Polisi = Mafia ( ? )

Sebuah Cerita tentang A.S :
Motif A.S jadi wartawan sangat sederhana, yaitu mengungkapkan kasus-kasus yang dianggap tidak adil yang terjadi di sekeliling kehidupannya. Ayah A.S adalah seorang polisi pangkat rendahan yang jujur. Tentunya sebagai polisi jujur,kehidupannya serba pas- pasan. Ini terlihat dari rumahnya yang serba sederhana di Kampung dekat Cimahi. Cerita Ayahnya tentang kasus- kasus korupsi di kalangan polisi sering dicurahkannya kepada anaknya A.S. Mulai kasus pungli, korupsi di kalangan polisi dll.

Dari pengalaman Ayahnya itulah A.S bercita-cita untuk menjadi wartawan membuka semua kejahatan yang dilakukan oleh polisi melalui pena dan tulisan.

Setelah lulus kewartawanan, A.S dengan bangga memperlihatkan sertifikatnya kepada saya dan dengan penuh semangat A.S mengungkapkan akan menulis salah satu kasus yang dialami oleh tetangganya.

Anak tetangganya yang kerja di pabrik, tangannya terputus kena mesin hidraulik. Sang pekerja ini hanya dikirim ke rumah sakit dan langsung dipecat tanpa pesangon. Ketika A.S mengunjungi sang empunya pabrik untuk menulis tentang kasus itu, ia harus berhadapan dengan aparat ABRI yang dibayar oleh pemilik pabrik. A.S pun diancam untuk tidak memberitakan kasus itu. ” Sudahlah ini urusan kami, bukan urusan wartawan” demikian gertak si rambut cepak.

A.S. tidak gentar, dari niat menulis tentang nasib tetangganya, A.S malah menjadi pembela sang korban. Ia meminta bantuan LBH untuk memberikan bantuan soal undang- undang perburuhan. Gertakan si rambut cepak ini dihadapinya dengan intelektual dan sikap profesiolisme. Akhirnya pemilik pabrik gentar dan memberikan uang santunan serta ganti rugi kepada pekerja yang dua jarinya buntung.

Kasus ke dua yang dihadapi A.S lebih besar dan bahaya. Ia menulis kasus kebrobrokan salah satu kantor Polisi di Bandung. Para oknum polisi dikantor itu diberitakan sering bersekongkol dengan para preman dan perampok. Cara kerja mereka adalah membebaskan para preman dan perampok untuk beroperasi. Kemudian mereka harus ” setor’ kepada para oknum. Kasus investigasi yang dilakukan A.S tercium oleh ” Gegedug ” Polisi di Bandung yang tahu bahwa ayahnya A.S ini adalah seorang anggauta Polisi yang bersih. Ayah A.S kemudian dipecat, tanpa ada alasan yang jelas.

A.S murung, sedih dan berduka. Ibunya terkena sakit berat, kemudian meninggal. Ia baru menyadari bahwa tugas sebagai wartawan independen dan profesional itu menanggung risiko, tapi tidak disangka Ayahnya akan dipecat, kemudian dampaknya yang diderita mengakibatkan Ibunya sakit sampai meninggal.

Sebagai anak- laki- laki tertua, A.S dibebani untuk membantu adik-adiknya. Akhirnya A.S meninggalkan profesi sebagai wartawan kembali menyelesaikan kuliah dan bekerja di pabrik Pharmasi sebagai pakar siens. A.S menjadi orang yang berhasil, dalam arti tidak sebagai jurnalis, tapi berhasil hidup walaupun merubah profesi, untuk membantu adik-adiknya sekolah dan kuliah.

Liputan A.S untuk membuka kasus terhadap kebrobrokan salah satu kantor polisi memang berhasil dibungkam oleh ” gegedug ” di kalangan penegak Hukum. Para penguasa ini dengan congkaknya merasa puas memijak dan menyita hak wartawan sang kuli tinta seperti A.S.

namun beberapa tahun kemudian saya terkejut membaca berita di koran tentang kasus kebrobrokan kantor polisi di C. Kasus itu terkuak setelah kantor polisi itu diserang dan diberondong oleh kelompok militan. Semua senjata dicuri dan sejumlah anggauta polisi tewas. Motivasi kelompok militan memberondong kantor polisi tidak pernah jelas.

Kalau misalnya kebrobrokan yang diliput wartawan A.S dulu itu terbuka dan diliput,kemudian diselesaikan di pengadilan, mungkin kasus pemberondongan kantor polisi itu tidak akan terjadi dan nasib para polisi itu mungkin selamat.

Kasus kebrobrokan yang terjadi di lembaga- lembaga pemerintah di dunia ini adalah suatu realitas. Dan kisah yang dialami A.S itu bukan kisah komik Tintin yang diungkapkan oleh Ahmad Taufik dalam Pledoinya. Kisah A.S adalah nyata !! Tidak untuk mencemarkan sang pemilik pabrik, anggauta ABRI atau polisi.

Kisah itu adalah liputan jurnalisme yang pada jaman pemerintah Orde Baru sangat dibatasi, terutama kalau menyinggung lembaga pemerintah seperti Polisi.

Kisah yang dialami A.S adalah sederhana, masalah mempertahankan ” hak ” titik. Yaitu hak untuk mendapatkan informasi yang bisa diberitakan kepada masyarakat umum.

Perjuangan untuk mendapatkan ” hak informasi ” tidak akan mati dan tidak pernah mati. Dalam sejarah peradaban dunia, semangat itu akan tetap ada dan nyata !!. Seperti ada dalam diri para wartawan independen dan profesional seperti Achmad Taufik dan kawan-kawan.
Gegedug Polisi, jaksa, hakim, preman, dan pemilik perusahaan tidak akan mampu meluluhkan semangat para jurnalis profesional. Contohnya adalah kasus Watergate yang kini tercantum dalam sejarah perjuangan wartawan Indepeden Amerika. Kasus itu berawal pada waktu Presiden dari Partai Republik Richard Nixon mencoba menutup-nutupi kasus dua wartawan Washington Post yang membuka pencurian dan menyadapan informasi di kantor partai Demokrat yang menjadi saingan Partai Republik. Walau Nixon mengerahkan para pengacara hukum yang andal untuk menutup-nutupi kasus itu, akhirnya Watergate terkuak dan dua wartawan yang berani membuka kasus itu menjadi pahlawan.
Richard Nixon pada waktu meninggal bukan dikenal sebagai Presiden yang terhormat, karena setelah wakilnya Presiden Ford berkuasa – Nixon diberi pengampunan/ pardon. Artinya dinyatakan bersalah !!!

Nah dengan pengalaman itu, tentunya konglomerat, para jaksa, dan anggauta hakim, yang berkaitan dengan kasus Majalah Tempo harus menyadari, bahwa nama – nama kalian itu akan termuat dalam sejarah perjuangan kebebasan Pers Indonesia. Kita semua mengetahui nama ” nista ” Harmoko dan para hakim yang menjatuhkan hukuman terhadap para pejuang jurnalis independen di jaman Suharto. Para wartawan Indonesia yang profesional ( bukan wartawan amplop ya ) pasti mengetahui dan mengenal nama wartawan terhormat, seperti almarhum Muhtar Lubis. Nah nama- nama terhormat di kalangan dunia pers akan bertambah lagi dengan nama Ahmad Taufik, B Harymurti dan Iskandar Ali.

( decembery.multiply.com )

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Juli 5, 2008, in Taklimat. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: