Pertempuran Kandang Singa, Afghanistan 1987 ( Bag.5 )

Jalannya Pertempuran Kandang Singa, Mei 1987

Akhirnya,  tibalah  pertempuran  yang  menentukan  nasib  kedua  pihak, pertempuran  yang  telah  dipersiapkan  oleh  Foreign  Mujahideen  dengan sangat serius dan sepenuh hati. Meskipun demikian, dalam pertempuran 17 Ramadhan  1407H  (22  Mei  1987)  Foreign  Mujahideen  tidak  berhasil merebut  satupun  pos  pertahanan  musuh  karenakomandan  mereka  Abu Khalid  Al-Misri  mengalami  cedera  tepat  pada  saat  pertempuran  baru dimulai  akibat  terkena  pecahan  senjata  pelontar  roket  RPG-7. Mujahid Abu  Sahal  Al-Misri¹ (semoga  Allah  merahmati  beliau)  juga  mengalami cedera  sehingga  kedua  peristiwa  ini  menghambat  kelancaran  jalannya operasi  militer. Group  tempur  yang  posisinya berada paling dekat  dengan musuh  adalah  group  Shafiq  Al-Madani  yang  beranggotakan  delapan Mujahid  dimana  empat  di  antaranya  kembali  dalam  keadaan  cedera. Keseluruhan operasi  ini  dipimpin oleh  Abu Ubaidah Al-Panjsheri. Usama bin  Ladin  dan  saya  sendiri  (wartawan arab, pent. )  saat  itu  sedang  berada  di Peshawar dan begitu mendengar berita pecahnya pertempuran kami berdua segera  pulang  kembali  ke  Kandang pada  tanggal  tersebut untuk  ikut  serta dalam  pertempuran.  Kami  tiba  sore  hari  dan  duduk  di  Kandang  sambil mengikuti perkembangan situasi.  Sejak  hari itu dan  selanjutnya saya tetap tinggal  di  Kandang  untuk  menyaksikan  langsung  jalannya  pertempuran yang paling terkenal di kalangan Foreign Mujahideen Arab di Afghanistan. Dalam  pertempuran  ini  45  orang  tentara  dan  perwira  Uni  Soviet menyerahkan diri kepada salah seorang komandan lapangan dari kelompok Mujahidin  Afghanistan  pimpinan  Gulbuddin  Hekmatyar.  Mereka menyerah  setelah  tidak  tahan  akibat  pos  pertahanan  mereka  dibombardir oleh Mujahidin.

DSHK-anti aircraft weapon

Dua  hari  sebelumnya,  tanggal  15  Ramadhan  (20  Mei)  jet-jet  tempur  dan serang  Uni  Soviet  jenis  MIG  dan  Sukhoi  beterbangan  di  atas  posisi Mujahidin.  Mujahidin  segera  merespon  balik  dengan  menembakkan senjata anti serangan  udara  DShk    dan Zakoyak   sehingga  memaksa  jet-jet  tersebut  untuk  mundur  dan  menjauh.  Tujuan  dari  manuver  udara  ini adalah  untuk  mengetahui  dengan  tepat  posisi  senjata-senjata  berat  milik Mujahidin  sehingga  ketika  tentara  Uni  Soviet  memulai  serangan ofensifnya mereka tahu persis lokasi mana yang harus dibom.

Tanggal  23  Ramadhan  (28  Mei)  dua  helikopter  Uni  Soviet  yang  terbang rendah mengejutkan Mujahidin. Senjata anti serangan udara Zakoyak tidak didesain  untuk  menembak  target  yang  berada  di  bawah  garis  cakrawala (horizontal) sehingga kedua helikopter tersebut berada di luar area tembak. Di  lokasi  tersebut  terdapat  tiga orang  Foreign Mujahideen  Arab  sehingga mereka  menugaskan  seorang  di  antaranya  untuk  menyiapkan  pelontar roket  RPG-7  dan  bersiap  menembak  helikopter  musuh  jika  kembali mendekat.  Mujahidin  kemudian  kembali  memahami  bahwa  militer  Uni Soviet  ingin  mendapatkan  gambaran  dari  dekat  yang  a kurat  mengenai posisi  senjata-senjata  berat  milik  Mujahidin  dan  tidak  mau  hanya bergantung pada foto udara yang mereka miliki.

Setelah itu Mujahidin mendengar berita bahwa  dua unit tentara Uni Soviet berjumlah  total  sembilan  hingga  sepuluh  ribu  orang  telah  datang  dan tengah  bergerak  menuju  area  pertempuran.  Satu  unit  tiba  di  wilayah yang disebut  Nara  yang  merupakan  titik  kumpul  tentara  Uni  Soviet  sementara unit lainnya me masuki benteng Chowni.  Tanggal  27 Ramadhan  (01  Juni) tentara  Uni  Soviet  menembakkan senjata artileri  dan  roket-roket  mereka  menghujani  posisi  Mujahidin.  Di  antara artileri roket yang mereka tembakkan adalah jenis BM-14 Katyusha yang  mampu  menembakkan  16-17  roket  secara  beruntun.  Mujahidin Afghanistan menyebut roket ini dengan nama  Chiloyak ,  dan  tentara Soviet mengarahkan  Chiloyak  mereka  ke  satu  pos  pertahanan  Mujahidin  yang diberi  nama  Hunain.  Hampir  seluruh  Foreign  Mujahideen  yang  ada  di Hunain  berasal  dari  Taif,  Saudi  Arabia,  dan  mereka  sangat  bersemangat dalam  menghadapi  musuh.  Hujan  roket  tersebut  jatuh  di  satu  bukit  di belakang  Kandang  tetapi  sudah  cukup  untuk  membuat  kaget  semua Mujahidin  yang  ada  karena  suaranya  yang  memekakkan  telinga  serta intensitas ledakannya yang luar biasa dahsyat. Beberapa  menit berlalu dan kemudian  kumpulan  awan  hitam  yang  gelap  pekat  menutupi  cerahnya langit  musim  semi (awal  Juni)  dan menggelantung  di atas Kandang.  Saat itulah  Allah  SWT  menunjukkan  tanda-tanda  kebesaran-Nya  dengan mengirimkan  kilat  yang  menyambar-nyambar  dan  suara  petir menggelegar,  demikian  hebat  keadaan  langit  pada  saat  itu  sehingga Mujahidin  lupa  akan  serangan  roket  dan  artileri  yang  mendesing  di  atas kepala  mereka.  Keajaiban  ini  menyebarkan  perasaan  sakinah di  dalam hati Mujahidin. Gelombang kilat dan petir tersebut diikuti dengan turunnya hujan  es.  Mujahidin  memakan  butir-butir  es  yang  jatuh  dan  segera  saja rasa takut yang sebelumnya mendera hati Mujahidin menghilang. Kejadian ini  merupakan  satu  di  antara  keajaiban  (karamah)  yang  disaksikan Mujahidin dalam pertempuran ini.

Tanggal  28  Ramadhan  (02  Juni)  pertempuran pun  pecah  dengan  kekuatan penuh.  Uni  Soviet  mengirimkan  skuadron  jet-jet  tempur  mereka  yang berjumlah lebih dari  24 pesawat membom  posisi-posisi Mujahidin. Segera setelah  menjatuhkan  bom  pesawat-pesawat  jet  tersebut  berputar  menjauh dan  kembali lagi  untuk menjatuhkan  lebih banyak bom. Keseluruhan  area Kandang  berukuran  400  x  800  meter  dan  bom-bom  yang  dijatuhkan tersebut menimbulkan lubang kawah bekas  ledakan berdiameter lebih  dari 12  meter  sehingga  lubang  kawah  tersebut  terlihat  sangat  berdekatan  satu sama  lain.  Hal  ini  menunjukkan  serangan  udara  yang  begitu  bertubi-tubi yang dilancarkan militer Uni  Soviet.  Hingga hari  ini lubang-lubang kawah tersebut masih dapat disaksikan.

Di samping serangan udara gencar tersebut, angkatan darat Uni Soviet juga menghujani  posisi  Mujahidin  dengan  tembakan  artileri  D-30  Howitzer, serangan  mortir  120mm  dan  cluster  bomb.  Seluruh  area  bagaikan mengeluarkan  cahaya  kilat  dan  tidak  satupun  pohon  yang  tidak  tumbang sebagai  akibatnya.  Namun  atas  rahmat  Allah  saja  posisi  Mujahidin terlindung di bawah tanah (bunker) dan lubang masuk ke dalam parit (gua) perlindungan  tersamar  dengan  kamuflase  yang  baik.  Serangan  dan pemboman  yang  bertubi-tubi  ini  berlangsung  terus  hingga  21  hari sepanjang  berkecamuknya  pertempuran dan  atas  rahmat  Allah  SWT  tidak satupun  gua  yang  ambruk  atau  hancur.  Satu  bunker  yang  kosong  terkena bom  tetapi tidak ambruk dan satu bunker lainnya terkena  tembakan artileri mortir  120mm.  Tebalnya  tanah  dan  pasir  40cm  di  atas  bunker  berhasil menetralkan  guncangan  akibat  ledakan  dan  Mujahidin  di  dalam  bunker dapat selamat, segala puji hanya bagi Allah semata. 

Pemboman  tanggal  28 Ramadhan berlangsung hingga  waktu  shalat  Ashar, dan saat  itu  militer Soviet mengirimkan  delapan  kendaraan lapis baja  tank yang  bergerak  maju  ke  arah  posisi  Mujahidin.  Ketika  tank-tank  tersebut telah  masuk  dalam  jarak  tembak  maka  Mujahidin  mulai  memuntahkan peluru  mereka.  Mujahidin  menghadapi  kekuatan  super  power  Uni  Soviet yang  merupakan  kekuatan  terbesar  di  dunia  hanya  dengan  mengandalkan tiga mortir  82mm, satu artileri roket BM-21  Hail, dua kendaraan pick-up  4×4  dan  satu  truk  yang  mengangkut  roket-roket  BM-21.  Mujahidin Afghanistan  yang  dikirim  untuk  membantu  Foreign  Mujahideen  Arab hanya  memiliki  empat  kendaraan  pick-up  sementara Abdul  Rasul  Sayyaf mengirimkan  20  orang  Mujahid  Afghan  dipimpin  komandannya,  Kochai, untuk membantu Mujahidin di Kandang. Total jumlah Mujahidin yang ada saat  pecahnya pertempuran berjumlah 70 orang, sama dengan jumlah Para Sahabat  Rasulullah  SAW  yang  hadir  dalam  Ikrar  Aqabah dan  sama dengan jumlah pengikut Nabi Musa ‘Alaihissalam . 

Seorang  Mujahid  bernama Abdurrahman bertugas untuk menembakkan  roket-roket BM-21 Hail  yang sebenarnya tidak dapat  diharapkan untuk  mengenai sasaran  dengan akurat tetapi  lebih  berfungsi  sebagai  tembakan  pendukung  (general bombardment) serangan.  Namun atas rahmat Allah SWT  roket dan mortir yang  ditembakkan Mujahidin  dengan  tepat  mengenai  sasaran  konvoi  yang bergerak  maju  tersebut.  Semangat  Mujahidin  menyala-nyala  melihat  hal ini  dan  mereka  meneriakkan  takbir “Allahu  Akbar!”   setiap  kali  peluru mereka mengenai sasaran.

Ketujuh  puluh  Mujahidin  ini  dibagi  menjadi  dua  group  masing-masing beranggotakan  35  orang.  Group  pertama  ditempatkan  di  sejumlah  pos pertahanan  di  sekeliling  (perimeter)  Kandang  dan  group  kedua ditempatkan  di  dalam  Kandang.  Karena  target  utama  pemboman  militer Soviet adalah Kandang Singa maka kedua group ini bertukar jaga setiap 24 jam  sekali  sehingga  group  yang  menjaga  Kandang  dapat  memiliki  waktu istirahat dari  pemboman 24  jam terus  menerus. Fisik  dan mental  manusia biasa  tidak  mungkin  mampu  bertahan  dari  badai  serangan  24  jam  tanpa henti  dan  hanya  atas  rahmat  Allah  SWT  saja  Mujahidin  dapat  membagi tugas  seperti  ini  sehingga  memungkinkan  Mujahidin  yang  telah  selesai bertugas di dalam Kandang beristirahat. 

Tentara  Soviet  beranggapan  bahwa  setelah  diserang  habis-habisan  tanpa henti  maka  siapapun  manusia  yang  berada  di  Kandang  tentu  sudah  lari menyelamatkan  diri.  Maka  seperti  yang  telah  disebutkan  sebelumnya, mereka  mengirim 8 tank dan 12 kendaraan lapis baja pengangkut  personil. Sambil  maju  mendekati  Kandang  dengan  perlahan  mereka  terus menghujani  posisi  Mujahidin  dengan  tembakan-tembakan  dari  kendaraan tempur  tersebut.  Mujahidin  tidak  balas  menembak  kendaraan-kendaraan lapis  baja  tersebut  tetapi  menunggu  hingga  seluruh  konvoi  kendaraan  musuh  masuk  dalam  jarak  tembak  peluru  mortir  mereka.  Mortir  82mm memiliki  jarak  tembak  maksimum  5km  sehingga  Mujahidin  menunggu hingga  konvoi  musuh  berada  dalam  jarak  tersebut.  Usama  bin  Ladin mengamati  gerak  maju  musuh  bersiap  untuk  memberikan  tanda dimulainya  serangan.  Segera  setelah  tank-tank  Soviet  masuk  dalam  jarak tembak  Usama  berteriak   “Allahu  Akbar!”   sebagai  tanda  bagi  Mujahidin untuk  memulai  tembakan  mereka.  Seorang  Mujahid  bernama Abdurrahman bertugas untuk menembakkan  roket-roket BM-21 Hail  yang sebenarnya tidak dapat  diharapkan untuk  mengenai sasaran  dengan akurat tetapi  lebih  berfungsi  sebagai  tembakan  pendukung  (general bombardment) serangan.  Namun atas rahmat Allah SWT  roket dan mortir yang  ditembakkan Mujahidin  dengan  tepat  mengenai  sasaran  konvoi  yang bergerak  maju  tersebut.  Semangat  Mujahidin  menyala-nyala  melihat  hal ini  dan  mereka  meneriakkan  takbir “Allahu  Akbar!”   setiap  kali  peluru mereka mengenai sasaran.

Satu  kendaraan  ambulans  bergerak  menuju  lokasi  dimana  konvoi  Uni Soviet terjebak serangan Mujahidin untuk mengangkut mayat-mayat rekan mereka  yang  tewas  dan  terluka.  Ketika  ambulans  tersebut  mendekati lokasi,  satu  peluru  mortir  mendarat  di  jalan  tepat  di  depan  ambulans mengakibatkan  tentara  yang  mengendarai  ambulans  tersebut  segera memutar  kendaraannya  kembali  dan  tunggang  langgang  menyelamatkan diri.  Seluruh  Mujahidin  berada  dalam  kegembiraan  yang  luar  biasa  dan terus  menembakkan senjata-senjata mereka ke  arah konvoi sasaran hingga kegelapan  malam  tiba.  Ketika  berhasil  melakukan  sabotase  atas  jalur komunikasi  tentara  Soviet,  mereka  mendengar  tentara  Soviet  saling menyalahkan  dan  mencerca  satu  sama  lain  dengan  bahasa  kasar  dan cabul (sama seperti aparat thoghut di negeri ini, ed).

Ketika  malam  tiba  barulah  Mujahidin  menghentikan  tembakan-tembakan mereka karena kegelapan malam  menyelimuti konvoi yang menjadi target. Tetapi  pesawat-pesawat  jet  Uni  Soviet  tetap  melanjutkan  pemboman mereka  mengakibatkan Mujahidin  tidak dapat beristirahat malam itu. Satu pesawat  terbang  mendekati  Kandang  dan  menjatuhkan  bom  suar  yang menerangi  langit  sehingga  memungkinkan  pesawat  jet  lainnya  untuk menjatuhkan bom  dengan tepat di  atas posisi  Mujahidin. Keadaan ini terus berlanjut  pada  malam  28,  29  dan  30  Ramadhan.  Militer  Soviet berpandangan  ada  sejumlah  besar  Mujahidin  di  Kandang  dan  karenanya mereka  berkeyakinan  penting  sekali untuk  “menyapu”  habis  seluruh  area. Mereka  sama  sekali  tidak  menyangka  Mujahidin  yang  mereka  hadapi jumlahnya hanya beberapa puluh orang saja. 

Sampai  pada  tiga  hari  tersebut  Mujahidin  secara  fisik  dan  mental  mulai kehabisan tenaga. Seluruh Mujahidin telah meninggalkan puasa Ramadhan mereka  sebagaimana  Sunnah  Rasulullah  Muhammad  SAW  yang memerintahkan  Para  Sahabat  untuk  meninggalkan  puasa  mereka  saat merebut kota Mekkah.

Sehari  sebelum  tanggal  30  Ramadhan  (04  Juni)  Mujahidin  merasa  masih akan  ada  pemboman  besar-besaran  maka  mereka  memutuskan  untuk meninggalkan  Bunker  Komando  yang  terletak  di  tengah-tengah  Kandang dan  berlindung  di  satu  gua  kecil  yang  dalamnya  sekitar  6  meter.  Ada sepuluh Mujahid di dalam gua tersebut, di antaranya adalah :

Khalid Al-Kurdi asal Madinah Al-Munawwarah

Khidir Al-Haili yang berasal dari bagian timur Jazirah Arab

Dzabih At-Taifi asal Taif, Jazirah Arab

Abu Fadl Al-Misri asal Mesir

Abu Hanifah Al-Misri asal Mesir

Abu Azzam

Abu Sahal Al-Misri asal Mesir

Usama Bin Ladin asal Madinah Al-Munawwarah 

Mujahidin  menebang  dua  batang  pohon  dan  meletakkannya  sedemikian rupa  untuk  menutupi  pintu  masuk  ke  dalam  gua.  Khalid  Al-Kurdi  begitu lelahnya  sehingga  ketika  sampai  di  dalam  gua  serta merta  langsung  jatuh tertidur.  Hari  telah  mendekati  gelap  ketika  pintu  masuk  ke  gua  telah dikamuflase  sehingga  tidak  mudah  diketahui  musuh  bahwa  di  dalamnya terdapat  gua  perlindungan.  Saat  itu  mereka  mendengar  suara  mesin  jet pesawat-pesawat tempur dan serang Uni Soviet dan melihat jelas bayangan badan  pesawat.  Hal  ini  segera  diikuti  dengan  ledakan-ledakan  bom  di sekitar  mereka.  Sekalipun  berat  bom-bom  tersebut  mencapai  1.000 kg namun  atas  rahmat  Allah  saja  bom-bom  tersebut  jatuh  dan  meledak  di dasar  lembah  sementara  posisi  Mujahidin  berada  di  ketinggian  gunung. Walaupun  demikian,  karena  begitu  hebatnya  pemboman-pemboman  itu Mujahidin  merasa  bom-bom  tersebut  jatuh  di  atas  mereka,  dan  seakan seluruh  gunung  terguncang  akibat  ledakan-ledakannya  bahkan  tanah  dan debu  yang  beterbangan  benar-benar  masuk  me menuhi  gua  dimana Mujahidin berada.

Tidak ada yang dapat  dilakukan  Mujahidin  kecuali tetap tinggal  di  dalam gua  dan  mereka  semua  berdoa  kepada  Allah  Yang  Maha  Agung  agar melimpahkan  perlindungan  kepada  mereka  dari  kejahatan  tentara  Soviet. Kejadian  ini  terjadi  pada  tanggal  30  Ramadhan  dan  hingga  saat  itu Mujahidin telah berada dalam  keadaan benar-benar  letih, fisik dan  mental mereka benar-benar terkuras habis dalam lima hari terakhir.

Saifuddin Al-Maghribi sedang berjaga di  salah satu pos pengintaian ketika ia  melihat  sebelas  group  pasukan  elite  Spetsnaz  bergerak  maju  di  hutan perbukitan.  Mujahidin  sebelumnya  telah  sepakat  bahwa  jika  terdengar  3x tembakan  dari  Zakoyak  maka  hal  itu  berarti  akan  ada  serangan  musuh. Dan saat itu seorang Mujahid menembakkan Zakoyak-nya tiga kali.    

Pasukan khusus Soviet spetsnaz

Mujahidin  mengeluarkan  granat  dan  bersiap  untuk  mencegat  gerakan musuh.  Ketika  mereka  baru  saja  hendak  memulai serangan,  Abu  Ubaidah Al-Panjsheri,  komandan  militer  Kandang  Singa,  tiba  di  lokasi  bersama Dzabih  At-Taifi.  Mujahidin  sudah  merasa  jarak  mereka  dengan  pasukan elite  telah  berdekatan  tetapi  mereka  tidak  dapat  melihat  pasukan  elite  itu karena  pasukan  elite  itu  memakai  seragam  yang  dikamuflase  dengan situasi  hutan.  Karena  Mujahidin  tidak  memiliki  pakaian  seragam  yang demikian,  hal  ini menimbulkan  kerugian  di  sisi  mereka.  Seorang  anggota pasukan  elite  yang  terbagi dalam  group  tempur  beranggotakan  tiga  orang itu  menembakkan  senjata  serbunya  AK-74  Kalakov       ke  arah  Mujahidin. Satu  peluru  menerjang  di  antara  Usama  dan  Abu  Ubaidah,  peluru  lain menerjang  batu  di  belakang  mereka  dan  peluru  ketiga  mengenai  Abu Ubaidah. Akibat tembakan mendadak itu anggota pasukan lainnya menjadi sadar akan kehadiran Mujahidin sehingga gagal-lah usaha Mujahidin untuk melakukan  sergapan  tiba-tiba.  Mujahidin  sangat  ingin  segera  membalas menembak  tetapi  mereka  tidak  dapat  melihat  posisi  musuh  bahkan  suara gerakan  musuhpun  tidak terdengar.  Tiba-tiba,  hujan  mortir  memerangkap Mujahidin. Serangan  mendadak  yang  gencar  ini berlangsung  terus  hingga setengah jam kemudian. Jarak di antara jatuhnya satu peluru mortir dengan peluru  lainnya  adalah  sama  dengan  jika  seseorang  sedang  bertasbih mengucapkan  “Subhanallah” .  Pasukan  elite  tersebut  ternyata  telah memberitahu  rekan-rekan  mereka  bahwa  Mujahidin  sedang  memasang perangkap  bagi  mereka,  maka  mereka  mengundurkan  diri  sedikit  dan meminta bantuan  dari  belakang  agar area di  depan  mereka  disapu  dengan serangan mortir 120mm untuk menghabisi Mujahidin. 

Demikian  gencar  tembakan-tembakan  tersebut  sehingga  tidak  satupun  di antara  Mujahidin  yang  berpikir  mereka  dapat  keluar  dengan  selamat. Serangan mortir itu kemudian berhenti selama kurang dari satu menit. Abu Ubaidah  ingin  segera  mundur  tetapi  Usama  bin  Ladin  berkata  bahwa mereka  sebaiknya  tetap  di  tempat  dan  menunggu.  Beberapa  detik kemudian,  hujan  mortir  kembali  menerjang  dan  akhirnya  Mujahidin memutuskan  bahwa  mereka  akan  bergerak  mundur  pada  saat  serangan mortir mereda kembali. 

Sementara  itu  Mujahidin  yang  berada  di  garis  belakang  terus berkomunikasi dengan Mujahidin di Kandang melalui walkie talky. Sheikh Abdullah  Azzam  di  Kandang  menangis  tersedu  dalam do’anya  memohon agar Allah melimpahkan perlindungan kepada Mujahidin. 

Segera  setelah  itu  serangan  mortir  kembali  mereda  dan  Mujahidin bergegas meninggalkan lokasi mereka. Mereka berhasil menjauh sekitar 50 meter  ketika  serangan  mortir  kembali  menghujani  posisi  mereka. Sementara  itu  Khidir,  yang  berada  di  posisi  jauh  di  depan  Mujahidin lainnya  berpikir bahwa rekan-rekannya telah terbunuh  syahid.  Beliau  tahu ada  sekitar  200  orang  pasukan Spetsnaz  tepat  dihadapannya.  Tetapi Khidir  tidak takut  mati, dia hanya takut kepada Allah.

Mujahid Ali yang ikut serta dalam Pertempuran Kandang Singa berkata, 

“Mujahidin  mendapat  pelajaran  berharga  dari  Operasi  17  Sya’ban  dan dengan modal itu  mereka  merencanakan  untuk menggelar  operasi  militer lain  yang  direncanakan  tanggal  17  Ramadhan. Sepanjang waktu itu kami mendapat informasi bahwa  sejumlah besar tentara  Uni Soviet dan tentara Afghanistan  yang  komunis  telah  berada  di  wilayah  ini.  Dan  serangan udara  atas  Kandangpun  segera  dimulai.  Saat  itu  saya  ditempatkan  di Badar  Center  dan  mempertahankan  posisi  Kandang  dari  sayap  kanan, karena  letak  Badar  Center  ada di  sisi  Kandang  yang  berbatasan dengan lembah. Posisi itu demikian strategis sehingga kami berpikir pasukan elite Spetsnaz akan mencoba menyerang kami dari sisi tersebut”.

“Tanggal  25  Ramadhan  pemboman  bertambah  semakin  hebat.  Saat  itu ada 70 orang Mujahid di dalam Kandang, masing-masing berbeda tingkat latihan  militer  yang  pernah  dijalani. Menyadari hal  ini  Usama bin  Ladin memutuskan  bahwa  Mujahidin  yang  tidak  memiliki  tingkat  latihan  yang cukup  ditempatkan di garis belakang sebagai kekuatan pendukung dengan maksud  untuk  melindungi  Kandang  dari  belakang.  Mereka  didampingi oleh sejumlah Mujahidin yang lebih senior”.

“Pasukan  elite  Uni  Soviet terus mencoba  mendekati  Kandang  dari  sayap kanan  seperti yang  telah diperkirakan  sebelumnya, namun  atas kehendak Allah  SWT  batalyon  komando  tersebut  cukup  dihadapi  oleh  enam  orang Mujahid  saja  yaitu  Usama  bin  Ladin,  Abu  Hasan  Al-Madani,  Khalid  Al- Kurdi,  Yasin  Al-Kurdi,  Asadullah  As-Sindhi (seorang  Pakistan  yang tinggal  di  Jeddah,  semoga  Allah  merahmati  beliau),  dan  Abu  Walid Muhammad  Al-Utaibi.  Mereka  berenam  menghadapi  seluruh  anggota pasukan  elite  tersebut  dan  atas  rahmat  dan  pertolongan  Allah,  satu-satunya Mujahid yang gugur syahid adalah Abu Walid Muhammad. Ketika itu Abu Walid bertugas untuk menembakkan roket ke arah tank-tank Soviet sehingga beliau berada di posisi yang lebih tinggi yang  tidak tersembunyi dari  pandangan  musuh.  Beliau  terkena  ledakan  mortir  di  bagian punggung  dan  gugur  syahid  seketika.  Pada  sore  harinya,  saya  dan  Abu Yasir  Al-Iraqi  mendatangi  lokasi  syahidnya  Abu  Walid  dan  mengambil jenazahnya.  Kami mengubur  beliau  di Kandang di  dekat kuburan  Ahmad Az-Zahrani.  Abu  Walid  merupakan  Mujahid  ketiga  yang  gugur  syahid setelah Ahmad Az-Zahrani dan Abu Dzahab”. 

_____________________________________________________________

¹ Abu  Sahal  Al-Misri (Ayman  Sabri) gugur  syahid  kemudian  di dalam  perang. Beliau adalah contoh yang sangat baik dalam hal berserah diri kepada Allah, juga seorang  yang  penyabar  dan  lurus  hati.  Sehari  sebelum  mati  syahid  beliau bermimpi  dimana  didalam  mimpinya  tersebut  beliau  berada  dalam  satu kerumunan  orang  banyak  yang  saat  itu  sedang  berdiri  di  depan  pintu  gerbang surga. Pintu gerbang itu dijaga oleh malaikat yang memegang satu daftar nama di tangannya dan membaca  daftar tersebut memanggil nama  seseorang yang tertulis di  dalam  daftar.  Orang  yang  dipanggil  kemud ian  maju  ke  depan  malaikat  dan menerima  satu  kartu  sebagai  tiket  untuk  masuk  ke  dalam  surga.  Abu  Sahal menunggu,  menunggu  dan  terus  menunggu  tetapi  nama  beliau  tidak  juga dipanggil. Saat  itu beliau berketetapan akan maju ke depan jika malaikat  kembali membaca  daftarnya  sekalipun  bukan  nama  beliau  yang  dipanggil.  Secara kebetulan  nama  berikut  yang  dipanggil  adalah  nama  beliau,  maka  beliau  segera maju  ke  depan,  menerima  tiket  dan  masuk  ke  dalam  surga.  Setibanya  di  dalam surga beliau melihat dua orang Mujahid, seorang di antaranya diketahui telah mati syahid setahun sebelumnya dan orang kedua adalah dokter Saleh. Ajaibnya, dokter Saleh  adalah  seorang  dokter  Mujahidin  yang  pada  saat  mimpi ini  terjadi  masih hidup  dan  baru  mati  syahid  dua  tahun  kemudian.  Abu  Sahal  sendiri  ditemukan mati  syahid  pagi  hari  setelah  mimpi  ini  berlangsung,  semoga  Allah  merahmati beliau.

Selanjutnya Penuturan Usama bin Ladin (bersambung)…

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Mei 14, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: