Pertempuran Kandang Singa, Afghanistan 1987 ( Bag.1 )

Berikut ini Haroky2000 akan menghadirkan sebuah kisah nyata Jihad yang dahsyat dan luar biasa dari sedemikian banyak kisah kisah nyata di medan Jihad yang akan memukau setiap pembacanya, sebagai sebuah ilmu dan pelajaran bagi kita semua serta sebagai kado pernikahan bagi Syaikhul Mujahid Abu Abdillah Usamah bin Ladin rhm dengan Huurun`iin (insya Alloh). Bagaimana arti kesabaran, keteguhan, keistiqomahan, kesungguhan dan pengorbanan itu diterapkan di medan tempur sebenarnya. Kisah ini kami ambil dari sebuah buku karya Asy Syahid (insya Alloh) DR. Abdullah Azzam rhm, dan akan kami sajikan secara berseri. Semoga kisah berikut ini dapat memberi manfaat serta menjadi suri tauladan bagi kita semua yang membacanya, amin.


”Orang-orang Afghanistan adalah pejuang yang cinta kemerdekaan dan mereka telah memperjuangkannya selama  lebih dari 20 tahun… Hanya di film-film Hollywood saja pasukan elite terlihat efektif, gagah berani dan hebat… Ketika masuk ke Afghanistan kami memerlukan waktu satu tahun untuk belajar bagaimana caranya bertempur”

(Alexei Zelenyov, seorang veteran pilot Uni Soviet di Afghanistan, sekarang anggota Parlemen Rusia, 19 Oktober 2001)

Pengantar oleh Usama bin Muhammad bin Ladin

Pertempuran Jaji  adalah dimana Allah melimpahkan kemenangan kepada orang-orang  yang  bertaqwa  atas  musuh  mereka  orang-orang  sesat. Pertempuran yang menjadi terkenal ini akan dikenang dalam sejarah Islam modern sebagai salah satu pertempuran  yang  masyhur  dan  menambah daftar  panjang  kemenangan besar  lainnya  yang  pernah  dialami  Ummat Islam  dalam  sejarahnya,  antara  lain Perang  Badar,  Perang  Yarmuk, Pertempuran Al-Qadisiyah, Perang  Hittin dan Pertempuran  Ain Jaluut.

Jaji  dikenang  sebagai  satu  pertempuran  yang  paling  menentukan  yang terjadi  di  penghujung  abad  20  semasa  Jihad  Afghanistan  melawan  Uni Soviet.  Pada  masa  itu  Uni  Soviet  memiliki  kekuatan  militer  terbesar  di dunia,  melambangkan  kedigjayaan  Pakta  Warsawa.  Dan  kekuatan  militer Uni Soviet  masuk  ke  Afghanistan pada  tahun  1979M/1399H. Pada  kedua sistem  penanggalan  ini,  Masehi  dan  Hijriah,  menandakan  akhir  abad masing-masing menuju abad selanjutnya.

 Atas  berkat  Rahmat  Allah  Pertempuran  Jaji  merupakan  suatu  keajaiban dan  kemenangan  besar  bagi  Ummat  Islam.  Pertempuran  ini  tidak  hanya menghadapkan  Muslim  untuk  beradu  kekuatan,  –  tetapi  juga  merupakan pertempuran yang  penghabisan, – menghadapi super  power yang me miliki teknologi militer yang tergolong tercanggih saat itu. Di lain pihak kekuatan militer Mujahidin sangat terbatas dan dalam beberapa kejadian malah tidak memiliki  senjata  apapun.  Para  pemimpin  di  negara-negara  muslim  telah terbuai  oleh  kenikmatan  dunia,  mereka  menjauhkan  diri  dari  keharusan menerapkan  Syariah  Islam  dan  sebagai  akibatnya  upaya-upaya  yang diperlukan  dalam  rangka  menanamkan  dan  menegakkan  Jihad  terhenti sama  sekali.  Merasa  tidak  cukup  dengan  hanya  mendangkalkan pemahaman masyarakat  atas agama Allah  ini, mereka bertindak  lebih jauh dan  memasukkan  ke  dalam  penjara  siapa  saja  yang  berusaha  untuk menegakkan Syariah Islam dan Jihad. 

Uni Soviet saat itu memiliki kekuatan militer yang  terdiri atas ratusan ribu tentara,  ribuan  resimen  tank  dan  ratusan  skuadron  pesawat  tempur  dan pembom.  Kekuatan  super  power  ini  bersekongkol  dengan  pemerintah Afghanistan saat  itu  untuk menyebarkan  komunisme dan  menghasut  suatu gerakan  untuk  melakukan  kudeta  militer  yang  dipimpin  oleh  Babrak Kamal.   Sehingga  pada  akhir  tahun  1979  Tentara  Merah  yang  komunis  dengan  bebas  dapat  memasuki  kota  Kabul.  Peristiwa  ini  segera  saja mengakibatkan  guncangan  yang  mengejutkan  bagi  seluruh  dunia  muslim dan  juga  dunia  barat.  Dunia  Muslim  menghela  nafas  menyadari  betapa berbahayanya  peristiwa  yang berkembang ini. Kehadiran  Uni  Soviet  yang tidak  tercegah  tidak  hanya  di  Afghanistan,  tetapi  juga  di  wilayah  anak benua  Indian  Subcontinent,  tentu  mengancam  jatuhnya  dunia  Arab  ke  5 1 tangan komunis.

 Lebih jauh, manuver Uni Soviet  ini  tidak hanya merupakan ancaman  bagi wilayah  Timur  Tengah  saja  tetapi  juga  merupakan  ancaman  bagi  Pakta Pertahanan  Atlantik  Utara  NATO  dan  niat  negara-negara  barat  untuk meluaskan  pengaruh mereka  ke  seluruh dunia ketika  Perang  Dingin  (Cold War)  mencapai  puncaknya.  NATO  dan  dunia  barat  saat  itu  telah menghabiskan  lebih  dari  US$450  milyar  untuk  membangun  basis pertahanan  di  seluruh  Eropa  dalam  rangka  mempersiapkan  diri menghadapi  ancaman  nyata  Uni  Soviet  yang  telah  berhasil  meluaskan pengaruhnya ke  Eropa Timur. Kekuatan militer Uni Soviet dapat bergerak dengan  kecepatan  yang  mengagumkan,  hanya  dalam  hitungan  jam  saja mereka  dapat  menginvasi  satu  negara  dan  membuatnya  bertekuk  lutut, Rumania  dan  Hungaria  adalah  contoh  nyata  invasi  Soviet  pada  dekade 1960-an.  Siapa  saja  yang menolak  untuk  tunduk  dan  patuh  pada  ideologi komunis  akan  segera  berhadapan  dengan  tank-tank  Soviet.  Arsenal kekuatan  udara  Uni  Soviet  memungkinkan  negara  itu  untuk  mengirim  seluruh  kekuatan  militernya  ke  suatu  negara  hanya  dalam  waktu  singkat. Sedemikian  hebat  keperkasaan  militer  Soviet  sehingga  ketika  penduduk negara  itu  terbangun  keesokan  harinya  mereka  baru  menyadari  bahwa mereka telah menjadi bagian dari Pakta Warsawa.

Demikianlah, sang “Beruang  Besar”  Uni  Soviet  mengejutkan  dunia  lewat invasi  ke  Kabul  dengan  mesin  perangnya  mengambil  rute  Tajikistan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

Situasi  pada  saat  invasi  berlangsung  adalah  terjadinya  benturan  antara kapitalisme  barat  versus  komunisme  Soviet.  Uni  Soviet  berhasil meyakinkan banyak negara Arab dan Islam untuk menerima ideologi jahat mereka.  Pertentangan  di  antara  kedua  super  power  ini  dalam  upaya menguasai dunia sering disebut sebagai era Perang Dingin.

Tidak  seorangpun  yang  menduga  sebelumnya  bahwa  negara  kecil  seperti Afghanistan yang sumber dayanya amat terbatas itu akan mampu menahan gerak  maju  Tentara  Merah.  Mujahidin,  pada  kenyataannya  tidak  hanya mampu menahan, tetapi  juga mampu untuk mengalahkan dan menghancur lumatkan  Tentara  Merah  dan  memaksa  mereka  untuk  menarik  mundur pasukannya dalam keadaan kalah memalukan. Kekalahan ini memberi efek lanjutan  yang  lebih  besar  ditandai  dengan  ambruknya  Super  Power  Uni Soviet.  Jihad  ternyata  tidak  hanya  telah  memberikan  kekalahan  mutlak secara militer terhadap Uni Soviet, tetapi juga ambruknya ekonomi mereka karena  terkuras habis  untuk mendanai petualangan mereka di Afghanistan, di samping tamparan menyakitkan bagi moral dan pemikiran komunis.    

Ideologi  komunisme  masuk  ke  dunia  Arab  menggunakan  kedok Sosialisme  dan  Kesetaraan  Sosial.  Irak  disapu  habis  oleh  gelombang pasang Sosialisme  ini  dan  tunduk  patuh pada  Sang  Beruang  Besar.  Partai Ba’ath  yang  saat  itu  berkuasa  mulai  menyebarluaskan  “cakar  setan” mereka  ke  kalangan  Muslim,  mengajar  mereka  untuk  menyembah  dan mengagungkan Ba’athisme, Tuhan baru mereka.

Penyakit menular ini juga menjangkau Suriah, motto sosialis  yang mereka gunakan “Persatuan, Kebebasan dan Sosialisme”  tersebar ke seluruh strata masyarakat, menjangkau segala bidang. 

Demikian  pula  Yaman  Selatan,  yang  dengan  sepenuh  hati  memeluk ideologi  baru  mereka,  komunisme.  Setelah  itu,  Uni  Soviet  melanjutkan petualangan  mereka  yang  zalim,  kejam  dan  tidak  menaruh  belas  kasihan kepada  mangsa  lainnya.  Kali  ini  Somalia  direkrut menjadi korban  berikut yang berlangsung pada masa Ziyad Bari yang celaka memerintah negara di benua  Afrika  ini.  Ketika  sang  pemimpin  ingin  mengubah  negeri  itu menjadi  komunis,  sepuluh  orang  Ulama  yang  tidak  sudi  untuk menggadaikan  agamanya  hanya  untuk  beberapa  sen  dollar  “yang menyedihkan”,  maju  ke  depan  menentang  niat  pemimpinnya.  Menyadari betapa ajaran komunis sangat bertentangan dengan sendi-sendi Islam, Para Ulama ini menolak untuk memberikan dukungan berupa fatwa dan lainnya kepada  pemerintah.  Ziyad  Bari  kemudian  bertemu  dengan  mereka  di Mogadishu,  menangkap  dan  membakar  mereka  hidup-hidup  di  depan rakyat  banyak.  Semoga  Allah  mengampuni  dan melimpahkan rahmat-Nya kepada  Para  Ulama yang lurus ini.  Setelah  Somalia selesai,  Eritrea adalah target selanjutnya.  Uni  Soviet  berhasil mempengaruhi suatu kudeta  militer melalui  tangan  Partai  Komunis  Eritrea, sehingga  setelah  kejatuhan  negara ini  Uni  Soviet  memiliki  pijakan  di  Utara  benua  Afrika.  Uni  Soviet kemudian  maju  terus  menuju  Timur  Tengah,  mengganyang  berbagai negara satu per satu.

Pada  saat  itu  Amerika  dan  sekutu-sekutunya  terlalu  asyik  menyediakan perlindungan  bagi  Eropa  Barat,  setelah  melihat  bagaimana  Eropa  Timur jatuh  satu  per  satu  ke  tangan  Uni  Soviet.  Bahkan  sejak  Perang  Dunia Kedua  berakhir  Jerman-pun  berhasil  dibelah  Soviet,  terpecah  antara Jerman Barat  dan Jerman Timur.  Dunia baratpun hidup di bawah bayang- bayang ketakutan akan ancaman Uni Soviet.

Seolah tidak lupa, Amerika Tengah dan Amerika  Latin juga tidak terbebas dari  invasi  Uni  Soviet  yang  menjangkau  seluruh  wilayah  dunia.  Kuba masuk  ke  dalam  rangkulan  mereka.  Nilai  strategis  yang  dimiliki  negara yang jaraknya hanya 100 mil dari pantai Amerika itu menyebabkan rakyat Amerika terus menerus berada dalam keadaan ketakutan.

Selama  masa  ini  dunia  juga  menyaksikan  berlangsungnya  perlombaan senjata  nuklir  sebagai  akibat  konflik  Perang  Dingin.  Milyaran  dollar dihabiskan  masing-masing  pihak  untuk  memelihara  kemampuan pertahanan  dan  melanjutkan  dominasi  mereka  melalui  arsenal  senjata nuklir yang besar, efektif dan juga canggih. 

Pemimpin  Uni  Soviet  pada  saat  invasi  Afghanistan  adalah  Leonid Brezhnev.  Dialah  yang  memutuskan persoalan penting  ini,  mengirim bala tentara  dan  memainkan  kartu  as  menginvasi  Afghanistan.  Tujuannya adalah  untuk  membuka  jalan  menuju  Samudera  Hindia  melalui  Pakistan, yang pada gilirannya akan memberikan Uni Soviet akses langsung menuju Teluk  Arab  dimana  negara-negara  yang  memiliki  cadangan  minyak  dan gas bumi terbesar di dunia berada. 

Mayoritas negara Eropa Barat tidak memiliki sumber daya minyak dan gas bumi sendiri,  dan  karenanya sangat tergantung pada suplai minyak mentah dari  negara-negara  di  Teluk  Arab  untuk  menggerakkan  roda  ekonomi mereka. Jadi, inilah impian Uni Soviet, – membayangkan kembali kejayaan Tsar masa lampau -, memperoleh keuntungan  strategis dengan  menguasai wilayah Arab.

Akhirnya,  Brezhnev  mengeluarkan perintahnya,  dan  Angkatan Bersenjata Uni  Soviet  bergerak  menginvasi  Afghanistan.  Suatu  langkah  yang  amat penting  dan  juga  menentukan,  yang  di  kemudian  hari  terbukti  membawa malapetaka  bagi  Kerajaan  Soviet. Para  pengamat politik segera menyadari bahwa  tujuan  di  balik  manuver  yang  berani  ini  adalah  minyak  di  Teluk Arab. Jika  negara-negara di  wilayah  ini jatuh  ke  tangan  Uni  Soviet,  maka akan memberikan pengaruh yang besar atas dominasi Uni Soviet di Timur Tengah dan dunia Arab.

Amerika  tidak  memiliki  siapapun  di  wilayah  ini  yang  dapat  diandalkan untuk mengusir Uni Soviet. Pangkalan-pangkalan militer  mereka yang ada di wilayah ini hanyalah merupakan pangkalan  militer yang kecil  dan tidak memiliki kemampuan untuk  melaksanakan  tugas  mengusir Tentara Merah dengan  kekuatan  penuh.  Para  agen  Amerika  di  Timur  Tengah  dan  Asia Tengah-Selatan adalah  negara-negara Teluk Arab dan Shah Iran.  Revolusi yang  didalangi  oleh  Kaum  Shi’ite  telah  menyebabkan  runtuhnya kekuasaan Shah  Iran  dan Amerika  bersikap  tidak  peduli dan mengabaikan Shah,  bahkan  tidak  menawarkan  suaka  politik  kepadanya.  Pelajaran penting  yang  bisa  dipetik  dari  revolusi  yang  menumbangkan  Shah  Iran, juga  situasi  dewasa  ini  yang  berkembang  di  Teluk  Arab,  yaitu  hanya menggantungkan diri semata pada perlindungan yang diberikan Amerika, – dilihat  dari sudut  pandang  politik  internasional dan  agama  Islam  -,  adalah sama saja dengan bunuh diri.

Dilihat dari  sudut  pandang  Islam, situasi  status quo saat  ini  di  Teluk  Arab adalah  tidak  diperbolehkan  dan  tidak  dapat  diterima.  Para  raja  penguasa negara-negara  kaya  minyak  ini  telah  menjual  tanah  mereka  kepada Amerika dan  mengambil orang-orang  kafir  sebagai  teman  dan  pelindung. Tidak  ada  kata  lain  melihat  keadaan  ini  kecuali  kufur,  membuat  mereka telah  keluar  dari  Islam.  Lebih  jauh  secara  rasional,  tindakan  mereka menjadikan  orang kafir sebagai pelindung sama dengan berarti bunuh diri, karena  Yahudi  dan  Kristen adalah  musuh  Islam. Kehadiran orang  kafir di Teluk  Arab  bukanlah  seperti  klaim  mereka  untuk  melindungi  negara- negara  Arab,  tetapi  untuk  merampok  dan  menjarah  kekayaan  alam  dan merusak pikiran masyarakat muslim dengan budaya setan mereka.  Dengan ijin  dan  kehendak  Allah,  nanti  mereka  akan  pergi  meninggalkan  Teluk Arab setelah merasakan akibat dari serangan Mujahidin.

Kembali  kepada  dominasi  Uni  Soviet,  kita  melihat  negara  seperti Balochistan  telah  menjadi  korban  invasi  Uni  Soviet  akibat  pembusukan yang dilakukan partai  komunis setempat. Tidak ada satupun desa dan kota mulai  dari  Quetta  hingga  Teluk  Oman,  kecuali  bendera  merah  partai komunis berkibar mengancam. Potret-potret tokoh komunis seperti Kamal, Stalin  dan  Lenin  terpampang  di  dinding-dinding  ruangan  tempat pertemuan  ketua-ketua  suku  dan  etnik.  Setiap  tanggal  27  Desember, tanggal  dimana Uni  Soviet masuk  ke  Afghanistan, massa  Partai Komunis Balochistan  turun  ke  jalan  merayakan  peristiwa  tersebut.  Demonstrasi  ini tentu  saja  bukan  dalam  rangka  menentang  kehadiran  Uni  Soviet,  tetapi justru dalam rangka merayakan tibanya Tentara Merah. 

Jika bukan  karena rahmat Allah yang  dilimpahkan kepada ummat  ini,  dan pertolongan-Nya  kepada  Muslim  Afghanistan,  Uni  Soviet  tentu  telah berhasil  mencaplok  negara-negara  di  Teluk  Arab  tanpa  kesulitan.  Rakyat Afghanistan  telah  menunjukkan  kemampuannya  dengan  mengusir  invasi terbesar  yang  pernah  dilakukan  orang-orang  kafir  terhadap  Islam.  Kita memohon  kepada  Allah  untuk  menganugerahi  mereka  yang  telah berkorban  dengan  sebaik-baik  balasan.  Namun  kemenangan  ini  tidak diperoleh  dengan  gratis,  infrastruktur  Afghanistan  hancur  tidak  tersisa, tidak  terhitung  jumlah  anak-anak  yang  menjadi  yatim  piatu,  sementara ribuan  wanita  menjadi  janda  dan  ratusan  ribu  laki-laki  terluka  dan terbunuh. 

Melihat  militer  Uni  Soviet  bertekuk  lutut,  tanpa  rasa  malu  dan  bersikap dingin,  negara-negara  Teluk  berpaling  kembali  ke  Afghanistan,  padahal sebelumnya  mereka  meninggalkan  negara  ini,  memilih  untuk  sibuk menjaga  dan  mempersenjatai  diri  mereka  dan  berusaha  menanggulangi ancaman  Soviet  sendirian.  Seharusnya  invasi  Uni  Soviet  mereka  jadikan sebagai  momentum  penting  bagi  dunia  Islam  untuk  menolong  dan  men- support  saudara-saudara  mereka  di  Afghanistan,  negeri  yang  nyata-nyata sangat membanggakan hati dan banyak akal ini. Pada  masa  awal  sebelum  invasi,  Partai  Komunis  telah  bangkit  di Afghanistan  dan  mulai  menyebarkan  ajaran  dan  pengaruhnya  kepada masyarakat  banyak. Sejumlah Ulama  dan anak-anak  muda berusaha  untuk melakukan  upaya tandingan dengan jalan meningkatkan aktivitas  dakwah, tetapi  karena  sumber  keuangan  mereka  amat  terbatas  membuat  upaya mereka  terlihat  sia-sia.  Alhamdulillah,  Allah  melimpahkan  rahmat-Nya sehingga  pemimpin-pemimpin  yang  percaya  pada  Jalan  Jihad  mampu bangkit  untuk  menegakkan  panji-panji  Jihad.  Penting  untuk  diketahui bahwa sejumlah  tokoh pemimpin telah berhasil  memainkan  peran  penting dalam  Jihad  ini,  di  antaranya  adalah  Gulbuddin  Hekmatyar,  Abdul  Rasul Sayyaf,  Burhanuddin  Rabbani,  Yunus  Khalis,  Sheikh  Muhammadi  dan Mujaddidi.  Sekalipun  setelah  Uni  Soviet  berhasil  dikalahkan  para  tokoh Jihad ini kemudian melakukan kesalahan , namun pujian dan penghargaan  tetap  harus  diberikan  kepada  mereka  atas  apa  yang  telah  mereka  lakukan pada masa Jihad melawan Uni Soviet.

Mundurnya  Uni  Soviet  dan  kekuatan  komunis  segera  diikuti  dengan pecahnya  perang  saudara  di  antara  para  tokoh  Jihad  beserta  pengikut- pengikut mereka. Ada cukup perbedaan yang  besar di antara  mereka yang menyebabkan  mengapa  mereka  saling  berkelahi  satu  sama  lain  dan bukannya  bersatu  membangun  kembali  negeri  yang  telah  hancur  ini. Perbedaan pandangan politik Islam yang terdapat di antara Ummat Muslim jelas  tidak  dapat  diterima  karena  tidak  mungkin  menegakkan  Islam  dan Syariahnya di  tengah-tengah  perbedaan  pandangan  ini.  Berjuang  bersama dalam rangka  mengusir  musuh memang  dapat dilakukan di tengah-tengah perbedaan  pandangan  politik,  tetapi  Syariah  Islam  tidak  dapat  ditegakkan selama  perbedaan  ini  belum  diselesaikan.  Untuk  menegakkan  Syariah diperlukan kesatuan pandangan dan bukannya perbedaan.

Dari Umar  bin  Al-Khattab  (RA),  bersabda Rasulullah  SAW,  “Siapa yang meninggalkan  Jama’ah  bahkan  hanya  sejengkal  tangan  saja, sesungguhnya Islam telah tercabut dari urat lehernya” .

Dari Harits Al-Ashari (RA), bersabda Rasulullah  SAW, “Aku  perintahkan kalian  lima  hal  yang  telah  diperintahkan  Allah  kepadaku  yaitu menegakkan Jama’ah, mendengarkan, tunduk patuh, Hijrah dan Jihad”.

Allah SWT  telah  melimpahkan rahmat kepada Sheikh Muhammad  Yunus Khalis  sehingga  Sheikh  Muhammad  tidak  ikut  terlibat  dalam  perang saudara  memperebutkan  kekuasaan.  Pada  masa  perang  saudara berlangsung banyak Mujahid-mujahid  asal Arab  yang pergi  meninggalkan Afghanistan namun  ketika  mereka  kembali  Sheikh  Muhammad  menerima mereka  dengan tangan  terbuka.  Kemudian, sekali lagi  Allah  melimpahkan  rahmat-Nya  kepada  Muslim  Afghanistan  dengan  mempersatukan  mereka di  bawah  pemerintahan  seseorang  yang  relatif  tidak  banyak  dikenal  yaitu Mullah  Muhammad  Umar  Mujahid.  Dengan  ijin  Allah,  saat  ini  95% wilayah  Afghanistan  berada  di  bawah  kekuasaannya,  hal  ini  dicapai setelah  ia  berhasil  mengumpulkan  orang-orang  di  sekelilingnya  dan membentuk Jama’ah.

Pada masa pemerintahan komunis , banyak Mujahidin Arab yang dibunuh  oleh orang-orang Afghanistan sebagai akibat dari fitnah dan tipu daya licik yang  disebarkan  media  massa  dan  para  ketua  suku  Afghanistan.  Media massa  mengga mbarkan  Mujahidin Arab  sebagai  pengikut  aliran  Khawarij yaitu  aliran  dimana  orang-orang  Khawarij  adalah  para  pembelot  dan berkhianat  kepada  negara  dan  pemimpin.  Padahal  pada  kenyataannya pemimpin  negaralah  yang  berkhianat  karena  mereka  adalah  orang-orang komunis,  namun  para  pemimpin  ini  memperdaya  rakyat  Afghanistan dengan memperbolehkan rakyat untuk  tetap  beribadah sehingga  mendapat kesan seolah-olah mereka adalah pemimpin yang baik.

Namun  ketika  rakyat  Afghanistan  melihat  dengan  mata  kepala  sendiri kehadiran  Tentara  Merah  Uni  Soviet  di  tanah  nenek  moyang  mereka, barulah  mereka  terbangun  dari  tidur  dan  menyadari  bahwa  mereka  tidak hanya  telah  diperintah  dan  dibohongi  oleh  ideologi  jahat  ini  tetapi  juga  telah  dijajah secara fisik. Akibatnya, rakyat Afghanistan  bangkit melawan kekuatan  kafir  ini,  mereka  menyambut  seruan  dan  panggilan  para  Ulama mereka seperti Muhammad Yunus Khalis, Jalaluddin Haqqani dan lainnya. Dan Jihad-pun bergema ke seluruh pelosok negeri.  

Pada  tanggal  20  Januari  1980  Presiden  Amerika  Serikat  Jimmy  Carter menyatakan, “Amerika  Serikat  tidak  akan  membiarkan  Uni  Soviet memasuki  Teluk  Arab”   dan  menambahkan  Amerika    akan  menggunakan kekuatan  militer  jika  diperlukan.  Tentu  saja  ini  adalah  ancaman  kosong dan gertak sambal saja karena pada kenyataannya Amerika tidak memiliki satupun  sahabat  di  wilayah  Asia  Tengah-Selatan  yang  dapat  diharapkan untuk bersama-sa ma bertempur menghadapi Uni Soviet, khususnya setelah tumbangnya antek Amerika di Iran, yaitu Shah Iran.

Jika  bukan  karena  rahmat  dan  pertolongan  Allah  melalui  rakyat Afghanistan,  negara-negara  di  Teluk  Arab  tentu  sudah  jatuh  ke  tangan komunis.  Kita  mensyukuri  hal  ini  dan  segala  puji  bagi  Allah  yang  telah melimpahkan  Ummat  ini  dengan  Jihad  dan  kemampuan  untuk  mengusir musuh penjajah.

Segera  setelah  berita  invasi  militer  Uni  Soviet  ke  Afghanistan  sampai  ke Pakistan,  para  Jenderal  Pakistan  segera  bersidang  membahas perkembangan  terbaru  ini.  Jatuhnya  Afghanistan  ke  tangan  Uni  Soviet tentu saja  segera akan diikuti dengan jatuhnya  Pakistan pula. India selama ini  diketahui  merupakan  sahabat  dekat  Uni  Soviet  sehingga  ancaman terhadap Pakistan menjadi jauh lebih besar. Militer Pakistan mulai berpikir mencari  jalan  bagaimana  keluar  dari  malapetaka  dahsyat  yang  sudah  di depan  mata  ini.  Mereka  mulai  mempersiapkan  kekuatan  militer  mereka dan  menghitung  sisa  waktu  yang  ada.  Pakistan  menyadari  bahwa  mereka tidak  mampu  menghadapi  India  sendirian,  jadi  kekuatan  gabungan  Uni Soviet  dan  India  akan  dengan  mudah  menggilas  habis  Pakistan.  Mereka berpendapat  bahwa  rakyat  Afghanistan  tidak  akan  mampu  bertahan  lebih dari  satu  minggu  menghadapi  invasi  Uni  Soviet.  Pendapat  yang  paling optimis  sekalipun  hanya  berani  menghitung  Afghanistan  hanya  dapat bertahan  maksimal  dalam  waktu  dua  bulan  saja,  setelah  itu  Uni  Soviet akan berhasil menguasai sepenuhnya Afghanistan.

Dua  bulan  setelah  invasi  Uni  Soviet,  sejumlah  perwira  militer  Pakistan mengunjungi wilayah Afghanistan untuk mengecek situasi perang terakhir. 

Para  perwira  ini  melihat  populasi  rakyat  Afghanistan  dengan  semangat besar  dan  gigih  berjuang  menghadapi  orang-orang  Rusia.  Rakyat Afghanistan  ternyata  masih  menyimpan  senjata  yang  merupakan  benda turun  temurun  milik  nenek  moyang  mereka  dahulu  ketika  berperang menghadapi  Inggris.  Rakyat  Afghanistan  bahkan  rela  menjual  domba peliharaan mereka sekedar untuk membeli amunisi dan peluru.

Ketika  dunia  barat  melihat  bahwa  rakyat  Afghanistan  ternyata  memiliki ketetapan hati dan ketabahan, mereka lalu memutuskan untuk menyalurkan bantuan  keuangan  kepada  rakyat  Afghanistan  dalam  perangnya menghadapi  Uni  Soviet.  Amerika  Serikat  memerintahkan  antek-anteknya di  Timur  Tengah,  yaitu  pemerintahan  negara-negara  Arab  untuk mempublikasikan berita-berita seputar Mujahidin Afghanistan. Surat kabar pemerintah  dan  berbagai  media  mulai  meliput  secara  luas  kegiatan Mujahidin termasuk Radio Saudi yang menyiarkan liputannya selama lima kali sehari,  seluruhnya  berbicara  mengenai sikap heroik  Mujahidin  dalam bertempur.  Akibat  luasnya  liputan,  dalam  waktu  singkat  berbagai  badan pengumpul  dana  dibentuk  di  seluruh  Kerajaan  Saudi,  mengorganisir  dan mengumpulkan  dana  untuk  diberikan  kepada  rakyat  Afghanistan  dan Mujahidin.  Tidak  hanya  sampai  di  situ  saja,  badan-badan  dan  organisasi ini  juga  diperintahkan  untuk  memberikan  segala  dukungan  bagi terlaksananya  berbagai  upaya  yang  mendukung  Jihad.  Para  Ulama  tidak ketinggalan  pula  ikut  menulis  fatwa  seputar  kewajiban  Jihad.  Namun sayangnya,  seluruh  upaya  dan  kegiatan  ini hanya dapat  dilakukan  dengan ijin  Raja  Fahd,  penguasa (Wali-ul-Amir)  Saudi  Arabia (saat itu Raja Fahd belum menjadi kacung Amerika seperti sekarang ini, ed),  yang  sebelumnya juga  harus  meminta  ijin  dan  restu  dari  Jimmy  Carter,  Wali-ul-Amir-nya Raja  Fahd.  Bahkan  maskapai  penerbangan  Saudi  Arabian  Airlines  juga diperintahkan  untuk  memberikan  discount  tiket  pesawat  sebesar  75% kepada  siapapun  yang  hendak  bepergian  ke  Pakistan  untuk  bergabung dalam Jihad.

Demikian  besarnya rasa takut yang menghinggapi Amerika,  sekutu-sekutu dekatnya  dan  negara-negara  Teluk  Arab  terhadap  ancaman  invasi  Uni Soviet  sehingga  mereka  gagal  memperhitungkan  akibat  jangka  panjang dari  strategi  yang  mereka  jalankan  ini.  Kegagalan  melihat  jauh  ke  depan ini  kemudian  terbukti  memberikan  konsekuensi  serius  bagi  Amerika  dan  sahabat-sahabatnya setelah Jihad Afghanistan  berakhir.  Satu-satunya hal yang  dilihat  Amerika  saat  itu  adalah  betapa  berbahayanya  manuver  Sang Beruang  Merah,  maka  segala  pemikiran,  persiapan  dan  upaya  difokuskan untuk menghentikan gerak maju Angkatan  Bersenjata Uni Soviet.  Seluruh pintu  dibuka  lebar-lebar  bagi  siapapun  muslim  yang  ingin  bepergian  ke Pakistan  dan  bergabung  dengan  Mujahidin.  Masa-masa  ini  merupakan kesempatan emas bagi Ummat Muslim untuk bangkit sebab berbagai rantai belenggu  yang  menghalangi Ummat  Muslim untuk  berjihad  telah  diputus. Namun  sekalipun  demikian  hampir  tidak  ada  figur-figur  muslim  yang datang  memenuhi  kewajiban  ini.  Mereka  yang  menjawab  panggilan  yang wajib  ini hanyalah  anak-anak  muda  yang  masih  duduk  di  bangku  sekolah dan  mahasiswa.  Dengan  segera  mereka  mengemas  barang,  berangkat untuk memenangkan bendera “La ilaha illallah”. Satu-satunya figur Ulama yang  bersedia  memenuhi  panggilan  ini  dan  mau  bersusah  payah  adalah Sheikh Abdullah  Azzam,  semoga Allah SWT menerima beliau  dan  kedua anak beliau sebagai Syuhada.

Uni  Soviet  menyatakan  bahwa  pada  akhir  perang  mereka  telah menghabiskan  lebih  dari  US$70  milyar  untuk  membiayai  kampanye militer  mereka  di  Afghanistan.  Kekalahan  yang  dialami  dalam Pertempuran  Jaji  merupakan sinyal desakan  kepada pemimpin  Uni  Soviet Mikhail  Gorbachev  untuk  segera  menarik  mundur  pasukannya  dari Afghanistan.

Dunia  muslim  seakan  tidak  dapat  mempercayai  kenyataan  bahwa  rakyat Afghanistan  mampu  untuk  bertahan  menghadapi  invasi  Uni  Soviet. Masyarakat  dunia  sudah  hidup  dalam  keadaan  penuh  ketakutan  akan bayangan mesin militer Uni Soviet yang tidak terkalahkan ini. Penyakit ini tidak  hanya  menghinggapi  pikiran  masyarakat  saja  tetapi  juga menghinggapi  benak  Para  Ulama.  Sikap  pesimis  dan  “sudah  menyerah kalah  sebelum  bertanding”  ini  sedemikian  lekat  di  benak  Para  Ulama sehingga  nasehat  yang  mereka  berikan  kepada  murid-murid  mereka  yang  berniat  untuk  bergabung  dengan  Mujahidin  adalah  bahwa  Uni  Soviet mustahil  untuk  dikalahkan.  Bahkan  setelah  pecahnya  Pertempuran  Jaji dimana  tanda-tanda  penarikan  mundur  tentara  Uni  Soviet  semakin  kuat, banyak  muslim  yang  masih  menolak  untuk  mempercayai  bahwa  Uni Soviet  dapat  dikalahkan  dan  tentaranya  akan  segera  ditarik  mundur. Ketidakpercayaan  ini  menunjukkan  betapa  sifat  pengecut  dan  kalah sebelum  bertanding  telah  demikian  hebat  menghinggapi  pikiran  Ummat Muslim.  Setelah  Uni  Soviet  mengumumkan  bahwa  mereka  sedang mempertimbangkan pilihan untuk menarik  mundur pasukannya, mayoritas muslim masih saja berkata bahwa pernyataan Uni Soviet tersebut hanyalah trik  dan  tipuan  belaka,  dan  bahwa  Mujahidin  adalah  “gila”  jika  berani berpikir  dapat  mengalahkan  Uni  Soviet.  Kepada  Mujahidin  mereka mengatakan bahwa jika mau Uni Soviet dapat memenangkan perang hanya dalam  waktu  24  jam  saja,  namun  berlarut-larutnya  perang  hanyalah merupakan bagian dari strategi yang sedang dijalankan oleh Uni Soviet.

Setelah Pertempuran Jaji, Gorbachev mengumpulkan para pembantunya di Moscow.  Kepada  Gorbachev  para  pembantunya  mengatakan  bahwa penarikan  mundur  tentara  Uni  Soviet  akan  menjadi  hal  yang  sangat memalukan  bagi  dunia  komunis,  Uni  Soviet  dan  Tentara  Merah. Gorbachev  menjelaskan  bahwa  perang  telah  menyedot  habis  kemampuan ekonomi Soviet dan negara tidak sanggup lagi untuk membiayai perang ini yang tidak jelas kapan akan berakhir.

Sejumlah negara  komunis seperti  Jerman Timur,  Cekoslowakia, Rumania, Hungaria  dan  lainnya  mengirim  utusannya  menghadap  Gorbachev memohon  agar  Gorbachev  mengurungkan niatnya  untuk  menarik mundur Tentara  Merah.  Para  utusan  ini  mengatakan  penarikan  mundur  akan mengakibatkan  kekacauan besar bagi  seluruh kerajaan komunis di seluruh dunia.  Laporan  intelijen  juga  mengungkapkan  bahwa  jika  masyarakat dunia melihat bagaimana rakyat Afghanistan yang miskin dan bertelanjang kaki  itu  mampu  mengalahkan  orang-orang  komunis  maka  masyarakat  di negara-negara  komunis  juga akan berpikiran sama sehingga negara-negara komunis terancam  tumbang. Gorbachev  sadar betul akan hal ini, namun ia menegaskan  bahwa Uni  Soviet sudah  tidak mampu  lagi  untuk  membiayai perang. 

Uni  Soviet  memasuki  Afghanistan  pada  tanggal  27  Desember  1979  dan hampir sepuluh tahun kemudian, tanggal 15 Februari 1989 mereka dipaksa untuk  mundur  meninggalkan  Afghanistan  dalam  keadaan  kalah, dipermalukan  dan  dihinakan.  Pada  akhir  tahun  itu  pula,  25  Desember 1989,  bendera  Uni  Soviet  diturunkan  dan  dilipat  rapi  di  berbagai  60 kedutaan dan kantor-kantor Uni Soviet di seluruh dunia, digantikan dengan bendera  Rusia.  Atas  berkat  rahmat  Allah  SWT,  bendera  Uni  Soviet dibuang  ke  dalam  keranjang  sampah  sejarah,  namanya  dihapus  dari  peta dunia dan terpecah menjadi 15 negara .

Di dalam buku Ayatur-Rahman fi Jihadil-Afghan (Kebesaran Ar-Rahman Dalam Jihad Afghanistan) oleh Sheikh Abdullah Azzam:

“Kami tidak takut kepada senjata kalian, tetapi yang kami takuti adalah teriakan Allahu Akbar yang menggetarkan hati kami. Senjata jenis apakah itu?” [seorang tentara Uni Soviet yang ditawan oleh Mujahidin Afghanistan] 

 “Kami terdiri atas 60 orang Mujahidin dan menyerang konvoi musuh. Kami berhasil membunuh sebagian besar tentara musuh dan sisanya mengibarkan bendera putih tanda menyerah. Setelah kami tawan mereka bertanya dengan keheranan, ‘Mana orang-orang yang berjubah putih tadi?…’ Kami menjawab dengan nada heran pula, ‘Tidak ada seorangpun di antara kami yang berjubah putih…’”  [seorang Komandan Mujahidin Afghanistan] 

”Orang-orang Afghanistan adalah pejuang yang cinta kemerdekaan dan mereka telah memperjuangkannya selama  lebih dari 20 tahun… Hanya di film-film Hollywood saja pasukan elite terlihat efektif, gagah berani dan hebat… Ketika masuk ke Afghanistan kami memerlukan waktu satu tahun untuk belajar bagaimana caranya bertempur” [Alexei Zelenyov, seorang veteran pilot Uni Soviet di Afghanistan, sekarang anggota Parlemen Rusia, 19 Oktober 2001]

”Dalam pertempuran sebelum ini, kami melihat ‘orang terbang’. Tinggi mereka lima meter dan menyerang kami dari udara sambil mengayunkan pedang. Kami tidak tahu siapa mereka dan bagaimana cara memerangi mereka”. [Seorang tentara Serbia yang ditawan di Kamp Mujahidin Zavidovic Bosnia, 14 September 1995]


selanjutnya, Kesan Seorang Wartawan Arab.. ( bersambung )

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Mei 8, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. history22education

    tulisan yang keren ….ijin copas gan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: