Siapakah Teroris yang Sebenarnya?

Oleh : Hj. Yulienni, SP.

Bulan September seolah menjadi sakral bagi Negara Amerika Serikat (AS). Setiap tanggal 11 September diperingati sebagai hari berkabung atas meninggalnya ribuan orang pada tragedi 11/9 di Gedung WTC di kota New York.
Tragedi itu telah menjadikan AS secara sepihak dan tanpa bukti menuduh Osama Bin Ladin sebagai otak pelaku atas serangan mematikan tersebut bersama jaringan al-Qaidah-nya. AS kemudian menyerukan kepada dunia untuk bersatu menghadapi terorisme, sebagaimana yang pernah diucapkan oleh George W Bush kala itu sewaktu masih menjabat sebagai presiden AS.Debu membumbung tinggi, putih mengangkasa, seperti asap raksasa. Ada bunyi dentuman reruntuhan beton yang menggelegar. Disambut jeritan kepiluan yang menyahut-nyahut. Begitulah suasana mencekam 10 tahun silam. Saat menara kembar, World Trade Center (WTC) setinggi 110 lantai, rubuh berkeping-keping sesaat setelah ditabrak oleh pesawat jumbo jet 767.

Bagaikan negara yang teraniaya, Amerika Serikat (AS) bangkit. Tudingan dengan aroma fitnah dan konspirasi pun diarahkan kepada Usama bin Laden. Pimpinan al-Qaidah, sebagai dalang penghancuran WTC. Sejak itu, membaralah dunia. Berdalih war on terrorism (WOT) AS melakukan perburuan teroris ke seluruh penjuru dunia, terutama di negeri-negeri Islam.

AS berupaya menggiring opini dunia tentang isu terorisme yang diidentikan dengan Islam. Walaupun Bush mengatakan bahwa AS tidak memerangi Islam, faktanya yang menjadi korban dalam program WOT atau War On Terorism adalah umat Islam, sebagaimana invasi Amerika Serikat ke Negara Irak yang telah membunuh lebih dari 1 juta penduduk di sana, invasi ke Afghanistan, dan dukungan AS kepada Israel yang sampai sekarang masih membunuhi rakyat Palestina secara sistematis.

Bahkan Bush sendiri pernah mengatakan ini adalah Perang Salib (Crusade), sebagaimana yang dia katakan. Dia pun kemudian menegaskan kepada dunia untuk memilih salah satu dua opsi yang ditawarkan, You either with us, or with them, against us (Kamu bersama kami, atau bersama mereka, sebagai musuh kami).

Sejatinya yang lebih pantas untuk disebut sebagai pelaku aksi terorisme adalah AS sendiri. Pasca Tragedi WTC umat Islam di beberapa negara di Eropa mengalami gangguan oleh orang-orang yang membenci Islam pasca WTC seperti pengrusakan masjid, pelecehan Muslimah, pelecehan al-Quran, pelecehan Nabi Muhammas saw., bahkan sampai pada upaya pembunuhan umat Islam.

Pelan-pelan mulailah terkuak skenario di balik War On Terorism. Perang melawan teroris dalam terawangan analisis yang cemerlang sejatinya adalah perang melawan Islam. Jika benar Usama bin Laden menghancurkan WTC dan Imam Samudra mengebom sepenggal jalan di Legian Bali dikatakan teroris dan layak divonis hukuman mati, lalu predikat apa yang layak disematkan kepada Bush kala menghancurleburkan Irak dan Afganistan? Hukuman apa yang layak ditimpakan padanya? Ah, lagi-lagi ketidakadilan yang begitu nyata.

AS berupaya menggiring opini dunia tentang isu terorisme yang diidentikan dengan Islam. Walaupun Bush mengatakan bahwa AS tidak memerangi Islam, faktanya yang menjadi korban dalam program WOT atau War On Terorism adalah umat Islam, sebagaimana invasi Amerika Serikat ke Negara Irak yang telah membunuh lebih dari 1 juta penduduk di sana, invasi ke Afghanistan, dan dukungan AS kepada Israel yang sampai sekarang masih membunuhi rakyat Palestina secara sistematis.

Masalahnya yang berani menentang War On Terorism yang dilancarkan AS, serta membuka konspirasi yang ada di baliknya hanya umat yang tersimpulkan dalam organisasi Islam. Banyak sudah organisasi Islam yang mengumandangkan perlawanannya. Namun ingat, War On Terorism dikawal oleh sebuah kekuatan, yang tak sebatas pada ormas Islam atau partai politik. War OnTerorism dikawal oleh kekuatan negara adidaya. Mendaulat ormas Islam untuk melawan tentu tak adil rasanya. Negara harus dilawan dengan negara. Artinya, untuk melawan hegemoni AS dalam politik, ekonomi, militer, termasuk War On Terorism, maka umat Islam minimal harus memiliki negara seperkasa AS.

Sayang, negeri berpenduduk Muslim (termasuk Indonesia) masih malu-malu menentang atau sekadar menegur AS atas ketidakadilannya. Padahal fakta dan bukti telah terpampang nyata.

Penulis adalah : Aktivis muslimah Hizbut Tahrir Medan

sumber: analisadaily.com

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on September 28, 2011, in Artikel Bebas. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: