah  dan  masyarakat  Afghanistan. Seolah Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya atas segala aktivitas  dakwah yang  pernah  ditekuninya, juga  atas  segala kerja  keras  dan persiapan yang dilakukannya  sewaktu  masih  di  rumah,  seperti  inilah  jawaban  atas  do’a yang pernah dipanjatkannya. Sungguh Allah SWT telah memilih pekerjaan ini  sebagai  tujuan  terakhir  Suraqah  dan  dibawa-N ya  jiwa  Suraqah  yang mulia  ke  negara  ini  untuk  dapat  dianugerahi-Nya  dengan  Syahadah  di jalan-Nya.

( Bersambung… )

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Oktober 1, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: