Pertempuran Kandang Singa, Afghanistan 1987 ( Bag.3 )

Membangun Kandang Singa

Begitu  mendengar  invasi  Uni  Soviet  ke  Afghanistan,  Usamah  bin  Ladin segera  datang ke Pakistan pada Januari 1980,  hanya 17  hari  setelah  invasi berlangsung.  Usama  sebelumnya  tidak  memiliki  gambaran  apapun mengenai  Afghanistan  kecuali  penduduk  negara  ini  adalah  mayoritas Muslim  dan  memiliki  hewan  kuda  yang  berkualitas  sangat  baik  (Usama sangat menyukai kuda). Abu Muhammad As-Suri      berkomentar mengenai kedatangan  Usama  untuk  pertama  kalinya, “Usama  bin  Ladin  tiba  di Lahore, Pakistan, dan malam harinya menemui pimpinan Jamiat-Islami di Pakistan.  Dia memberikan sejumlah  besar uang  kepada pimpinan  Jamiat yang  dimaksudkan  untuk  digunakan  bagi  kepentingan  Mujahidin. Pimpinan Jamiat berjanji akan menyampaikan uang ini kepada Mujahidin. Ketika  berkunjung  kembali  ke  Jamiat,  pimpinan  Jamiat  berkata  kepada Usamah  bahwa  uang  tersebut  telah  diserahkan  kepada  pemimpin  Jihad Afghan yaitu Burhanuddin Rabbani   dan Gulbuddin Hekmatyar, ketika itu hanya  mereka  berdua  saja  pemimpin  Afghanistan  yang  telah  bangkit berjihad”.  Ketika  Usama  bin  Ladin  tahu  pasti  dimana  dapat  menemui  Mujahidin  di Peshawar,  ia  segera  pergi  menemui  mereka.  Setelah  itu  setiap  kali berkunjung  ke  Pakistan  ia  selalu  mengambil  seorang  di  antara  mereka sebagai  teman  karena  hingga  saat  itu  orang-orang  Arab  selalu  datang  ke Peshawar  sendiri  saja.  Hingga  pada  tahun  1984  (1404H)  Abu  Abdullah Usama  bin  Ladin  memutuskan  bahwa  kehadiran  orang-orang  Arab  di Pakistan  sudah  waktunya untuk  diorganisir  dengan  serius.  Ia  menetapkan beberapa  tujuan  yang  harus  dicapai  oleh  orang-orang  Arab  untuk  dapat berperan  lebih  baik  dan  efektif  dalam  kerangka  Jihad.  Ia  memulainya dengan  membuka  sebuah  kantor  yang  berfungsi  sebagai  wadah  untuk menampung  datangnya  orang-orang  Arab  dari  luar  Pakistan  untuk kemudian  dipersiapkan  sebelum  dikirim ke Afghanistan. Abu  Muhammad As-Suri  berkomentar  mengenai  proyek  percobaan  yang  disebut Kantor Pelayanan  Mujahidin   (Mujahideen  Services  Office/Maktab  Khidamat  lil-Mujahidin),  “Kantor Pelayanan ini memiliki aspek positif dan juga negatif dalam  kerangka  Jihad.  Manager  kantor  adalah  Sheikh  Abdullah  Azzam (semoga  Allah  merahmati  Beliau)  dan  orang  pertama  yang  diberi tanggung  jawab  untuk  mengelolanya  adalah  seorang  anak  muda  asal Yordania, Abu Akram. Ia tinggal dan mengelola Kantor Pelayanan selama beberapa  bulan  dan  kemudian  kembali  ke  Yordania,  antara  lain disebabkan  karena  adanya  keluhan terus menerus  akibat  tiadanya  sistem yang  terorganisir  dengan  baik  dalam  menjalankan  kantor  ini.  Jadi, tiadanya  kewenangan  dan  tiadanya  markas  besar  yang  representatif dalam  mengelola  kegiatan  bagi  orang-orang  Arab  yang  datang  untuk berjihad  adalah  keluhan  utama  bagi  siapa  saja  yang  kemudian  diberi tugas  untuk  mengelola  kantor  ini  seperti  Abu  Usama  Al-Falastini,  Abu Hajar  Al-Iraqi,  Abu  Daud  Al-Urduni,  Abu  Muhammad  As-Sudani,  dan Abu  Muhammad  As-Suri.  Namun  di  balik  banyaknya  aspek  negatif tersebut,  tidak  diragukan  lagi  aspek  positifnya  sangat  dirasakan  banyak pihak,  karena  kantor  inilah  yang  membangun  Mujahidin  Arab  sampai  ke tingkat  yang  berhasil  mereka  capai  kemudian,  yang  ditandai  dengan semakin  banyaknya  jumlah  mereka  dan  semakin  efektifnya  peran  mereka dalam berbagai pertempuran yang terjadi di kemudian hari”.

Berdirinya Kantor Pelayanan Mujahidin

Kantor  Pelayanan  Mujahidin  pada  awalnya  adalah  berupa  guest  house berukuran  besar  dan  luas.  Mujahidin  memperolehnya  dengan  jalan menyewa  sebuah  villa  dimana  Mujahid-Mujahid  asal  Arab  dapat  bebas datang  dan tinggal  selama  beberapa  waktu. Administrasi  kantor ini dibagi ke  dalam beberapa  departemen  yang  disebut Sub-Komite antara  lain  Sub-Komite Militer, Sub-Komite Administrasi, Sub-Komite Pelatihan/Training dan  Sub-Komite  Pengiriman  yang  bertugas  untuk  mengatur  dan menjadualkan  pengiriman  Mujahidin  Arab  ke  Afghanistan.  Usama  bin Ladin setiap bulan menyediakan dana sebesar setengah juta rupee Pakistan (kurang  lebih  US$25.000)  untuk  membiayai  seluruh  kebutuhan operasional  Kantor  Pelayanan.  Pada  tahun  1985-1986  ketika  biaya  sewa meningkat  Usama  memutuskan  untuk  memiliki  sendiri  bangunan  yang dapat berfungsi sebagai  tempat  penampungan Mujahidin Arab.  Selama ini ia  sekali-sekali  saja  datang  ke  Kantor  Pelayanan  dan  karenanya memutuskan  lebih  baik  untuk  melakukan  usaha  nyata  membangun infrastruktur  bagi  kepentingan  Mujahidin  daripada  hanya  sekedar memberikan  uang  belaka.  Maka  iapun  mulai  berusaha  membuka  jalan
menembus  pegunungan,  menggali  terowongan  dan  membangun  tempat
persembunyian  besar  (bunker)  di  bawah  tanah  yang  dapat  melindungi
Mujahidin  Afghanistan  dari  serangan  udara  Uni  Soviet.  Berbagai  proyek besar  ini  dikoordinasikannya  dengan  saudara-saudaranya  di  Saudi  Arabia yang  merupakan pemilik dari  perusahaan  kontraktor terkemuka  Bin Ladin Corporation.  Saudara-saudaranya  membantunya  dengan  jalan mengirimkan  berbagai  peralatan  besar seperti  bulldozer  caterpillar, generator listrik dan lain-lain. Abu Abdullah Usama bin Ladin membentuk tim kerjanya  dan  melatih mereka,  dan  akhirnya  pada  bulan  Agustus  1986 mereka  mulai  bekerja  mewujudkan  impian  tersebut  di  satu  tempat  yang mereka  beri  nama  panggilan  “Kandang”  yang  terletak  di  sekitar  wilayah Jaji  di  sebelah  timur  Afghanistan.  K andang  Singa  (Ma’sadah)  kemudian lebih  dikenal  dengan  nama  Kandang/Sarang  Singa  Foreign  Mujahideen (Ma’sadatul-Ansaar).

Cerita  Seputar  Kandang  Singa  Foreign  Mujahideen, Sebagaimana Disampaikan Sendiri oleh Komandannya, Usama bin Ladin

Usama  bin  Ladin  menceritakan  kepada  saya  dalam  berbagai  kesempatan wawancara panjang baik sewaktu di Afghanistan maupun di Jeddah : “Segala  puji  hanya  bagi  Allah,  Tuhan  seluruh  alam,  dan  shalawat  serta salam  senantiasa  terlimpahkan  kepada  Rasulullah  Muhammad  SAW beserta seluruh keluarga dan sahabat-sahabat Beliau. Apa yang akan saya sampaikan  dalam  perbincangan  kita  kali ini  adalah  semata-mata  tentang rahmat  yang  dilimpahkan  Allah,  Maha  Agung  Dia,  kepada  kita  dalam membangkitkan  dan  mendorong  kaum  muslimin  untuk  menapaki  jejak yang  mulia ini.  Pada tahun 1399H  (1979M) kita mendengar berita  bahwa Uni  Soviet  telah  menginvasi  Tanah  Islam  Afghanistan.  Segera  setelah mendengar  hal  ini  saya  berangkat  menuju  Pakistan  untuk  mencoba membantu  saudara-saudara  kita di  Afghanistan.  Saya  tinggal  di Pakistan hingga  Allah  melimpahkan  kesempatan  kepada  saya  untuk  dapat memasuki  Afghanistan. Keadaan  Mujahidin saat itu  sangatlah  lemah jika dibandingkan  dengan  musuh  mereka,  kelemahan  ini  terutama  tampak nyata  pada tiadanya  persiapan  dan pelatihan  militer  yang  layak sebagai bekal  untuk  memasuki  medan  tempur.  Saat  itu  saya  merasa  bahwa  kita telah  gagal  memenuhi  hak  Ummat  Muslim  Afghanistan  yang  seharusnya mereka dapatkan  dari  kita,  yaitu  hak  untuk  dibantu  dan  ditolong,  karena kita telah melalaikan kewajiban  kita yang seharusnya kita berikan kepada mereka,  atau  karena  kita  tidak  serius  dalam  membantu  dan  menolong mereka.  Saya  memutuskan bahwa jalan terbaik  untuk  menebus  kegagalan yang besar ini adalah bertempur hingga mati di Jalan Allah”. Sheikh  Usama  melanjutkan  keterangannya  seputar  kondisi  rakyat Afghanistan, “Keadaan  ini  terus  berlanjut  tanpa  ada  perubahan  berarti,  dan  atas rahmat  Allah  saja  Mujahidin akhirnya  dapat  masuk ke  Afghanistan. Saya merasa  Ummat  Muslim  di  dunia  telah  mengkhianati  saudara-saudara mereka  di Afghanistan  karena  tidak  membantu  mereka, sementara  orang- orang  Rusia  yang  komunis  membantu  rekan-rekan  mereka  orang-orang Afghanistan yang komunis dalam berperang”. 

Saya  bertanya  kepada  Sheikh  Usama  seputar  pendirian  Kandang  Singa, beliau menjawab, “Saya  melihat  betapa  orang-orang  Afghanistan  sangat  memperhatikan orang-orang Arab yang datang kepada mereka dan betapa senangnya hati mereka.  Hadirnya  orang-orang  Arab  di  sekitar  mereka  memberikan kekuatan dan keyakinan lebih  di  dalam  diri  Muslim Afghanistan sehingga moral  bertempur mereka meningkat tajam. Demikian sayang dan cintanya mereka  kepada  orang-orang  Arab  sehingga  mereka  memperlakukan orang-orang  Arab  ini  sebagai  tamu  mereka,  melayani  mereka  bahkan tidak  mengijinkan  orang-orang  Arab  ini  untuk  ikut  berpatroli  dan bertempur  bersama  mereka.  Namun  orang-orang  Arab  ini  ingin  menjadi Mujahidin  dan  bekerja  sebagai  Mujahid,  orang-orang  Arab  ini  tidak berniat  datang  untuk  diperlakukan  sebagai  tamu  belaka.  Karena itu  saya mendapat  ide  untuk  membangun  satu  tempat  dimana  orang-orang  Arab dapat memperoleh pelatihan yang cukup untuk ikut bertempur”. 

“Pada  tahun  1404H  (1984M)  saya  meminta  ijin  kepada  Persatuan Mujahidin  Afghanistan  untuk  membangun  kamp  militer  di  satu  tempat dekat  perbatasan  Pakistan-Afghanistan  agar  dapat  melatih  saudara- saudara  yang  datang  dari  Arab. Setelah ijin diperoleh,  sekitar 100  orang ikut bergabung  dalam  kamp  militer  tersebut,  satu  jumlah  yang  tentu  saja masih  sedikit.  Penyebab  sedikitnya  jumlah  ini  adalah  karena  anak-anak muda  Arab  ini dibesarkan  di suatu  lingkungan di  negara  mereka  dimana ajaran kebanggaan akan Jihad tidak mereka dapatkan, hidup mereka amat jauh  dari  realitas  kehidupan  yang  sesungguhnya  dan  ajaran  untuk mempertahankan agama Allah tidak mereka peroleh. Jadi mereka terbiasa menganggap bahwa Jihad semata-mata hanyalah berupa anjuran saja dan tindakan sukarela belaka. Karenanya tidak heran jika mereka datang pada liburan musim  panas  dan  ketika  liburan berakhir  dan  tahun  ajaran  baru dimulai  kembali,  hampir  semuanya  pulang  ke  negara  masing-masing untuk  melanjutkan  sekolah  atau  kuliah  mereka,  walaupun  pada kenyataannya mereka yang datang sebagian adalah anak-anak muda yang hebat.  Hanya  segelintir  saja  yang  tetap  tinggal  terus  menerus,  tidak sampai sepuluh  orang. Namun  demikian Allah  melimpahkan pertolongan-Nya kepada  kami  hingga akhirnya kami berhasil  menemukan lokasi yang cocok untuk kamp militer kami di Jaji, di dalam wilayah Afghanistan”.    

Memulai Pekerjaan di Afghanistan

“Kami membangun satu kamp pelatihan militer di Jaji dimana kami mulai melatih diri  kami sendiri dengan apa  saja yang dapat kami temukan  pada saat  itu.  Jumlah  kami  sekitar  50  orang  dan  ketika  musim  dingin  tiba, sekali  lagi  hampir  seluruh  Mujahid  pulang  kembali  ke  negara  mereka masing-masing.  Sepertinya  tidak  ada  kesadaran  penuh  di  antara  diri saudara-saudara  Mujahidin  ini  akan  pentingnya  menegakkan  agama  ini, juga  tidak  terlihat  kesadaran  akan  pentingnya  memerangi  orang-orang kafir yang memerangi agama hingga kejayaan agama tercapai dan agama ini hanya untuk Allah saja. Pada akhir tahun 1406H (1986M) hingga awal 1407H (1987M) kami  memutuskan untuk tetap  tinggal di Jaji, tidak peduli berapa  jumlah  kami  yang  tersisa  saat  itu.  Hanya  ada sebelas orang yang tetap  tinggal,  hampir  seluruhnya  berasal  dari  Madinah  Al-Munawwarah. Saya  ingat  beberapa  orang di antara  mereka yaitu  Shafiq bin  Ibrahim Al- Madani  (semoga  Allah  merahmati  beliau),  Talib  Abdul-Aziz  An-Najjar, Abu  Qutaibah  As-Suri  Al-Hamawi  Al-Madani,  Usama  bin  Mulla  Haidar Al-Madani  (Azmarai)    yang  berasal  dari  Lembah  Ferghana  di Uzbekistan, Muadz As-Sa’di seorang Palestina yang  menetap di Madinah, Abu  Raja’  Hassan  Al-Ansari  juga  dari  Madinah,  Abdu  Ahmad  Hamud Usman,  dan  Ahmad  Hussain Bakhsi  juga dari  Madinah. Kesebelas  orang ini  kemudian  mulai  membangun  jalan  dan  terowongan  menembus pegunungan  dan  juga  gua  persembunyian  untuk  tempat  berlindung Mujahidin Afghan. Kami menugaskan Shafiq  dan Usama  Mulla (Azmarai) untuk  mengawasi  daerah  ini.  Adalah  penting  untuk  dikemukakan  bahwa seluruh  Mujahidin  ini  usianya  baru  sekitar  20  tahun  saja,  semoga  Allah memuliakan  dan  meninggikan  derajat  mereka.  Mereka  meninggalkan bangku  sekolah  dan  kuliah  dan  datang  ke  tempat  ini  untuk  menegakkan Jihad di Jalan Allah”.

“Pekerjaan  terus  berlanjut.  Shafiq  dan  Usama  Mulla  memberitahu  kami adanya  satu  gunung  dimana  kami  dapat  memandang  dengan  bebas  ke bawah ke daerah yang dikuasai musuh, dan gunung ini tidak dikuasai oleh pihak  manapun  yang  terlibat  dalam  peperangan.  Saya  mendaki  gunung tersebut  dan  menyadari  lokasinya  yang  amat  penting  dan  strategis.  Jadi saya  menanyakan  alasan mengapa Mujahidin Afghanistan  hingga  saat itu tidak berupaya untuk menduduki gunung itu yang jelas-jelas secara militer amat  penting.  Saya  mendapat  jawaban  bahwa  di  musim  dingin  hujan  es dan  salju  mengurung  wilayah  tersebut  dan  pengiriman  suplai  bantuan tidak  mungkin  dilakukan.  Sebelumnya  kami  telah  bermaksud  untuk membangun  kamp  bagi  Mujahidin  Arab  dan  lokasi  ini  membuat  kami memutuskan  untuk  membangunnya  bagi  kamp  kami.  Saat  kami  mulai menjalankan  maksud  kami  ini  hanya  tiga  orang  yang  tersisa,  Shafiq, Usama Mulla dan saya sendiri, yang lainnya memiliki pekerjaan lain atau pergi  berlibur.  Karena lokasi ini sangat terpencil, terisolasi dan jauh dari posisi Mujahidin  lainnya, tetapi  sangat  dekat dengan posisi  musuh,  maka kami  amat sangat membutuhkan bantuan tenaga  ekstra  untuk melanjutkan pekerjaan  ini,  selain  juga  untuk  berpatroli  dan  berjaga-jaga.  Seorang Mujahid  yang  datang  berkunjung  mencoba  untuk  mempengaruhi kami agar  melupakan  pekerjaan  ini,  tetapi  ia  gagal  meyakinkan  Shafiq  dan Usama  Mulla.  Allah  kemudian  menganugerahi  kami  dua  orang  Mujahid yang  saat  itu  sedang  menuju  arena  pertempuran  lain  tetapi  memutuskan untuk menengok kami.  Seorang  di antaranya  dipanggil dengan nama Abu Dzahab,  seorang  Mesir  tetapi  berasal  dari  Sudan.  Sebelum  pergi  ia mendatangi saya dan berkata, ‘Kami ingin tinggal di sini bersama kalian’. Saya amat sangat senang dan tentu saja menyetujui niatnya tersebut”. “Pada  saat  itu  kami  terus  bekerja  keras  membangun  konstruksi  kamp kami.  Wilayah  tersebut  merupakan  area  terbuka,  bahkan  musuh  dapat memandang  kami  dengan  bebas,  sehingga  tidak  heran  jika  mereka seringkali  menembaki  kami  yang  sedang  bekerja.  Karena  itu  kami memutuskan  untuk  memindahkan lokasi kamp  ke wilayah  lain  yang  dekat namun  tidak terlalu terbuka posisinya. Lokasi baru  inilah  yang  kemudian dikenal  sebagai  Kandang  Singa  Foreign  Mujahideen.  Masa-masa  ini, dimana  posisi  kami  begitu  dekat  dengan  musuh,  merupakan  satu  masa yang  terindah  dalam  perjalanan  Jihad  kami,  semoga  Allah  menerima segala  perbuatan  kami.  Kami  tinggal  di  dalam  satu  gua  perlindungan, membangun  jalan  dan  menggali  gua  dan  terowongan.  Kami  hidup bersama,  shalat  bersama,  dan  makan  bersama.  Secara  bergantian  kami melakukan patroli untuk berjaga-jaga, namun bagaimanapun kami merasa amat  sangat  kesepian  karena  tempat  ini  begitu  menakutkan  bagi  kedua pihak,  bagi  pihak  musuh  karena kami  lebih  tinggi posisinya  dari  mereka sehingga  kami  dapat  memandang  mereka  dengan  bebas,  dan  bagi  pihak kami  posisi  ini  demikian  terisolasi  dan  jumlah kami sangat  sedikit.  Tidak seorangpun  dari  kami  yang  berani  untuk  berkeliaran  terlalu  jauh  dari tenda karena di sekitar kami banyak terdapat hutan lebat dan kami sangat dekat dengan musuh”.

“Kami hidup seperti ini untuk waktu yang cukup lama dan lama kelamaan bergantian  berjaga-jaga  tanpa  henti  akhirnya  membuat kami  letih.  Maka kami  meminta  seorang  Mujahid  untuk  bergabung.  Adalah  Saleh  Al- Ghamidi  yang  pertama  datang  dan  kemudian  diikuti  oleh  seorang  lagi hingga  jumlah  kami  menjadi  tujuh  orang.  Sekalipun  jumlah  kami  masih amat  sedikit,  kami  tetap  riang  gembira  dan  optimis  jumlah  kami  satu waktu  akan  bertambah.  Dan  hanya  dalam  waktu  dua  bulan  jumlah  kami telah  meningkat  menjadi  40  orang.  Kemudian  datang  bergabung  dengan kami Abu Hanifah, Hussain Ajib dan Muhammad As-Sakhri, seorang yang sangat  berketetapan  hati, tegas  dan tidak pernah ragu. Pertama  kali  saya bertemu dengan Muhammad As-Sakhri  adalah  setelah shalat fajar (shalat subuh)  di  Masjid  Nabawi  di  Madinah.  Saya  sedang  bersiap-siap  akan berangkat  ke  Afghanistan  ketika  Abu  Hanifah  memberitahu  saya  bahwa ada  seorang  pemuda  yang  juga  ingin  pergi  setelah  menyelesaikan kuliahnya  pada  musim  panas  mendatang.  Maka  saya  menemuinya  dan kami  berbincang  beberapa menit  dimana  setelah  perbincangan selesai  ia langsung  mengubah  niatnya  dan  memutuskan  untuk  berangkat  bersama- sama  kami  keesokan  harinya.  Ia  menyadari  bahwa  Jihad  adalah kewajiban  yang  harus  ditunaikannya,  maka  ia  berangkat  meninggalkan kuliahnya,  melupakan  gelar yang sedang diraihnya, meninggalkan rumah dan kehidupan dunia, dan memutuskan untuk tinggal bersama kami di gua di  Afghanistan  selama  empat  tahun  kemudian,  dimana  akhirnya  Allah menganugerahinya  syahid  sewaktu di  Jalalabad,  semoga Allah  menerima syahidnya beliau”.

Saya bertanya kepada Usama bin Ladin,  “Bagaimana anda memberi nama tempat ini Kandang Singa Al-Ansaar?”  Beliau menjawab, “Kami  berdiskusi  satu  sama  lain  apa  sebaiknya  nama  tempat  ini  dan masing-masing  mengemukakan  usulannya.  Akhirnya  kami  sepakat menyebut  tempat  ini  Kandang  Singa, yang  kami  dapatkan  dari  bait  puisi yang  digubah  oleh  seorang  Sahabat  Rasul  (RA)  dimana  di  dalamnya Sahabat RA ini memuji Rasulullah SAW”, 

Whoever likes the type that confuse one other

Like the confusion of burning pride

Then let him come to a Den, which sharpens its swords

With the provisions, and beams of the trench

“Abu  Hanifah  pulang  kembali  ke  Madinah  untuk  mendorong  dan menganjurkan  pemuda-pemuda  muslim  lainnya  untuk  ikut  berjihad.  Ia meninggalkan  kami  selama  23  hari  dan  kembali  kepada  kami  dengan membawa  23  orang  baru.  Jumlah  kami  terus  bertambah  dan  kami  dapat merasakan  manfaat  dan  pentingnya  kami  berjamaah  dan  berkelompok seperti  ini.  Di  kemudian  hari  lama  setelah  pertempuran  berlalu  saya banyak  mendapat  pertanyaan  dari  rekan-rekan  saya,  “Hal  apa  yang menjadikan  kelompok  anda  hebat?”.  Sebenarnya  ada  banyak  alasan. Rekan-rekan  kami  telah  bersedia  datang  dari  negeri  mereka  masing- masing  dengan  kondisi  minim  pengalaman  dan  pengetahuan  militer,  dan kemudian semasa di sini mereka dibanjiri oleh berbagai pengalaman yang mereka  peroleh  antara  lain  Jihad,  kemampuan  memahami  bahasa  asing, iklim yang tidak bersahabat dan topografi yang keras”.


About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Mei 14, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: