Pertempuran Kandang Singa, Afghanistan 1987 ( Bag.4 )
Ringkasan Peristiwa Sebelum Meletusnya Pertempuran Kandang Singa, Ramadhan 1407H (Mei 1987)
Pertempuran Kandang Singa, Laporan Pandangan Mata
Pendahuluan
Pertempuran Kandang Singa berlangsung pada bulan Ramadhan 1407H (Mei 1987). Menteri Pertahanan Uni Soviet mengajukan anggaran militer terpisah yang akan digunakan untuk memutus jalur suplai antara Pakistan dan Afghanistan. Bersama dengan para jenderal senior lainnya mereka berikrar untuk memberikan pukulan menentukan bagi Mujahidin di saat Mujahidin berada dalam kondisi fisik yang kelelahan dan moral bertempur yang rendah. Jalur suplai yang me mbentang di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan merupakan jalur penting dalam mengangkut suplai logistik dan senjata ke Afghanistan termasuk juga jalur keluar masuk bagi Mujahidin yang ingin bertempur. Menteri Pertahanan Uni Soviet meyakinkan koleganya bahwa anggaran ini akan dapat memutus jalur suplai tersebut. Di antara jalur penting yang dimaksud adalah jalur dari Parachinar di Pakistan, ke Jaji di propinsi Paktia, Afghanistan Timur. Jalur ini biasanya mengangkut sekitar 60% suplai logistik dan senjata ke dalam Afghanistan dan Uni Soviet selama ini telah menderita kekalahan telak di seluruh front pertempuran di Afghanistan sebagai akibat dari bebasnya jalur penting tersebut. Maka dirasakan sangat penting untuk menghancurkan jalur ini sehingga dapat memaksa para komandan Mujahidin untuk menyerah.
Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung mentakdirkan Mujahidin Arab memainkan peran kunci dalam pertempuran yang menentukan ini. Mujahidin Arab mengambil posisi di garis depan pertempuran dan memancing musuh untuk mulai bertempur. Pertempuran berlangsung selama 21 hari dan selama itu artileri Uni Soviet menghujani posisi Mujahidin Arab dan markas besar mereka, Kandang Singa Al-Ansaar.
Orang-orang Uni Soviet bermarkas di dalam sebuah benteng besar yang disebut Chowni, berukuran 1.000 x 500 meter dan pertahanan mereka dikelilingi wilayah pegunungan. Wilayah ini terletak 300 meter di atas permukaan laut dan merupakan hutan lebat. Selama musim dingin yang berlangsung setidaknya enam bulan setiap tahun, seluruh wilayah tertutup salju dan tanpa fasilitas pemanas ruangan tidaklah mungkin untuk bertahan hidup di sana.
Posisi tentara Uni Soviet di pegunungan tersebut berjarak 2-3 km dari posisi Mujahidin Afghanistan dan di antara posisi kedua pihak yang saling berperang itu tidak ada seorangpun Mujahidin Arab di sana. Maka ketika Mujahidin Arab bertanya mengapa area tersebut dibiarkan kosong, Mujahidin Afghanistan mengatakan bahwa pada musim dingin salju menutupi area tersebut hingga akses menuju ke sana terputus. Namun Allah melimpahkan rahmat-Nya sehingga Mujahidin Arab dapat membangun rute keluar masuk di tengah-tengah salju. Hal ini tercapai setelah mereka mengerahkan sejumlah peralatan berat seperti bulldozer dan lainnya. Mereka juga berhasil membangun basis pertahanan bawah tanah bagi Mujahidin Afghanistan di dekat garis pertahanan musuh. Jumlah Mujahidin Arab pada saat itu sangat sedikit dan karenanya mereka menganggap peran mereka pada saat itu hanya sebatas membuka jalan dan membangun terowongan bawah tanah di lereng pegunungan. Orang-orang Arab berharap dengan demikian Mujahidin Afghanistan akan memberikan kesempatan kepada mereka untuk ikut serta bertempur dari waktu ke waktu.
Akan tetapi, satu hal yang mengherankan bagi Mujahidin Arab, Mujahidin Afghanistan tidak ingin untuk menempati posisi yang dekat dengan garis pertahanan musuh. Jarak dari Kandang Singa ke markas Mujahidin Afghanistan adalah sejauh 13 km dan dari Kandang Singa ke terowongan bawah tanah berjarak 14 km. Mujahidin Arab kemudian memutuskan mereka sendirilah yang akan mengambil posisi garis depan, dekat dengan musuh. Maka Kandang Singa merupakan markas pertama bagi Mujahidin Arab di dalam wilayah Afghanistan. Kemudian ketika seluruh peralatan berat telah dikembalikan mereka mulai mencari tenaga tambahan untuk membantu menjaga markas mereka. Pada awalnya hanya ada tiga orang yang membangun dan menjaga Kandang Singa yaitu Usama Mulla Azmarai, Shafiq Ibrahim Al-Madani dan Usama bin Ladin. Baik Usama Mulla dan Shafiq keduanya adalah pelajar sekolah menengah di kota Nabi Madinah Al-Munawwarah, Usama Mulla berasal dari lembah Ferghana Uzbekistan, sementara Shafiq lahir di Madinah namun berasal dari Sindh Pakistan. Orang ketiga adalah seorang yang sudah kita kenal dengan baik. Ketiga Mujahid ini menempati markas mereka di dalam Kandang, berhadapan langsung dengan seluruh kekuatan militer Uni Soviet. Satu hari sekitar waktu Ashar, ketika mereka sedang bekerja di satu kamp Mujahidin lain yang mengarah ke Kandang, mereka bertemu dua orang Mujahid lain yaitu Dzabih yang berasal dari Taif dan Abu Dzahab asal Mesir, sebagaimana telah diceritakan sebelumnya. Di mata ketiga Mujahid ini, datangnya tambahan tenaga satu orang saja sudah seperti kedatangan bantuan seribu orang.
Kedua orang baru tersebut sebelumnya bermaksud untuk bergabung dengan Mujahidin Afghanistan yang ada di wilayah sekitar. Kemudian mereka duduk, shalat Ashar dan minum teh bersama dengan ketiga Mujahid tersebut. Setelah selesai shalat dan merasakan kenyamanan di berada tengah-tengah ketiga Mujahid ini mereka bertanya mengenai kemungkinan untuk ikut bergabung dengan ketiga Mujahid dan bekerja bersama-sama. Akhirnya, group pertama yang membangun dan menjaga Kandang Singa adalah group yang terdiri atas lima orang Mujahid. Seorang Mujahid, Ali, yang menjadi saksi dan ikut serta dalam Pertempuran Kandang Singa menceritakan;
“Saya pergi ke Afghanistan pertama kali bersama-sama dengan Shafiq Al-Madani dan kami berkunjung ke Kantor Pelayanan Mujahidin di Peshawar dimana kami tinggal di sana sekitar dua bulan lamanya. Kemudian saya pulang kembali ke Saudi Arabia dan kembali ke Pakistan tahun berikutnya dimana saya ikut pelatihan militer selama dua bulan. Saat itu ada sejumlah training camp di Afghanistan dan training camp yang saya datangi adalah Kamp Maru di Jalalabad. Setelah latihan selesai saya pulang kembali ke Saudi Arabia. Kunjungan saya yang ketiga adalah pada tahun 1407H (1987) dimana saat itu Kandang sudah terbentuk. Saat saya berkunjung ke sana di awal tahun 1407H hanya ada tujuh atau delapan orang saja di sana. Ketika itu hanya ada satu kemah dan satu ruangan bagi Mujahidin Afghanistan yang berbagi wilayah bersama-sama dengan kami”.
“Sebagian besar Mujahidin Arab tidak memiliki dasar latihan militer yang cukup disebabkan karena dua hal. Pertama, karena terbatasnya kamp pelatihan militer yang terorganisir dengan baik dan kedua, karena kedatangan mereka semata hanya untuk ikut bertempur dan karenanya mereka hanya menginginkan pelatihan dasar saja dan berharap dapat terjun ke dalam peperangan sesegera mungkin tanpa harus melalui pelatihan militer tingkat selanjutnya. Maka untuk mengatasi masalah dasar ini dibentuklah pelatihan militer yang baru”.
“Pembangunan konstruksi Kandang Singa berjalan terus dan Usama bin Ladin berhasil menanamkan rasa senasib, cinta dan kasih sayang di antara sesama Mujahidin. Dia melatih mereka untuk bersabar karena sedikitnya pertempuran yang dapat mereka ikuti, namun saat itu sangat sulit meyakinkan Mujahidin untuk bersabar menunggu giliran terjun ke dalam peperangan sebagaimana sulitnya mendorong mereka untuk tetap terus bekerja membangun Kandang, membangun tempat persembunyian bawah tanah dan mempersiapkan bala bantuan selama tujuh bulan tanpa benar-benar terjun ke medan tempur. Maka tidak heran jika sejumlah Mujahid sering merengek kepada Usama bin Ladin untuk merencanakan suatu pertempuran dengan musuh, bahkan pertempuran dalam skala yang kecil saja seperti tembak menembak dengan musuh. Akhirnya harapan para Mujahid terkabul dimana satu operasi militer digelar bersama-sama dengan Mujahidin Afghanistan. Ketika itu tentara Uni Soviet sedang merayakan ulang tahun partai komunis dan Mujahidin ikut memeriahkan pesta dengan menghujani musuh dengan peluru, mengganggu kemeriahan pesta yang mereka adakan”.
“Kandang Singa mendekati tahap akhir dimana Badar Center yang menjadi Central Command Room selesai dibangun, demikian pula dengan sebuah ruangan yang berfungsi sebagai pertahanan anti serangan udara (Anti-Aircraft) yang diberi nama Zakoyak Room, serta Taif Room yang berfungsi sebagai dapur dan gudang makanan dan senjata”.
“Meskipun keadaan Kandang belum sepenuhnya selesai, pada tanggal 17 Sya’ban Mujahidin memutuskan untuk menggelar lagi satu operasi militer. Lagi, tujuan operasi militer ini tidak tercapai karena beberapa sebab, salah satunya adalah karena kurangnya amunisi sekalipun para Mujahid telah bekerja keras siang malam tanpa henti mengangkut amunisi ke lokasi mereka di ketinggian gunung menggunakan bagal. Komandan operasi ini adalah Yasin Al-Kurdi (semoga Allah merahmati beliau) dan beliau juga yang ikut bekerja mengangkut amunisi agar selesai sesuai jadual yang telah ditetapkan sebelumnya”.
Maka, pada 17 Sya’ban 1407H (17 April 1987) berlangsung konfrontasi militer antara kedua pihak, yaitu Mujahidin Arab dan Afghanistan berhadapan dengan militer Soviet, satu pertempuran yang berguna bagi Mujahidin Arab karena memberikan pengalaman tempur yang nyata dan juga menambah ‘jam terbang’ mereka. Selanjutnya Mujahidin Arab mulai mempersiapkan diri mereka untuk suatu serangan lain pada akhir bulan Ramadhan. Persiapan ini dikoordinasikan dengan rekan-rekan mereka yaitu para pimpinan Mujahidin Afghanistan seperti Gulbuddin Hekmatyar, Abdul Rasul Sayyaf dan Burhanuddin Rabbani serta para komandan militer lain yang ada di garis depan. Maksud dari serangan ofensif ini adalah untuk menghancurkan basis pertahanan Uni Soviet yang saat itu berkekuatan 1.000 orang. Pada saat yang bersamaan Mujahidin tidak menyadari bahwa musuhpun sedang bersiap-siap untuk menyerang mereka dengan tujuan menghancur-leburkan seluruh kekuatan Mujahidin dan memutus jalur suplai yang utama dan terpenting di Afghanistan.
Bentrokan Pertama – Operasi 17 Sya’ban
Abu Muhammad As-Suri menceritakan bentrokan pertama yang dipicu oleh manuver yang dilakukan Foreign Mujahideen Kandang Singa dimana Abu Muhammad ikut serta di dalamnya dan terluka. Beliau berkata;
“Pertempuran pertama yang dilakukan oleh Foreign Mujahideen Arab sebagai satu kesatuan militer adalah pertempuran di wilayah Khost yang berlangsung pada bulan Ramadhan 1406H (Mei 1986). Mereka membentuk satu batalyon tempur yang diberi nama Batalyon Al-Khurasa dimana mereka terlibat dalam beberapa pertempuran sengit yang mengkibatkan sejumlah besar Mujahidin Arab terluka dan terbunuh syahid. Pertempuran-pertempuran ini berlangsung sebelum Kandang Singa dibangun. Ketika Usama bin Ladin memulai usahanya membangun jalan dan terowongan bawah tanah serta gua perlindungan beliau mengirimkan Shafiq, Usama Mulla dan Abu Qutaibah untuk menjelajahi dan menyelidiki area yang akan dibangun. Ketiganya kembali dan menginformasikan kepada Abu Abdullah Usama perihal letak suatu gunung yang berada lebih tinggi dari posisi musuh sehingga dapat bebas memandang ke arah benteng Chowni, sebuah benteng dimana tentara Uni Soviet bermarkas. Benteng ini terletak di pinggir sebuah lembah yang berbatasan dengan Pakistan. Abu Abdullah Usama pergi untuk melihat sendiri dan memutuskan di sanalah markas bagi Mujahidin Arab akan dibangun. Musim dingin mulai tiba dan salju menghalangi pergerakan di gunung tersebut. Usama bin Ladin sebelumnya telah mendatangi dan meminta pemimpin Mujahidin Afghanistan yang terkenal di wilayah itu, Abdul Sami, untuk bergabung dan mengkoordinasikan kegiatan pembangunan mereka. Markas Mujahidin pimpinan Abdul Sami berada di pertengahan jalan menuju benteng Chowni. Usama bin Ladin meminta Abdul Sami untuk tidak mundur selama musim dingin berlangsung dan tetap berada di markasnya, dimana sebagai ganjarannya beliau berjanji akan bertanggung jawab untuk membangun lokasi persembunyian yang dapat digunakan Abdul Sami dan Mujahidin Afghanistan berlindung dari salju. Sayangnya Abdul Sami menolak permintaan Usama bin Ladin karena ketebalan salju yang mengurung wilayah tersebut tidak memungkinkan pasukannya untuk bergerak, apalagi untuk mengangkut dan memindahkan perlengkapan logistik. Usama bin Ladin terus membujuk Abdul Sami dan menawarkan diri untuk menyediakan seluruh kebutuhan logistik termasuk air bersih asalkan Abdul Sami dan Mujahidin pimpinannya tidak mundur. Mendengar janji Usama bin Ladin ini Abdul Sami akhirnya setuju kepada rencana Usama bin Ladin dan pada tanggal 24 Oktober 1986 Abu Abdullah Usama bin Ladin membangun lokasi pertama Kandang Singa Foreign Mujahideen. Pada tanggal itu pula mereka membeli senjata pertama mereka di pasar senjata Pakistan, yaitu sebuah senjata mesin SG-43 Gorjunov yang kemudian diserahkan kepada Usama Mulla (Azmarai) sebagai penanggung jawab”.
Abu Muhammad melanjutkan uraiannya,
“Saya datang ke Kandang bersama-sama dengan Sheikh Abdullah Azzam (semoga Allah merahmati Beliau) satu bulan setelah Kandang dibangun, dan saat itu ada 14 orang Mujahid Arab di sana. Sebelumnya saya telah mengunjungi wilayah Sada dekat perbatasan Pakistan-Afghanistan untuk mengikuti pelatihan militer tetapi kemudian diputuskan agar kami langsung pergi ke Kandang agar dapat mengikuti latihan militer di wilayah yang paling memiliki kesamaan situasi dan kondisi dengan medan pertempuran yang sebenarnya. Ketika tiba di Kandang kami mendapati sejumlah tamu yang berkunjung yang rupa-rupanya sedang berusaha membujuk penghuni Kandang untuk membatalkan niat mereka dan menghentikan usaha membangun Kandang. Para tamu ini menakut-nakuti Usama bin Ladin dan rekan-rekannya dengan mengatakan musuh akan datang dan menangkap mereka hidup-hidup, tetapi perkataan mereka tidak mampu mengubah rencana Mujahidin Arab dan Allah memperteguh hati dan keyakinan mereka. Group saya kemudian kembali ke Sada tanpa mengikuti latihan apapun, baru kemudian di Sada kami mengikuti latihan militer sebentar untuk kemudian kembali lagi ke Kandang. Cuaca musim dingin sudah tiba dan salju mulai turun, memaksa Mujahidin untuk mengumpulkan seluruh kebutuhan logistik dan segera menyelesaikan konstruksi Kandang sebisanya sebelum seluruh area tertutup salju. Dalam waktu hanya lima bulan, konstruksi tujuh hingga delapan ruangan telah selesai dibangun dan digunakan untuk menampung sekitar 70 orang Mujahidin Arab yang saat itu tengah bersiap-siap untuk mengorbankan diri mereka dan meraih syahid”.
“Selama masa pembangunan berlangsung Mujahidin Arab merengek kepada Usama bin Ladin agar membuat rencana untuk menggelar satu operasi militer yang dapat mereka lakoni. Namun Usama bin Ladin menolak dan sebaliknya seraya menenangkan hati dan keinginan mereka yang menggebu, Usama berusaha meyakinkan mereka akan pentingnya untuk lebih dahulu memprioritaskan pembangunan markas dan menyiapkan seluruh perlengkapan logistik yang diperlukan dalam bertempur. Sekalipun masa-masa tersebut terlihat tenang dan damai namun di balik itu ikatan batin di antara sesama saudara seperjuangan perlahan tetapi pasti tertanam kuat di dalam sanubari Mujahidin Arab. Ketika musim dingin berakhir dan salju mulai mencair, Mujahidin Arab mulai mempersiapkan rencana mereka untuk menggelar operasi militer terhadap posisi musuh. Tujuan utama serangan ofensif ini adalah untuk mendapatkan pengalaman bertempur yang sesungguhnya. Operasi militer yang pertama ini direncanakan, diorganisir dan dilaksanakan oleh para “Singa” Foreign Mujahideen. Operasi ini berlangsung pada hari Jum’at 17 Sya’ban 1407H (17 April 1987) dimana 120 Mujahid ikut serta di dalamnya termasuk saya sendiri. Kami membagi diri menjadi dua group tempur utama, group pertama adalah group penyerang yang berada di barisan depan dipimpin oleh Abu Khalid Al-Misri. Tujuan group ini adalah menyerbu dan menusuk masuk ke dalam basis pertahanan musuh. Group ini didukung dari second line oleh group kedua yang dipimpin Abu Burhan As-Suri yang tugasnya menghujani posisi musuh dengan tembakan artileri. Rencana operasi dimatangkan dalam beberapa hari dan hari Jum’at pukul 6 sore operasipun dimulai”.
“Sheikh Sayyaf datang ke Kandang untuk menyaksikan sendiri jalannya operasi militer karena ini merupakan pengalaman yang baru bagi Mujahidin Arab. Sheikh Abdullah Azzam juga ada di sana bersama dengan sahabat beliau Sheikh Tamim Al-Adnani (semoga Allah merahmati mereka berdua) dan tentu saja Abu Abdullah Usama bin Ladin yang menjadi panglima operasi. Saat-saat mengharukan terjadi sesaat sebelum kedua group berangkat dimana para Mujahid saling berpelukan mengucapkan selamat jalan kepada rekan mereka dimana tidak seorangpun tahu apakah dirinya akan dapat berjumpa kembali dengan rekannya di Kandang sementara jiwa mereka telah lama rindu akan syahid”.
Abu Muhammad As-Suri melanjutkan,
“Saya berada dalam group penyerang. Rencana kami adalah menusuk masuk ke dalam pos (parit) perlindungan musuh yang kami beri nama “Ibu dari semua parit” yang menjadi target serangan kami. Ketika berada dalam jarak sekitar 30-40 meter dari target kami terkejut karena ternyata musuh sudah mewaspadai serangan kami”.
“Seluruhnya ada 16 target yang rencananya juga akan diserang oleh Mujahidin Afghanistan, seluruh target terletak di satu area kecuali dua target yang masuk dalam rencana serangan kami. Namun penjaga musuh telah waspada sebelumnya, kami melihat dia dan kamipun menyadari bahwa dia telah mengetahui kedatangan kami, atau setidaknya telah melihat bayangan diri kami. Maka iapun segera menembakkan senjatanya ke arah kami dan saat kami terus maju mendekat, hujan peluru segera menerpa kami. Kami balas menembak dan segera setelah pecah tembak menembak di antara kedua pihak, tidak ada yang dapat kami lakukan kecuali terus berlindung hingga kegelapan malam menyelimuti daerah tersebut, bahkan untuk mengangkat kepala saja tidak dapat kami lakukan. Kedua kaki saya langsung terkena tembakan yang dilepaskan oleh senjata mesin SG-43 Gorjunov dari satu bukit terbuka di sebelah kiri kami. Kali ini kami terkejut untuk kedua kalinya karena tidak menduga mereka memiliki Gorjunov. Segera perintah untuk mundur ke pos (gua) terdekat yang memiliki bala bantuan disuarakan, gua yang dimaksud adalah satu gua yang kami sebut “Gua Terdepan”. Abu Abdullah Usama bin Ladin ada di sana dan beliaulah yang mengeluarkan perintah untuk mundur disebabkan rasa khawatir Mujahidin akan terluka oleh serangan artileri musuh jika musuh menyadari rencana kami. Namun tidak seorangpun yang dapat segera mematuhi perintah tersebut hingga gelap malam tiba dan Mujahidin dapat mundur tanpa diketahui musuh. Saat gelap itulah saya dapat ditolong rekan-rekan Mujahid kembali ke Kandang. Seluruhnya ada lima group pendukung yang merupakan pecahan dari group utama, empat group berhasil kembali dengan selamat dan group terakhir hilang hingga tengah malam”.
Ahmad Az-Zahrani asal Taif adalah Mujahid pertama anggota Kandang Singa yang gugur syahid dalam operasi ini. Saat itu beliau sedang memuntahkan peluru senjata mesin beratnya ketika satu peluru mortir mengenainya. Beliau adalah seorang yang a mat baik dan taat, semoga Allah merahmati beliau. Selain diri saya sendiri, Idris As-Saudi juga terluka. Secara keseluruhan, Operasi Sya’ban menandai peristiwa penting dalam sejarah Kandang Singa dimana Foreign Mujahideen memperoleh banyak pelajaran berharga yang berguna dalam pertempuran-pertempuran mereka selanjutnya. Setelah operasi ini, Foreign Mujahideen penghuni Kandang Singa kembali menggelar operasi-operasi militer berikutnya dalam usaha untuk menambah pengalaman dalam pertempuran langsung berhadap-hadapan dengan musuh (direct combat). Pada salah satu operasi yang berlangsung kemudian Mujahid Abu Dzahab gugur syahid ketika sedang dalam misi pengintaian bersama dua orang rekannya. Satu peluru mortir mengenai ketiganya dan Abu Dzahab syahid seketika sementara Usama Mulla Azmarai mengalami cedera. Sebulan penuh sejak bentrokan pertama berlangsung, operasi militer dan baku tembak terus terjadi di antara Mujahidin di bawah pimpinan Abu Ubaidah Al-Panjsheri (semoga Allah merahmati beliau) dan tentara Uni Soviet.
Posted on Mei 14, 2011, in Serial Jihad. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

















saya ingin berjuang d jalan allah SWT