Mengenang Asy Syahid Gempur Budi Angkoro a.k.a Jabir Abu Silah

Jabir Abu Silah

Alhamdulillah, was sholatu was salam ala Rosulillah.

Jabir…. Nama dan keluarganya….

Semua nama ikhwan kita yang satu ini memang suka yang berbau kekerasan, tengok saja nama aslinya adalah Gempur Budi Angkoro, nama hijrohnya tidak jauh berbeda yaitu Jabir yang berarti “pemaksa”, nama kunyahnya Abu Silah atau “Tukang senjata”.

Beliau lahir di sebuah desa Mojorejo, Kec. Kebonsari, Madiun, Jawa Timur 27 tahun yang lalu. Dia adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ibunya, Masrihatin, sehari-hari menjadi guru sekolah dasar. Ayahnya seorang peternak ayam. Keluarga ini menjalankan agamanya secara ketat. “Semua saudara pak Rusman selalu menjunjung tinggi nilai-nilai Islam”. Kata Sugiman, ketua RT dikampung Jabir. Namun tumbuh besar dan dewasa dihabiskan di dalam pondok pesantren bertahun-tahun, hampir sembilan tahun dia mendalami dan mempelajari agama Islam ini. Sehingga prinsip dan pemahaman Islamnya begitu kuat menancap di dalam hatinya.

Keluarganya pun termasuk dari kalangan orang-orang yang mencintai kekerasan, yah… yaitu kekerasan hidup ini dan kekerasan terhadap musuh-musuh Alloh. Sehingga hampir kebanyakan keluarganya pernah merasakan pahit manisnya penjara bahkan sepupunya yang terkenal dengan sebutan Al Ghozi telah dahulu menemui kesyahidannya dalam sebuah aksi melarikan diri dari penjara.

Maka tidak mengherankan jika dia memilih jalan jihad ini untuk memperjuangkan dan menegakkan Islam setinggi-tingginya.

Dia seperti yang digambarkan di dalam sebuah hadits tentang tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan pada hari kiamat nanti dimana tidak ada perlindungan selain perlindungan Alloh Subhanahu wa ta’ala, “Seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Alloh”.

Jabir tekad dan keberaniannya….

Akhi Jabir adalah sosok yang memiliki tekad yang kuat, tidak takut dengan celaan orang-orang yang mencela, nampaknya dia terilhami oleh sepupu dia Fathur Rohman Al Ghozi, yang dia sering sekali bercerita tentang sosok kepribadiannya.

Lihat saja beberapa catatannya yang dia tulis disebuah buku memory nya “ Di kanan kiriku mereka berteriak,          Namun mataku tetap nanar, mereka tak berhenti berceloteh….Mencaci…. Mencela…. Menghina. Ya…. Robbi…. Masukkan hamba Mu ini…. Ke dalam jannah Abadi…. Bersanding dengan para bidadari….

Seperti juga yang dikatakan teman seperjuangannya “Kepribadian dia, masya Alloh dia sangat berani sekali. Kita mesti malu kepadanya. Orangnya sungguh-sungguh, walaupun dia humoris tapi ketika dia mempunyai azam atau mempunyai niat insya Alloh dia pegang azamnya tersebut”.

Keberaniannya sungguh sangat luar biasa, memang sejak di pondok jika ada waktu dia selalu mengisi liburannya dengan mendaki gunung walaupun sendirian. Barangkali itulah yang menjadikan dia berani menempuh jalan ini walaupun sendirian.

Seperti yang dituturkan oleh salah seorang sahabatnya selama pelarian “jadi ketika bertemu dengan dia itu saya rasakan keberaniannya, keberanian yang amat sangat. Dimana ketika dia dinasehati oleh orang tua, “Kamu harus hati-hati”. Tapi dia menjawab, “Insya Alloh”. Saya sempat terkecoh dengan orang ini. Kok bisa seperti ini, padahal masya Alloh dia kan selalu dicari-cari oleh thoghut, tapi dia nampak biasa aja, tidak menampakkan sedikitpun rasa takut, begitu yakin bahwa Alloh akan menolongnya. Itu yang ana sendiri keyakinan seperti itu belum bisa saya melakukannya”.

Yang namanya buron itukan selalu diliputi rasa was-was, dan itu memang sudah kodrat manusiawi. Tapi setelah dia jadi buron seakan-akan nggak seperti buronan. Santai saja, naik bis, jalan itu biasa saja. Juga naik sepeda motor, makan di warung, siang maupun malam pokoknya dia nggak seperti buronan lah. Bahkan sempat ditanyakan, “lho kok naik bis?” Maksudnya kalau bisa ya jangan naik bis. Tapi memang keadaannya begitu, ya akhirnya dia naik  bis, dan itu terjadi beberapa kali. Mungkin dari keyakinan dan komitmen untuk menempuh jalan jihad ini tidak menghalangi dia untuk melanjutkannya meskipun posisi dia itu lagi di cari-cari.

Dia sendiri pernah bercerita, ada satu ustadz yang menganggap dia itu ikut-ikutan, ada satu ustadz yang ngomong, “Jabir melu-melu (ikut-ikutan)?”. Nah, ketika berkata seperti itu kayaknya agak nggak terima. Dia ingin membuktikan bahwa dia itu bukan sekedar ikut-ikutan saja. Mungkin itu lah salah satu yang telah dia buktikan hari ini…

Jabir dan akhlaknya….

Beliau adalah seorang yang tidak banyak bicara, namun banyak berbuat dan biasanya yang syahid itu ciri-cirinya seperti itu. Orangnya sangat baik dan tidak  terlalu tergesa-gesa, pengertian dan gampangan, suka menolong temannya. orangnya mau mengalah kepada orang yang lebih tua.

Seperti yang diceritakan oleh sahabat dekatnya, “Dia itu orang yang banyak diam dan itsar, nggak pernah merepotkan orang”.

Juga menurut sepupunya, “Banyak orang yang mengatakan bahwasannya dikampung dan di masyarakat dia itu pendiam, tapi ketika saya dan dia berhadapan dengan kekerasan dia itu juga bisa keras”. Kata dia juga Ya, yang saya pahami dia itu sejak kecil memang lain dengan kakak-kakaknya, lebih pendiam, lebih menurut kepada orang tua”.

Namun jika bekerja dia sangat sungguh-sungguh, “Dia kalau sudah kerja dia kerja betul-betul sampai lelah dan kalau sudah lelah dia tidur lalu bangun kerja lagi” kata teman dekatnya.

Jabir dan ibadahnya….

Jabir mengalami perubahan drastis itu dalam masalah ibadah sehari-hari dibanding dulu ketika dia masih di ma’had. Sebelum beliau mengkonsentrasikan diri dalam medan jihad secara penuh. Terlihat di dalam keseharian beliau, beliau rajin sekali membaca Al Qur’an, shoum daud dan qiyamullail. Kalau sudah malam dia itu adalah orang yang sedikit tidurnya. Beliau itu rajin sekali membaca al qur’an.

Salah seorang sahabatnya berkata, “Ana lihat dengan mata kepala saya sendiri. Beliau itu rajin sekali membaca al qur’an. Dulu waktu dipondok ana lihat dia itu tak serajin itu, trus kemudian qiyamullail dan shoum daud yang ana tahu. Padahal waktu dima’had shoum daud itu nggak pernah, senin kamis aja kadang iya dan kadang tidak. Kayaknya malah nggak pernah”.

“Dialah yang paling dekat dengan Alloh diantara kita, sering kita melihat malamnya ketika kita masih enak-enakan tidur dia sudah bangun, ketika kita sholat sudah selesai dia masih menangis dalam sholatnya”, kata ikhwan yang lainnya.

Jabir dan keilmuannya….

Hampir selama sembilan tahun umurnya dia habiskan untuk menuntut ilmu dan mendakwahkannya. Sebenarnya ilmunya dalam masalah agama biasa-biasa saja, namun jika dia menerangkan itu mudah dipahami oleh pendengarnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah seorang muridnya, “Dia Kalau memandang suatu masalah itu obyektif, kalau memberi penjelasan atau pengertian itu jelas”.

Dikampungnya pun dia terkenal orang yang alim, “Dan kesan dari jama’ah itu malah namanya mas gempur itu orangnya pinter gitu loh!. Dan semua masyarakat bisa menerima apa isi kajiannya, lain dengan yang mereka dengarkan dikampung-kampung itu. Itu kesan dari mereka. Jadi masyarakat itu senang dengan dia” kata salah seorang kerabatnya.

Kemudian ketika dia menyampaikan suatu ilmu dia tidak seperti menggurui ke siapapun, walaupun kepada yang lebih muda maupun kepada yang lebih tua. Tidak seperti menggurui tapi menyampaikan seperti apa adanya, tidak bermaksud untuk dia merasa lebih pinter atau lebih ini, dan lain-lain. Jadi ketika kita bertanya ke dia pun kita merasa enak dengan jawaban yang diberikan. Dan kalau mengisi lagi mengena dan bisa dipahami.

Jabir dan nasehat-nasehatnya….

Nasehat-nasehat ini dia tulis ketika dalam masa pelarian dan menapaki jihad ini. Dia membikin buku-buku tentang masalah jihad dll. Masalah nasehat-nasehat, kemudian masalah nasehat untuk para mujahid, untuk para istri mujahid, trus tarbiyah jihad masalah silah, masalah taktik dan strategi. Ya hanya dibikin buku-buku saku saja.

Inilah beberapa nasehat yang masih diingat oleh murid, teman dekat, ikhwan-ikhwan dan keluarga maupun yang dia tulis di memory nya yang ditujukan kepada semua orang.

” Surga itu tidak dibeli dengan berpangku tangan, dengan enak-enakan saja hanya dengan berdoa. Tidak mungkin kalau tidak dengan tetesan darah, serpihan daging kita. Kalau nggak gitu namanya mati konyol”.

Mengingatkan para muridnya untuk sabar, ikhlas dan menjauhi su’ud dzhon.

“Madu itu tidak selamanya manis dan racun itu tidak selamanya pahit”. Artinya bahwa tidak selamanya yang terlihat bagus itu enak dan racun kan bisa jadi obat asal penggunaannya benar.

Kata salah satu muridnya, “pelajaran yang paling saya ingat adalah “Kalau celana dibawah mata kaki masuk neraka”.

Jabir dan nasyid kesukaannya….

“Nasyid yang sering dia nasyidkan itu yang Sa’adzudu wahiidan. Itu ceritanya waktu itu lagi escape trus melihat cd palestina. Waktu itu posisinya terjepit, dia bilang, “Sudah lah saya ini antar saja ke markas Densus, lalu biar aku sendiri yang menghadapi”, lalu ada salah seorang temannya bilang, “Wah antum seperti yang ada di cd itu pak” lalu dia menyanyikan itu. Diantaranya juga nasyid nabarot, Washaq fir’auna ma’as saharoh, badroh3X dan nahnu fursanul mu’tah atau sairun-sairun.

Jabir dan kerinduannya kepada syahadah….

Sungguh, sejak dia memahami bahwa tidak ada yang mengembalikan kejayaan Islam ini selain jihad kepada Alloh, maka dia selalu berusaha dan berdoa supaya dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang telah menjual diri dan hartanya dijalan Alloh. Dia berusaha mencari kematian dengan sebaik-baik kematian, seperti yang dia tuturkan sendiri di dalam catatannya “Dengan peledakan pengikut kebenaran memberikan contoh pengorbanan yang paling indah, berani mati guna membela agama….”

Juga catatan yang lainnya dia bilang, “Jika tubuh dicipta untuk menjemput kematian, lebih baik terbunuh karena Alloh dengan pedang…”.

Seperti yang dikatakan oleh salah seorang ikhwan kita “Yang saya tahu ketika itu memang dia itu keinginan untuk mencari dunia itu sudah tidak ada. Dan keinginan untuk mencari syahadahnya ketika itu tinggi sekali. Dan beliau juga jujur, terlihat dari raut mukanya. Ya begitulah dia memang memendam tekadnya dalam hati, maksudnya tidak pernah berkoar-koar”.

Kemudian subhanalloh! Alloh begitu cepat memilih dia, kita sangat bahagia bila menyakini bahwa dia itu akhi Jabir, kita telah bersama-sama menelusuri perjalanan jihad ini, dan kita taulah bahwasannya itulah keinginannya yang kuat.

Kejadian hingga dia mati syahid adalah begini, jam tiga pagi polisi sudah mengepung lokasi di daerah di Binangun Rt 10 Rw 05, kelurahan Ringin Anom kec. Kretek kab. Wonosobo. Dan memang ini sasaran sudah diikuti tiga bulan yang lalu, dipastikan mudah-mudahan ada Noordin M Top. Nah pagi sekitar jam enam siang, polisi mulai melakukan penggeledahan, teryata mereka melakukan perlawanan dengan senjata api M 16 akhirnya terjadi tembak-menembak hingga ikhwan-ikhwan kehabisan peluru dan polisi dapat lumpuhkan empat orang. Yang dua dinyatakan tewas, sedangkan dua selamat. Sayangnya Noordin M Top tidak ada di tempat, salah satu yang syahid adalah Jabir.

Ala kulli hal dia itu termasuk dari usudun minal usuud, wa jabalun minal jibaal, taro sholaha fi wajhih, musyairu harbin lau kaana ma’ahum rijaal.

Rahimakallohu ya Jabir…. Rohimakalloh laka….

فها هو جابر                                 لديننا يثأر

يسرح في الجنة                 وهو بها أجدر

Inilah dia Akhi Jabir….

Yang telah berperang untuk agama kita….

Berjalan-jalan sesuka hatinya di jannah….

Dan dia memang pantas untuk itu….”

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Desember 15, 2009, in Ragam. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. redi saiful mujahidin

    selamat jalan adekku.. selamat menemui Rob mu dan bidadari impianmu..maafkan kakakmu yg blm bs menyusul dirimu..insyaAllah kami jga akan menyusulmu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: