FUNDAMENTALISME Antara Barat Dan Dunia Islam (Telaah Fiqih Politik)

Istilah fundamentalisme mulanya digunakan untuk penganut agama Kristen di Amerika Serikat untuk menamai aliran pemikiran keagamaan yang cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara rigit (kaku) dan literalis (harfiyah). Fundamentalisme pada umumnya dianggap sebagai respon dan reaksi terhadap modernisme dan post-modernisme.

Reaksi ini bermula dari anggapan bahwa modernisme cenderung menafsirkan teks-teks keagamaan secara elastis dan fleksibel agar sesuai dengan kemajuan zaman modern, yang akhirnya justeru membawa agama ke posisi yang semakin terisolir dan teralienasi. Kaum fundamentalis menuduh kaum modernis sebagai pihak yang bertanggungjawab terhadap terjadinya proses sekularisasi secara besar-besaran, di mana peran agama akhirnya semakin cenderung terkesampingkan dan digantikan oleh peran sains dan teknologi modern.
Terkait dengan hal ini Hrair Dekmejian menyatakan fundamentalisme adalah suatu bentuk “ideologi protes”, fundamentalisme adalah “ideologi kaum oposisi”. Ia muncul sebagai senjata ideologis untuk melawan kelas penguasa yang dianggap zalim dan menyimpang dari ajaran Islam “yang benar”. Fenomena fundamentalisme sebagai “ideologi protes” dan “ideologi oposisi” itu, menurut Dekmejian, telah bermula dengan munculnya kelompok Khawarij yang menentang kebijakan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Tetapi pengikut-pengikut Ali sendiri, kemudian mengorganisir diri mereka menjadi kelompok Syi’ah sebagai kelompok oposisi yang menentang Khalifah Muawiyah dan keturunannya.
Sedang fakta sekarang fundamentalisme Barat adalah seperti apa yang digambarkan oleh Nurcholish Madjid yang menjelaskan, bahwa fundamentalisme Barat muncul dan menjadi agama pengganti (ersatz religions) yang lebih rendah jika dibandingkan dengan agama-agama mapan yang telah berkembang. Fundamentalis-me Kristen (seperti Jerry Falwell, Jimmy Baker dan Sung Myung Moon) disamping mengajarkan paham keagamaan yang telah baku, juga mengajarkan hal-hal yang bersifat meringankan beban “palliative” namun tidak menghilangkannya. Dengan kata lain, mereka menyajikan hal-hal palsu bersifat menipu “deceptive”. Fundamentalisme Barat telah menjadi sumber kekacauan dan penyakit mental. Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh fundamentalisme, menurut Nurcholish, begitu besar dan buruk sehingga menjadi sumber kecemasan baru setelah obat bius dan alkoholisme.

TELAAH POLITIS FUNDAMENTALISME

Pada awal Pebruari 1992 di Munich Jerman berlangsung konferensi untuk mengantisipasi gerakan fundamentalisme (The Munich Conference on Security Policy), yang disponsori negara-negara Atlantik Utara (NATO). Konferensi ini dihadiri oleh kalangan militer, politisi, pakar Barat dan petinggi lainnya. Yang menarik dalam konferensi ini muncul persepsi tentang “fundamentalisme Islam” sebagai “ancaman berikutnya” terhadap NATO, sesudah berakhirnya ancaman komunisme yang ditandai dengan ambruknya soko guru dan pilar komunis dunia, Uni Sovyet.

Terkait dengan fundamentalisme Islam, Judith Miller menulis dalam salah satu artikelnya, bahwa gelombang “fundamentalisme” Islam sekarang muncul di bawah tanah, berskala massal, hingga tidak bisa diabaikan begitu saja oleh pemerintah manapun. Willy Wimmer seorang pejabat kementerian tinggi pertahanan Jerman ketika berbicara pada konferensi itu mengatakan atas kemenangan FIS Aljazair, Barat mengalami nervous dan shock. Padahal kalau dilihat kemenangan FIS berjalan sesuai dengan prosedur ruh dan pemikiran Barat, yakni demokrasi, tapi ternyata akhirnya kemenangan FIS yang menurut kacamata demokrasi sudah demokratis harus kandas di tangan militer yang disponsori Perancis dan dengan dukungan moral Amerika.

Kegagalan FIS yang sudah demokratis tidak lain karena Barat memandang aktivis FIS adalah kelompok fundamentalis yang membahayakan eksistensi kepentingan Barat di Timur Tengah pada khususnya, dan dunia Islam pada umumnya. Akhirnya FIS yang dalam kacamata bahasa politik Barat dianggap sebagai kumpulan kaum fundamentalis harus dienyahkan dari kancah perpolitikan, karena dianggap akan mampu membentuk pemerintahan yang fundamentalis. Hal ini sebagaimana dikemukakan media Barat seperti majalah The Economist yang menyatakan partai ini akan mampu membentuk apa yang disebut sebagai “The World’s first democratically elected Moslem fundamentalist government”. Sekali lagi, demokrasi terbukti kekeroposannya dan cenderung dimanfaatkan siapa kuat -termasuk Barat-. Lebih tajam lagi bisa dikatakan bila sudah berhadapan dengan kaum militan Islam, maka senjata demokrasi Barat akan tidak berdaya, karena khawatir dengan kebangkitan Islam.
Inilah Barat yang mana bila ada umat Islam yang kommit dan menguasai suatu institusi negara tapi tidak tunduk pada Barat, maka label fundamentalis, radikal, anti pluralisme dan sebagainya akan dengan mudah ditempelkan oleh Barat. Tidak bisa dipungkiri sebagian negara Barat memandang negatif pada dunia Islam selama masih lekat dengan Islamnya, selama muslim ini tidak mau menjadikan Barat sebagai “thaghut”nya, maka apapun yang dilakukan bisa diganjal. Sehingga tidak aneh ketika negeri muslim ada yang mau mempelajari nuklirpun sudah dicurigai dan dipersulit dengan berbagai cara. Maka kegeraman Perdana Menteri Pakistan Nawaz Syarif cukup beralasan dengan sikap Barat ini. Syarif mengatakan ketika ada kemungkinan pembelian ahli-ahli nuklir Sovyet oleh negara Timur Tengah, Barat meributkannya. Kenapa Barat tidak meributkan bom Yahudi (nuklirnya Israel), atau bom Hindu (nuklirnya India).
Inilah kepentingan Barat pada umat Islam yang kommit agar tidak menjadi bahaya yang mengancamnya. Akhirnya berita dan informasi yang sesuai dengan kepentingannya dikeluarkan untuk menahan umat Islam dan melanggengkan kepentingan Barat. Memang benar apa yang dikatakan Edward W. Said (intelektual Palestina yang beragama Kristen) bahwa pemberitaan yang disajikan Barat dan Amerika pada umat Islam disajikan sesuai dengan kepentingannya. Noam Chomsky (seorang Yahudi “pembelot”) lebih tegas mengatakan, bahwa penggunaan istilah-istilah seperti “terorisme” disesuaikan dengan kepentingan Barat. Sehingga jika menyebut istilah terorisme -juga fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme, anti pluralisme dan militanisme- maka yang terbayang adalah kelompok seperti di Iran, Sudan, HAMAS dan gerakan Islam lainnya.

Menyikapi fakta posisi muslim dan Barat seperti di atas, sudah bisa diraba bahwa kaum fundamentalis dalam kacamata Barat yang kapitalis-sekularis adalah berbahaya dan harus hilang dari peredaran dunia. Lebih lanjut yang patut disayangkan ada sebagian kaum muslimin -bahkan termasuk cendekiawannya- juga termakan isu fundamental-isme serta isu-isu negatif lain secara gebyah uyah tanpa tabayyun, investigasi untuk klarifikasi. Akhirnya setiap muslim yang mau memperjuangkan Islam dan komitmen dengan Islamnya digeneralisir sebagai fundamentalis, sekaligus diciptakan terma dan konsep pemikiran fundamentalisme yang menyudutkan dan mengkambinghitamkan mereka. Lebih lanjut dicap sebagai orang yang radikal, ekstrem, menakutkan, anti kemapanan, anti pluralisme, eksklusif, ahistoris, utopis, romantisme sejarah, sempit pandangan dan sebagainya yang kesemuanya berkonotasi negatif dan pejoratif, tanpa ada sharing dan klarifikasi.

Contoh cendekiawan Muslim dari kubu modernis yang menggeneralisir dalam menggunakan istilah fundamentalisme sebagai suatu stereotype yang cenderung diiringi dengan rasa sinisme adalah Fazlur Rahman, yang menyebut kaum fundamentalis sebagai orang-orang yang dangkal dan superfisial, anti intelektual dan pemikirannya tidak bersumber kepada al-Qur’an dan budaya intelektual tradisional Islam. Dawam Rahardjo menjelaskan ciri-ciri lain yang melekat pada kaum fundamentalis adalah sikap dan pandangan mereka yang radikal, militan, berpikiran sempit (narrow-minded), bersemangat secara berlebihan (ultra-jealous) atau cenderung ingin mencapai tujuan dengan memakai cara-cara kekerasan.
Dari uraian di atas bisa ditarik kesimpulan tentang fundamentalisme. Satu sisi fundamentalisme adalah gerakan yang timbul di Barat dan dilakukan oleh umat Kristen masa lalu. Pada sisi lain, fundamentalisme juga dilabelkan pada kelompok muslim tertentu. Pelabelan fundamentalisme pada kelompok muslim ini cenderung ke arah negatif dan mengarah pada pejoratif. Kesan negatif ini bisa dirunut karena beberapa alasan, semisal mereka dicap sebagai kelompok keras, oposisi, tanpa kenal kompromi. Dan alasan yang paling menonjol adalah kaum fundamentalis dikatakan tidak rasional, tidak logis, tertutup dalam memahami al-Qur’an dan Hadits. Hal seperti ini bisa dilihat dari keterangan Dawam Rahardjo, bahwa fundamentalisme itu merefleksikan sikap tidak percaya kepada kemampuan penalaran dan lebih menekankan aspek emosional atau perasaan. Sikap ini juga meragukan kemampuan manusia untuk memecahkan masalah pungkasan (ultimate problems) dan mempercayakan diri pada lembaga ilahiyah (divine agency). Pandangan seperti ini tidak hanya merupakan ciri khas tradisi Kristiani, melainkan juga dimiliki oleh mereka yang paling sedikit menerima manfaat dari budaya rasional atau mereka yang kehidupan sehari-harinya masih sangat tergantung pada proses alami dan belum banyak berada dalam kontrol manusia itu.
Sedang Yusril Ihza Mahendra menjelaskan bahwa fundamentalisme tidak membangun suatu kerangka intelektual yang canggih seperti dilakukan oleh kaum modernis dan neo-modernis. Kaum fundamentalis sebaliknya menafsirkan bahwa seluruh doktrin adalah universal dan berlaku tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Proses intelektualisasi seperti dilakukan kaum modernis menjadi tidak penting, sebab yang penting bagi kaum fundamentalis adalah ketaatan mutlak kepada Tuhan, dan keyakinan bahwa Tuhan memang telah mewahyukan kehendak-kehendak-Nya secara universal kepada manusia. Dengan kata lain, fundamentalisme lebih menekankan ketaatan dan kesediaan untuk menundukkan diri kepada kehendak-kehendak Tuhan dan bukan perbincangan intelektual untuk mengerti. Karena itu seringkali kaum fundamentalis berhujjah bahwa bagi mereka yang lebih penting adalah iman dan bukan diskusi. Iman justeru membuat orang mengerti, dan bukan mengerti yang membuat orang beriman. Rasionalitas, menurut pandangan kaum fundamentalis pada umumnya, cenderung hanya menjadi alat untuk melegitimasi kehendak hawa nafsu dalam “mempermudah-mudahkan” agama. Apa yang penting bagi mereka adalah memelihara sikap “militan” dalam menegakkan agama, dan bukan memelihara semangat intelektual yang cenderung membuat orang tidak berbuat apa-apa. Sikap seperti ini memang membuka peluang ke arah sikap doktriner dalam memahami agama.

DIALEKTIKA FUNDAMENTALISME: PANDANGAN ISLAM

Kalau dikaji lebih dalam lagi fundamentalisme tidaklah bisa digeneralisir sebagai orang yang tertutup, tidak logis dan atribut negatif lainnya. Memang ada benarnya pendapat beberapa pakar ketika menjelaskan kaum fundamentalis yang kurang menggunakan akalnya -walau tidak semua- adalah momok yang menakutkan, apalagi tidak menggunakan akalnya ketika memahami aqidah. Dalam Islam ketika beriman harus memfungsikan akal, orang beriman tanpa didukung oleh rasio dicela oleh al-Qur’an, sebab beriman tanpa menggunakan akal yang jernih dan mendalam (mustanir dan ‘amiq), akan terjerumus pada kultus atau taqdis yang keliru. Dapat diambil contoh bagaimana Umar bin Khattab yang pernah menyembah roti akibat akal tidak difungsikan secara jernih, atau bahkan ditinggalkan sama sekali.
Sehingga wajar bila para pakar memandang sebagian kaum fundamentalis yang ada sekarang ini tidak rasional, tertutup, eksklusif, tidak bisa diajak dialog, bermasa depan suram, dan patut dipandang dengan skeptis.
Dalam mengembangkan pemikiran Islam, baik berkaitan dengan dakwah, muamalah, ibadah, siyasah dan sebagainya di tengah masyarakat secara kaffah, haruslah bersikap terbuka dan sanggup berdialog untuk mencari kebenaran, sebab sikap seperti inilah yang dipuji Allah:
فبشر عـباد الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه أولئك الذين هد ـهم الله وأولئك هم أولواالألباب
“Maka sampaikanlah berita gembira kepada hamba-hamba-Ku. Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.

Dengan prinsip selalu mencari argumen yang terbaik bukan berarti selalu dalam relativitas, dalam arti tidak mempunyai pegangan, namun maksudnya adalah argumen yang sekarang ini dianggap benar, berani diuji dan selalu terbuka untuk setiap perbaikan demi kemajuan.
Selanjutnya bila sudah terbuka dan selalu mencari konsep dan argumen yang kuat, dan masih ada kelompok yang melabeli dengan terma fundamentalis, radikalis, ekstremis, fanatik, eksklusif, sektarian, reaktif, kontraproduktif, utopian, maka hal itu bukanlah masalah yang perlu dipikirkan. Anggapan-anggapan seperti itu tidak perlu membuat semangat kommit pada Islam kendor dan mundur, sebab Nabi SAW telah bersabda: “Islam datang pertama dalam kondisi gharib (dianggap aneh oleh orang jahiliyah) dan kemudian hari akan kembali gharib (dianggap aneh oleh umat manusia bahkan oleh umat Islam sendiri) seperti pada permulaan datangnya Islam, maka berbahagialah orang-orang yang dianggap gharib itu.

Gharib (aneh/asing) di sini bukan hanya dalam arti agama Islam itu sendiri dianggap aneh, tetapi juga ajaran Islam dianggap aneh dan bila didiskusikan lebih cenderung untuk kepuasan intelektual, dan bukan untuk diaktualisa-sikan. Lebih tragis yang menganggap aneh ini bukan non muslim saja, namun juga sebagian muslim sendiri. Sehingga sikap yang diambil dalam menghadapi kondisi seperti ini adalah tetap berada dalam jalur keyakinan pemahaman pada Islam yang berupa tuntunan Allah yakni hukum syara’, apapun konsekwensinya. Sungguh indah firman Allah untuk kita renungkan:
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mengadakan (menggantikan) suatu kaum lain yang dicintai-Nya, dan ramah terhadap sesama mukmin dan bersikap tegas pada kaum kafir. Mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut mendapat celaan dari siapapun yang mencela. Ini adalah suatu karunia dari Allah yang akan dilimpahkan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) dan Maha Mengetahui”. (QS. 5: 54).
Sehingga prinsip yang diambil adalah selama yang dilakukan adalah dalam rangka keyakinan untuk kepatuhan dengan hukum syara’, maka tidaklah menjadi masalah, bahkan apapun tuduhan dan atribut yang ditujukan, maka dianggap sebagai ujian terhadap keimanan. Dan jika melihat sirah nabawi/kisah Nabi SAW olok-olok seperti di atas juga pernah dialami dan diterima Nabi SAW, bahkan bisa dikatakan olok-olok yang diterima Nabi SAW adalah lebih pedas dan menyakitkan, semisal Nabi dikatakan majnun (gila), tukang sihir, pembuat perpecahan antar famili, pembuat onar dan sebagainya.

Lebih lanjut kalau umat Islam sepakat bahwa terma atau jargon di atas adalah perang bahasa politik, baik terhadap Barat atau terhadap muslim yang tidak senang dengan Islam, maka sikap yang perlu diambil adalah menjelaskan kepada umat Islam bahwa orang yang tidak sesuai dengan hukum Allah adalah orang sempalan; orang yang masih bergelimang pada maksiyat adalah orang yang fanatik kepada nyanyian setan; orang yang suka menyiasati aturan Islam adalah tokoh subversif terhadap Islam; orang yang suka menghalangi aturan Islam untuk didakwahkan adalah orang radikal dan fundamental pada akar-akar fasiq, zhalim, munafiq bahkan kafir; orang yang menganggap konsisten dengan Islam masa sekarang ini adalah utopis dan idealis, yang mana pikirannya tidak lebih tinggi dari makhluk selain manusia; orang yang melakukan sebagian hukum Allah dan meninggalkan sebagian yang lain adalah sekuler. Begitu juga Barat yang melabeli umat Islam dengan semua atribut yang negatif apapun, janganlah menjadikan umat Islam lemah, justeru harus menyerang mereka, karena memang masa sekarang ini antara Barat dan Islam terjadi perang opini, maka umat Islam pun harus mengopinikan kejelekan Barat dengan standar Islam, sebagaimana Barat mengopinikan umat Islam dengan standar kapitalis-sekularis. Terlebih lagi kebanyakan negara Barat tidak sedikit yang jelek, serta hipokrit dan standar ganda dalam menyikapi masalah.

Prof. Dr. Ahmad Zahro
*Guru Besar IAIN SA dam Bidang Ilmu Fiqh

sumber : http://www.sunan-ampel.ac.id

Tentang Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Desember 24, 2011, in Artikel Bebas, Kajian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: