Pertempuran Kandang Singa, Afghanistan 1987 ( Bag.2 )

Kesan Seorang Wartawan Arab

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,

“Di  antara  orang-orang  mukmin  itu  ada  orang-orang  yang  menepati apa  yang  telah  mereka  janjikan  kepada  Allah  (yaitu  pergi  Jihad  dan tidak  mundur  ketika  berhadapan  dengan  orang  kafir),  maka  di  antara mereka  ada  yang  menepati  kewajibannya  kepada  Allah  (dan  gugur syahid).  Dan  di  antara  mereka  ada  pula  yang  menunggu-nunggu  (apa yang  telah  Allah  janjikan  kepada  mereka)  dan  mereka sedikitpun  tidak merubah  janjinya (yaitu tidak pernah berkhianat terhadap  janji mereka kepada Allah untuk tetap teguh dalam Jihad)”  [QS Al-Ahzab:23]

“Janganlah  kamu  mengira  bahwa  orang-orang  yang  gugur  di  Jalan Allah  itu  mati;  Tidak,  bahkan  mereka  hidup  di  sisi  Tuhannya  dengan mendapat rezeki”  [QS Ali’Imran:169] 

“Maka  (yang  sebenarnya)  bukan  kamu  (Muhammad  SAW)  yang membunuh mereka, akan tetapi  Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan  kamu  yang  melempar  ketika  kamu  melempar,  tetapi  Allah-lah yang melempar.  (Allah  berbuat  demikian untuk membinasakan mereka) dan  untuk  memberi  kemenangan  kepada  orang-orang  mukmin  dengan kemenangan  yang  baik.  Sesungguhnya  Allah  Maha  Pendengar  lagi Maha Mengetahui”  [QS Al-Anfaal:17]
Dari  Abu  Hurairah  (RA)  bersabda  Rasulullah  SAW,  “Demi  Dia  yang jiwaku  berada dalam genggaman-Nya!  Siapa yang terluka di Jalan Allah, dan  Allah  mengetahui  siapa  yang  terluka  di  Jalan-Nya,  dia  akan dibangkitkan  pada  Hari  Kiamat  dengan  luka  yang  mengucurkan  darah berwarna merah dan menyebarkan bau wangi semerbak.” ( Diriwayatkan oleh Bukhari, Volume 4 Buku 52 No.5 9 ).

“Orang  yang  mati  Syahid  diberi  enam  keistimewaan  oleh  Allah:  Tetes pertama darah Syahid-nya akan menjadi pengampunan atas seluruh dosa- dosanya,  Ia akan  ditunjukkan  tempatnya  di Surga sesaat  sebelum  rohnya berpisah dengan jasadnya,  Ia  akan  dibebaskan dari pertanyaan  kubur,  Ia akan  dilindungi  dari  teror  dahsyat  di  Hari  Kiamat,  Di  atas  kepalanya akan  dikenakan  mahkota  kehormatan  dengan  hiasan  intan  permata dimana  tiap-tiap  intan  permata  memiliki  keindahan  melebihi  dunia  dan seluruh isinya, Ia akan dinikahkan dengan tujuh puluh dua orang bidadari Surga  dan  permintaan  syafa’at  untuk  tujuh  puluh  orang  anggotakeluarganya akan dikabulkan Allah”.( Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Hibban dan At-Tarmidzi. Shahih. Shahih Al-Jami’ No.5058 )

Dipersembahkan kepada Mujahidin di manapun mereka berada…

Untuk mereka yang telah membantu saya menyelesaikan tugas menyebarkan pesan Jihad… Untuk melayani Jihad Afghan… dan Untuk jiwa Para Syuhada Arab dan Afghan… 

Di  hadapan  berbagai  peristiwa  penting  yang  dialami  dalam  kehidupan Ummat  Islam  dunia  pada  umumnya  dan  Muslim  Arab  pada  khususnya, dimana  seorang  muslim  dikhianati  dan  ditikam  oleh  saudara  muslimnya sendiri, adalah  merupakan impian Ummat  untuk  dapat bersatu  dalam  satu keluarga  besar,  saling  berbagi  dan  tolong  menolong.  Di  tengah-tengah keadaan ini satu-satunya  yang  dapat kita  lakukan  adalah mencari secercah cahaya  yang  membimbing  kita  untuk  keluar  dari  masa  kegelapan  dan kehancuran  ini.  Untuk  alasan  inilah  saya  menghimpun  catatan-catatan yang  sekarang  anda  baca  ini,  yang  berbicara  tentang  pengalaman sekelompok  anak-anak  muda  Arab  yang  berjuang  dan bertempur  bersama di  Afghanistan  menghadapi  kekuatan  lalim,  kufur  dan  tidak  dapat dipercaya  itu.  Saya  tidak  hanya  berbicara  mengenai  masa  lalu  saja,  juga tidak  semata-mata  karena  berhubungan  dengan  negara  yang  bernama Afghanistan. Namun  lebih  dari  itu,  saya  menemukan  secercah  harapan  di dalam  masa-masa  kehidupan  kita  saat  ini.  Saya  mencoba  menyingkap selubung  kekuatan  yang  ada  di  dalam  diri  kita  Ummat  Muslim,  dan menyingkap  senjata  yang  telah  lama  kita  miliki,  sehingga  kita  dapat menghadapi  segala  bentuk  penindasan  dan  kekuatan  aggresor  dengan seluruh  kemampuan,  ketetapan  hati  dan  kesiap-siagaan,  tentunya  dengan keyakinan  penuh  akan  datangnya  pertolongan  Allah,  Maha  Agung  Dia, kepada kita. 

Botol Infus yang Berbahaya dan Serangan Udara

Peristiwa  ini  berlangsung di  satu tempat  yang  disebut  Ma’sadatul-Ansaar  (Kandang  Singa  Foreign  Mujahideen)  yang  berlokasi  di  Gunung  Thamar Khail,  10  kilometer  dari  Jalalabad.  Pertempuran  tengah  berkecamuk  di sekeliling  kami,  dan  Usama  bin  Ladin  telah  membangun  satu  parit  atau gua  perlindungan  di  antara  dua  gunung.  Gua  perlindungan  ini  berfungsi sebagai  tempat  berlindung  dari  serangan  rudal  dan  roket  yang  saling ditembakkan  secara  serampangan  oleh  kedua  pihak  yang  bertikai,  yaitu  Mujahidin  Afghanistan  dan  tentara  Afghanistan  yang  komunis. Pada hari-hari  tertentu  seorang  dokter  yang  bertugas  telah  datang  ke  Kandang Singa  dari  Peshawar.  Beliau  berasal  dari  Mesir  dan  dikenal  karena kecekatan, efisiensi dan juga kesalehannya. Selain dalam rangka mengikuti perkembangan  situasi  perang,  beliau  juga  datang  untuk  memeriksa keadaan  kesehatan  Mujahidin  termasuk kesehatan  Usama  bin  Ladin (Abu Abdullah).  Usama  menderita  tekanan  darah  rendah  yang  seringkali membuatnya  tidak  mampu  bergerak  dan  hanya  dapat  berbaring  saja  di lantai  atau  kasur  terus  menerus  selama  berjam-jam.  Beliau  juga memerlukan  suntikan  cairan  infus  intravenous  seperti  glukosa.  Dokter masuk ke gua  dimana Usama bin Ladin berada,  mengeluarkan jarum infus (cannula) dan  mulai menangani  pasiennya  itu.  Abu Abdullah  berbaring di lantai dalam keadaan sakit payah dan luar biasa letih. Hal ini terjadi setelah beliau  mengerahkan  segala  daya  dan  upayanya  dalam  mengikuti perkembangan  pembangunan  gua-gua  perlindungan  bagi  Mujahidin  Arab (Foreign  Mujahideen)  dan  juga  ditambah  lagi  dengan  kesibukan  beliau yang  lain seperti  membeli  senjata  dan merancang strategi pengintaian  dan pertempuran.  Dokter  mengeluarkan  sebotol  cairan  infus  glukosa  dari dalam  kotak  medis  yang  ditaruh  di  luar  gua  dan  kemudian  mulai memasang  tiang  besi  sebagai  tempat  untuk  menggantung  botol  infus. Kemudian  ia  memasang  selang  infus  berikut  jarumnya.  Abu  Abdullah mengulurkan lengannya agar dokter dapat menusukkan jarum infus dengan mudah.

Pada  detik  itu,  sesaat  sebelum  jarum  infus  ditusukkan,  kami  mendengar suara  bising  pesawat  yang  terbang  rendah  diikuti  dengan  suara  ledakan- ledakan  yang  memekikkan  telinga.  Suasana  segera  berubah  menjadi tegang. Kami bergegas keluar dari gua untuk melihat apa saja yang terkena bom,  namun  segala  puji  hanya  bagi  Allah,  bom-bom  tersebut  jatuh  di puncak  bukit  di  sekeliling  kami.  Namun  demikian  asap  tebal  akibat ledakan dan  debu beterbangan di  sekeliling kami. Kami kembali  masuk ke dalam  gua  dan  Abu  Abdullah  kembali  ke  tempatnya.  Batu-batuan  runtuh ke  dalam  gua,  dan  tiang  besi  tempat  menggantung  botol  infus  telah terguling di lantai. Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Suara  pesawat-pesawat  tempur dan pembom terkadang terdengar dekat, tetapi  kemudian  kami  mendengar suara  ledakan  di  kejauhan  sehingga  kami  tahu  pesawat-pesawat  itu menjauh  kembali.  Untuk  sesaat  kami  merasa  situasi  agak  sedikit  mereda dan  kembali  tenang  walaupun  sesungguhnya  pemboman  masih  terus berlanjut.  Pada  saat itu  dokter  berdiri  dan mulai  kembali  me masang  tiang besi sekaligus  menggantung botol infus  ke  tempatnya,  dilanjutkan  dengan membentangkan  selang  infus  yang  sebelumnya  menjadi  kusut  akibat ledakan  bom  tadi.  Dokter  mengeluarkan  jarum  infus  yang  baru  karena jarum  yang  lama  telah  tercemar  akibat  terjatuh  ke  lantai,  kemudian membaca  Basmallah  dengan  suara  keras,  “Dengan  menyebut nama  Allah Yang  Maha  Pemurah  lagi  Maha  Penyayang”.  Abu  Abdullah membentangkan tangan dan menggulung bajunya hingga di atas lengan. Berbarengan  dengan  saat  akan  ditusukkannya  jarum  infus  ke  lengan  Abu Abdullah,  kembali  kami  mendengar  suara  ledakan  dahsyat  yang  kali  ini membuat kami terpaksa serta merta menutup wajah dan melindungi kepala kami  sekalipun  kami  berada  di  dalam  gua  perlindungan.  Kemudian  kami mendengar suara serangkaian ledakan yang membelah dan menghancurkan bebatuan  di  sekeliling  kami.  Bebatuan  berguguran,  begitu  pula  dengan tiang-tiang  balok  kayu  yang  menopang  gua,  sementara  isi  gua  dipenuhi dengan  debu  dan  bau  tajam  mesiu.  Ketika  kami  mengangkat  kepala  tiba-tiba suara ledakan yang jauh  lebih dahsyat mengejutkan kami. Serta merta kami tiarap berusaha mencari tempat aman untuk berlindung sebab kali ini bom  telah meledak tepat di  depan mulut gua.  Seolah-olah terasa oleh kami gunung  di  sekeliling  kami terbelah  dan tercabut dari akarnya.  Kami  tidak berani  mengangkat  kepala  kami  dan  tetap  berada  dalam  posisi  demikian selama  beberapa  menit  hingga  kami  mendengar  suara  pesawat  terbang menjauh. Ketika serangan  udara mereda kami  bangkit berdiri dan  melihat keadaan  sekeliling  dengan  penuh  rasa  tidak  percaya  bahwa  kami  masih tetap  hidup. Selama  beberapa  menit berikutnya  kami  hanya  saling terdiam sebelum akhirnya beberapa Mujahid pergi ke luar gua melihat keadaan dan menghitung  besarnya  kerugian  kami  akibat  serangan  udara  ini.  Kami berusaha  melakukan  kontak radio  dengan  saudara-saudara  kami  yang  lain yang  berada  di  gua-gua  perlindungan  lain  untuk  mengetahui  keadaan mereka  dan  kerusakan  yang  terjadi  namun  tidak  ada  jawaban,  sementara dokter  masih  tetap  berada  di  tempatnya.  Abu  Abdullah  mengkontak saudara-saudara  lainnya  berusaha  meyakinkan  dirinya  sendiri  bahwa mereka  berada  dalam  keadaan  baik-baik  saja  namun  tidak  ada  jawaban, keadaan  tetap  hening.  Botol  infus  kembali  terlempar  ke  lantai  dan  tiang penggantungnya terhempas ke salah satu sudut gua. Demikian pula dengan selang  infus  yang  tergeletak  di  sudut  lainnya.  Dengan  tenang  dokter bangkit  berdiri,  berusaha  untuk  tersenyum  dan  berkata, “Bergembiralah, semua baik-baik saja”

Abu Abdullah terbaring di tempatnya, tidak mampu untuk bergerak. Beliau tersenyum  kepada  dokter  yang  lalu  memungut  tiang  penggantung  dan botol infus dari lantai. Pada saat dokter tengah memungut botol infus, kami semua secara kebetulan bersama-sama  memandang botol infus seolah-olah botol  tersebut  memiliki  kekuatan  mistik  di  dalamnya  yang  berhubungan dengan  serangan  udara  gencar  yang  menghantam  kami.  Lagi-lagi,  secara kebetulan, serempak  kami bersuara,   “Apakah ada botol infus yang lain?”  Sambil  tertawa  dokter menjawab,   “Ya, saya membawa banyak botol infus lainnya. Tetapi  kenapa  botol ini harus  diganti?” . Kami saling  melirik dan bertukar  pandang  sekilas,  seolah  sedang  membaca  pikiran  satu  sama  lain dan  menyadari  bahwa  ternyata  semua  mempunyai  pikiran  yang  sama. Dokter  memperhatikan  kami  dan  memotong, “Jangan  percaya  kepada tahayul. Ini semata-mata karena kebetulan belaka”. Jadi, iapun  berpikiran yang sama persis dengan kami semua! Kami  tidak memahami maksudnya, tetapi  seorang  rekan  kami  dengan  berani  berkata, “Saudaraku!  Buang botol infus itu! Sejak pagi hari kejadian selalu terjadi berulang, setiap kali kita  memasang  botol  infus  itu  dan  menggantungnya,  mereka  menyerang kita!  Ini  sudah  berlangsung  lebih  dari  lima  kali!” Dokter  menjawab dengan suara tegas, “Takutlah  kepada Allah  wahai  Sheikh!  Anda percaya omong kosong  itu? Apa hubungannya antara  sebotol infus glukosa seperti ini  dengan  pesawat  terbang?”  Dokter  bangkit  berdiri  dan  kembali berusaha  mendirikan  tiang  penggantung  botol  infus.  Ia  menggantung kembali botol infus di tiang itu dan memasang selang infus. 

Dokter me mbuka  kotak  medisnya untuk  mengambil  jarum  infus  yang lain sebagai  pengganti  jarum infus  yang  telah tidak  steril  akibat  terkena  debu, kemudian  memasangnya di ujung selang infus yang lain. Usama bin Ladin dengan patuh mengulurkan lengannya dan berkata dengan  tenang, “Wahai rekan-rekan, jangan ulangi lagi omong kosong itu. Ini semua semata-mata kebetulan  saja” .  Dokter  berkata  dengan  penuh  keyakinan  dan  ketetapan hati, “Kejadian  ini  adalah  kebetulan  saja.  Segala  sesuatu  terjadi  atas kehendak  Allah  semata”.  Ia kemudian  memantapkan  kedudukan  tiang penggantung, duduk di dekat  kasur Usama bin  Ladin  dan berkata, kali ini dengan  sengaja  meninggikan  suaranya  untuk  membuat  kami  terdiam, “Dengan  menyebut  nama  Allah  Yang  Maha  Pemurah  lagi  Maha Penyayang”.  Tetapi  tepat  pada  detik itu  juga,  sebelum  jarum  ditusukkan, kami  merasa  tanah  di  bawah  kaki  kami  terbelah  dan  hancur.  Serangan udara  kembali  terjadi!  Suara  ledakan  keras  sambung  menyambung,  asap tebal,  bau  tajam  mesiu  dan  batu-batuan  beterbangan  ke  mana-mana! Sebagian  atap  gua  terbelah,  dan  tanpa  kami  sadari  secara  refleks  kami menutup wajah kami,  dan masing-masing  mulai melafalkan  ayat-ayat  Al-Quran. 

Ledakan  demi  ledakan  menghantam  posisi  kami  tanpa  ampun,  begitu mengerikannya  sehingga  kami  merasa  seolah-olah  ledakan-ledakan  ini tidak  ada  yang  dapat  menyamai  kedahsyatannya.  Seorang  Mujahid berteriak,   “Ini  bom  cluster!”. Rasanya  tidak  mungkin  kami  dapat  tetap bertahan hidup di tengah-tengah hujan bom yang demikian dahsyatnya itu. Pemboman  berlangsung  terus  selama  beberapa  menit,  yang  rasanya bagaikan  seribu  tahun  lamanya.  Pemboman  kemudian  mereda  dan  suara mesin  pesawat  menghilang  sejalan  dengan  menjauhnya  posisi  mereka, namun kami  tetap  berbaring  tiarap di lantai tidak bergerak hingga seorang rekan  datang dan berkata,  “Mereka menyerang kita dengan gas beracun!”  Kami  bangkit  dan  benar-benar  dapat  mencium sesuatu  yang  tidak  normal menembus udara sehingga kami segera mengenakan masker gas. Beberapa menit  kembali  berlalu,  dan  Usama  bin  Ladin  masih  terbaring  dengan kesakitan.  Dokter,  sekali  lagi  kembali  memasang  botol  infus  dan merentangkan  selang infus. Kembali kami  memandang  botol  infus seolah-olah  benda  itu  adalah  benda  hidup  yang  memiliki  kekuatan  magis  didalamnya.  Ketika  dokter  mengambil  jarum  infus  baru  dan  memasangnya di selang  infus,  sementara  Usama  bin  Ladin  tetap  terbaring  di  lantai  dan kembali mengulurkan lengannya dengan tenang  dan patuh siap menunggu ditusukkannya jarum infus ke dalam pembuluh darahnya, kami seluruhnya yang  ada  di  sana  mendapati  diri  kami  tanpa  sengaja  berteriak  serempak, “Buang  botol  itu!  Jangan  disentuh!”   Dan  tiba-tiba  pecahlah  tawa  kami semua.  

Abu  Abdullah  kemudian  berkata, “Jangan  melihat  kejadian  ini  sebagai sesuatu yang berbau tahayul rekan-rekan, karena tahayul adalah haram”. Namun  kami  kembali  berteriak  bersama, “Kita  harus  membuang  botol infus  itu!  Pesawat  pembom  selalu  datang  setiap  kali  botol  itu  disentuh! Lempar  botol  itu  ke  luar!” Kembali  gelak  tawa  kami  meledak  bersama, dan ketika dokter  kembali berusaha  memasang  botol  infus itu, Abu  Zubair Al-Madani  berdiri sambil tertawa, ia mengambil botol itu, memegangnya dengan  ujung  jarinya  seolah-olah  sedang  membawa   bom  yang  hampir meledak.  Kembali  kami  tertawa  bersama,  dan  Abu  Zubair  melemparkan botol itu ke luar  gua tanpa  mengucapkan sepatah  katapun.  Dokter  bangkit dari  posisinya  dan  berkemas  meninggalkan  gua  di  tengah-tengah  derai tawa  kami  semua,  sementara  Abu  Abdullah  tetap  terbaring  di  tempatnya, tersenyum.

Saya  tidak  menemukan  cerita  lain  yang  lebih  baik  selain  dari  cerita  ini untuk  memulai  laporan  seputar  Kandang  Singa  Foreign  Mujahideen. Sebuah pengalaman unik yang menyentuh sisi kelemah lembutan dari sifat saling  mengasihi  antara  anak  manusia, juga ikatan  pertalian  yang  kuat  di antara sesama rekan seperjuangan yang bersama-sama bertempur di medan Jihad  dengan  bermodalkan  sifat  lurus,  cinta  sesama  dan  iman  di  seputar diri Abu Abdullah Usama bin Ladin dan rekan-rekannya.

selanjutnya, Membangun Kandang Singa ( bersambung )..

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Mei 14, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: