Mengenang Asy Syahid Abdul Hadi Ash Sholowiy

Wawancara dengan Akh Rois fakkallohu asroh.

Bismillahirrohmannirrohim…. Yach… jadi ikhwan yang satu ini, akh Bahruddin Sholeh, saya banyak belajar dari dia tentang kezuhudan dan kesabaran dia. Ana lihat dia itu orangnya kezuhudannya cukup tinggi, kesabarannya juga tinggi, disamping itu keilmuannya juga cukup luas. Kemudian, dalam hal membimbing dia cukup bagus sekali, karena ana pernah menempatkan dia di suatu pondok, kemudian di situ dia menjadi murobbi di pondok itu, dan saya melihat semua santri yang ada di pondok itu, Masya Alloh dapat dibentuk sesuai dengan karakter yang dia inginkan. Namun tanpa memaksa dan tidak keluar dari pakem yang telah ditentukan. Adapun dalam hal lainnya, yaitu dalam hal kezuhudan. Disamping itu juga kesholehan dan keberaniannya. Jadi selain dia zuhud, memang keberaniannya cukup tinggi, dan juga ketenangan dalam menghadapi suatu keadaan dan kesabaran. Dia memang orangnya banyak diam dari pada berbicara, dia berbicara pada hal-hal yang dianggap urgen saja. Tapi untuk hal-hal yang lainnya seperti bercanda dia jarang sekali.

Ada kisah, bahwa saya pernah mengalami kejadian dengan ikhwan ini, ketika ana berjalan dengan dia menggunakan kendaraan umum, waktu itu kita sedang membawa beberapa silah dan juga membawa beberapa mutafajirot untuk keperluan kita, tiba-tiba mobil yang kita tumpangi ini masuk ke kantor polisi, kemudian polisi menggeledah mobil yang kita tumpangi ini. Ana disitu sudah mulai sedikit panik dan langsung memegang silah yang memang selalu ada dipinggang ana, tapi ana lihat ikhwan yang satu ini sangat tenang. Dia bilang “Akhi, Insya Alloh, Alloh itu bersama kita, kalau memang waktunya kita tertangkap maka kita akan tertangkap, tapi kita harus melawan, jangan sampai kita tertangkap dalam kondisi dalam keadaan tidak melawan, tapi juga harus tenang, semua persolan kita hadapi”. Itulah contoh tentang keberanian dan ketenangannya yang pernah saya alami bersamanya.

Kemudian tentang kezuhudan, banyak hal-hal yang memang saya saksikan. Tapi memang kalau antum lihat, dan bebarapa orang yang berjalan dengan ana pasti sangat tahu, bagaimana kalau ketika ana melakukan safar atau perjalanan ke mana begitu yah, yang ana utamakan adalah makanan, pokoknya ana senang yang namanya makanan-makanan yang enak. Tetapi ketika jalan dengan ikhwan ini, dia bilang,”Akhi makan enak bukan berarti tidak boleh, tetapi antum lihat masih banyak kepentingan lain dalam jihad ini yang bisa antum lakukan, seandainya uang yang antum gunakan untuk makan itu antum sisihkan untuk keperluan lain”. Itu salah satu sifat kezuhudan dia yang saya lihat. “Bukan ana tidak mau makan enak ya Akhi, tetapi jihad hari ini lebih membutuhkan dana daripada makanan” kata dia menambahkan. Disitulah ana banyak belajar dari dia.

Kemudian juga ketika pernah berada di suatu pondok , ketika kita makan bersama-sama, dan anapun ada uang lebih, ana beli lauk-lauk tambahan untuk kita makan. Tapi ketika kita akan mulai makan, dia bilang, “Akhi, apa semua santri yang ada disini makan makanan ini?”, ana bilang, “Tidak, karena ana beli ini khusus untuk kita.” Dia bilang, “Akhi, kita berdosa, kalau kita makan ini, sementara disini banyak orang maka kita berdosa”. Akhirnya kita tidak jadi makan lauk tersebut, kemudian dia panggil seluruh santri yang ada disitu, dan makanan yang mau kita makan itu dia berikan kepada santri semuanya.

Itulah beberapa hal yang ana bisa sampaikan, karena ana dengan ikhwan ini tidak sempat lama jalan dan tidak sempat lama bersama-sama, tapi walaupun sebentar ana banyak melihat hal-hal yang bagus dari dia, juga ana banyak belajar dari dia, terutama kelilmuan dia yang memang cukup luas, bisa menerangkan secara detail, dia juga bisa membimbing dengan bagus kepada setiap orang yang membutuhkan bimbingan, dan dia orang yang sangat tsiqqoh (teguh) dalam memegang komitmen yang memang sudah dia pegang. Itu diantaranya wallohu a’lam bish showab.

Nasehat dia yang saya ingat sampai hari ini, “Jadi jalan jihad masih panjang, jadi jangan sampai umur antum digunakan untuk bersenang-senang  dan kesenangan tersebut hanya sesaat. Lebih baik antum bersusah-susah dalam berjihad, carilah kesenangan akherat jangan antum cari kesenangan dunia”. Itu yang selalu dia nasehatkan kepada ana.

Berkenaan dengan berita kesyahidannya, yah umum seperti kita mendengar ikhwan-ikhwan yang syahid lainnya. yang pertama kita rasakan adalah kita iri karena dia syahid terlebih dahulu. Kedua; senang karena dia sudah memperoleh apa yang dia cita-citakan. Ketiga; tentunya ada juga rasa kehilangan, sebagai seorang manusia. Tapi pada dasarnya ana merasa sangat senang mendengar berita bahwa dia syahid. Karena memang cita-citanya seperti itu dan juga dia punya azam yang kuat untuk itu. Dia pernah bilang, “Ana mencari syahid ini, udah pernah datang ke timur (Ambon), sekian lama disana, namun di sana kayaknya susah untuk mencari syahid”. Seperti itu.

Sedangkan yang lainnya ana hanya mendengar dari ikhwan-ikhwan yang lain. Seperti ketika ana mendengar antum dan ikhwan-ikhwan yang lain tertangkap, kemudian ana ngebel ke pondok tersebut supaya dia keluar dari pondok itu. Karena ana khawatir terhadap rembetannya, tetapi jawaban dia sangat tenang sekali, dia bilang, “Kalau memang waktunya tertangkap sudahlah, tetapi ana kepingin tahu secara jelas dulu apa yang sedang terjadi”. Jadi ketika ana ngebel itu dia tidak langsung keluar dari pondok itu. Dia mengamati dulu situasi di pondok itu. Setelah dia yakin bahwa thoghut-thoghut itu mengetahui tempat itu baru dia keluar dari situ. Tapi dia tidak menunjukkan ekspresi yang tergesa-gesa ataupun yang lainnya. pokoknya salutlah, tetap dia tenang dan tabah. Dan ana lihat memang sifat tawakkal ikhwan yang satu ini sangat besar.

Kalau dari segi ibadah, masya Alloh, ikhwan ini ibadahnya sangat jauh dibandingkan dengan ana. Sholat malam belum pernah ketinggalan, qiroatul qur’an setiap hari, kemudian juga amala-amalan yang lainnya seperti dzikir, sepanjang hari ana lihat dia berdzikir. Juga dia terutama senang menasehati orang. Senang membenarkan (memperbaiki orang). Dan jarang sekali ana lihat mereka mengghibah, sebagaimana yang ana lihat.

Mungkin hanya itu saja tidak bisa panjang lebar, ana lihat ketika ada suatu pertanyaan seputar suatu masalah kepada dia, dia dapat menerangkannya secara detail dan panjang lebar, kemudian menyebutkan haditsnya, qoul-qoul (perkataan-perkataan) para salafush sholeh dan ulama’-ulama’ lainnya dia sangat memahami tentang hal itu. Sehingga kitapun dapat mengambil keterangan secara detail dan lengkap dari dia. Tidak hanya kita tahu secara mendasarnya tapi memang tahu secara mendalam. Tidak pernah menerangkan secara sepotong-sepotong, tetapi menerangkannya secara tuntas. Dan dia memberikan contoh-contoh dan ilustrasi-ilustrasi yang sudah pernah ada dan dilakukan oleh salafush sholeh terdahulu.

Wawancara dengan Akh Umar fakkallohu asroh (sekarang sudah bebas).

Alhamdulillah, jadi akhi Abdul Hadi ini, yang saya sangat terkesan adalah kekuatan tekad dan kebaikan akhlaknya. Kalau ibadah sehari-hari biasa-biasa saja, wallohu a’lam bagaimana setelah saya berpisah dengannya, tapi ketika berkumpul dengan ana ibadahnya biasa-biasa saja, tidak terlalu menonjol, tapi yang kelihatan menonjol adalah dua hal kebaikan akhlak dan tekad yang kuat.

Kemudian inilah nasyid yang beliau sukai. Ini beberapa cuplikannya, dan saya pilir ikhwan-ikhwan juga tahu nanti. Ada filenya dan silahkan dibuka sendiri.

Bismillahirrohmanirrohim;

خذت الحياة ماتاعا

ورحلة وسراعا

واخترت دربي بنفسي

وسرت فيه سراعا

وسرت نارا ونورا

وعنوة وعميرا

حتى قضيت شهيدا

مراحبا بالمنون

النور ملئ عيون

والحور ملك يميني

وكالملاك نغني

بجنة وعيون

Dan yang sering diulang-ulang oleh Abdul Hadi yaitu pada bait;

في جنة الله أحي

بألف الدنيا والدنيا

وما تمنيت شيئا

الاّ اتينا سعيا

فلا تقول خسرنا

من غاب بالأمس عنا

إن كان في الخلد خسر

فخير أن تخسروني

النور ملئ عيون

والحور ملك يميني

وكالملاك نغني

بجنة وعيون

Kemudian ada juga nasyid yang dulu dia sering menyuruh ana untuk mencarikannya, dia bilang, “Tolong carikan nasyid itu, carikan nasyid itu”. Kemudian alhamdulillah ana mendapatkan teks nasyid itu, lalu saya catatkan nasyid itu. Tapi teks nasyid itu sekarang hilang, wallohu a’lam.

Terjemahan dari nasyid itu;

Aku mengambil hidup ini hanya sekedar saja….

Dan sekedar perjalanan dan berpergian….

Lalu bait kedua ini yang paling berkesan bagi dia;

Aku memilih jalanku sendiri….

Dan aku bergegas melangkah diatasnya….

Lalu selanjutnya saya tidak hafal terjemahannya.

Kelak di jannah, di kanan kiri kita ada bidadari….

Yang bermata jeli dan mendampingi kita di sana….

Lalu selanjutnya….

Di jannah Alloh aku hidup….

Bait ini menggambarkan cita-cita dia yang tinggi bahwa dia ingin mati syahid.

Dengan beribu-ribu kali kenikmatan di dunia….

Dan tidaklah aku menginginkan sesuatu….

Kecuali dia akan datang dengan  cepat….

Jangan kamu mengatakan kami telah rugi….

Gara-gara ada yang pergi dari kami pada hari        kemarin….

Jika di dalam kenikmatan yang kekal itu kalian anggap         kerugian….

Maka lebih baik anggap saja kami ini orang-orang yang        merugi….

Kemudian saya beberapa kali juga, kalau lagi bernasyid bersama Akh Jabir sambil membawakan kata-katanya Syaikh Abdulloh Azzam yang juga teriringi pada nasyid ini ada di dalam DVD yang menceritakan Afghonistan yaitu Usy-syaaqul Huur dan Usy-syaaqusy Syahadah, yaitu;

يا راغب الجنان, ويا طالب الحور الحسان, لا بد من المهر الغالي,فحيا على جنات عدن فإنها منازلك الأولى وفيها المخيم, ولكننا سبي العدو فهل ترى, نعود إلى أوطاننا ويسلم, فيا دافعا هذا بدفع مؤجل, كأنك لاتدري ولا أن تتعلم فإن كنت لا تدري فتلك مصيبة وإن كنت تدري فالمصيبة أعظم.

Itulah kata-kata Syaikh Abdulloh Azzam yang artinya kurang lebih;

“Wahai para pencari jannah dan pencari bidadari jannah, mahar yang harus ditebus bukanlah murah, (Jabir ketika mendengar kata-kata itu dia tersenyum),maka marilah menuju jannah And, karena sesungguhnya jannah And itu tempat tinggal kita pertama yang disana terdapat kemah-kemah, akan tetapi kita ini di tawan oleh musuh, maka apakah menurut kalian kita akan kembali lagi ke tempat kita semula dan selamat. Aduhai sungguh kasihan kalian yang mengganti semua ini dengan harga yang disegerakan. Seolah-olah kamu tidak tahu bahwa jannahlah tempat tinggal yang pertama, jika memang kalian tidak mengerti maka itu adalah musibah, namun jika kamu mengerti bahwa jannah itu tempat tinggal kamu yang pertama maka dan tidak berusaha ke sana maka musibahnya lebih besar”. Wallohu a’lam.

Wawancara kedua dengan Akh Umar.

Akhi Abdul Hadi, benar-benar sosok yang sungguh saya sangat kehilangan dengan kepergian dia. Saya mengenal Akhi Abdul Hadi sejak saya masih kecil, saya teringat sekali ketika itu saya diketawakan oleh dia, ketika masih di Darusy Syahadah, saya main perang-perangan dengan membikin tembak-tembakan dari kayu, karena mungkin sangat inginnya dapat berjihad, yah, waktu itu mungkin hanya karena semangat saja karena masih kecil. Lalu saya diketawain sama Akhi Abdul Hadi, ketika dia lihat tembak-tembakan saya. Hal ini pernah saya ungkapkan kepada beliau, melalui email, wallohu a’lam dibaca sama dia atau nggak sama dia.

Saya tidak menyangka ketika menjelang akhir hayat dia Alloh takdirkan saya bertemu lagi dengan dia dan Alloh beri kemulian kepada saya untuk menemani perjalanan dia. Kami berdua ditugaskan dima’had Miftahul Huda. Di daerah Cikampek, untuk memahamkan pemahaman tentang jihad kepada santri-santri di sana. Sungguh beliau banyak sekali memberikan bimbingan-bimbingan, masukan-masukan serta tasyji’ (motivasi) manakala ana merasa futhur atau merasa putus asa dan lain sebagainya. Saya melihat kematangan dan kesabaran beliau. Sebaliknya beliaupun merasa senang sekali di dampingi oleh saya. Kita sering ngobrol bersama dengan menggunakan bahasa arab fushah, karena beliau dulu juga pernah di LIPIA, dan beliau senang sekali jika ana ngobrol dengan menggunakan bahasa tersebut. Hingga kemudian Alloh takdirkan ikhwan-ikhwan yang di solo tertangkap.

Akhirnya ketika kita hingga larut malam telah menyusun kurikulum dan sebagainya, akhirnya kita pergi malam itu juga. Ditengah perjalanan itu terasa betul nikmat yang Alloh berikan, kemudian saya sedikit membisikkan kepada beliau ketika malam-malam kita naik angkot itu, “Pak, ingat firman Alloh nggak?

Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir”. Lalu dia bilang, “InsyaAlloh Akhi, mauthi’ kita ini Yaghidhol kuffar (membuat marah orang-orang kafir). Lalu saya merasa merinding mendengarnya. Masya Alloh. Akhirnya kita pergi ke Jakarta. Semalam menginap di Masjid dan banyak nyamuknya, karena waktu itu rumah-rumah sudah tutup termasuk rumah mertua saya. Kemudian paginya kami cabut ke rumah Salik Firdaus. Di sana saya perkenalkan beliau dengan Salik, dan beliau akrab dengan Salik. Kemudian kami bertiga mengangkat beliau Akhi Abdul Hadi sebagai qoidnya (ketuanya). Mungkin terlalu panjang jika saya ceritakan semuanya dan sangat banyaklah. Yang intinya beliau ini sosok yang memiliki tekad yang kuat, kesabaran dan akhlak yang begitu tinggi. Nahsabuhu wallohu hasiibuh, wa laa nuzakki alallohi ahada. Semoga Alloh menerima beliau di barisan para syuhada’ dan semoga Alloh tidak menimpakan fitnah kepada kita-kita yang ditinggal ini dengan fitnah yang dapat mencelakakan agama dan dunia kita. Dan semoga Alloh mempertemukan kita di negeri keabadian kelak. Inda malikim muqtadir.

Kemudian diantara nasyid yang beliau sukai adalah berikut ini; nasyid ini sebenarnya dilantunkan untuk sosok syaikh Abdulloh Azzam tentang bagaimana kepribadian beliau. Kemudian beliau juga sering berdoa;

اللهم ارزقني موتا في سبيلك

“Ya Alloh, berilah aku rezeki kematian di jalan Mu”.

Fa rohimakalloh ya Abdul Hadi rohmatan wasi’ah, (semoga Alloh merahmati engkau dengan rohmat seluas-luasnya wahai Abdul Hadi). Wallohu a’lam.

Saya pernah dimarahi karena saya telpon rumah maghrib-maghrib, ketika saya berada di suatu tempat, trus ada teman yang lapor. Akhirnya saya dimarahi habis-habisan. Dia bilang, “Ente ngebel ya! Potensi antum itu besar”. Saya bilang, “oh ya afwan pak!”. Tapi ala kulli hal beliau marahnya hanya seperti itulah. Beliau adalah sosok yang sangat penyayang. Dan yang sering sekali beliau tekankan itu adalah tentang bagaimana menjaga akhlak. Akhlak yang harus dijaga. Maka antum bisa perhatikan bagaimana murid-murid dia di salah satu pesantren di Jawa Timur, itu tercermin bagaimana mereka itu memiliki nilai-nilai akhlaknya tertanam begitu kuat dalam diri mereka, karena pondok itu salah satu hasil binaan dia. Wallohu a’lam.

Pernah waktu itu beliu bilang dan saya sedang mengeprint lalu kena setrum lalu saya kaget, lalu saya bilang “Pak gimana ya rasanya kesetrum begini yach, katanya ikhwan-ikhwan yang ditangkap itu disetrumin”. Trus dia ketawa aja sambil nggoreng-goreng di dapur. Trus saya bilang, “Ya Alloh katanya ikhwan-ikhwan yang diinterogasi juga disiram dengan air ini pak”. Trus sampai malam saya ngobrol sama dia lama sekali. Intinya beliau menasehati bahwasannya Syaikh Abdulloh Azzam itu pernah menasehati para mujahidin bagaimana kalian tidak mau ikhlas dengan penderitaan yang paling banter hanya 60 tahun, kemudian setelah itu Alloh gantikan dengan kenikmatan yang tiada tara di jannah nanti. Diantaranya ada hadits tentang orang yang paling berbahagia di dunia itu nanti di celupkan ke neraka, kemudian ditanya lalu dia menjawab, “Saya tidak pernah merasakan kenikmatan sama sekali, begitu juga sebaliknya”. Itu salah satu yang beliau nasehatkan dan paling berkesan bagi diri saya hingga hari ini. Insya Alloh begitu. Wallohu a’lam.

Wawancara ke tiga dengan Umar

Ilmunya dia punya buku catatan tentang isi ringkasan hukmul intihar khoufan min ifsyaa’il asror, buku itu dipegang oleh saya kayaknya ada dirumah. Beliau menyimpulkan dari buku dan tulisan Syaikh Abdul Aziz Al Jarbu’. Juga ada beberapa ringkasan tentang kebolehan amaliyat istisyhadiyyah (aksi bom syahid) dan beberapa alasan-alasannhya. Saya tidak ingat namun itu hanya sekedar ringkasan-ringkasannya aja.

Selama itu jika ada kesempatan-kesempatan diskusi atau ta’lim-ta’lim beliau selalu menyuruh saya untuk maju. Mesti selalunya begitu, beliau lebih banyak memberikan pengarahan dibelakang. “antum sebaiknya begini akhi, dan sebaiknya begini”, begitu yang dia katakan. Sedangkan untuk memberikan ceramah atau apa beliau jarang atau mungkin tidak pernah kayaknya. Beliau selalu menyuruh saya, contohnya ketika dulu menyampaikan tentang Al Umdah di tempatnya Salik, kemudian menyampaikan Kasyful Litsaam ‘an dzirwati sanamil islam, itu juga sempat kita kaji di sana. Kemudian Ma’alim Asasiyah, juga kita kaji di suatu tempat. Wallohu a’alm.

Hubungan beliau dengan ikhwan-ikhwan sangat baik dan semuanya mengakui begitu Insya Alloh, tentang kebaikan akhlak beliau. Beliau selalu diterima dimana saja insya Alloh, kecuali ada satu ma’had yang keberatan diampiri oleh beliau karena diaggap memprovokasi dan membahayakan dan akhirnya saya juga terkena getahnya, saya kesitu jadi nggak enak, walaupun setelah saya melobi mudirnya dan saya bilang, “Ustadz, saya pengin main ke pondok antum gimana?”, dia jawab, “Oo, silahkan, nggak apa-apa” katanya.  Itu hal yang biasa lah, saya pikir hanya perbedaan pendapat. Wallohu a’lam.

Dia pernah mengatakan kepada kita dan itu sebenarnya suatu hal yang sudah kita ketahui bersama bahwa sekarang itu sudah ada istinfarul ‘am, dimana an nafiir itu keluarnya dari ulil amri, yang ulil amri itu sekarang adalah para ulama’. Dan terutama lagi ulama’ ahlu tsughur (yang berperang). Dan seruan itu sudah datang dari mereka, terutama itu yang paling utama kata beliau, (ketika itu beliau sampaikan kepada saya dan salah seorang ikhwan) adalah kita ini sekarang memang harus memfokuskan untuk jihadul amrikan wa khulafaa’aha (memerangi Amerika dan para sekutunya). Karena seruannya kan memang untuk itu.

Kemudian beliau juga pernah menyinggung tentang pentingnya syaukah (kekuatan), pentingnya mentautkan hati antara ikhwan-ikhwan kaum muslimin, karena sangat dibutuhkan sekali. Tapi di saat yang sama beliau juga memiliki tekad yang tinggi, sampai-sampai ketika saya pernah komplain kepada beliau tentang masalah ustadz Abu Fida’ saya dimarahi. Dia bilang, “Walaupun ustadz kita ini mundur tidak mau berjihad, saya akan tetap berjihad sendirian, walaupun saya hanya sendirian”.

Menyikapi syubhat-syubhat tentang jihad itu kita kaji di buku Kasyful Litsaam, kita hanya bertiga waktu itu saya dia dan bersama Salik, kita baca bersama. Dia memiliki prinsip seperti yang sudah saya sampaikan, diantara sifat thoifah mujahidah yang Alloh datangkan untuk menggantikan kaum muslimin yang murtad itu adalah bersikap kasih sayang terhadap orang-orang mukmin dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir, maka dia luas bergaul dengan jama’ah tabligh dan yang lainnya. tapi satu yang dia tidak bisa memberikan toleran, yaitu satu saja, ikhwan-ikhwan yang berada di kelompok Salafi. Karena permusuhannya begitu terlalu luar biasa terhadap mujahidin. Bencinya amit-amit katanya. Untuk yang lain dia luwes. Wallohu a’lam.

Wasiat terakhir dia sempat mengirim pesan kepada saya untuk jangan futhur, jangan nggak istiqomah, trus beliau membawakan pesan firman Alloh SWT:

“Jika kamu bersabar dan bertaqwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu” (Ali Imron : 120). Kemudian juga firman Alloh SWT:

“Dan tatkala orang-orang mu’min melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:”Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”.Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan” (QS. Al Ahzab: 22). Wallohu a’lam.

Wawancara dengan Alien.(sekarang sudah bebas)

Saya itu kenal ketika masih sekolah, karena dia adik kelas saya pas. Biasanya yang nakal itu terkenal, itu sudah menjadi rahasia umum. Kalau yang biasa-biasa ya biasa-biasa aja, nah dia itu termasuk yang biasa-biasa aja.

Orangnya pendiam dan tidak begitu menonjol, hanya setahu saya dia itu (waktu dekat dengan dia di Ambon dulu), waktu itu saya bilang, “Wah ini adik kelas saya itu”. Waktu itu sama-sama mengungsi di Waihong. Yang saya tahu dan saya dengar dia itu sangat digemari sekali oleh anak-anak, trus saya masuk disana menggantikan posisi dia, semuanya mengaku kenal. Baik anak kecil maupun orang tua, pokoknya semuanya mengidolakan dia. Walaupun sebenarnya kita mengisi itu gentian dengan yang lainnya, namun saya belum pernah mendengar nama sebelum dia, yang selalu ditanyakan oleh mereka itu dia terus. Ana sendiri tidak pernah ditanyain. Namun saya tidak lama ketemu dengan dia, jadi saya datang beberapa bulan, dia pulang karena aplusan. Akhirnya ketemu lagi waktu di sini, kemarin sebelum kita tertangkap.

Yang menarik dari dia adalah orangnya humoris, tidak seperti yang saya kenal di sana, karena waktu di Ambon itu dia serius sedangkan waktu di sini dia humoris. Di sini pun saya hanya sebentar juga ketemu sama dia. Di sana itu nggak lama saya ketemu ama dia, dan tidak selalunya ketemu.

Yang terkesan dari dia itu orangnya istiqomah, kemudian taat, saya bisa mengambil kesimpulan seperti itu karena saya sendiri orangnya bukan tipe yang taat. Tepat waktu, itu yang saya senang, jadi pertama kali senang dengan dia itu adalah tepat waktu. Jika janjian itu dia pasti tepat waktu. Dan saya kalah datang duluan soalnya kalau saya salah duluan itu pasti saya cemburu.

Mas Imam

Orangnya tidak banyak omong, tapi menyenangkan. Orangnya itu nggak suka kalau ada orang lain kesusahan, walaupun orang itu baru dia kenal atau tidak dia ketahui, jadi pernah dia itu membawakan ransel yang isinya lebih dari 25 kilo, dan jalan kaki itu sampai 15 kilo lebih. Perjalanan kaki dari jam dua sampai Maghrib. Sedangkan waktu pulangnya dari jam 08. 00 sampai Ashar. Orangnya rajin dan sering membantu. Terakhir kali ketika di tempat saya itu ada pembangunan masjid yang memerlukan semen waktu itu, dia langsung nelpon Tanya harga semen di toko besi, lalu mendatangkannya begitu aja, jadi yang membayar siapa nggak tahu. Itu saya ketahui karena waktu saya diinterogasi itu ditanya tentang pembangunan di tempatku, katanya untuk membayar apa gitu, karena telpon dia itu disadap sama polisi.

Orangnya tidak suka memberatkan orang lain, meskipun dirinya sendiri merasa berat. Ada juga kalau orang lain itu melihatnya seperti pengangguran, sebetulnya nggak pengangguran, dia ada bisnis macam-macam dan sampai sekarang itu masih ada. Dan akhir-akhir dengan teman saya itu juga masih jual baju bersama ustadzku yang jual sandal.

Ya pokoknya orangnya baik lah, dan pantas lah kalau dia mendapatkan seperti itu. Dia pernah bilang ke saya, “Mam, saya tu kagum sama antum mam” trus saya Tanya, “Lah kenapa?”. Dia bilang, “Antum punya karyawan yang bisa puasa daud”.  Dan dia kalau dirumahku itu selalu bangun malam sekitar jam 2 atau jam 3 itu pasti dia bangun. Kalau sholat lail itu tiap hari, namun puasanya mengambil senin kamis. Dia sama saya sekitar lima bulan.

Kata-kata terakhir adalah ketika saya turun dari pesawat Hercules dan pisah di Jakarta, dia bilang, Saya senang melakukan perjalanan dengan antum mam”.

Mas Fath

Ya saya ada kesan yang begitu mendalam ketika ada persahabatan dengan dia. Yach dalam tindak tanduk dan perilaku, dia itu orang tua tapi berpikiran muda. Dia menempatkan saya sesuai dengan posisinya, jadi walaupun saya tua dan bersemangat muda, jadi saya tetap dianggap orang tua gitu loh. Mendorong saya untuk berfikir lebih tua.

Dia banyak memberikan dorongan di dalam menapaki jalan jihad fi sabilillah ini. Bahwa apa yang telah kita lakukan ini betul dijalan Alloh. Jadi ini adalah komunitas baru bagi saya. Dorongan itulah yang saya sampai sekarang itu masih merasakannya. Yaitu kenikmatan iman, masya Alloh begitu nikmatnya merasakan kenikmatan iman, mungkin tak perlu saya ceritakan tapi sekarang ini saya baru merasakan nikmatnya iman itu.

Dia menunjukkan sikap langsung dan tingkah laku. Untuk berkamuflase dia dengan orang-orang itu biasa saja. Sedangkan akhlaknya dia itu betul-betul menjaga seperti dia berhubungan dengan wanita itu sangat menjaga sekali. Kemudian adab dengan mertua, karena dia kan sudah nikah dan kebetulan saya menjadi penghubungnya antara dia dengan mertuanya.

Terakhir ketika saya mencari kontrakan itu ya katanya keluarga saya mau saya taruh disini, padahal itu amaliyat. Saya nggak tahu kalau itu amaliyat, jadi subhanalloh, dia betul-betul bisa menjaga securitynya dengan sedimikian kuat. Terus yang lainnya lebih cenderung kepada perilaku, kalau nasehat dan yang lainnya dia kayaknya nggak pernah gitu. Tutur katanya ya pokoknya sangat menghormati saya gitu lah. Karena kan yang berbicara disini adalah hati dan perasaan ya, jadi di dalam dirinya ada sesuatu yang luhur begitu.

Ketika mendengar berita kesyahidannya yach kenapa dia mendahului saya begitu, padahal saya belum bisa mendapatkan ilmunya yang saya minta, yang kedua sebenarnya dia tidak meninggalkan saya, saya merasa dia masih ada di sini, mungkin itu yang dinamakan dengan bahwa setiap mujahid itu ketika dia syahid berada di mulut burung dan dia diberi rezeki, berarti dia itu masih hidup gitu. Perasaan hilang itu tidak ada malah kedekatannya itu masih ada.

Mas Yasin

Dia tidak bersama saya, jadi waktu dia di Ambon itu kalau tidak salah tahun 2002, saya dengar waktu dia ada kontak dengan laskar jihad (LJ). Kata beliau dia itu menasehati, jadi waktu dia melakukan kajian trus dia memberikan nasehat, lha dalam masalah ini kan biasa antara kita dengan mereka kan ada beda pendapat. Mereka itu kenceng (keras suaranya), lha mereka itu menganggap bahwa makna jihad itu kan kadang berbeda pendapat dengan kita, la masing-masing itu mengutarakan pendapatnya, ee malah mereka tambah keras suaranya, tidak mau menerima. Ya dalam masalah qital (perang) begitu. Kalau dia bilang waktu itu katanya ada apa gitu, saya kurang tahu persis, jadi bingung untuk menjelaskannya. Kemudian tiba-tiba dia langsung digebuki, pada awalnya dia melawan, cuman posisi mereka banyak akhirnya dia kabur, akhirnya dia balik ke tempat kita, akhirnya kita sempat hampir kontak dengan mereka tapi nggak jadi. Ya kita menyadari lah, karena waktu itu posisi kita kurang inilah, jadi waktu itu saya tidak tahu persis.

Ya selama dia kenal dengan saya itu dia orangnya baik lah. Kalau pengalaman saya dengan dia yang paling asyik itu ya dagangan, (he he he). Kita waktu itu dagangan barang bekas, ya dalam rangka untuk menuju ke sana, kita ada pengalaman asyik itu sampai keliling kemudian nggak laku-laku sampai modal habis, tapi subhanalloh ada ikhwan yang mau membantu kita Alhamdulillah. Akhirnya kita bisa ada pemasukan, alhamdulillah setidaknya kita bisa melanjutkan hal itu. Ya diantaranya bisa cari rumah, cari kontrakan dll. Yang akhirnya kita bisa bertemu bareng-bareng dengan yang muda dan akhirnya kita juga bisa berkumpul dengan Akh Abdul Aziz juga yang sekarang berada di Bali. Itu awal mula-mulanya. Waktu sudah balik ke Pekalongannya.

Kalau nasehat beliau itu, dia itu selalu menasehati untuk selalu maju terus. Jangan sampai melemah semangat gara-gara mungkin kita di kampung, sudah enak dengan keluarga, istri, anak dan yang lain-lainnya. itu kan hanya sebuah ujian saja, yang mana di dunia ini tidak kekal, begitu kata beliau. Ayolah kita maju bareng-bareng, bersama-sama dalam rangka iqomatud din. Trus saya jawab, “Insya Alloh”. Selama ini kan dia juga saya anggap tua gitu loh. Memang dia itu sesame ikhwan-ikhwan itu baik. Rasa itsar (mengutamakan orang lain) itu besar. Dalam masalah keluarga apalagi. Jadi kalau dia itu tahu ada keluarga yang kurang itu dia mementingkan yang seperti itu dari pada dirinya sendiri. Kalau dengan keluarganya saya kurang tahu. Dia itu tidak pernah menyinggung tentang keluarga. Dia cenderung tidak menceritakan begitu. Kalau masalah nikah dia saya tidak tahu yang tahu malah mas Imam dan Pak Fath itu karena  mereka yang nganterin. Yang menunjukkan ada yang mencari dan ditemukan dengan itu ya mereka. Sebenarnya itu waktu di rumah saya sudah saya tawari orang Pekalongan, dia menjawab nggak mau terus, eh giliran ada orang yang mencari dan dia ditawari dia sanggup begitu. Setelah ditanya maharnya apa, katanya saya dengarnya rotan gitu. Trus saya Tanya “untuk apa?”, dia jawab “kalau saya salah atau apa saya dipukul”. Jadi seperti itu. Subhanalloh akhirnya jadilah pernikahan itu. Tapi kita juga nggak tahu sama sekali karena kita juga nggak diundang. Nah saya dengar-dengar waktu dia sama kita dibilang, “dia itu sudah nikah lo”. Saya Tanya “nikah sama siapa?”. “Sama anaknya si ini gitu”. “Ooo”.

Sifatnya yang menonjol selama gaul dengan saya dia itu orangnya keras, mungkin dulu dia bersama orang yang gaul, pokoknya saya kurang tahu persis, Cuma dia itu memang keras gitu loh, apalagi dalam masalah din (agama). Tapi dia itu juga kasih sayang, biasanya dia itu terhadap anak-anak. Yang saya lihat itu kasih sayang kepada anak-anak, paling sering saya lihat itu dia senang sama anak-anak kecil. Kalau ada anak-anak kecil malah dia senang dipanggil ke rumah, kalau saya kan malah gemetar ya, waduh gimana nich, anak seperti ini kalau lihat gimana nanti. Ee malah dia itu enak aja, santai gitu. Tapi nggak apa-apa insya Alloh.

Kalau dalam masalah thoghut, orang-orang yang mendukung thoghut itu mereka memang sangat keras terhadapnya. Memang mereka tunjukkan kepada thoghut-thoghut itu. Pernah kejadian ketika di suatu tempat itu ada yang sedang berjaga di Pos itu, langsung dia sikat ya, kemudian dia ambil “pisangnya”, nah sudah dari situ kita sudah nampak bahwasannya dia itu seperti itu. Kalau bahasa jawa itu “Kocolan”. Tau nggak kocolan?. Maksudnya itu gesit gitu. Yang saya ketahui, karena saya juga kurang lama bergaul dengan dia. Cuma kalau dengar sih dari dulu, Cuma sering dengar kalau ketemunya ya kemarin itu waktu perpisahan di Wonosobo.

Ya kita dulu selama bersama dia itu selalu …………., sehingga pada suatu saat kita pernah di suatu tempat gitu, pernah terjadi penggerebekan itu dua kali. Cuma Alhamdulillah tidak sampai digrebek di Pekalongan. Jadi posisi dia waktu itu diluar kota itu. Jadi waktu itu saya bersama orang, yang ngarang buku itu loh, menebar jihad menuai teror, sama yang muda itu. Waktu itu ada kabar dari beliau almarhum ini, mengatakan kita harus pergi dari tempat ini, ya udah kita keluar ternyata posisi mereka sudah siap gitu loh. Kita tunggu di dalam kita sudah siap, kita mau melakukan perlawanan, eh ternyata dia malah balik. Tidak jadi, padahal itu dari subuh itu, dari jam tiga malam sampai jam dua belas siang itu kita standby terus. Nah pada saat itulah akhirnya gimana ya, saya ini keluar duluan untuk menghubungi saudara Abdul Aziz sampai dia datang, tapi Alhamdulillah wong posisinya saat itu aman, keluar dan saya ajak pergi semua dari rumah itu. Lalu kita dengar dari beliau almarhum ini mengatakan “Sudahlah kita balik saja insya Alloh aman”. Kita masih khawatir sebetulnya pada saat itu, trus kita kan waktu itu kita masih di hutannya, akhirnya kita balik lagi ke rumah itu, pada saat itu alhamdulillah memang keadaan sudah aman, tapi kayaknya ketika itu tetangga-tetangga sudah mulai curiga.

Sedangkan penggrebekan kedua itu kita sudah pergi duluan, waktu itu saya sudah tidak bisa balik lagi, ada kerjaan lain, tapi karena akh Abdul Hadi ini membutuhkan saya akhirnya saya ikut juga. Ketika sudah empat mingguan saya keluar dari situ, karena ada urusan yang lain, jadi kita berpisah disitu, ehh tiba-tiba tapi alhamdulillah semuanya itu tidak ada yang dapat, kita sudah kena dibawa kesini, akh Abdul Aziz sudah kena duluan, dan juga dibawa kesini. Dia keluar di Wonosobo, kita sempat melihatnya di tv di sini, lho, apa benar mereka. Tak taunya langsung thoghut-thoghut itu pada ke sini, dari Bali, dari sini juga datang langsung mau narik kita juga, kita lawan di sini sari jam lima sampai jam delapan malam, kita sempat kontak di sini, dar dor dar dor, tapi alhamdulillah mereka tidak bisa membawa kita, dan kita tidak bisa dimintai keterangan oleh mereka. Lagian kalau dimintai keterangan oleh mereka ya sudah jelas dianya sudah tidak ada. Maksudnya dia itu ingin mengorek keterangan si Syahid ini. Abdul Hadi itu apa seperti yang kamu kenal sekarang atau bukan gitu, si thoghut-thoghut itu. Tapi saya bendung, ya itulah kita melawan sampai beberapa jam kita kontak di sini. Akhirnya dia nggak bisa menghubungi saya, akhirnya dia lepas. Sampai beberapa kali kita mau disidangkan sebagai saksi Abdul Aziz kita mau diambil paksa di sini, kita memaksakan diri tinggal di sini untuk tinggal di sini tidak mau tanda tangan, akhirnya lepas juga, kita tidak menyaksikan akh Abdul Aziz. Cuma waktu pertama memang kita sudah di BAP kesaksian untuk dia.

Ya untuk akh Abdul Hadi memang Cuma itu ya, saya tidak begitu tau, beliau itu cenderung tidak menceritakan tentang beliau sendiri. Hanya saya itu melihat dari perilaku beliau, dia itu orangnya baik, mengutamakan saudaranya. Kemudian untuk masalah kebutuhan keluarga itu mereka memperhatikan.

The End

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Desember 15, 2009, in Ragam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: