Yusuf Estes, ( mantan ) Evangelis Amerika

Nama saya Joseph( Yusuf) Estes dan saya sekarang ini menjabat sebagai juru dakwah di American Muslims yang didukung berbagai organisasi di Washington, D.C. Isi dakwah saya ke seluruh penjuru dunia lebih banyak mengenai pesan Yesus ( Isa As) dalam pandangan Al-Quran ( Islam). American Muslims menyelenggarakan dialog dan kelompok diskusi dengan semua kelompok agama dan keyakinan serta bekerja sama dengan para rabbi, pengurus gereja, pendeta, dan pengkhotbah gereja di mana-mana. Aktifitas kami banyak dilakukan di lingkungan militer, universitas, dan penjara.

Tujuan utama kami adalah mengajarkan dan menyampaikan pesan dan hakikat Islam berkembang sebagai agama terbesar kedua di dunia sesudah Kristen, masih banyak umat Islam sendiri yang tidak memahami Islam secara benar dan baik dan tidak pula menampilkan sosok pribadi Islam yang asli: damai, peyerahan diri, dan penuh ketaatan pada Allah SWT.

Kepada penganut Kristen yang taat, inilah jawaban saya atas pernyataan Anda tentang Islam saya memeluk Islam.Saya berusaha memberikan sedikit gambaran latar belakang saya agar hal itu menjadi sebuah masukan bagi gereja Anda.

Barangkali, terdengar aneh saat saya menawarkan bantuan, sedangkan antara saya dan Anda memiliki sedikit sekali persamaan tentang Tuhan, Yesus, (Isa As), kematian, dosa dan penyelamatan. Seperti yang Anda tahu sendiri, saya benar-benar pernah berada pada keadaan yang sama. Sungguh. Izinkan saya mengisahkan perjalanan hidup saya.***

Saya terlahir dari keluarga AS bagian MidWest yang kuat dalam memegang Kristen. Keluarga dan nenek moyang kami tidak hanya mendirikan gereja dan sekolah kristen di MidWest, tetapi merupakan keluarga pertama yang menempati daerah itu.

Ketika saya masih di SD, kami pindah ke Houstown, Texas, pada tahun 1949. Kami rutin datang ke gereja dan saya di baptis pada usia 12 tahun di Pasadena, Texas. Sebagai remaja, saya senang mendatangi bermacam gereja untuk mempelajari ajaran dan keyakinan mereka ( Kristen Baptis, Methodist, epishkopalian, gerakan Karismatik, Nazarene, gereja kristus, gereja tuhan, gereja tuhan dalam kristus, gospel sejati, agape, katolik, presbiterian dan banyak lagi. Saat itu, saya sangat ingin tahu tentang gospel atau seperti yang sering kami sebut sebagai ”kabar baik” ).

Pengkajian saya tentang agama tidak terhenti hanya pada agama kristen. Sama sekali tidak. Saya pun mengkaji agama Hindu, Yahudi, Buddha, Mata Fisik, dan keyakinan asli orang Amerika ( Indian ). Hanya satu agama yang tidak saya kaji yaitu Islam. Mengapa? Itu pertanyaan yang bagus. ***

Saya sangat tertarik dengan berbagi jenis musik, terutama musik gospel dan klasik, karena semua keluarga saya relijius dan gemar musik. Oleh karena itu, saya belajar di dua bidang itu. Semua itu menempatkan saya pada kedudukan senagai Music Minister (semacam koordinator musik) di banyak gereja yang menjadi bagian hidup saya sebelumnya. Saya mulai belajar instrumen keyboard pada tahun 1960 dan pada 1963 saya mempunyai studio sendiri bernama Estes Music Studios di Laut Rel, Maryland.

Selama lebih dari 30 tahun, ayah dan saya bekerjasama dalam banyak usaha. Kami punya program hiburan, pertunjukkan, dan atraksi. Kami membuka toko piano dan organ di sepanjang jalan dari Texas hingga Oklahoma, Florida. Penghasilan saya waktu itu mencapai jutaan dolar, tetapi saya tidak dapat menemukan kedamaian pikiran yang hanya dapat dipuaskan dengan mengetahui kebenaran dan mencari tahu makna penyelamatan.

Saya yakin kita semua pernah bertanya pada diri sendiri, “ Mengapa Tuhan menciptakan saya ? Apa yang Tuhan inginkan dari saya? Siapa Tuhan sebenarnya? Mengapa kita percaya pada dosa asal? Mengapa anak keturunan Adam harus menanggung dosa Adam dan sebagai akibatnya mereka di hukum untuk selamanya? ” Namun, jika pertanyaan-pertanyaan itu ditanyakan ke orang (Kristen), Mereka akan mengatakan bahwa kita harus percaya tanpa mempertanyakannya. Sebagian lagi menjawab, itu semua adalah misteri dan kita tidak boleh menanyakannya.

Adapula konsep Trinitas. Jika saya bertanya kepada pendeta atau pengkhotbah agar mereka memberi penjelasan satu sama dengan tiga, mereka terpaku dengan jawaban berputar-putar. Mengapa Tuhan yang mampu melakukan apa saja jika mau, tidak mau mengampuni dosa manusia dan lebih suka ( atau harus ) menjadi manusia dulu, turun ke bumi, lalu membersihkan semua dosa manusia. Pada hal sekali lagi, Dialah Tuhan Semesta Alam yang berkehendak atas segala sesuatu.

Suatu saat pada tahun 1991, saya sadar dan terkejut ternyata umat Islam meyakini Injil juga. Bagaimana mungkin ? Tidak hanya itu. Mereka pun percaya Yesus adalah :
1. Utusan Tuhan
2. Rasul Tuhan
3. Bukti Mukjizat kelahiran manusia tanpa campur tangan manusia
4. Messiah seperti yang disebutkan di dalam Injil
5. Saat ini bersama Tuhan, dan paling penting
6. Ia akan kembali pada Hari Akhir untuk memimpin orang yang beriman melawan Anti Tuhan (Ludi Christ)

Kejutan itu benar-benar terlalu banyak. Apa lagi, sejak Evangelis yang pergi bersama kami selalu menunjukkan kebencian yang berlebihan kepada Islam dan umatnya. Mereka bahkan mengatakan banyak dusta agar orang-orang takut kepada Islam. Setelah menyadari semua itu, untuk apa lagi saya nerhubungan dengan orang-orang seperti itu?
***

Ayah saya sangat aktif dalam mengikuti kegiatan gereja, terutama sekolah. Ia menjadi koordinator pendidikan yang diangkat pada 1970-an. Ia dan istrinya ( ibu tiri saya ) mengenal banyak evangelis dan pengkhotbah di TV serta sering mengunjungi Orel Roberts untuk membantu pembangunan Prayer Tower (Menara Ibadah) di Tulsa, Oklahoma. Mereka semua didukung penuh Jimmy Swaggart, Jim dan Tammy Fae Bakker, Jery Fallwell, John Haggi, dan musuh Islam terbesar di AS, Pat Robertson.
Orang tua saya sangat aktif dalam membuat rekaman doa dan kidung gereja Praise dan menyebarkannya secara gratis kepada orang-orang di Wisma pensiunan, rumah sakit, dan panti jompo. Pada tahun 1991, ayah mulai menjalin usaha dengan orang Mesir dan meminta saya untuk menemuinya. Ide itu muncul saat saya berpikir tentang nuansa Mesir, seperti piramida sphinx, dan sungai Nil.apalagi, ayah saya menyebutkan orang Mesir itu seorang muslim. Saya sendiri tidak dapat mempercayai pendengaran saya. Seorang muslim? Tidak mungkin.

Sayapun mengingatkan ayah saya bermacam perbedaan yang kami ketahui tentang orang muslim. Mereka adalah para teroris, pembajak, penculik, pembom, dan entah apalagi. Tidak hanya itu. Mereka adalah orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah gurun. Tidak ! Saya tidak mau bertemu dengan orang itu.

Namun, ayah tetap memaksa saya untuk menemuinya dan meyakinkan saya bahwa orang Mesir itu baik. Saya pun setuju menemuinya dengan syarat yang saya tentukan sendiri. Saya menemui orang Mesir itu pada hari Minggu sepulang dari gereja sehingga kami dapat berdoa dan membawa injil, memakai kalung salib mengkilap yang besar, dan memakai topi dengan tulisan ”Jesus is Lord”. Istri dan dua anak saya ikut serta dan kami siap untuk perjumpaan pertama kami dengan orang muslim.

Ketika saya datang ke lokasi usaha ayah saya, saya menanyakan padanya keberadaan Muslim dari Mesir itu. Ayah menunjuk kesuatu arah dan berkata, “Ia ada di sana.”

Saya tidak dapat mempercayai penglihatan saya. Saya bingung. Tidak mungkin orang itu adalah muslim. Gambaran saya, seorang muslim haruslah orang yang besar dengan pakaian yang panjang, ada turban di kepalanya, jenggot yang panjang hingga ke dada, dan alis mata yang memanjang di dahinya.

Namun, orang yang ditunjuk ayah sam sekali tidak memiliki jenggot. Bahkan, ia tidak memiliki rambut yang banyak, di kepalanya, hampir botak. Diapun sangat menyenangkan dengan sambutan dan jabatan tangan yang ramah. Hal itu tidak dapat di percaya. Saya pikir mereka adalah kumpulan para teroris dan pembom. Apa maksud semua ini?

Untuk sementara, saya lupakan semua. Saya akan segera membujuk orang Mesir itu. Dia harus diselamatkan dan bersama Tuhan saya akan melakukannya sesudah perkenalan yang singkat, saya pun bertanya padanya:

“Anda percaya kepada Tuhan?”
“Tentu saja,”jawabnya.
“Apakah anda percaya juga pada Adam dan Hawa?”
“Ya,”jawabnya lagi.
“Bagaimana dengan Abraham ( Ibrahim ) ? Apakah kamu mempercayai upayanya mengorbankan anaknya demi Tuhan?”
Lagi-lagi ia menjawab,”Ya.”
“Bagaimana dengan Moses ( Musa ) ? Sepuluh Larangan ( Ten Commandements ) dalam Taurat ? Pembelahan Laut Merah ?”
Sekali lagi, ia menjawab, “Ya.”
“Tentang David, Solomon, dan John the baptist ( Daud, Sulaiman, dan Yahya ) ?”
Ia pun menjawab,”Ya.”
“Apakah kamu percaya juga pada Injil?”
“Ya.”
Kemudian tiba pada pertanyaan yang penting, “apakah kamu percaya pada Yesus ( ‘Isa ) bahwa ia akan menjadi Messiah Tuhan?”
Ia masih menjawab,”Ya.”

Saya berfikir, ini akan lebih mudah dari yang saya kira. Ia tinggal menunggu waktu sebelum di baptis meskipun ia tidak menyadarinya. Saya merasa menjadi orang yang tepat untuk membaptisnya. Saya selalu merasa sebagai jiwa yang menang di hadapan Tuhan sepanjang hari dan hal itu akan menjadi pencapaian terbesar dalam hidup saya; ”menangkap” salah seorang muslim dan memasukkannya ke dalam kristen. Saya lalu menawari teh dan kami singgah di sebuah warung kecil di pusat perbelanjaan untuk duduk dan berdiskusi tentang topik yang paling saya gemari, agama.

Ketika kami duduk minum teh selama berjam-jam ( Saya yang paling banyak bicara), Saya baru menyadari bahwa orang Muslim ini sangat baik, tenang, bahkan sedikit pemalu. Ia mendengarkan dengan penuh perhatian pada setiap kata yang saya ucapkan dan tidak pernah memotong pembicaraan sekalipun. Saya menyukai akhlaknya dan yakin bahwa ia akan menjadi pengikut Kristen yang baik.

Saya baru tahu tujuan Ayah mempertemukan saya dengan orang Mesir itu. Pertama, saya setuju Ayah berhubungan bisnis dengan orang itu, bahkan saya meminta Ayah agar mau menunjuk saya sebagai orang yang akan membawa orang Islam itu dalam perjalanan bisnis di bagian utara Texas.

Pada hari-hari berikutnya, kami semakin sering berdiskusi tentang Agama-agama yang dianut manusia. Sepanjang perjalanan, saya selalu menyalakan radio yang menyiarkan do’a dan kidung agar lebih menghidupkan suasana bagi orang yang malang itu. Kami berdiskusi tentang Tuhan, makna hidup,Tujuan penciptaan, para Rasul beserta misi mereka dan cara Tuhan menjalankan kehendak-NYA atas manusia.Kami pun berbagi pengalaman hidup dan gagasan.

Suatu hari, saya tahu bahwa teman saya orang Mesir itu, Muhammad, akan pindah dari tempatnya semula yang merupakan milik temannya. Ia berencana tinggal di Masjid untuk beberapa saat. Saya pun mendatangi Ayah dan memintanya mengundang Muhammad untuk tinggal bersama di rumah besar kami. Lagi pula, hal itu akan memudahkan tujuan bisnisnya dengan kami, mengurangi pengeluarannya, dan mudah untuk bepergian bersama saya jika memang harus bepergian. Ayah setuju dan Muhammad pun pindah ke rumah kami.

Tentu saja, saya masih punya waktu untuk bertemu dengan sesama pengkhotbah dan evangelis di seluruh negara bagian Texas. Salah seorang dari mereka ada yang tinggal di Texas, perbatasan Mexico, dan perbatasan Oklahoma,.Ada pengkhotbah yang sangat senang membawa-bawa salib yang lebih besar dari mobilnya. Biasanya ia akan menyeret salib besarnya itu ke jalan raya dan membentuk salib. Orang-orang akan menghentikan mobil mereka, mendatanginya, dan menanyakan keadaannya. Pada saat itu, teman pengkhotbah saya akan memberi pamflet dan buklet tentang kristen.

Suatu hari, teman pengkhotbah saya itu terkena serangan jantung dan harus dirawat cukup lama di RS. Veteran. Saya biasa menjenguknya beberapa kali seminggu dan saya pun membawa Muhammad dengan harapan kami dapat sama-sama berdiskusi tentang agama. Teman saya yang pengkhotbah itu tidak terlalu terkesan dan tampak bahwa ia tidak mau tahu tentang Islam.

Suatu hari, orang yang sekamar dengan teman saya datang dengan kursi roda. Saya datangi dia dan saya tanyakan namanya, tetapi ia menyatakan bahwa semua itu tidak ada artinya lagi. Saat saya tanyakan asalnya, ia menjawab bahwa asalnya dari planet Jupiter. Saya ragu, saya berada di bangsal organ dalam atau gangguan mental ( jiwa ).

Saya tahu bahwa orang itu kesepian, tertekan, dan memerlukan seseorang. Saya pun mulai menjadikannya sasaran berikut. Saya bacakan baginya kisah Jonah ( Yunus ) di perjanjian lama. Saya mengambil contoh tentang Jonah yang diutus Tuhannya ke kaumnya agar mereka kembali ke jalan yang benar. Namun, Jonah meninggalkan kaumnya dan melarikan diri ketengah laut dengan sebuah kapal. Badai datang dan kapal hampir tenggelam sehingga penumpang yang ada di kapal itu membuang Jonah ke laut. Seekor ikan paus muncul ke permukaan dan menelan Jonah, lalu menyelam kedasar laut selama tiga hari tiga malam.

Berkat ampunan Tuhan, ia menaikkan ikan paus itu ke permukaan dan memuntahkan Jonah sehingga ia dapat kembali ke kota yang dulu di tinggalkannya, Nineve. Intinya, manusia tidak selalu dapat menghindar dari masalah karena manusia selalu tahu perbuatanya sendiri. Apalagi, Tuhan maha tahu segalanya.

Setelah berbagi cerita tentang Jonah, pasien yang duduk di atas kursi rodanya itu menatap saya dan meminta maaf. Ia meminta maaf atas sikapnya yang tidak sopan dan bercerita bahwa baru-baru ini ia mengalami masalah serius. Ia lalu ingin melakukan pengakuan dosa.

Saya pun bilang bahwa saya bukan pendeta katolik sehingga saya tidak menerima pengakuan dosa. Ia ternyata tahu tentang itu, bahkan ia bilang, “saya adalah pendeta katolik.” Saya terkejut. Ternyata saya baru saya mengkhotbahi seorang pendeta tentang agama Kristen. Apa yang terjadi dengan dunia ini ? pendeta itu mendakwahi pendeta !

Pendeta itu akhirnya mulai bercerita tentang kisah hidupnya sebagai misionaris gereja selama lebih dari 12 tahun untuk wilayah Amerika selatan, tengah, dan mexico, bahkan New york. Ketika ia keluar dari rumah sakit, ia perlu tempat untuk proses penyembuhan. Dari pada membiarkannya tinggal bersama keluarga katolik, saya meminta ayah agar mau memberi tempat baginya sehingga dapat tinggal bersama Muhammad. Ayah setuju karena hal itu menjadi keinginannya pula.

Selama perjalanan menuju ke rumah, saya berdiskusi dengan pendeta katolik itu tentang agama islam. Ternyata tanggapannya mengejutkan saya. Ia setuju, bahkan lebih banyak memberikan masukan tentang islam. Saya terkejut saat ia mengatakan bahwa pendeta katolik pun mengkaji Islam. Bahkan, diantara mereka ada yang mendapatkan gelar doktor untuk kajian Islam. Semua itu sangat mencerahkan bagi saya. Namun, masih ada hal lain yang mencerahkan.

Sesudah makan malam, setiap malam kami semua duduk berdiskusi tentang agama. Ayah selalu membawa Injil versi Raja James. Saya membawa Injil versi standard yang diperbaharui ( revesed ), sedangkan istri saya memiliki Injil dengan versi yang berbeda lagi ( mungkin versi Jimmy Swaggart, Kabar Baik bagi Manusia Modern ). Sang pendeta, tentu saja, memiliki Injil katholik sendiri yang lebih banyak tujuh bagian dibandingkan Injil Protestan. Kami semua menghabiskan waktu bediskusi tentang Injil yang benar dan Injil yang salah dan bukan berusaha meyakinkan Muhammad agar memeluk Kristen.

Kemudian, saya bertanya pada Muhammad tentang Alqur’an dan berapa banyak versinya selama 1400 tahun terakhir. Namun, ia menyatakan bahwa hanya ada satu Al Qur’an yang tidak pernah berubah sejak pertama kali diturunkan. Ia pun memberi tahu bahwa  Al Qur’an dapat dihafal banyak orang seluruhnya dan penghafal Al Qur’an terbesar di dunia sejak diturunkan, Al Qur’an dihafal jutaan manusia dan diajarkan kepada penghafal Alqur’an generasi berikutnya juz per juz dan huruf per huruf tanpa ada kesalahan.

Saya pikir hal itu tidak mungkin karena bahasa asli Injil saja telah mati berabad abad lalu dan dokumen aslinya pun telah lama hilang. Jadi, bagaimana mungkin kitab seperti Al Qur’an dapat dipelihara dengan mudah dan dibaca juz per juznya?
Terlepas dari itu, pendeta katolik meminta kesediaan Muhammad mengantarkannya ke masjid untuk melihat keadaan didalamnya. Setelah kembali dari masjid, mereka bercerita tentang kunjungan itu. Kami pun tidak dapat menahan diri untuk tidak segera bertanya kepada pendeta katolik itu wujud masjid sesungguhnya dan ritual yang dilakukan umat Islam didalamnya.

Pendeta katolik itu mengatakan bahwa orang muslim tidak terlalu banyak melakukan ritual ibadah. Mereka hanya datang salat, lalu pulang.

“Pulang?” Tanya saya keheranan. ”Tanpa khotbah dan kidung?” Pendeta katolik itu pun mengiyakan keheranan saya.

Beberapa hari pun berlalu dan pendeta katolik itu sekali lagi meminta kesediaan Muhammad mengantarkannya ke masjid. Namun, kali ini berbeda. Mereka tidak segera kembali hingga gelap malam dan kami pun cemas kalau-kalau sesuatu telah terjadi pada mereka.

Akhirnya, mereka datang. Saat itu saya langsung dapat mengenali Muhammad. Namun, ada orang lain di sebelahnya dengan jubah putih dan peci putih. Tenyata orang itub adalah si pendeta katolik. ”Pete, apa kamu sudah menjadi orang muslim?” Tanya saya heran. Ia menjawab bahwa ia harus kembali ke pangkuan Islam hari itu juga.

Pendeta kembali ke Islam? Apa lagi yang akan terjadi? Saya pun langsung ke kamar saya untuk memikirkan semua perubahan itu dan mendiskusikannya dengan istri saya. Kemudian,isteri saya pun bercerita bahwa sesungguhnya ia akan kembali ke pangkuan Islam juga karena menyadari kebenarannya. Saya benar-benar terkejut.

Saya lalu ke kamar Muhammad dan membangunkannya segera untuk mengajak berdiskusi. Sepanjang malam itu kami habiskan waktu untuk berdiskusi hingga tiba waktu sholat subuh. Saya tahu akhirnya kebenaran telah datang dan sekarang terserah pada diri saya sendiri. Saya pergi ke rumah ayah dan menemukan papan kayu besar. Di atas papan kayu itu saya taruh kepala saya di tanah menghadap kiblat yang selama ini menjadi arah ibadah orang Muslim lima kali sehari.

Dalam keadaan seperti itu, saya memohon kepada Tuhan untuk memberi petunjuk, ”Ya, Tuhan.Jika Engkau di sana, berilah aku petunjuk.”

Setelah bebberapa saat, saya mengangkat kepala saya dan merasakan sesuatu. Bukan,saya bukan melihat burung atau malaikat di langit atau mendengar suara musik. Bukan pula cahaya terang dan kelebat bayangan. Perasaan itu adalah perubahan di dalam diri saya sendiri.

Dibandingkan waktu-waktu sebelumnya, sekarang saya sadar untuk berhenti berdusta dan berbuat curang dalam berbisnis. Sekaranglah waktunya untuk jujur dan baik. Sekarang saya tahu tingkatan yang harus saya lakukan. Saya langsung mandi dan menyiram tubuh saya seolah-olah ingin menghilangkan semua dosa yang sudah menempel selama berpuluh-puluh tahun sehingga saya adalah manusia yang memasuki hidup yang baru dan segar. Hidup yang didasari pada kebenaran dan bukti-bukti.

Pagi itu juga, pada jam 10, saya berdiri mengumandangkan syahadat di hadapan dua orang saksi, mantan pendeta Peter Jacob dan Muhammad Abdurrahman. Beberapa menit kemudian, isteri saya menyusul. Kali ini di hadapan tiga orang saksi ( saya sebagai yang ketiga ). Ayah saya memilih untuk menunggu hingga yakin benar -beberapa bulan berikutnya- sebelum bersyahadat. Akhirnya, ia kembali ke pangkuan Islam dan mengajak saya untuk sholat bersama di Masjid sekitar rumah kami.

Anak-anak pun saya alihkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam. Kini, sepuluh tahun berikutnya, mereka telah menghafal banyak ayat Al Qur’an dan mengajarkan Islam pula. Ibu tiri saya adalah orang yang paling akhir di dalam keluarga kami yang akhirnya menyadari bahwa Yesus tidak mungkin anak Tuhan. Yesus pastilah Rasul Tuhan dan bukan bagian dari Tuhan.

Coba renungkan kami adalah keluarga dengan latar belakang yang kuat ciri Ke-kristenannya: keluarga koordinator kidung gereja dan pengkhotbah, pendiri sekolah Kristen, dan pengurus gereja. Namun, kami berupaya terus mencari kebenaran dan berkat karunia Allah Swt, kami semua kembali ke jalan-Nya melalui Islam tanpa pandangan yang membutakan mata kami. Begitu pun dengan pendeta Katholik, Peter Jacob.
Jika kisah ini saya cukupkan sampai di sini, saya yakin Anda pasti sudah merasakan kisah ini sebagai kisah yang mengejutkan. Pemimpin agama Kristen dan Katholik secara bersamaan kembali ke Islam -agama yang sebelumnya dianggap berlawanan- adalah sebuah berita besar. Namun, kisahnya tidak berhenti di situ. Ada lagi yang lain.***

Ketika saya berada di Grand Prairie, Texas ( dekat Dallas ) -masih di tahun yang sama-saya bertemu dengan pelajar seminari baptist dari Tennesee yang bernama Joe. Ia pun kembali ke pangkuan Islam sesudah membaca Al Qur’an saat di sekolah seminari itu: Baptist Seminari College.

Ada juga yang lain. Saya ingat ada seorang pendeta Katholik yang banyak menyebut-nyebut kebaikan Islam. Namanya Father John. Ketika saya menemuinya dan bertanya alasannya tidak segera kembali ke Islam, Ia menjawab, “ Apa? ( kembali ke Islam) dan kehilangan pekerjaan saya? “ Namun, saya masih punya harapan bahwa ia akan kembali ke pangkuan Islam.

Pada tahun berikutnya, saya bertemu dengan mantan pendeta Katholik yang telah menjadi misionaris selama 8 tahun di Afrika. Ia mempelajari Islam ketika berada di sana dan ia pun kembali ke Islam. Ia lalu mengubah namanya menjadi Omar dan pindah ke Dallas, Texas, saya dikenalkan pada mantan Uskup Agung dari gereja ortodeks Rusia yang belajar Islam dan melepaskan kedudukan Uskup Agung demi Islam.

Sejak kembalinya saya ke Islam dan menjadi juru dakwah bagi Muslim ke seluruh penjuru dunia, saya pun banyak bertemu dengan para pemimpin, guru, dan sarjana dari berbagai agama yang setelah mempelajari Islam, mereka pun kembali ke Islam. Mereka berasal dari kelompok agama Hindu, Yahudi, Katholik, Protestan seperti saya, kesaksian Jehovah, Gereja Ortodoks Yunani dan Rusia, Kristen Koptik Mesir, Gereja tanpa kesekutuan, bahkan para pakar ilmu atau sainstis yang sebelumnya atheis.

Mengapa? Pertanyaan yang bagus. Saya menyarankan bagi para pencari kebenaran agar mengikuti 9 langkah ini untuk menyucikan pikiran:
1. Sucikan pikiran, hati, dan jiwa
2. Buang jauh-jauh prasangka dan cara pandang yang bias
3. Bacalah terjemahan Alquran yang paling mudah dipahami
4. Luangkan beberapa saat untuk merenungi Alquran
5. Baca lagi dan bayangkan semua yang terlintas saat membaca Alquran
6. Pikirkan dan berdoalah
7. Tetaplah meminta pada yang Maha Esa agar memberi kita petunjuk
8. Terus lakukan semua itu hingga beberapa bulan dan teratur
9. Paling penting, jangan biarkan orang lain meracuni pikiran kita saat kita tengah berada pada keadaan menuju “kelahiran kembali jiwa kita.“

Selanjutnya, terserah Allah Swt dan diri kita sendiri. Jika kita memang sungguh-sungguh mencintai-Nya, Allah Swt pasti tahu dan akan memberi karunia-Nya sesuai dengan keinginan hati kita. Jadi, itulah kisah kembalinya saya, Yusuf Estes, dan keluarga ke dalam Islam dan menjadi Muslim. Semoga Allah Swt memberi petunjuk pada jalan yang lurus serta membuka hati dan pikiran kita pada kenyataan dunia dan tujuan hidup ini. Kedamaian semoga senantiasa Allah Swt yang Maha Perkasa curahkan kepada kita semua. Dialah Pencipta dan Pelindung semua makhluk.

About Haroky2000

The Prophet SAW said : “Islam begin as something strange ( Ghuroba` ), and it will return as something strange the way it began”.

Posted on Januari 5, 2011, in Artikel Bebas. Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. SubhanaLLAH walhamdu liLLLAH wa laa ilaaha illaLLAH wALLAHU AKBAR…

  2. La haula wala kuwwatÅ illa billah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: