Pertempuran Kandang Singa, Afghanistan 1987 ( Bag.6 )

Penuturan Usama bin Ladin rohimahulloh

Tanggal  29  Ramadhan,  tentara  Uni  Soviet  dan  tentara  pemerintah Afghanistan  yang  komunis  melancarkan  serangan  mereka  dengan mengirim  sejumlah  tank  bergerak  menuju  posisi  Mujahidin.  Ketika  tank-tank  tersebut  telah  masuk  jarak  tembak,  dengan  mengucapkan  Basmallah “Dengan  menyebut  nama  Allah  Yang  Maha  Pemurah  lagi  Maha Penyayang”   kami  meneriakkan  takbir   “Allahu  Akbar!”   dan  memberikan sinyal  radio  kepada  rekan-rekan  Mujahidin  untuk  mulai  menembak.  Saya mengikuti  perkembangan  pertempuran  dari  pos  pengamatan  dan  melihat tembakan-tembakan  kami,  atas  rahmat  Allah  SWT,  mengenai  tank musuh dan meluluh lantakkan mereka. Tembak menembak  yang kemudian terjadi berlangsung  sangat  sengit  sehingga  menyebabkan  gunung  di  mana  kami berada  bergetar,  tetapi  atas  perlindungan  Allah  saja  tidak  seorang Mujahidpun  yang  cedera  atau  terluka.  Pertempuran  berlangsung  hingga matahari terbenam dimana setelah itu saya meninggalkan  pos  pengamatan dan  kemudian  bertemu  dengan  Abu Ubaidah  Al-Panjsheri  (semoga  Allah merahmati  beliau).  Abu  Ubaidah  adalah  seorang  Mujahid  yang  hafal  Al-Quran 30 juz (hafidz).Kami  menyadari  militer  Soviet  tentu  akan  membalas  dendam  setelah mengalami kekalahan telak sore itu, dan kami perkirakan serangan  mereka esok  hari  akan  lebih  dahsyat  dan  membabi  buta.  Segera  kami  membagi kelompok  dan  menugaskan  35  orang  Foreign  Mujahideen  Arab  untuk mengambil  posisi  mempertahankan  Kandang  dari  arah  belakang,  saat  itu jumlah  kami  70  orang.  Keesokan  harinya  apa  yang  kami  perkirakan menjadi  kenyataan,  sejak  matahari  terbit  militer  Soviet  menghujani  kami dengan  serangan  gencar.  Ada  35  orang  yang  tetap  berada  di  dalam Kandang dan di luar itu sembilan orang ditempatkan di satu gua yang kami beri  nama  “Frontal  Base (Pos Terdepan)”. Gua ini  begitu  kecil dan  sempit dan  tidak  mampu  bertahan  dari  pemboman  gencar  yang  kami  alami  saat itu. Kami  mengetahui  pesawat-pesawat  jet  musuh  menjatuhkan  bom-bom berukuran  1.000kg  hingga  menyebabkan  gunung  bergetar.  Sebelumnya kami telah sepakat jika tiga kali Zakoyak ditembakkan maka hal itu berarti akan  ada  serangan  terhadap  Kandang.  Tiba-tiba  kami  dikejutkan  oleh panggilan  radio  dari  Saifudin  Al-Maghribi  yang  mengatakan  dirinya melihat sekitar 200 orang tentara Soviet memakai seragam pasukan khusus (elite)  mengendap-endap  mendekati  Kandang,  maka  Saifudin  dengan segera  menembakkan  Zakoyak  sebagai  tanda  peringatan.  Saya  meminta rekan-rekan  lain  untuk  mengambil  senjata  mereka  dan  bergerak  maju sekalipun jumlah kami hanya 9 orang, 10 orang termasuk diri saya sendiri, sementara  jumlah  musuh  mencapai  200  orang.  Kami semuanya  bukanlah tentara, apalagi  yang  terlatih  khusus,  kami dibesarkan  sebagai warga  sipil biasa,  tetapi  kenyataan  itu  tidak  membuat  kami  ragu  atau  takut.  Maka rekan-rekan saya segera meraih senjata mereka dan bergerak maju, semoga Allah SWT memuliakan mereka.

Kami  ingin  mengambil  posisi  di  sebuah  bukit  yang  tinggi  yang  terletak tengah-tengah  di  antara  tentara  komunis  dan  posisi  kami  sekarang. Kemudian  kami  menyebarkan  diri  agar  musuh  sulit  untuk  mengepung kami. Saya memerintahkan Dzabih dan Abu Sahal Al-Misri (semoga Allah merahmati  beliau)  untuk  tetap  tinggal  di  Frontal  Base  dengan  radio komunikasi,  dan  memerintahkan  Abu  Hanifah  dan  sejumlah  Mujahid  ke sayap  kanan.  Kami  terus  maju  hingga  tiba  di  puncak  bukit  yang  kami maksud.  Hanya  ada  tiga  orang  saat  itu,  saya  sendiri, Khidir  dan Mukhtar, baik  Khidir  maupun  Mukhtar  berasal  dari  satu  propinsi  di  sebelah  timur Jazirah  Arab.  Sebelumnya  saya  telah  meminta  Khalid  Al-Kurdi  untuk pergi  mengambil  air,  buah  kurma  dan  tambahan  roket  RPG-7,  ia bergabung kembali dengan kami kemudian. Tetapi bagaimana rasanya tiga orang  yang  tidak  terlatih  secara  militer  harus  menghadapi  200  orang anggota  pasukan  elite  yang  sangat  terlatih  dan  sudah  terkenal kehebatannya?

Di  samping  persiapan-persiapan  dan  siasat  yang  kami  lakukan,  saya menyadari  bahwa  tentara  Uni  Soviet  ingin  menangkap  saya  hidup-hidup, tetapi  Subhanallah , Dia  menjadikan  iman  dan keyakinan  kami bertambah kokoh  di  Jalan ini,  dan  kami tidak sedikitpun  merasa gentar atau  takut. Di puncak  bukit  kami  menyebar  dengan  jarak  sekitar  10  meter  agar  tetap dapat saling melihat dan membantu jika terjadi sesuatu, dan berdiam diri di posisi  masing-masing  selama  kurang  lebih  satu  setengah  jam.  Khidir kemudian  mendatangi  saya  dan  berkata  bahwa  Mukhtar  mendengar anggota pasukan elite Spetsnaz  itu saling berbicara di antara pepohonan di bukit sebelah. Saat itu kami masih menunggu datangnya bala bantuan yang tidak  kunjung  tiba,  namun  karena  tentara  Soviet  sudah  tiba  maka  kami memerintahkan seluruh rekan-rekan  untuk bergabung  menuju posisi  kami berada.Khalid  tiba  demikian  pula  Abu  Ubaidah,  yang  telah  mengorganisir  satu group  tempur  Mujahidin  untuk  bergerak  dari  arah  Badar  Center  menuju posisi musuh, sehingga kami semua bergerak ke arah musuh dari dua arah, group  kami  dari  arah  kiri  dan  group  lain  dari  arah  kanan.  Kami  melihat gerakan  pasukan  elite  tersebut  di  sebelah  kanan  kami  di  satu  bukit  yang bernama  Bukit  Az-Zahrani  (diberi  nama  Mujahid  Ahmad  Az-Zahrani, semoga  Allah  merahmati  beliau,  yang  gugur  syahid  di  bukit  ini  dalam Operasi  17  Sya’ban).  Melihat  gerakan  pasukan  elite  ini  kami  segera mengeluarkan  granat  tangan  bersiap  menunggu  aba-aba  untuk  mulai  menyerang dimana kami memiliki keuntungan yaitu  berada di posisi yang lebih  tinggi  dari  mereka.  Namun  Abu  Ubaidah  menyarankan  agar  kami menunggu hingga  mereka mendekat sehingga mereka semua masuk dalam jangkauan  lemparan  granat  kami.  Saat  itulah  tiba-tiba  empat  orang Mujahid  datang  dari  kamp  lainnya  tanpa  menyadari  apa  yang  sedang terjadi.  Suara  kaki  mereka  yang  menginjak  rumput  di  antara  pepohonan terdengar  oleh  musuh  sehingga  sadarlah  mereka  akan  perangkap  yang sedang  kami  pasang.  Maka  pasukan  elite  itu  segera  berhenti  dan mengambil sikap menunggu.

Pasukan  elite  itu  tidak  menduga  ada  Mujahidin  di  sekitar  mereka  karena mereka  menyangka  Mujahidin  seluruhnya  tentu  telah  tewas  atau  terluka sebagai  akibat  dari  pemboman  tanpa  henti  lima  hari  berturut-turut sebelumnya.  Terkejut  menyadari  kehadiran  kami,  mereka  mundur  diam- diam tanpa kami  ketahui, tetapi  kami  sempat mendengar mereka berbicara melalui radio komunikasi (yang ke mudian kami peroleh sebagai  rampasan perang)  yang  meminta  artileri  mereka  untuk  membom  area  di  depan mereka,  yaitu  posisi  di  mana  kami  berada.  Pada  detik  itu  saya  masih menggenggam  granat,  menunggu  saat  tepat  untuk  menyerang,  tetapi kemudian saya sadari mereka telah mundur sejauh kurang lebih 200 meter. Tiba-tiba,  peluru  mortir  telah  menghantam  kami  seperti  layaknya  hujan deras.  Pemboman  itu  demikian  tiba-tiba,  gencar  dan  dahsyat  sehingga kami  tidak  dapat  berbuat  apa-apa,  bahkan  untuk  saling  berbicara menyelesaikan  kalimat saja tidak dapat kami lakukan. Pemboman  itu terus berlangsung  hingga  satu  jam  berikutnya  dimana  kemudian  Allah melimpahkan pertolongan-Nya,  pemboman berhenti beberapa saat, kurang dari  satu menit  lamanya,  namun cukup  bagi  kami  untuk bergerak  menuju pos  kami  dan  bersiap  kembali  menyergap  mereka.  Sebagai  akibat  dari dahsyatnya  pemboman  itu  tentunya  mereka  mengira  kami  semua  telah tewas  atau  setidaknya  terluka,  maka  dengan  yakinnya  mereka  kembali mendaki  bukit.  Setibanya  mereka  di  puncak  bukit  dengan  segera  kami menyambut  mereka  dengan  tiba-tiba  pula,  mengakibatkan  beberapa  dari mereka  tewas  dan  sisanya  melarikan  diri.  Kemudian  kembali  serangan udara mereka datang, juga dengan gencar dan dahsyat, kali ini tidak hanya hujan bom saja  tetapi  juga  bom  gas  (asap)  yang membuat kami  kelelahan secara psikologis maupun mental. Semula kami takuti  bom tersebut adalah bom  gas  beracun  tetapi  kemudian  kami  sadari  itu  adalah  bom  gas  biasa, membuat kami memutuskan untuk mundur lebih ke belakang. Kami  berkumpul  saat malam  tiba  dan satu group yang  terdiri dari  Foreign Mujahideen  Arab  dan  Mujahidin  Afghanistan  berdiam  di  Kandang.  Atas rahmat  Allah,  tidak  lama  kemudian  sejumlah  bala  bantuan  Mujahidin Afghanistan  tiba  dimana  mereka  menembakkan  35  buah  roket  RPG-7 secara berturut-turut (salvo) ke arah posisi pasukan elite berada. Tembakan beruntun  ini  untuk  mengirim  pesan  kepada  musuh  bahwa  masih  ada sejumlah  perlawanan  dari  pihak  kami  di dalam  Kandang  (sekalipun  pada kenyataannya  tidak),  akibatnya  mereka  menghentikan  serangan  dan  tetap berada  di  posisi  mereka  semalaman  tanpa  berbuat  apa-apa.  Esok  paginya kami membagi kelompok kami menjadi dua group.

Kami  memerintahkan  group  pertama  untuk  bergerak  maju  karena  kami tahu pasukan elite itu tentu penasaran ingin tetap menyerang markas kami, karena  di  sanalah  titik  strategis  yang  merupakan  kunci  dari  pertempuran ini. Abu Ubaidah mengajukan usul agar  dirinya dan  delapan  Mujahid lain diijinkan  untuk  bergerak  mengurung  posisi  pasukan  komando  dan menyerang  mereka  dari  belakang,  saya  bertanya  kepadanya,  “Apakah sayap kiri kosong? Siapa yang masih ada di sana?” 

Saya  dalam keadaan sakit  pada  saat itu – dan saya mengadu kepada Allah semata  –  hingga  sangat  sulit  bagi  saya  untuk  tetap  berjalan  melangkah. Karena  itu  cukup  terkejut  saya  ketika  Abu  Ubaidah  berkata  apakah  saya mau bergabung mengisi  posisi  sayap kiri,  maka  saya  bersama  dengan tiga Mujahid lain, Abu Walid Muhammad Al-Utaibi (semoga Allah merahmati beliau),  Yasin  Al-Kurdi  dan  Asadullah  As-Sindhi,  kemudian  seorang Mujahid  lain,  Abu  Hasan  Al-Madani,  bergabung  bersama  kami  hingga kekuatan kami  di  sayap kiri  menjadi  lima  orang. Musuh mengepung  kami dan  kami  mendengar  suara  tembak  menembak  berlangsung  riuh.  Setiap orang  meletakkan  jarinya  di  pelatuk,  bersiap  untuk  menembak,  namun demikian  kami  tetap  melangkah  menuju  sayap  kiri,  kemudian  saya memerintahkan rekan-rekan saya untuk menyebar ke kanan dan ke kiri.  

Abu Walid yang memegang pelontar roket RPG-7 (berat kosong 6,3kg dan berat  roket  bervariasi  antara  2-4kg)  berada  di  sebelah  kanan,  sementara Asadullah  bergerak  ke  kiri  sambil  me mbawa  senjata  mesin  Gorjunov (berat kosong 13,8kg  tanpa peluru dan  panjang  1,1meter).  Yasin Al-Kurdi berada  di  belakang  dan  saya  bersama  dengan  Abu  Hasan  Al-Madani berada  tetap  di  tengah.  Segera  setelah  kami  menyebar,  kami  terkejut melihat  pasukan  elite  itu  sudah  berada  70  meter  dari  pintu  masuk  gua. Kami  segera  menembak  mereka,  sambil  memerintahkan  Yasin  Al-Kurdi dan Abu Walid untuk maju dan menyerang mereka dari arah kiri.

Mendapati  diri  mereka  diserang  tiba-tiba,  dengan  segera  pasukan elite  itu balas  menembak  dengan  senjata  AK-74  Kalakov  (suara  tembakan  yang berasal  dari  AK-74  Kalakov  sangat  berbeda  dengan  suara  AK-47 Kalashnikov,  dan  telah  diketahui  umum  bahwa  Kalakov  adalah  senjata khusus  pasukan  elite  Uni  Soviet,  sementara  Kalashnikov  adalah  senjata pasukan  reguler,  termasuk  pasukan  pemerintah  Afghanistan  yang komunis).  Kami  berhasil  menahan  laju  mereka  pada  pertempuran  di  Hari Raya Idul Fitri ini, dan  Allah menghukum  mereka hingga  mereka mundur group  demi  group,  masing-masing  saling  menjaga  punggung  rekannya. Saya  memerintahkan  Yasin  dan  Abu  Walid  untuk  terus  menembaki mereka  dari jarak  sekitar  150  meter,  yang  menurut  perkiraan  saya  sejauh itulah  jarak  ka mi  dengan  mereka  sekarang.  Saya  terus  membayangkan mereka  akan datang  kembali  dari arah  kiri,  tetapi  ketika  saya  mendaki ke puncak bukit untuk mengambil radio komunikasi, saya hampir saja terkena tembakan  roket  RPG-7  yang  datang  dari  arah  tengah.  Roket  itu melewati saya  dan  meledak  tidak  jauh  dari  tempat  saya  berada  namun  saya  tidak terluka  sama  sekali,  hanya  saja,  atas  rahmat  Allah  SWT,  tubuh  saya berlumuran lumpur  akibat ledakan  roket  tersebut. Saya  kembali  turun  dan memberitahu  rekan-rekan  lain  bahwa  musuh  tidak  hanya  ada  di  sebelah kiri tetapi juga ada di tengah. 

Pada detik itu saya sedang mencoba melakukan kontak radio dengan group tempur  Abu  Ubaidah  yang  sedang  mencoba mengurung  pasukan  elite  itu. Saya  berhasil  mengontak  mereka  tetapi  tidak  ada  jawaban  sedikitpun sehingga  saya  menjadi  sangat  khawatir.  Saya  berhenti  mengontak  karena musuh  membom  kami  kembali  tetapi  radio  saya  saya  biarkan  tetap menyala  untuk berjaga-jaga jika group Abu  Ubaidah  menjawab panggilan saya.  Kami  berlindung  di  dalam  gua  dan  bergantian  berjaga-jaga  di  luar jika  pasukan  elite  itu  kembali  lagi.  Kemudian  kami  me mutuskan  jika peluru  mortir  kembali  menghujani  kami  lagi  maka  kami  akan meninggalkan  gua  dan  naik  ke  gunung.  Di  sini  kami  mendapat  pelajaran yang  baru  lagi  yaitu  musuh  dalam  waktu yang  bersamaan  dapat bergerak maju  sambil  melakukan  pemboman  (artileri  dan  mortir)  terus  menerus karena  sasaran  pemboman  mereka  adalah  sekitar  200  meter  di  depan pasukan  yang  sedang bergerak  maju.  Saya  masih  sangat  khawatir  dengan keadaan  group  Abu  Ubaidah  ketika  tiba-tiba  radio  mengeluarkan  suara  gemerisik,  rasanya  seperti  diberi  segelas  air  dingin  di  saat  hari  sedang panas-panasnya,  kemudian  terdengar  suara  Abu  Ubaidah, “Abu  Qaqa  ( nama sandi Syaikh Usamah rhm di medan tempur Kandang Singa, ed ) anda dapat mendengar saya?” 

Segera  saya  raih  radio  dan  menjawab, “Ya, suara  anda  terdengar  jelas” . Abu Ubaidah kemudian terdengar berkata,

“Allahu Akbar!  Allahu  Akbar!  Saya  menyampaikan  berita gembira! Kami berhasil  menumpas  pasukan  elite  Spetsnaz!  Saat  ini  mayat  mereka bergelimpangan di sekitar kami! Allahu Akbar!”  

Pekik  takbir   Allahu  Akbar   segera  bertalu-talu  menyebar  di  seluruh  area dimana  kami  berada.  Kami  sangat  gembira  dengan  pertolongan  Allah SWT  kepada kami. Group Abu  Ubaidah berhasil menyergap pasukan  elite Spetsnaz  dari  belakang,  yaitu  dari  arah  yang  tidak  seorangpun  dapat menyangka  akan  diserang.  Mujahid  Mukhtar  (Muhammad  Al-Azman) berhasil  membunuh  enam  anggota  komando  tersebut  hanya  dalam serangan tunggal  saja. Mereka bertempur dengan senjata mesin dan granat tangan  yang  menyebabkan  hancurnya  moral  bertempur  pasukan  elite  itu. Seluruhnya  ada  sembilan  Mujahid  berhadapan  dengan  100  orang  anggota pasukan elite Spetsnaz, tetapi karena dilanda  ketakutan dan rasa panik luar biasa  di  medan  tempur  yang  berhutan  lebat,  pasukan  elite  tersebut  tidak mampu  mengatasi  sergapan  Mujahidin.  Seluruhnya  35  orang  tentara  dan perwira  Spetsnaz  tewas  terbunuh  dan  sisanya  melarikan  diri  hingga  3km jauhnya. Berita  kemenangan  yang  menyenangkan  hati ini  membuat moral bertempur  Mujahidin  membubung  tinggi,  tidak  hanya  di  tempat  kami  di Jaji, tetapi juga di seluruh Afghanistan, suatu hadiah yang indah dari Allah SWT kepada kami semua.

Pelajaran Berharga dari Pertempuran Kandang Singa

Kehadiran  Foreign  Mujahideen  Arab  untuk  berjihad  di  Afghanistan, termasuk  juga  membangun  basis  (markas)  dan  kamp  pelatihan  militer sendiri  yang  eksklusif  dari  Mujahidin  Afghanistan  lainnya,  perlu  untuk dianalisa  dan  dievaluasi  karena  tentu  saja  mendatangkan  pelajaran berharga  yang  membawa  banyak  manfaat.  Saya  mencoba  untuk merangkum beberapa point berharga dari hal ini :

Satu dari  pelajaran  paling  berharga  adalah  pelajaran  dari  sejarah Islam  itu sendiri,  yaitu  mengangkat  senjata dan  memerangi langsung  secara  militer adalah jalan terbaik dalam menghadapi musuh yang datang untuk menjajah dan  menindas  ummat.  Memerangi  musuh  tidak  berarti  asal  menyuarakan dan menegakkan Jihad (yang dalam hal ini  berarti Ummat Muslim sebagai satu  kesatuan  me mbentuk  kekuatan  militer  atau  angkatan  bersenjata) secara  terburu-buru,  emosional,  kurang  pikir  dan  gegabah.  Dalam  kaitan dengan penegakan Jihad yang diharapkan adalah menegakkan Jihad secara metodis,  mulai  dari  menanamkan  kesadaran  dan  pemahaman  akan pentingnya Jihad, perencanaan, pengorganisasian dan penerapannya secara nyata,  tentunya  disertai  dengan  ketegasan  kapan  dan  bagaimana  harus bertindak.  Keseluruhan  metode  ini  harus  disertai  dengan  berserah  diri secara  total  kepada  Allah  Yang  Maha  Agung,  serta  keyakinan  akan datangnya  pertolongan  Allah.  Contoh  nyata  adalah  apa  yang  dilakukan oleh  Mujahidin  Kandang  Singa,  mulai  dari  timbulnya  keinginan  untuk berperan lebih  jauh  dalam Jihad melawan  Uni  Soviet,  dilanjutkan  dengan ide  membangun  basis  militer,  mempersiapkan  logistik,  back-up  bantuan, mengasah  keterampilan  militer  hingga  saat  bertempur  itu  sendiri. Pertempuran Ramadhan 1407H di antaranya menunjukkan ketenangan dan sikap  tidak  emosional  yang  diperlihatkan  Usama  bin  Ladin  ketika memutuskan  untuk  menarik  mundur  Mujahidin  dari  Kandang  Singa menuju  lokasi  lain  karena  serangan  udara  dan  artileri bertubi-tubi  selama beberapa  hari  berturut-turut.  Alasan  penarikan  mundur  ini  adalah  untuk meminimalkan tingkat kerugian sebanyak mungkin. Langkah ini kemudian diikuti dengan gerak maju Mujahidin  di Kandang  Singa,  sekalipun jumlah mereka  hanya  tujuh  atau  delapan  orang  saja  termasuk  di  antaranya Mujahid  asal  Mesir  Abu  Ubaidah  Al-Panjsheri  dan  Abu  Hafs  Al-Misri (yang menunjukkan totalitas mereka hanya kepada Allah semata).    

Contoh  lain  adalah  ketika  Usama  bin  Ladin  memutuskan  untuk  keluar kembali  menghadapi  musuh  di  pagi  hari  setelah  shalat  subuh/fajar.  Ia memutuskan  untuk  bertempur  menghadapi  pasukan  elite Spetsnaz  setelah menyadari  musuh  tidak  berani  menyerang  di  malam  hari  sebelumnya karena  takut.  Selanjutnya  serangan  mematikan  dilakukan  oleh  group tempur  di  bawah  pimpinan  Abu  Ubaidah  dan  Abu  Hafs  dengan  jalan mengepung anggota pasukan komando tersebut. Keputusan  mundur  dari  Kandang  Singa  untuk  meminimalkan  kerugian secara  taktis  adalah  keputusan  yang  bijak  karena,  pertama,  untuk mencegah  timbulnya  korban  jiwa  di  pihak  Mujahidin  dan  kedua,  untuk bersiap-siap  menyerang  dan  menyergap  tentara  musuh  di  saat  keadaan memungkinkan.

Usama  bin  Ladin  memutuskan  untuk  menghadapi  kekuatan  musuh,  dan kembali dengan  rekan-rekannya  dalam  jumlah  minimum  yang  diperlukan untuk  mencegah  musuh  datang  menyerang  Kandang.  Hal  ini  dilakukan dengan  mengepung  musuh  dari  belakang  dan  menyergap  mereka. Keputusan  untuk  mengepung  musuh  adalah  kunci  kemenangan  dalam pertempuran  berhadap-hadapan  ini  karena  manuver  mengepung  sama sekali tidak disangka-sangka oleh musuh.  Terlebih lagi, sekalipun  Foreign Mujahideen  Arab  mendapat  bantuan  dari  Mujahidin  Afghanistan,  namun tentara Uni Soviet  dan pasukan Afghanistan  yang komunis  tidak me miliki niat  untuk  mundur  dan  menghentikan  serangan.  Kekuatan  musuh  malah semakin bergerak maju menuju bukit Az-Zahrani yang jaraknya hanya 100 meter  dari pintu masuk Kandang Singa.  Maka serangan  atas pasukan  elite Spetsnaz yang memiliki keahlian khusus dan perlengkapan yang jauh lebih baik dan lengkap merupakan babak akhir dari pertempuran ini.

Usama bin Ladin dan seluruh Mujahidin, baik Afghan maupun Arab, sama menyadari  bahwa  pertempuran  Jalalabad  yang  berlangsung  sebelumnya adalah  berbeda  sama  sekali  dengan  pertempuran  manapun  yang  pernah terjadi  di  seluruh  Afghanistan.  Pertempuran  Jalalabad  berlangsung  di dataran  terbuka  dan  posisi  Mujahidin  sangat  terbuka  untuk  diserang. Situasi  demikian  menjadikan  operasi militer  Jalalabad seluruhnya berbeda sama sekali dengan operasi militer lainnya. 

Namun  demikian  Pertempuran  Jalalabad  merupakan  pelajaran  dan  bahan kajian  bagi  Mujahidin  Afghanistan  dan  Arab.  Pelajaran  utama  adalah perlunya  mengedepankan  sisi  intelijen  dimana  unit  pengintai  diperlukan untuk  mengumpulkan data dan  informasi  secara  teliti dan  cermat sebelum keputusan  untuk  melancarkan  serangan  diambil.  Ketersediaan  informasi ini  menjadi  kunci  suksesnya  operasi  militer  manapun,  dan  dalam  hal Jalalabad,  posisi  yang  demikian  terbuka  membuat  musuh  dengan  mudah dapat  mengetahui  setiap  pergerakan  pasukan  menjelang  dan  selama berlangsungnya  operasi.  Jika  intelijen  tidak mampu  untuk  menyediakan informasi  yang  akurat,  maka  dapat  disimpulkan  operasi  militer  manapun akan mengalami kegagalan sejak awal.

Berbeda  dengan  pertempuran  di  dataran  tinggi  yang  merupakan  area pegunungan  dan  perbukitan  dimana  strategi  menyerang  dan  menyergap musuh  lebih mudah  untuk dilakukan,  pertempuran di dataran rendah yang terbuka  membuat  konfrontasi  yang  terjadi  akan sangat berbeda,  demikian pula  dengan  strategi  dukungan  berupa  pasokan  logistik  dan  tambahan pasukan.  Sekalipun  memiliki  kelemahan-kelemahan  mencolok,  namun kinerja  dan  kemampuan  Foreign  Mujahideen  Arab  berkembang  pesat dalam  Pertempuran  Jalalabad,  sedemikian  sehingga  dalam  pertempuran- pertempuran  yang  terjadi  kemudian  para  komandan  Mujahidin Afghanistan  mengandalkan  diri  pada  rekan-rekan  mereka  dari  Arab. Karena  itu  tidaklah  mengherankan  jika  kemudian  banyak  Foreign Mujahideen  Arab  yang  ikut  berpartisipasi  dalam  membebaskan  wilayah-wilayah Afghanistan yang sebelumnya dikuasai kaum komunis.

Pengalaman dan kemampuan yang dimiliki oleh Foreign Mujahideen Arab di  Afghanistan  merupakan  berkah  bagi  Ummat  Muslim,  terutama  dalam hal  bagaimana  seharusnya  menghadapi  malapetaka  besar  yang  menimpa Islam  dan  Ummatnya,  dan  bagaimana  seharusnya  mendukung  Jihad  di Jalan  Allah,  dimana  Jihad  diyakini  merupakan  satu-satunya  jalan  untuk menolak  dan  melawan  kekuatan  lalim  dan  kafir.  Apa  yang  terjadi  di Afghanistan  merupakan  pelajaran  bagaimana  seharusnya  menghadapi kekuatan  setan  penindas  sebagaimana  banyak  ditunjukkan  oleh  berbagai pemerintah negara-negara  di dunia dewasa ini. Pemerintah-pemerintah ini membuka  pintu  terhadap  masuknya  kepercayaan  dan  budaya  kafir, menekan  pemimpin-pemimpin  ummat  dan  menindas  pengikut-pengikut mereka  dan  Ummat  Muslim  pada  umumnya.  Apa  yang  terjadi  di Afghanistan  memberikan  pelajaran  tidak  ternilai  karena  pemerintah Afghanistan  yang  komunis  tidak  dapat  berbuat  banyak  menghadapi bangkitnya Jihad dan hanya dapat meminta bantuan kepada  kamerad  besar mereka  Uni  Soviet  untuk  “turun  tangan”  langsung  menginvasi Afghanistan. 

Permintaan  untuk  turun  langsung  disuarakan  untuk  melindungi  diri pemerintah  komunis  ini  dari  revolusi  Islam  yang  sedang  berusaha  untuk ditegakkan oleh  Ummat Muslim (yaitu penegakan Jihad dan pemerintahan Syariah  Islam).  Kita  juga  dapat  melihat  pada  sistem  pemerintahan  “kriminal”  di  negara-negara  berpenduduk  mayoritas  muslim  lain,  dimana pemerintah-pemerintah  kriminal  ini  bermuka  manis  seolah  mendukung penegakan  Jihad  dan  Syariah  tetapi  sebenarnya  menikam  dari  belakang setiap upaya dan harapan yang menyuarakan kebangkitan (revolusi) Islam. Mereka  berkomplot  dengan  kekuatan  lalim  dan  pengkhianat  untuk menghancurkan  setiap  gerakan  kebangkitan  Islam.  Menghadapi  keadaan seperti  ini  Mujahidin  (tentara  Islam)  akan  berdiri  tegak  dan  maju menentang  setiap  kekuatan  agresor,  akan  berdiri  di  barisan  depan menghadapi  setiap  kekuatan  pengkhianat.  Atas  kehendak  Allah  Yang Maha  Kuasa  Jihad  mereka  akan terus membebaskan  setiap jengkal Tanah Muslim  yang  coba  untuk  dirusak  oleh  kekuatan  kafir  dan  penindas  yang berperilaku tidak adil.  

Dan  akhirnya, segala do’a yang  kita  panjatkan tertuju hanya  kepada Allah SWT, Tuhan seluruh alam.

“…Alasan utama  yang menyebabkan kita tidak  pergi berjihad adalah orang tua dan keluarga. Kami yang berada di sini seluruhnya pergi berjihad tanpa persetujuan orang tua. Jika kami meminta ijin atau pulang kembali ke rumah, lalu siapa yang akan meneruskan perjuangan ini? Setiap kali saya menelepon ibu saya, beliau selalu meminta saya pulang ke rumah karena saya belum pernah pulang selama 12 tahun terakhir. Jika saya pulang menemui ibu saya, siapa yang akan meneruskan perjuangan ini?…” [Ibnu Al-Khattab, Panglima Fore ign Mujahidee n Chechnya]    

“…Nyawa adalah satu-satunya milik  kami yang paling berharga yang dapat kami  persembahkan bagi agama ini…” [Abu Zubair Al-Madani, pelantun nasyid Jihad Qawafil As-Syuhada] 

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Mei 17, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: