Dari Syaikh Aiman Az Zawahiri untuk 3 Syuhada Bom Bali :

Dengan menyebut nama Allah, semoga shalawat dan salam tercurah bagi Rasulullah saw, keluarga dan para shahabatnya serta semua orang yang berwali kepadanya.

Wahai saudaraku kaum muslimin di seluruh dunia …!

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pada kesempatan kali ini, yang pertama kali ingin kami sampaikan adalah berita tentang gugurnya tiga orang pahlawan kita –semoga Allah menerima mereka sebagai para syuhada di sisi-Nya-. Yaitu Amrozi bin Nur Hasyim, Mukhlas Ali Ghufron bin Nur Hasyim, dan Abdul Aziz Imam Samudra, semoga Allah limpahkan rahmat-Nya kepada mereka bertiga.
Mereka adalah tiga orang perwira yang tegar, mereka telah berpulang ke rahmatullah tanpa sedikitpun bergeser dari langkah mereka di jalan jihad sejengkalpun, mereka tetap teguh memegang prinsip akidah jihad hingga akhir hayatnya. Mereka gigih berjuang dan berjihad dalam rangka mengusir musuh-musuh islam dari negeri kaum muslimin.
Mereka benar-benar memahami betapa mahalnya harga yang harus mereka bayar, dan mereka pun dengan gagah berani membayarnya tanpa ada rasa penyesalan, dan tanpa menguranginya sepeserpun.
Mereka tempuhi perjalanan panjang yang penuh siksaan, ujian di dalam penjara serta tekanan dari musuh. Mereka menerima vonis hukuman yang dijatuhkan pengadilan dengan suka cita dan senyuman. Lalu, mereka pun kembali ke hadirat Allah dengan sangat terhormat, mereka tolak setiap tawaran untuk memohon pengampunan dan amnesty dari pemerintah thaghut, mereka tidak sudi memohon grasi dari para penjahat.
Mereka telah mengikuti jejak para shahabat Nabi radhiallahu ‘anhum, para perwira pemberani yang menyongsong kematian dengan senyum kegembiraan.

Mereka teladani shahabat Khubaib bin Ady radhiallahu ‘anhu yang melantunkan syair :

ولست أبالي حين أقتل مسلما … على أي شق كان في الله مصرعي
وذلك في ذات الإله و إن يشأ … يبارك على أوصال شلو ممزع

“Aku tidak peduli bagaimanapun bentuk kematianku, asalkan aku dalam kondisi muslim
Semua itu aku lakukan hanya untuk mencari keridhoan Allah, jika Dia berkehandak maka akan memberikan berkah atas setiap tubuh yang terburai.”

Mereka jejaki langkah Ja’far bin Abi Thalib yang bersenandung :

يا حبذا الجنة واقترابها * طيبة وبارد شرابها
والروم روم قد دنا عذابها * علي إن لا قيتها ضرابها

“Alangkah indah dan dekatnya surga
Air minumnya segar dan menyenangkan
Sedangkan Romawi telah dekat azabnya
Aku harus menebasnya jika bertemu di medan laga.”

Demikian pula dengan Abdullah bin Rawahah yang terus bersenandung :

لكِنَّني أَسْألُ الرَّحْمنَ مَغْفِرَةً … وَضَرْبَةً ذَاتَ فَرْغٍ تَقْذِفُ الزَّبَدَا
أو طَعْنَةً بِيَدي حَرَّانَ مُجْهِزَةً … بِحَرْبَةَ تَنفُذُ الأَحْشَاءَ وَالكَبِدَا
حَتَّى يَقُولُوا إذَا مَرُّوا عَلَى جَدَثي … أرشدَكَ اللَّهُ مِنْ غَازٍ وَقَد رَشَدا
و حين قال:
أَقْسَمْتُ يَا نَفْسِ لَتَنْزِلِنَّهْ
طَائِعَةً أَوْ لَتُكْرَهِنَّهْ
إِنْ أَجْلَبَ النَّاسُ وَشَدُّوا الرَّنَّهْ
مَا لِى أَرَاكِ تَكْرَهِينَ الْجَنَّهْ
قَدْ طَالَ مَا قَدْ كُنْتِ مُطْمَئِنَّهْ
هَلْ أَنْتِ إِلاَّ نُطْفَةٌ فِى شَنَّهْ
وَقَالَ أَيْضًا : يَا نَفْسِ إِلاَّ تُقْتَلِى تَمُوتِى هَذَا حِمَامُ الْمَوْتِ قَدْ صَلِيتِ وَمَا تَمَنَّيْتِ فَقَدْ أُعْطِيتِ إِنْ تَفْعَلِى فِعْلَهُمَا هُدِيتِ وَإِنْ تَأَخَّرْتِ فَقَدْ شَقِيتِ

Semoga Allah limpahkan rahmat-Nya kepada para pahlawan yang tegar. Merekalah para perwira yang telah menghidupkan kembali sunnah kegigihan yang pernah dicontohlan oleh ustadz besar, ustadz Sayyid Qutub rahimahullah. Beliaulah yang telah mengajarkan manisnya sebuah ketegaran dalam kalimat legendaris yang beliau ucapkan ketika diminta untuk menandatangani surat permohonan grasi dan amnesty :

“Sungguh, jari telunjuk yang selalu tegak bertasyahhud bersaksi atas keEsaan Allah dalam setiap shalat, takkan sudi menggoreskan pena untuk menulis permohonan grasi kepada orang dholim.”

Beliau juga dengan tegas telah mengatakan kepada para pegawai negeri anggota majelis ulama yang datang menemuinya menjelang pelaksanaan eksekusi untuk menuntunnya mengucapkan kalimat syahadat :

“Kalian adalah para pencari nafkah dengan menjual kalimat Lâa ilâha illallah, sedangkan kami mati demi tegaknya kalimat Lâa ilâha illallah.”

Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka bertiga yang telah meberikan sebuah pelajaran yang takkan terlupakan kepada kaum salibis. Mereka tegaskan kepada kaum salibis bahwa kejahatan mereka terhadap umat islam di Afghanistan dan di seluruh dunia islam takkan berlalu percuma.
Saya berdoa kepada Allah semoga Dia berikan pahala yang agung bagi mereka, serta menerima mereka sebagai para syuhada di sisi-Nya.
Sebagaimana saya berdoa semoga Allah menjadikan pengorbanan dan ketegaran mereka sebagai contoh teladan yang baik bagi para ikhwan mereka, serta seluruh mujahidin di seluruh dunia secara umum.
Tak lupa pula saya sangat berharap kepada Allah agar segera membebaskan ikhwan mereka – seluruh tahanan mujahidin – dari penjara Indonesia, serta saudara mereka yang ditahan di penjara rahasia milik Amerika, juga seluruh mujahidin yang ditahan diseluruh penjuru dunia.
Saya tegaskan kepada pasukan salib, bahwasanya eksekusi mati terhadap ketiga ikhwah tersebut –dengan izin Allah- hanya akan menambah ketegaran kami untuk meningkatkan eskalasi serangan untuk mengusir pasukan salib dari dunia islam.

Nabi Muhammad saw bersabda :

البر لا يبلى ، والاثم لا ينسى والديان لا يموت ، فكن كما شئت كما تدين تدان

“Kebaikan takkan sirna, kejahatan takkan terlupa, serta para penuntut balas takkan mati. Berbuatlah sesukamu, namun ingat bahwa balasan yang akan kamu dapat adalah setimpal dengan ulah kalian.”

Saya juga ingin menegaskan kepada saudara kami umat islam di Indonesia dan diseluruh dunia akan dua hal.
Yang pertama, bahwa jihad adalah fardhu ‘ain bagi setiap orang islam dalam rangka membersihkan dunia islam dari kaum Yahudi dan Salibis yang telah menginjak-injak kehormatan umat islam, merampas kekayaan alamnya, mereka bantai kaum muslimin yang tak berdosa, mereka nodai tanah suci umat islam, mereka hina nabi Muhammad dan Al-Qur’an serta mereka kaburkan akidah ummat Islam, khususnya pemahaman wala’ dan bara’, hingga ummat Islam tidak mampu membedakan siapa kawan siapa lawan.
Yang kedua, sesungguhnya pemerintah Indonesia dan setiap penguasa seluruh negeri Islam tidak lain adalah para penjaga kepentingan kaum Yahudi dan Salibis. Para penguasa itulah yang selama ini menjalankan perdagangan kerusakan dan kejahatan.
Para penguasa tersebut jualah yang selama ini menjadi antek bawahan pasukan Salib dalam melancarkan serangan mereka terhadap ummat Islam.

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Juli 30, 2009, in Taklimat. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Apa dan Bagaimana konsep Jihad itu, sih ???? Soalnya saya itu awam dan tidak tahu !!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: