IGHTIYAL FIL ISLAM ( Pembunuhan Rahasia )

Bolehnya Ightiyal (Membunuh Diam-Diam) Terhadap Orang Kafir Harbi (Yang Memerangi Kaum Muslimin)

Dikutip dari Buku :Panduan Fiqh Jihad fii sabiilillah oleh SYAIKH ‘ABDUL-QOODIR BIN ‘ABDUL ‘AZIZ

Orang kafir harbi adalah yang tidak terkait perjanjian damai. Masalah ightiyal
ini terdapat dalam sunnah Nabi SAW, berlaku bagi orang yang gangguannya
terhadap Alloh dan Rosul-Nya SAW sangat hebat, ini juga diisyaratkan dalam
firman Alloh SWT:
فَاقْتُلُوا الْمُشْرِآِينَ حَيْثُ وَجَدْتُمُوهُمْ وَخُذُوهُمْ وَاحْصُرُوهُمْ وَاقْعُدُوا لَهُمْ آُلَّ مَرْصَدٍ
Artinya: “…maka bunuhlah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka, dan
tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian…”
Al-Qurthubi berkata: “…dan intailah mereka di tempat pengintaian…”
maksudnya intailah mereka di saat mereka lengah di tempat mereka bisa diintai. Ini
adalah dalil bolehnya ightiyal terhadap orang kafir sebelum mendakwahi
mereka.” Sampai di sini perkataan Al-Qurthubi.
Saya katakan:
Perkataan Al-Qurthubi: “…sebelum mendakwahi mereka…” maksudnya
bagi orang kafir yang sebelumnya dakwah Islam sudah sampai kepadanya.
Sedangkan ayat ini:
وَاقْعُدُوا لَهُمْ آُلَّ مَرْصَدٍ
“…dan intailah mereka di tempat pengintaian…” berisi dalil disyari’atkannya
melakukan survei, pemantauan dan spionase terhadap musuh.
Adapun sunnah, dalilnya adalah Rosululloh SAW memerintahkan untuk
membunuh Ka’ab bin Al-Asyrof dan Abu Rafi’ bin Abil Huqoiq, keduanya orang
Yahudi.
Adapun Ka’ab, ia selalu memprovokasi kaum musyrikin untuk memusuhi kaum
muslimin, ia suka mengejek Nabi SAW dengan syairnya, ia juga suka menggoda
isteri kaum muslimin.
Bukhori dan Muslim meriwayatkan kisah pembunuhannya, Bukhori
meriwayatkannya dari Jabir ra. Rosululloh SAW bersabda: “Siapakah yang mau
membunuh Ka’ab bin Al-Asyrof? Sesungguhnya ia menyakiti Alloh dan Rosul-Nya.”
Maka Muhammad bin Salamahpun berdiri dan berkata: “Wahai Rosululloh,
apakah anda suka kalau aku membunuhnya?” beliau bersabda: “Ya.” Ia berkata:
“Kalau begitu ijinkan aku mengucapkan beberapa kata (sesukaku).” Beliau
menjawab: “Katakan saja.” Akhirnya Muhammad bin Salamahpun mendatangi
Ka’ab (dan membunuhnya).
Disebutkan, Muhammad bin Maslamah beserta teman-temannya menipu
Ka’ab dengan berpura-pura bahwa mereka mengelabui Ka’ab sebelum akhirnya
berhasi membunuhnya, ini terjadi di benteng Mani’.
Ibnu Hajar berkata: “Di dalam Mursal ‘Ikrimah disebutkan: Keesokan harinya,
kaum Yahudi panik, lalu mereka datang menemui Nabi SAW dan mengatakan:
“Pemuka kami dibunuh diam-diam”; maka Nabi SAW menceritakan ulah
perbuatan Ka’ab yang suka mempengaruhi orang untuk memusuhi beliau dan
selalu menyakiti kaum muslimin.” Sa’ad menambahkan: “Akhirnya orang-orang
Yahudi takut dan tidak berkata sepatah katapun.”
— hingga Ibnu Hajar berkata — :
“Diantara kandungan hadits ini, boleh membunuh orang musyrik tanpa
harus mendakwahinya terlebih dahulu jika dakwah Islam secara umum telah
sampai kepadanya. Kandungan lain, boleh mengatakan sesuatu yang diperlukan
dalam perang walaupun kata-kata itu tidak sesuai dengan sebenarnya.”
Bukhori mengeluarkan hadits ini dalam Kitabul Jihad, bab: berdusta dalam
perang dan bab membunuh orang kafir harbi.
Saya katakan:
Siapa yang mengatakan bahwa melakukan ightiyal terhadap orang kafir yang
memerangi Alloh dan Rosul-Nya SAW sebagai pengkhianatan terhadap janji
atau kata-kata senada, atau mengatakan bahwa Islam mengharamkannya, berarti
ia sesat dan mendustakan Al-Qur’an dan Sunnah.
An-Nawawi berkata: “Al-Qodhi ‘Iyadh berkata: “Tidak boleh seorangpun
mengatakan ightiyal adalah mengkhianati janji, dulu pernah ada seseorang
mengatakannya di majelis ‘Ali bin Abi Tholib ra. maka diperintahkan agar
lehernya dipenggal.”
Kisah ini ditunjukkan Al-Qurthubi dalam menafsirkan firman Alloh SWT:
فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ
Artinya: “…maka perangilah para pemimpin kekufuran…”
Ibnu Taimiyah juga menyebutkannya dalam kitab beliau Ash-Shoorimul
Maslul ‘Ala Syatimir Rosul, beliau juga menyebutkan kisah yang terjadi antara
Mu’awiyah dan Muhammad bin Maslamah Radhiyallohu ‘Anhuma.
Adapun Ibnu Abil-Huqoiq, ia adalah orang Yahudi di Khaibar, pedagang di
Hijaz, dialah yang dulu pergi ke Mekkah dan membujuk rayu kaum Quraisy
untuk memerangi Nabi SAW sehingga terjadilah perang Ahzab. Dialah penyulut
terjadinya perang Ahzab.
Bukhori meriwayatkan dari Al-Barro’ bin ‘Azib ia berkata: “Rosululloh
mengutus beberapa orang Anshor untuk membunuh Abu Rofi’ — nama lain
Ibnu Abil Huqoiq — si Yahudi, beliau mengangkat ‘Abdulloh bin ‘Atiq sebagai
pimpinan. Abu Rofi’ selalu menyakiti Rosululloh SAW dan melakukan
konspirasi melawan beliau. Saat itu ia sedang berada di dalam bentengnya di
daerah Hijaz.”
Bukhori juga meriwayatkan masih dari Barro’: “Rosululloh SAW mengutus
satu kelompok kepada Abu Rofi’, maka Abdulloh bin ‘Atiq masuk ke
kediamannya di malam hari ketika ia terlelap tidur lalu membunuhnya.”
‘Abdulloh bin ‘Atiq juga melakukan kamuflase sehingga ia berhasil
membunuhnya. Ia melakukan kamuflase sehingga berhasil masuk ke dalam
benteng kemudian ia tutup pintu orang-orang Yahudi dari luar, ia berjalan
hingga sampai ke tempat Abu Rofi’, tidaklah ia memasuki sebuah pintu kecuali
ia kunci dari dalam, ia juga merubah suaranya sehingga tidak dikenali.
Ibnu Hajar berkata: “Termasuk faedah hadits ini adalah boleh membunuh
orang musyrik secara diam-diam, yang sudah didakwahi tapi tetap musyrik,
atau orang yang melakukan konspirasi melawan Rosululloh SAW dengan
tangan, harta, atau lisannya, boleh juga melakukan spionase terhadap orangorang
kafir harbi serta bersikap keras dalam memerangi orang musyrik, boleh
juga menyamarkan perkataan untuk tujuan maslahat, dan diperbolehkan juga
pasukan Islam yang sedikit menerobos orang musyrik yang banyak.”
Mengenai masalah ightiyal terhadap aimmatul kufr, Syaikh ‘Abdurrohman Ad-
Dausari Rahimahulloh ketika menyebutkan tingkatan-tingkatan Ubudiyah dalam tafsir
firman Alloh SWT: “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in…” berkata:
“Kemudian, menyiapkan kekuatan semampunya termasuk kewajiban
agama dan konsekuensi bagi yang ingin menegakkannya. Seorang ahli ibadah
yang benar tidak akan nyaman menunda-nunda perkara ini, apalagi meninggalkan
atau meremehkannya.
Demikian juga, seorang hamba yang memiliki tekad kuat untuk berjihad
dalam waktu yang sama pasti ingin menjadi pelaku ightiyal terhadap A’immatul
Kufri (pemimpin-pemimpin kekufuran); para propagandis ajaran menyimpang
dan amoral serta orang-orang yang mencela wahyu Alloh dan yang menggerakkan
pena atau propagandanya untuk menentang agama yang lurus ini. Karena itu orang
seperti ini telah menyakiti Alloh dan Rosul-Nya SAW.
Tidak dibenarkan bagi kaum muslimin di jengkal bumi manapun, baik orang
yang paham agama atau yang awam, untuk membiarkan orang seperti ini tetap
hidup, karena ia lebih berbahaya daripada Ibnul Huqoiq atau semisalnya yang oleh
Rosululloh SAW diperintahkan untuk dibunuh diam-diam.
Maka, tidak membunuh orang-orang yang menjadi pewaris mereka di zaman
sekarang sama artinya meninggalkan wasiat Nabi SAW, berarti pula adalah:
kekurangan yang fatal dalam ‘ubudiyah terhadap Alloh dan terlalu dalam
berkompromi dengan perangkat yang bakal menghancurkan agama Alloh.
Tidak ada yang dilegakan dadanya melihat hal ini selain orang yang tidak
memiliki kecemburuan terhadap agama Alloh dan tidak marah karena mengharap
wajah-Nya yang mulia.
Itu juga kekurangan yang besar pada kecintaan serta pengagungan terhadap
Alloh dan Rosul-Nya, tidak akan mungkin dilakukan oleh orang yang
merealisasikan Ubudiyyah kepada Alloh dengan maknanya yang tepat dan sesuai
syar’i.”
Demikian perkataan beliau.
Saya katakan:
Di sini muncul satu masalah, yaitu jika orang kafir tidak bisa dibunuh
kecuali dengan membunuh wanita dan anak-anak yang bersama dia, bolehkah ia
dibunuh?
Jawabnya:
Mereka boleh dibunuh walaupun mereka tidak ikut perang atau pun
membantu peperangan, ini ketika tidak memungkinkan membunuh orang kafir
kecuali dengan cara itu, asal tidak melakukannya secara sengaja. Mengenai
masalah ini terdapat dua hadits:
• Hadits Ibnu ‘Umar ra. ia berkata:
وُجِدَتِ امْرَأَةٌ مَقْتُولَةً فِي بَعْضِ تلك مَغَازِي، فَنَهَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ
قَتْلِ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ
Artinya: “Ditemukan seorang wanita yang terbunuh pada salah satu peperangan, maka
Rosululloh SAW melarang untuk membunuh wanita dan anak-anak.” Dalam riwayat
lain: “Maka Rosululloh SAW mengingkari…” sebagai ganti: “…melarang…”
• Kemudian hadits Sho’b bin Jatstsamah ra. ia berkata:
سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الذَّرَارِيِّ مِنَ الْمُشْرِآِينَ یُبَيَّتُونَ فَيُصِيبُونَ مِنْ
نِسَائِهِمْ وَذَرَارِیِّهِمْ فَقَالَ: هُمْ مِنْهُمْ
Artinya: “Rosululloh ditanya mengenai anak-anak kaum musyrikin, mereka diserang
malam hari kemudian terkena wanita dan anak-anak mereka, maka beliau bersabda:
“Mereka termasuk mereka.”
Dalam lain riwayat:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قِيلَ لَهُ لَوْ أَنَّ خَيْلًا أَغَارَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَأَصَابَتْ مِنْ أَبْنَاءِ
الْمُشْرِآِينَ قَالَ هُمْ مِنْ آبَائِهِمْ
Artinya: “Bahwa ditanyakan kepada Nabi SAW tentang pasukan berkuda yang
menyerang di malam hari kemudian terkena anak-anak orang musyrik, maka beliau
bersabda: “Mereka termasuk bapak mereka.”
An-Nawawi berkata:
“Maksud mereka termasuk bapaknya adalah: Tidak mengapa melakukan
penyerangan tersebut, karena hukum bapak-bapaknya berlaku juga untuk
mereka, seperti dalam masalah waris, nikah, qishosh, diyat dan sebagainya.
Yang dimaksud tentunya ketika melakukan tanpa sengaja dan terpaksa. Adapun
hadits yang melarang membunuh wanita dan anak-anak tadi, maksudnya
adalah dilarang ketika mereka tidak bercampur (terpisah dari orang musyrik).
Hadits yang kami sebutkan mengenai bolehnya menyerang kaum musyrikin
di malam hari dan bolehnya membunuh wanita dan anak-anak ketika
penyerangan malam ini adalah madzhab yang kami pegang, juga madzhab
Malik, Abu Hanifah dan jumhur. Makna Al-Ba’iat dan Yubayyitun adalah
menyerang musuh di malam hari yang mana tidak bisa diketahui mana lakilaki,
mana wanita dan mana anak-anak.
Adapun Adz-Dzaroriy — dengan ya’ tasydid, ada juga yang tanpa tasydid
(Adz-Dzarori) — ada dua ungkapan bahasa, menggunakan tasydid lebih fasih,
maksudnya di sini adalah wanita dan anak-anak.
Hadits ini menjadi dalil bolehnya menyerang di malam hari dan boleh
menyerang secara mendadak terhadap orang yang dakwah Islam sudah
sampai kepada mereka tanpa harus memberitahu terlebih dahulu kalau mau
menyerang. Termasuk isi hadits ini, bahwa anak-anak orang kafir hukumnya sama
dengan ayahnya ketika di dunia; adapun di akhirat, jika mereka mati sebelum
baligh terdapat tiga pendapat yang berbeda.”
Ibnu Qudamah berkata:
“Boleh menyerang orang kafir malam hari dan membunuh mereka ketika
mereka lengah.
Imam Ahmad berkata: Tidak mengapa menyerang malam hari, bukankah
perang melawan Romawi dilakukan malam hari?
Beliau berkata lagi: Setahu kami tidak ada seorangpun me-makruh-kan
menyerang musuh di malam hari.
Sufyan membacakan hadits kepada beliau, dari Az-Zuhri ‘Abdulloh dari Ibnu
‘Abbas dari Ash-Sho’b bin Jatstsamah ia berkata, Aku mendengar Rosululloh
SAW ditanya mengenai perkampungan orang-orang musyrik yang kami serang
malam hari kemudian kena wanita dan anak-anak mereka, maka beliau
bersabda:
هُمْ مِنْهُمْ
”Mereka termasuk mereka.”
Lalu beliau mengatakan: Isnadnya jayyid (baik).
Jika dikatakan: bukankah Nabi SAW melarang membunuh wanita dan anakanak?
Kami katakan: Itu jika dilakukan dengan sengaja. Ahmad berkata: Jika
melakukannya dengan sengaja, maka tidak boleh.
Beliau berkata: Hadits Sho’b datang setelah Rosululloh SAW melarang
membunuh wanita, karena larangan beliau ini datang ketika beliu mengutus
satu kelompok untuk membunuh Ibnu Abil Huqoiq, lagipula kedua hadits ini
bisa dikompromikan, yaitu: Dilarang kalau sengaja, dan boleh kalau tidak
sengaja.”
Saya katakan:
Ibnu Hajar mengisyaratkan adanya kemungkinan hadits Sho’b itu mansukh
(terhapus hukumnya), karena ada lafadz tambahan yang disisipkan di sana
bersumber dari perkataan Az-Zuhri seperti tercantum dalam Sunan Abu Dawud,
ia mengatakan di akhir hadits: Sufyan berkata, Az-Zuhri berkata: “Setelah itu,
Rosululloh SAW melarang untuk membunuh wanita dan anak-anak.”
Ibnu Hajar berkata: “Seolah Az-Zuhri mengisyaratkan mansukh-nya hadits
Sho’b…”
Hanya saja, mengenai kapan riwayat ini muncul masih diperselisihkan, ada
yang mengatakan ketika Rosululloh SAW mengirim orang untuk membunuh
Ibnu Abil Huqoiq, ini riwayat Abu Dawud, sedangkan menurut riwayat Ibnu
Hibban adalah sebelum Perang Hunain.”
Abu Bakar Al-Hazimi menyebutkan dua hadits ini dan berkata: Sebagian
ulama berpendapat bahwa hadits yang pertama menghapus hadits kedua.
Sebagian lagi berpendapat sebaliknya, sebagian lagi mengkompromikan kedua
hadits.
Kemudian beliau menyebutkan perkataan Asy-Syafi’i — yang memperkuat
pendapat dikompromikannya kedua hadits — : ”Asy-Syafi’i berkata, Hadits
Sho’b datang di akhir umroh Nabi SAW, sebab kalau itu terjadi pada awal
umroh beliau, tanpa diragukan lagi pembunuhan terhadap Ibnu Abil-Huqoiq
telah dilakukan, Wallohu A’lam.”
Asy-Syafi’i Rahimahulloh berkata: “Setahu kami, Rosululloh SAW tidak
memberikan dispensasi untuk membunuh wanita dan anak-anak lantas
melarangnya, makna larangan membunuh wanita dan anak-anak menurut kami
— Wallohu A’lam — adalah jika dilakukan dengan sengaja padahal tahu kalau
wanita dan anak-anak itu terpisah dari orang yang diperintahkan dibunuh.”
Kemudian makna dari kata” منهم ” (mereka termasuk mereka) adalah
menyandang dua status sekaligus, pertama mereka tidak dihukumi beriman
yang menghalangi mereka untuk dibunuh, dan tidak dihukumi pemukiman
orang beriman yang menghalangi untuk diserang ketika lengah. Oleh sebab itu,
Nabi SAW memperbolehkan menyerang perkampungan itu pada malam hari
dan beliau sendiri menyerang Bani Mustholiq pada malam hari.
Sudah menjadi maklum, jika menyerang dan menyerbu pada malam hari
diperbolehkan oleh Nabi SAW maka siapapun tidak dilarang menyerang pada
malam hari meski harus mengenai wanita dan anak-anak. Dengan demikian, ia
tidak berdosa dan tidak harus membayar diyat atau diqishosh sebagai balasan
orang yang terkena tadi, mengingat bahwa menyerang mereka di malam hari
atau ketika mereka lengah diperbolehkan, mereka tidak dianggap terlindungi
seperti orang Islam, selagi tidak membunuh mereka dengan sengaja atau tahu
bahwa mereka terpisah dari kaum pria. Sebenarnya, anak orang kafir tidak
boleh dibunuh karena mereka belum baligh, anak-anak orang kafir tersebut
belum baligh, anak-anak orang kafir tersebut belum sampai mengamalkan
kekufuran sehingga layak dibunuh. Sedangkan wanita, karena mereka tidak
berarti apapun dalam perang.”
Sampai di sini perkataan beliau.
Saya katakan:
Inti perkataan Asy-Syafi’i — dinukil oleh An-Nawawi tadi — adalah
membunuh wanita dan anak-anak tidak berdosa jika mereka tidak terpisah dari orang kafir yang hendak dibunuh, asal tidak dilakukan dengan sengaja.
Wallohu A’lam.

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Agustus 11, 2009, in Ragam. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Salam Ukhuwah KMM STKS Bandung

  2. ASSALAMUALAIKUM WR WB
    Semoga alloh merahmati kita semua yang pada saat ini terkoyak oleh arus globalisasi, hingga umat islam tercecer keimanan nya.
    semoga kejayaan islam makin cepat bangkit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: