Pertempuran Kandang Singa, Afghanistan 1987 ( Bag.4 )

Ringkasan  Peristiwa  Sebelum  Meletusnya  Pertempuran Kandang Singa, Ramadhan 1407H (Mei 1987)

Syaikh Usamah rhm bersama mujahidin di Afghanistan semasa melawan kafirin Soviet

Pertempuran Kandang Singa, Laporan Pandangan Mata

Pendahuluan

Pertempuran  Kandang  Singa  berlangsung  pada  bulan  Ramadhan  1407H (Mei  1987). Menteri  Pertahanan  Uni  Soviet  mengajukan anggaran  militer terpisah  yang  akan  digunakan untuk  memutus jalur  suplai  antara Pakistan dan  Afghanistan.  Bersama  dengan  para  jenderal  senior  lainnya  mereka berikrar  untuk  memberikan  pukulan  menentukan  bagi  Mujahidin  di  saat Mujahidin berada dalam kondisi fisik yang kelelahan dan moral bertempur yang rendah. Jalur  suplai  yang  me mbentang  di  sepanjang  perbatasan  Pakistan-Afghanistan  merupakan  jalur  penting  dalam  mengangkut  suplai  logistik dan  senjata  ke  Afghanistan  termasuk  juga  jalur  keluar  masuk  bagi Mujahidin  yang  ingin  bertempur.  Menteri  Pertahanan  Uni  Soviet meyakinkan  koleganya  bahwa  anggaran  ini  akan  dapat  memutus  jalur suplai  tersebut.  Di  antara  jalur  penting  yang  dimaksud  adalah  jalur  dari Parachinar di Pakistan, ke Jaji di propinsi Paktia, Afghanistan Timur. Jalur ini biasanya mengangkut  sekitar  60% suplai logistik  dan senjata ke  dalam Afghanistan dan Uni  Soviet  selama ini  telah  menderita kekalahan telak di seluruh  front  pertempuran  di  Afghanistan  sebagai  akibat  dari  bebasnya jalur  penting  tersebut.  Maka  dirasakan  sangat  penting  untuk menghancurkan  jalur  ini  sehingga  dapat  memaksa  para  komandan Mujahidin untuk menyerah.

Allah  Yang  Maha Mulia dan  Maha  Agung  mentakdirkan Mujahidin  Arab memainkan  peran  kunci  dalam  pertempuran  yang  menentukan  ini. Mujahidin  Arab  mengambil  posisi  di  garis  depan  pertempuran  dan memancing  musuh  untuk  mulai  bertempur.  Pertempuran  berlangsung selama  21  hari  dan  selama  itu  artileri  Uni  Soviet  menghujani  posisi Mujahidin Arab dan markas besar mereka, Kandang Singa Al-Ansaar. 

Orang-orang  Uni  Soviet  bermarkas  di  dalam  sebuah  benteng  besar  yang disebut  Chowni,  berukuran  1.000  x  500  meter  dan  pertahanan  mereka dikelilingi  wilayah  pegunungan.  Wilayah  ini  terletak  300  meter  di  atas permukaan  laut  dan  merupakan  hutan  lebat.  Selama  musim  dingin  yang berlangsung setidaknya  enam bulan setiap  tahun, seluruh wilayah  tertutup salju dan tanpa fasilitas pemanas ruangan tidaklah mungkin untuk bertahan hidup di sana.

Posisi  tentara  Uni  Soviet  di  pegunungan  tersebut  berjarak  2-3  km  dari posisi Mujahidin Afghanistan dan di antara posisi kedua pihak yang saling berperang  itu tidak  ada  seorangpun Mujahidin  Arab  di  sana.  Maka  ketika Mujahidin  Arab  bertanya  mengapa  area  tersebut  dibiarkan  kosong, Mujahidin  Afghanistan  mengatakan  bahwa  pada  musim  dingin  salju menutupi  area  tersebut  hingga  akses  menuju  ke  sana  terputus.  Namun Allah  melimpahkan  rahmat-Nya  sehingga  Mujahidin  Arab  dapat membangun  rute  keluar  masuk  di  tengah-tengah  salju.  Hal  ini  tercapai setelah  mereka  mengerahkan  sejumlah  peralatan  berat  seperti  bulldozer dan  lainnya.  Mereka  juga  berhasil  membangun  basis  pertahanan  bawah tanah  bagi  Mujahidin  Afghanistan  di  dekat  garis  pertahanan  musuh. Jumlah Mujahidin Arab pada saat itu sangat sedikit dan karenanya mereka menganggap peran mereka pada saat itu hanya sebatas membuka jalan dan membangun  terowongan bawah tanah  di  lereng  pegunungan.  Orang-orang  Arab berharap dengan demikian Mujahidin  Afghanistan  akan  memberikan kesempatan  kepada  mereka  untuk  ikut  serta  bertempur  dari  waktu  ke waktu.

Akan tetapi, satu hal yang mengherankan bagi Mujahidin Arab, Mujahidin Afghanistan  tidak  ingin  untuk  menempati  posisi  yang  dekat  dengan  garis pertahanan  musuh.  Jarak  dari  Kandang  Singa  ke  markas  Mujahidin Afghanistan adalah  sejauh 13  km  dan dari  Kandang Singa  ke  terowongan bawah  tanah  berjarak  14  km.  Mujahidin  Arab  kemudian  memutuskan mereka  sendirilah  yang  akan mengambil  posisi  garis  depan,  dekat dengan musuh.  Maka Kandang  Singa merupakan  markas pertama bagi  Mujahidin Arab  di  dalam  wilayah  Afghanistan.  Kemudian  ketika  seluruh  peralatan berat  telah  dikembalikan  mereka  mulai  mencari  tenaga  tambahan  untuk membantu  menjaga  markas  mereka.  Pada  awalnya  hanya  ada  tiga  orang yang  membangun  dan  menjaga  Kandang  Singa  yaitu  Usama  Mulla Azmarai,  Shafiq  Ibrahim  Al-Madani  dan  Usama  bin  Ladin.  Baik  Usama Mulla  dan  Shafiq keduanya adalah pelajar sekolah menengah di kota  Nabi Madinah  Al-Munawwarah,  Usama  Mulla  berasal  dari  lembah  Ferghana Uzbekistan,  sementara  Shafiq  lahir  di Madinah namun  berasal  dari  Sindh Pakistan.  Orang ketiga  adalah  seorang yang  sudah kita  kenal dengan baik. Ketiga  Mujahid  ini  menempati  markas  mereka  di  dalam  Kandang, berhadapan  langsung  dengan  seluruh  kekuatan  militer  Uni  Soviet.  Satu hari  sekitar  waktu  Ashar,  ketika  mereka  sedang  bekerja  di  satu  kamp Mujahidin  lain  yang  mengarah  ke  Kandang,  mereka  bertemu  dua  orang Mujahid  lain  yaitu  Dzabih  yang  berasal  dari  Taif  dan  Abu  Dzahab  asal Mesir, sebagaimana telah diceritakan sebelumnya. Di mata ketiga Mujahid ini, datangnya  tambahan  tenaga  satu  orang  saja  sudah  seperti  kedatangan bantuan seribu orang. 

Kedua  orang  baru  tersebut  sebelumnya  bermaksud  untuk  bergabung dengan  Mujahidin  Afghanistan  yang  ada  di  wilayah  sekitar.  Kemudian mereka  duduk,  shalat  Ashar  dan  minum  teh  bersama  dengan  ketiga Mujahid  tersebut.  Setelah  selesai  shalat  dan  merasakan  kenyamanan  di berada  tengah-tengah  ketiga  Mujahid  ini  mereka  bertanya  mengenai kemungkinan  untuk  ikut  bergabung  dengan  ketiga  Mujahid  dan  bekerja bersama-sama.  Akhirnya,  group  pertama  yang  membangun  dan  menjaga Kandang Singa adalah group yang terdiri atas lima orang Mujahid.  Seorang  Mujahid,  Ali,  yang  menjadi  saksi  dan  ikut  serta  dalam Pertempuran Kandang Singa menceritakan;

“Saya pergi ke Afghanistan pertama kali bersama-sama dengan Shafiq Al-Madani  dan  kami  berkunjung  ke  Kantor  Pelayanan  Mujahidin  di Peshawar  dimana  kami  tinggal  di  sana  sekitar  dua  bulan  lamanya. Kemudian  saya  pulang  kembali ke  Saudi Arabia dan kembali  ke Pakistan tahun  berikutnya  dimana  saya  ikut  pelatihan  militer  selama  dua  bulan. Saat  itu  ada  sejumlah  training  camp  di  Afghanistan  dan  training  camp yang  saya  datangi  adalah  Kamp  Maru  di  Jalalabad.  Setelah  latihan selesai saya pulang kembali ke Saudi Arabia. Kunjungan saya  yang ketiga adalah  pada  tahun  1407H  (1987)  dimana  saat  itu  Kandang  sudah terbentuk.  Saat  saya  berkunjung ke  sana  di awal  tahun 1407H  hanya ada tujuh  atau  delapan orang saja  di  sana.  Ketika  itu  hanya ada  satu  kemah dan  satu  ruangan  bagi  Mujahidin  Afghanistan  yang  berbagi  wilayah bersama-sama dengan kami”. 

“Sebagian besar Mujahidin Arab tidak memiliki dasar latihan militer yang cukup  disebabkan  karena  dua  hal.  Pertama,  karena  terbatasnya  kamp pelatihan  militer  yang  terorganisir  dengan  baik  dan  kedua,  karena kedatangan  mereka  semata  hanya  untuk  ikut  bertempur  dan  karenanya mereka  hanya  menginginkan  pelatihan  dasar  saja  dan  berharap  dapat terjun  ke  dalam  peperangan  sesegera  mungkin  tanpa  harus  melalui pelatihan  militer  tingkat  selanjutnya.  Maka  untuk  mengatasi  masalah dasar ini dibentuklah pelatihan militer yang baru”.

“Pembangunan  konstruksi  Kandang  Singa  berjalan  terus  dan  Usama  bin Ladin  berhasil  menanamkan  rasa  senasib,  cinta  dan  kasih  sayang  di antara  sesama  Mujahidin.  Dia  melatih  mereka  untuk  bersabar  karena sedikitnya  pertempuran  yang  dapat  mereka  ikuti,  namun  saat  itu  sangat sulit  meyakinkan  Mujahidin  untuk  bersabar  menunggu  giliran  terjun  ke dalam  peperangan  sebagaimana  sulitnya  mendorong  mereka  untuk  tetap terus  bekerja  membangun  Kandang,  membangun  tempat  persembunyian bawah  tanah  dan mempersiapkan  bala  bantuan selama tujuh bulan  tanpa benar-benar  terjun  ke  medan  tempur.  Maka  tidak  heran  jika  sejumlah Mujahid  sering  merengek  kepada  Usama  bin  Ladin  untuk  merencanakan suatu pertempuran dengan musuh,  bahkan pertempuran dalam skala yang kecil  saja  seperti  tembak  menembak  dengan  musuh.  Akhirnya  harapan para Mujahid terkabul dimana satu operasi militer digelar bersama-sama dengan  Mujahidin  Afghanistan.  Ketika  itu  tentara  Uni  Soviet  sedang merayakan  ulang  tahun  partai  komunis  dan  Mujahidin  ikut  memeriahkan pesta  dengan menghujani musuh dengan peluru, mengganggu kemeriahan pesta yang mereka adakan”.

“Kandang  Singa  mendekati  tahap  akhir  dimana  Badar  Center  yang menjadi  Central  Command  Room       selesai  dibangun,  demikian  pula dengan sebuah ruangan yang berfungsi  sebagai pertahanan anti serangan udara  (Anti-Aircraft)  yang  diberi  nama  Zakoyak  Room,  serta  Taif  Room yang berfungsi sebagai dapur dan gudang makanan dan senjata”.

“Meskipun keadaan Kandang  belum sepenuhnya selesai, pada  tanggal  17 Sya’ban Mujahidin memutuskan untuk menggelar lagi satu operasi militer. Lagi,  tujuan  operasi  militer  ini  tidak  tercapai  karena  beberapa  sebab, salah  satunya  adalah  karena  kurangnya amunisi  sekalipun  para Mujahid telah  bekerja  keras  siang  malam  tanpa  henti  mengangkut  amunisi  ke lokasi  mereka  di  ketinggian  gunung  menggunakan  bagal.  Komandan operasi  ini  adalah  Yasin  Al-Kurdi  (semoga  Allah  merahmati  beliau)  dan beliau  juga  yang  ikut  bekerja  mengangkut  amunisi  agar  selesai  sesuai jadual yang telah ditetapkan sebelumnya”.

Maka,  pada  17  Sya’ban  1407H  (17  April  1987)  berlangsung  konfrontasi militer  antara  kedua  pihak,  yaitu  Mujahidin  Arab  dan  Afghanistan berhadapan  dengan  militer  Soviet,  satu  pertempuran  yang  berguna  bagi Mujahidin  Arab  karena  memberikan  pengalaman  tempur  yang  nyata  dan juga menambah ‘jam  terbang’  mereka. Selanjutnya  Mujahidin Arab  mulai mempersiapkan  diri  mereka  untuk  suatu  serangan  lain  pada  akhir  bulan Ramadhan.  Persiapan  ini  dikoordinasikan  dengan  rekan-rekan  mereka yaitu para pimpinan Mujahidin Afghanistan seperti Gulbuddin Hekmatyar, Abdul  Rasul  Sayyaf  dan  Burhanuddin  Rabbani  serta  para  komandan militer  lain  yang  ada  di  garis  depan.  Maksud  dari  serangan  ofensif  ini  adalah  untuk  menghancurkan  basis  pertahanan  Uni  Soviet  yang  saat  itu berkekuatan  1.000  orang.  Pada  saat  yang  bersamaan  Mujahidin  tidak menyadari bahwa musuhpun sedang bersiap-siap untuk  menyerang mereka dengan  tujuan  menghancur-leburkan  seluruh  kekuatan  Mujahidin  dan memutus jalur suplai yang utama dan terpenting di Afghanistan.

Bentrokan Pertama – Operasi 17 Sya’ban

Abu  Muhammad  As-Suri  menceritakan  bentrokan  pertama  yang  dipicu oleh manuver yang dilakukan Foreign  Mujahideen Kandang Singa  dimana Abu Muhammad ikut serta di dalamnya dan terluka. Beliau berkata;

“Pertempuran  pertama  yang  dilakukan  oleh  Foreign  Mujahideen  Arab sebagai  satu  kesatuan  militer  adalah  pertempuran di  wilayah  Khost yang berlangsung  pada  bulan  Ramadhan  1406H  (Mei  1986).  Mereka membentuk satu batalyon tempur yang diberi nama Batalyon Al-Khurasa dimana  mereka  terlibat  dalam  beberapa  pertempuran  sengit  yang mengkibatkan  sejumlah  besar  Mujahidin  Arab  terluka  dan  terbunuh syahid.  Pertempuran-pertempuran  ini  berlangsung  sebelum  Kandang Singa  dibangun.  Ketika  Usama  bin  Ladin  memulai usahanya membangun jalan  dan  terowongan  bawah  tanah  serta  gua  perlindungan  beliau mengirimkan  Shafiq,  Usama  Mulla  dan  Abu  Qutaibah  untuk  menjelajahi dan  menyelidiki  area  yang  akan  dibangun.  Ketiganya  kembali  dan menginformasikan  kepada  Abu  Abdullah  Usama  perihal  letak  suatu gunung  yang  berada lebih  tinggi  dari  posisi musuh sehingga  dapat bebas memandang ke arah benteng Chowni, sebuah benteng dimana tentara Uni Soviet  bermarkas.  Benteng  ini  terletak  di  pinggir  sebuah  lembah  yang berbatasan  dengan  Pakistan.  Abu  Abdullah  Usama  pergi  untuk  melihat sendiri  dan  memutuskan  di  sanalah  markas  bagi  Mujahidin  Arab  akan dibangun.  Musim  dingin mulai  tiba  dan  salju  menghalangi  pergerakan di gunung  tersebut.  Usama  bin  Ladin  sebelumnya  telah  mendatangi  dan meminta  pemimpin  Mujahidin  Afghanistan  yang  terkenal  di  wilayah  itu, Abdul  Sami,  untuk  bergabung  dan  mengkoordinasikan  kegiatan pembangunan  mereka. Markas Mujahidin  pimpinan Abdul Sami berada di pertengahan  jalan  menuju  benteng  Chowni.  Usama  bin  Ladin  meminta Abdul  Sami  untuk  tidak  mundur  selama  musim  dingin  berlangsung  dan tetap  berada  di  markasnya,  dimana  sebagai  ganjarannya  beliau  berjanji akan  bertanggung  jawab  untuk  membangun  lokasi  persembunyian  yang dapat  digunakan  Abdul  Sami  dan  Mujahidin  Afghanistan  berlindung  dari salju.  Sayangnya  Abdul  Sami  menolak  permintaan  Usama  bin  Ladin karena  ketebalan  salju  yang  mengurung  wilayah  tersebut  tidak memungkinkan  pasukannya  untuk  bergerak,  apalagi  untuk  mengangkut dan  memindahkan  perlengkapan  logistik.  Usama  bin  Ladin  terus membujuk  Abdul  Sami  dan  menawarkan  diri  untuk  menyediakan  seluruh kebutuhan logistik termasuk air bersih asalkan Abdul Sami dan Mujahidin  pimpinannya tidak mundur.  Mendengar  janji  Usama  bin  Ladin  ini  Abdul Sami akhirnya setuju  kepada  rencana Usama  bin Ladin dan pada tanggal 24  Oktober  1986  Abu  Abdullah  Usama  bin  Ladin  membangun  lokasi pertama  Kandang  Singa  Foreign  Mujahideen.  Pada  tanggal  itu  pula mereka membeli  senjata pertama  mereka  di  pasar senjata  Pakistan,  yaitu sebuah  senjata  mesin  SG-43  Gorjunov        yang  kemudian  diserahkan kepada Usama Mulla (Azmarai) sebagai penanggung jawab”.

Abu Muhammad melanjutkan uraiannya, 

“Saya datang ke Kandang bersama-sama  dengan Sheikh Abdullah Azzam (semoga  Allah  merahmati Beliau)  satu  bulan  setelah  Kandang  dibangun, dan saat itu  ada  14  orang  Mujahid  Arab di  sana.  Sebelumnya  saya  telah mengunjungi  wilayah  Sada  dekat  perbatasan  Pakistan-Afghanistan  untuk mengikuti  pelatihan  militer  tetapi  kemudian  diputuskan  agar  kami langsung  pergi  ke  Kandang  agar  dapat  mengikuti  latihan  militer  di wilayah yang paling memiliki kesamaan situasi dan kondisi dengan medan pertempuran  yang  sebenarnya.  Ketika  tiba  di  Kandang  kami  mendapati sejumlah  tamu  yang  berkunjung  yang  rupa-rupanya  sedang  berusaha membujuk  penghuni  Kandang  untuk  membatalkan  niat  mereka  dan menghentikan usaha  membangun  Kandang. Para tamu  ini  menakut-nakuti Usama  bin  Ladin  dan  rekan-rekannya  dengan  mengatakan  musuh  akan datang  dan  menangkap  mereka  hidup-hidup,  tetapi  perkataan  mereka tidak  mampu mengubah  rencana Mujahidin Arab  dan  Allah memperteguh hati  dan  keyakinan  mereka. Group  saya kemudian  kembali  ke Sada  tanpa mengikuti latihan  apapun,  baru kemudian di Sada  kami  mengikuti  latihan militer  sebentar  untuk kemudian  kembali  lagi  ke Kandang. Cuaca  musim dingin  sudah  tiba  dan  salju  mulai  turun,  memaksa  Mujahidin  untuk mengumpulkan  seluruh  kebutuhan  logistik  dan  segera  menyelesaikan konstruksi Kandang sebisanya sebelum seluruh  area tertutup salju. Dalam waktu  hanya  lima  bulan,  konstruksi  tujuh  hingga  delapan  ruangan  telah selesai  dibangun  dan  digunakan  untuk  menampung  sekitar  70  orang Mujahidin  Arab  yang  saat  itu  tengah  bersiap-siap  untuk  mengorbankan diri mereka dan meraih syahid”.

“Selama  masa  pembangunan  berlangsung  Mujahidin  Arab  merengek kepada  Usama  bin  Ladin  agar  membuat  rencana  untuk  menggelar  satu operasi  militer  yang  dapat  mereka  lakoni.  Namun  Usama  bin  Ladin menolak  dan  sebaliknya  seraya  menenangkan  hati  dan  keinginan  mereka yang  menggebu,  Usama  berusaha  meyakinkan  mereka  akan  pentingnya untuk  lebih  dahulu  memprioritaskan  pembangunan  markas  dan menyiapkan  seluruh  perlengkapan  logistik  yang  diperlukan  dalam bertempur.  Sekalipun  masa-masa  tersebut  terlihat  tenang  dan  damai namun  di  balik  itu  ikatan  batin  di  antara  sesama  saudara  seperjuangan perlahan  tetapi  pasti  tertanam  kuat  di  dalam  sanubari  Mujahidin  Arab. Ketika  musim  dingin  berakhir  dan  salju  mulai  mencair,  Mujahidin  Arab mulai  mempersiapkan  rencana  mereka  untuk  menggelar  operasi  militer terhadap  posisi  musuh.  Tujuan  utama  serangan  ofensif  ini  adalah  untuk mendapatkan  pengalaman  bertempur yang  sesungguhnya. Operasi militer yang  pertama  ini  direncanakan,  diorganisir  dan  dilaksanakan  oleh  para “Singa”  Foreign  Mujahideen.  Operasi  ini  berlangsung  pada  hari  Jum’at 17  Sya’ban  1407H  (17  April  1987)  dimana  120  Mujahid  ikut  serta  di dalamnya  termasuk  saya  sendiri.  Kami  membagi  diri  menjadi  dua  group tempur  utama,  group  pertama  adalah  group  penyerang  yang  berada  di barisan  depan  dipimpin  oleh  Abu  Khalid  Al-Misri.  Tujuan  group  ini adalah menyerbu dan menusuk  masuk ke  dalam  basis  pertahanan musuh. Group ini didukung dari  second line oleh group kedua yang dipimpin Abu Burhan As-Suri yang tugasnya menghujani posisi musuh dengan tembakan artileri.  Rencana  operasi  dimatangkan  dalam  beberapa  hari  dan  hari Jum’at pukul 6 sore operasipun dimulai”.

“Sheikh  Sayyaf  datang  ke  Kandang  untuk  menyaksikan  sendiri  jalannya operasi  militer  karena  ini  merupakan  pengalaman  yang  baru  bagi Mujahidin  Arab.  Sheikh  Abdullah  Azzam  juga  ada  di  sana  bersama dengan sahabat beliau Sheikh Tamim Al-Adnani (semoga Allah merahmati mereka  berdua)  dan  tentu  saja  Abu  Abdullah  Usama  bin  Ladin  yang menjadi panglima operasi. Saat-saat mengharukan terjadi  sesaat  sebelum kedua  group  berangkat  dimana  para  Mujahid  saling  berpelukan mengucapkan  selamat  jalan  kepada  rekan  mereka  dimana  tidak seorangpun  tahu  apakah  dirinya  akan  dapat  berjumpa  kembali  dengan rekannya  di  Kandang  sementara  jiwa  mereka  telah  lama  rindu  akan syahid”. 

Abu Muhammad As-Suri melanjutkan,

“Saya  berada  dalam  group  penyerang.  Rencana  kami  adalah  menusuk masuk  ke  dalam  pos  (parit)  perlindungan  musuh  yang  kami  beri  nama “Ibu dari semua parit” yang menjadi target serangan kami. Ketika berada dalam jarak sekitar  30-40 meter dari target  kami terkejut karena ternyata musuh sudah mewaspadai serangan kami”.

“Seluruhnya  ada  16  target  yang  rencananya  juga  akan  diserang  oleh Mujahidin  Afghanistan,  seluruh  target  terletak  di  satu  area  kecuali  dua target  yang  masuk dalam rencana  serangan kami.  Namun penjaga musuh telah  waspada  sebelumnya,  kami  melihat  dia  dan  kamipun  menyadari bahwa  dia  telah  mengetahui  kedatangan  kami,  atau  setidaknya  telah melihat bayangan diri kami. Maka iapun segera menembakkan senjatanya ke  arah  kami  dan  saat  kami  terus  maju  mendekat,  hujan  peluru  segera menerpa  kami.  Kami  balas  menembak  dan  segera  setelah  pecah  tembak menembak  di  antara  kedua  pihak,  tidak  ada  yang  dapat  kami  lakukan kecuali  terus  berlindung  hingga  kegelapan  malam  menyelimuti  daerah tersebut,  bahkan untuk mengangkat kepala saja tidak dapat  kami lakukan. Kedua kaki  saya langsung terkena tembakan yang dilepaskan oleh senjata mesin  SG-43  Gorjunov  dari  satu  bukit  terbuka  di  sebelah  kiri  kami.  Kali ini  kami  terkejut  untuk  kedua  kalinya  karena  tidak  menduga  mereka memiliki  Gorjunov.  Segera  perintah  untuk  mundur  ke  pos  (gua)  terdekat yang  memiliki  bala  bantuan  disuarakan,  gua yang  dimaksud  adalah satu gua  yang  kami  sebut  “Gua  Terdepan”.  Abu  Abdullah  Usama  bin  Ladin ada  di  sana  dan  beliaulah  yang  mengeluarkan  perintah  untuk  mundur disebabkan  rasa  khawatir  Mujahidin  akan  terluka  oleh  serangan  artileri musuh  jika  musuh  menyadari  rencana  kami.  Namun  tidak  seorangpun yang  dapat  segera  mematuhi  perintah  tersebut  hingga  gelap  malam  tiba dan  Mujahidin  dapat  mundur  tanpa  diketahui  musuh.  Saat  gelap  itulah saya  dapat  ditolong  rekan-rekan  Mujahid  kembali  ke  Kandang. Seluruhnya  ada  lima  group  pendukung  yang  merupakan  pecahan  dari group  utama,  empat  group  berhasil  kembali  dengan  selamat  dan  group terakhir hilang hingga tengah malam”. 

Ahmad  Az-Zahrani  asal  Taif  adalah  Mujahid  pertama  anggota  Kandang Singa  yang  gugur  syahid  dalam  operasi  ini.  Saat  itu  beliau  sedang memuntahkan  peluru  senjata  mesin  beratnya  ketika  satu  peluru  mortir mengenainya.  Beliau  adalah  seorang  yang  a mat  baik  dan  taat,  semoga Allah  merahmati  beliau.  Selain  diri  saya  sendiri,  Idris  As-Saudi  juga terluka.  Secara keseluruhan,  Operasi  Sya’ban  menandai  peristiwa  penting dalam  sejarah  Kandang  Singa  dimana  Foreign  Mujahideen  memperoleh banyak pelajaran  berharga  yang  berguna dalam  pertempuran-pertempuran mereka  selanjutnya.  Setelah  operasi  ini,  Foreign  Mujahideen  penghuni Kandang  Singa  kembali  menggelar  operasi-operasi  militer  berikutnya dalam  usaha  untuk  menambah  pengalaman  dalam  pertempuran  langsung berhadap-hadapan dengan  musuh  (direct  combat). Pada salah  satu  operasi yang  berlangsung  kemudian  Mujahid  Abu  Dzahab  gugur  syahid  ketika sedang  dalam  misi  pengintaian  bersama  dua  orang  rekannya.  Satu  peluru mortir  mengenai  ketiganya  dan  Abu  Dzahab  syahid  seketika  sementara Usama  Mulla  Azmarai mengalami cedera. Sebulan penuh  sejak  bentrokan pertama  berlangsung,  operasi  militer  dan  baku  tembak  terus  terjadi  di antara  Mujahidin  di  bawah  pimpinan  Abu  Ubaidah  Al-Panjsheri  (semoga Allah merahmati beliau) dan tentara Uni Soviet.

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Mei 14, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. saya ingin berjuang d jalan allah SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: